Menjelang pertandingan Indonesia vs Uruguay, NMR membuka-buka kembali arsip yang dimilikinya. Tentu saja, arsip (media) —lebih banyak berupa catatan— itu terbitan tahun 1974. Sayang, dari tiga media (Tempo, Kompas, dan Pikiran Rakyat) yang tersedia, tampak tidak ada informasi (data) yang lengkap. Bukan apa-apa, penelusuran data yang dilakukan hanya garis besarnya saja. Maklum, informasi seperti itu bukan tujuan utama NMR ketika menelusuri data (tahun 2002). Sesungguhnya, NMR dapat melengkapinya kembali, tetapi tidak dilakukan karena soal kesempatan saja. Namun demikian, dari informasi yang sedikit itu, NMR berupaya untuk menggambarkan suasana-suasana pada masa itu.
Pada masa ini, timnas Uruguay merupakan tim yang sedang mempersiapkan diri menuju Piala Dunia 1974 di Jerman (Barat). Sayang, ketika berkunjung ke Indonesia, tim asuhan Roberto Porta ini tidak disertai para pemain intinya. Sementara itu, timnas Indonesia asuhan Djamiaat Dhalhar merupakan tim yang dipersiapkan menuju Piala Anniversary 1974. Kelak, di turnamen yang berlabel “Jakarta Anniversary Football Tournament” ini, kursi kepelatihan berpindah tangan kepada Wiel Coerver. Lalu, tongkat estafet pun mengarah pada Aang Witarsa yang akhirnya berkesempatan untuk menjalani “PSSI Tour ke Eropa 1974” (bermain sebelas kali, termasuk ketika dikalahkan timnas Denmark 0-9 yang tercatat sebagai kekalahan terbesar timnas Indonesia sepanjang sejarah).
Setiap pemain, klub, dan/atau timnas tentu pernah mengalami pasang-surut penampilan. Ada kalanya mereka bermain baik, tetapi ada kalanya pula bermain buruk. Nah, gambaran itulah yang mewarnai timnas Indonesia era 1970-an.
Maksudnya, timnas Indonesia yang bertanding melawan Uruguay disebut-sebut memuaskan. Dapat dikatakan minim kritikan sebagaimana pertandingan-pertandingan sebelum dan sesudah melawan Uruguay.
Ketika berjumpa Uruguay, Indonesia memang menang 2-1 (Jumat, 19 April 1974) dan kalah 2-3 (Minggu, 21 April 1974). Namun, permainan timnas Indonesia dalam dua pertandingan itu dianggap memuaskan.
Ketika menang 2-1 atas Uruguay misalnya, trio Abdul Kadir, Waskito, dan Risdianto —yang jelas, tanpa Iswadi Idris sebagaimana timnas Indonesia beberapa waktu sebelum dan sesudahnya— mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Begitu pun Sutan Harhara, Subodro, dan Nobon yang mampu “melindungi” kawasan Ronny Paslah di daerah gawang. Sementara Anwar Ujang dan Jakob Sihasale siap maju ke depan.
Meskipun data formasi pemain timnas Indonesia itu terasa kurang lengkap (maklum data belum dicatat lengkap he he he), setidaknya formasi itu mendekati formasi terkuat timnas Indonesia di Piala Anniversary 1974. Dalam pertandingan pertama melawan Burma misalnya, timnas Indonesia menurunkan formasi pemain: Ronny Paslah (penjaga gawang), Sutan Harhara, Rusdy Bahalwan, Subodro, Anwar Ujang/Oyong Liza, Nobon, Waskito, Ronny Pattinasarani, Anjas Asmara, Risdianto, dan Abdul Kadir.
Semoga penampilan memuaskan itu akan kembali diperlihatkan ketika melawan Uruguay. Seperti biasa, melawan “A” selalu jelek, tetapi melawan “B” selalu bagus. Angin-anginan….
bung novan bisa bantu dapetin data lengkap pertandingan di tahun 1974 itu,,saya cari kemana2 gak ada..thanks for ur answers
Maaf sekali Mas Novianto Widigdo. Itu tidak mudah. Salah satunya butuh akses. Saya pernah mengalami, kalau “masyarakat biasa” biasanya sulit tembus (kecuali di perpustakaan). Data-data yang sedikit itu saya catat dari sumber seadanya. Di halaman blog itu kan ada latar belakang ceritanya. Mungkin lain kali. Kalau ada kesempatan, saya akan coba lagi. Salam
iswadi idris tak bisa tampil karena tak dapat ijin balik ke jakarta oleh klubnya sydney western suburb dari liga australia,.sutan harhara menyebutkan yang mencetak gol andjas asmara dan risdianto atau waskito,.karena beliau agak lupa,.setelah kekalahan di partai 17 april tersebut uruguay minta tanding ulang,.
Di luar bahasan “Indonesia vs Uruguay”, pada masa ini (1974-1975) memang ada empat pemain Indonesia yang bermain untuk klub luar negeri. Dua di Australia dan dua di Hongkong. Malah, ke-4 pemain itu sempat “dilarang” untuk memperkuat klub asalnya (Persija dan Persebaya) dalam Kejurnas PSSI 1975 karena kebijakan PSSI. Tentu pada masa ini ada protes sana protes sini. Akhirnya, mereka baru dapat berlaga di Babak “8 Besar” Kejurnas PSSI 1975.
Terima kasih juga atas cerita Iswadi Idris-nya.
Indonesia vs Uruguay bukan pada 17 April 1974, tetapi 19 dan 21 April 1974