Masih ingat dengan ikon pemain sepak bola Indonesia versi NovanMediaResearch (NMR)? Kalau anda sudah membacanya, syukurlah. Namun, sebetulnya masih ada satu kategori lain yang dipilih NMR (belum sempat dipublikasikan karena masih calon). Apa itu? Ikon pemain sportif.
Kandidat pertama jatuh pada Herry Kiswanto. Namun, itu masa lalu. Kalau mau membandingkan masa lalu dan masa kini, ibarat membandingkan Pele dan Maradona. Karena itu, NMR pun beralih pada Bambang Pamungkas. Sayang, prestasi timnas sebagai salah satu kriteria “gagal” dicapai. Apalagi usia Bambang Pamungkas kini sudah tidak muda lagi sehingga kesempatan untuk meraih gelar juara atas nama timnas Indonesia semakin tipis. Namun demikian, Bambang Pamungkas masih saya simpan.
Ada kandidat lain? Ya, tentu ada. Dialah Andik Vermansyah. Namun, NMR masih menyimpannya sebagai calon. Andik Vermansyah sering saya pantau sejak membela Persebaya (senior) tiga tahun lalu. Jadi, begini ceritanya.
Ketika membela Persebaya di LSI 2008-2009, NMR terpukau dengan ke-sportif-an Andik. Ah, ini mungkin hanya tahun ini saja karena setiap pemain ada naik turunnya. Itu ungkapan NMR ketika itu. Ketika Andik membela Persebaya di LSI 2009-2010, nilainya makin bertambah. Begitu pun di LPI (2010)-2011 ketika Andik membela Persebaya 1927.
Akan tetapi, bagi NMR, ia masih calon. Alasannya, ia belum sempat meraih gelar juara atas nama timnas Indonesia. Dengan usianya yang masih muda, kita berharap Andik Vermansyah mampu meraih gelar juara atas nama timnas.
Mengapa NMR memilih ikon pemain sportif? Ya, itu karena karakter. Dengan karakter kerja keras dan gesit, ia akan maju secara profesional. Maksudnya tidak cengeng. Lihatlah Bambang Pamungkas dan Andik Vermansyah, ketika terjatuh atau dijatuhkan, ia segera bangun, kecuali kalau memang benar-benar sakit. Dengan karekter seperti itu, mereka benar-benar menjiwai apa itu pesepakbola. Kalau jatuh atau dijatuhkan, itu sudah risiko. Kalau tidak mau jatuh (disengaja atau tidak) ya jangan main bola. Kita bisa melihat bagaimana sebagian pemain di Indonesia jatuh-jatuhan hanya sekadar untuk membuang-buang waktu. Sungguh disayangkan. Cengeng.
setuju mas NMR