Indonesia di Aga Khan Gold Cup

Piala Emas Aga Khan (Aga Khan Gold Cup) merupakan turnamen sepak bola yang diselenggarakan di Dacca, Pakistan Timur (kini, Bangladesh). Dalam sejarahnya, tim-tim Indonesia pernah menjuarai Piala Emas Aga Khan, yaitu timnas Indonesia “Kombinasi”, timnas Indonesia Garuda, PSMS Medan, dan NIAC Mitra Surabaya. Inilah catatan-catatan (“maksimal”) berdasarkan penelusuran NovanMediaResearch dari media-media yang terbit pada jamannya.

Aga Khan Gold Cup 1960:

PSM Makassar tercatat sebagai juara Perserikatan (baca: Kejurnas PSSI 1959). Sebagai juara Perserikatan 1959, PSSI mengirimkan PSM ke Piala Aga Khan 1960. Hasilnya, cukup bagus: Runner-up.

Aga Khan Gold Cup 1961:

Masa ini disebut-sebut sebagai tahun kegemilangan sepak bola Indonesia. Dasarnya, tiga gelar juara diraih (Piala Asia Junior 1961, Piala Merdeka Games 1961, dan Piala Aga Khan 1961).

Pada April 1961, para pemain muda asuhan Djamiaat Dhalhar berhasil membawa timnas Indonesia (junior) menjadi juara Piala Asia Junior 1961 (bersama Burma) di Bangkok, Thailand. Lalu, para pemain “tua” asuhan Tony Pogacknik membawa timnas Indonesia (senior) menjadi juara Piala Merdeka Games 1961 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Nah, pada Piala Aga Khan 1961 inilah kombinasi pemain muda dan tua (baca: para pemain muda lebih ditekankan/diutamakan) asuhan Tony Pogacknik berhasil membawa timnas Indonesia menjadi juara Piala Aga Khan 1961. Para pemain yang dibawa ke Piala Aga Khan 1961, yaitu Tjong, Hardi Purnomo, Ishak Udin, Sonny Sandra, Faisal Jusuf, Rasjid Dahlan, Ipong Silalahi, John Simon, Sunarto, Muhadi, Manan, Agam, Dirhamsjah, Andjiek, Eddy Simon, dan Frans Jo.

Dalam pertandingan di Piala Aga Khan 1961 itu, timnas Indonesia “Kombinasi” yang kuat (the strong national team) itu mengalahkan Victoria Sporting Club 2-0, Karachi Municipal Corporation 6-2, dan Pakistan Railways 5-0 (final).

Aga Khan Gold Cup 1962:

Pada masa ini, timnas Indonesia bertindak sebagai juara bertahan Piala Aga Khan. Timnas Indonesia pun berpeluang besar untuk mempertahankan gelar juaranya. Apalagi, timnas Indonesia berhasil membawa pulang gelar juara Piala Merdeka Games 1962 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Namun, dalam perkembangannya, timnas Indonesia malah lebih tertarik untuk menerima undangan dari Seoul, Korea Selatan. Timnas Indonesia pun mulai bersiap diri dengan melakukan pelatnas [pemusatan pelatihan nasional (training centre)]. Kelak, timnas Indonesia bertanding di Korea Selatan, Jepang, dan Vietnam Selatan.

Akhirnya, setelah Piala Merdeka Games 1962, secara mendadak PSSI mengirimkan Persib (juara Perserikatan 1961) ke Piala Aga Khan 1962. Sayang, lima pemain Persib ditolak PSSI untuk ikut serta ke Dacca karena timnas Indonesia pun sedang membutuhkan tenaganya dalam pelatnas. Kekuatan Persib pun berkurang.

Terlepas dari mendadak atau tidak, keberangkatan Persib menuju Piala Aga Khan 1962 merupakan wacana. Sebagaimana PSM di Piala Aga Khan 1960, saat itu ada harapan dari masyarakat pencinta sepak bola Indonesia untuk mengirimkan para juaranya (baca: juara Perserikatan) menuju turnamen-turnamen di luar negeri.

Dalam Piala Aga Khan 1962 itu, Persib mendapat bye di babak I. Lalu, di babak II, Persib menang 5-0 atas Azad Sporting Club (6 Oktober 1962). Langkah Persib tertahan di babak perempat final ketika dikalahkan Pakistan Western Railways 0-2 (13 Oktober 1962).

Aga Khan Gold Cup 1963:

Pada Piala Aga Khan 1963, PSSI mengirimkan timnas Indonesia Garuda (baca: timnas Indonesia junior). Timnas ini disebut-sebut sebagai timnas junior yang dibina di Diklat Salatiga generasi pertama. Sayang, di Piala Aga Khan 1963, timnas Indonesia Garuda gagal.

Aga Khan Gold Cup 1964:

Setelah PSM (juara Perserikatan 1959) dan Persib (juara Perserikatan 1961) dikirim ke Piala Aga Khan, PSSI pun mengirimkan Persija Jakarta (juara Perserikatan 1964) ke Piala Aga Khan 1964.

Inilah hasil pertandingan Persija di Piala Aga Khan 1964:

Pertandingan pertama: Persija vs Mohd. SC 1-1 (info lain: Mali Selections)

Pertandingan kedua: Persija vs Ceylon 4-2 (info lain: Ceylon/Srilangka 4-1)

Pertandingan ketiga: Persija vs KPT 1-2

Pool A:

KPT 3 2 0 1 5-3 4

Mohd. SC 3 1 1 1 4-2 3

Indonesia 3 1 1 1 6-5 3

Ceylon 3 0 2 1 4-9

Pool B:

Burma 3 2 0 1 4-2 4

Railway 3 1 0 2 3-1 2 => ???

Victoria 3 1 1 1 5-2 3

Warsak 3 0 3 0 0-7 3

Semifinalis: KPT, Mohd. SC, Burma, dan Railway.

Finalis: KPT dan Mohd. SC.

Final: dua kali bertanding dan dua kali seri. Akhirnya, kedua tim dinyatakan sebagai juara bersama.

Aga Khan Gold Cup 1966:

Piala Aga Khan benar-benar menjadi milik timnas Indonesia junior. Pada Piala Aga Khan 1966, timnas Indonesia Garuda akhirnya berhasil membawa gelar juara Piala Aga Khan 1966 ke tanah air.

Pertandingan pertama: timnas Indonesia Garuda vs Pakistan Railways 4-1

Pertandingan kedua: timnas Indonesia Garuda vs Karachi Port Trust 4-1

Aga Khan Gold Cup 1967:

Piala Aga Khan yang dijuarai timnas Indonesia Garuda berhasil dipertahankan PSMS. Pada masa ini, sebagai juara Perserikatan 1967, PSMS dikirim PSSI ke Piala Aga Khan 1967. Gelar juara Piala Aga Khan 1967 pun dibawa pulang ke tanah air.

Aga Khan Gold Cup 1968:

Timnas Indonesia yang berintikan para pemain Persija dan PSMS telah mengalami kegagalan untuk mempertahankan gelar juara Piala Aga Khan.

Aga Khan Gold Cup 1970:

Pada masa ini, Persebaya Surabaya menjadi wakil Indonesia di Piala Aga Khan. Berdasarkan informasi yang terbatas, NMR menduga bahwa kehadiran Persebaya di Piala Aga Khan 1970 merupakan hadiah bagi Persebaya yang telah menjuarai Piala Jusuf 1970.

Aga Khan Gold Cup 1977:

Provinsi Daerah Istimewa Aceh (kini Nanggroe Aceh Darussalam) tercatat sebagai peraih medali perunggu PON IX/1977. Atas prestasinya inilah, PSSI mengirimkan tim DI Aceh ke Piala Aga Khan 1977. Salah satu pertandingan yang terdata ialah Indonesia (baca: DI Aceh) kalah 2-4 dari India.

Aga Khan Gold Cup 1979:

Sejak Persija menjuarai Quoc Khanh 1973 di Saigon (kini, kota Ho Chi Minh), tim-tim Indonesia tidak berprestasi (juara) lagi. Karenanya, keberhasilan NIAC (New International Amusement Centre) Mitra menjadi juara Piala Aga Khan 1979 dianggap sebagai pelepas dahaga. Padahal, pada Piala Aga Khan kali ini, Korea Selatan (tim B) dan China (Liaoning) disebut-sebut sebagai calon juara.

Bahkan di babak penyisihan, NIAC Mitra mengalahkan Korea Selatan 4-1 dan Liaoning 2-1. Di final, NIAC Mitra mengalahkan Liaoning 4-2 melalui adu tendangan penalti setelah selama 2 x 45 menit dan 2 x 15 menit masih imbang 1-1. Selain itu, Dullah Rahim (NIAC Mitra) dipilih sebagai pemain terbaik oleh para wartawan Bangladesh.

About these ads