Bagaimana Seharusnya Kita Menyusun Sejarah Klub? (1)

Hingga kini, PSSI terbelah menjadi dua. Pertama, PSSI versi Djohar Arifin Husin, dan kedua, PSSI versi La Nyalla Mattalitti.

Selain PSSI, klub-klub pun tampak terbelah. Bagi NMR, permasalahan ini bukan sekadar yuridis-formal, tetapi juga sosiologis-politis (dan unsur-unsur lainnya). Di Wikipedia —karena sifatnya yang terbuka, website ini sering mengubah informasinya— misalnya, dalam suatu kesempatan, saya sempat melihat laman Persija dengan Ketua Umum Ferry Paulus dan Pelatih Jaya Hartono. Bukankah kedua tokoh ini berbeda pengelolaan (Persija LSI dan Persija LPI)? Kini, per tanggal 9 April 2012, laman Persija itu sudah “dikuasai” oleh Persija LSI (baca: tertulis Ketua Umum Ferry Paulus dan Pelatih Iwan Setiawan).

Lalu, Arema. Tahun lalu, karena prestasinya di LSI, Arema menjadi salah satu wakil Indonesia di arena sepak bola Asia. Ketika akhirnya Arema LPI menjadi wakil Indonesia di Piala AFC, Aremania dan Aremanita mau menyusun apa tentang sejarah klub yang didukungnya?Apakah partisipasi di Piala AFC itu akan dimasukkan ke dalam sejarah Arema? (Sebagai perbandingan, dalam sejarah Persebaya, apakah juara ISNIS 1949 dan 1950 untuk SVB serta juara Kejurnas PSSI 1951 dan 1952 untuk SIVB mau dimasukkan ke dalam sejarah Persebaya meskipun dalam kedua kompetisi itu diikuti oleh klub-klub yang berbeda?). Jadi, sejarah mana yang hendak disusun untuk keberlanjutan nama sebuah klub (Arema)?

Persebaya? Secara kronologis, saya mencatat bahwa sejak didegradasi ke Divisi Utama Liga Indonesia 2010/2011 —dan dampaknya setelah dua kali batal bertanding melawan Persik— Persebaya marah kepada PSSI yang ketika itu dipimpin Nurdin Halid. Persebaya yang dimaksud kemudian membentuk nama baru: Persebaya 1927 (Saleh Mukadar) dan akhirnya mengikuti Liga Primer Indonesia 2011. Di sisi lain, Persebaya (Wisnu Wardhana) tetap mempertahankan keberadaannya untuk menyelamatkan Persebaya sebagai anggota PSSI era Nurdin Halid. Persebaya inilah yang mengikuti DivisiUtama Liga Indonesia 2010/2011. (Saleh Mukadar dan Wisnu Wardana kemudian bersatu untuk menurunkan Nurdin Halid dalam KLB PSSI di Solo).

Dari dua Persebaya ini timbul permasalahan. Pertama, jika Persebaya adalah Persebaya 1927 maka sejarah Persebaya sebagai anggota PSSI akan terputus selama satu tahun (2010-2011). Kedua, jika Persebaya adalah Persebaya DU (Divisi Utama) maka sejarah Persebaya sebagai anggota PSSI akan terus berlanjut sejak tahun 1927 hingga sekarang. Ketiga, jika Persebaya 1927 “mengambil alih” Persebaya DU maka selain sejarah Persebaya sebagai anggota PSSI terus berlanjut tanpa putus, konsekuensinya Persebaya (1927) harus bertanding di Divisi Utama Liga Indonesia 2011/2012 yang diselenggarakan oleh PT Liga Prima Indonesia Sportindo. Keempat, jika Persebaya (1927) bertanding di Liga Prima Indonesia 2011/2012 karena statusnya sebagai klub yang benar-benar profesional maka beberapa klub yang juga benar-benar profesional yang berada di Divisi Utama PT LPIS harus dipromosikan ke Liga Prima Indonesia 2011/2012. Sayang, kronologinya tidak tepat (pas) karena sebelumnya LPI sudah diisi oleh klub-klub yang kini berpindah ke Liga Super Indonesia 2011-2012.

PSM? Sejak kekisruhan PSSI dan menjelang lahirnya Liga Primer Indonesia edisi perdana, dari berita-berita di surat kabar setempat yang saya baca, di Kota Makassar ini lahir Makassar City FC. Ya, sebagaimana di kota-kota (besar) lain, lahir pula klub-klub untuk mewakili kota-kota tersebut yang menurut rencana akan diikutsertakan dalam Liga Primer Indonesia edisi perdana. Kelak, dalam kebimbangan antara “ikut PSSI” atau “membelot”, Makassar City FC inilah yang akan menampung para pemain PSM yang “dikecewakan” PSSI. (Setiap daerah memiliki karakter masing-masing. Sebagai salah satu perbandingan, menurut NMR, kalau saat itu Persib mengikuti LPI maka Bandung FC tidak akan pernah lahir. Selain itu, ada pula semangat 1928 untuk Jakarta 1928 FC dan semangat 1927 untuk Persebaya 1927). Klub Makassar City FC inilah yang kelak bernama PS Makassar mengikuti Liga Primer Indonesia 2011. Namun, entah karena nama PSM sudah melekat pada perserikatan Kota Makassar atau karena opini publik, kita menyebutnya tetap PSM. Dari sini, keberlanjutan sejarah PSM terputus, bukan? Sementara itu, PSM sebagai anggota PSSI era Nurdin Halid didegradasi ke Divisi I Liga Indonesia 2011/2012. Namun, PSM (1915) yang kelak hendak dibangunkan oleh Kadir Halid (adik kandung Nurdin Halid) justru tidak diakui oleh PSSI versi Ketua Umum La Nyalla Mattalitti. Alasannya, menurut La Nyalla Mattalitti, PSM yang asli adalah PSM yang berada di Liga Prima Indonesia 2011/2012. Jadi, masyarakat pencinta PSM, mau menyusun apa untuk sejarah PSM?

Masih ada hal yang menarik. Kini, beberapa klub terbelah menjadi dua. Hebat, dua klub memiliki kekayaan yang luar biasa sehingga keduanya bisa tampil di dua kompetisi. Padahal sebelumnya masyarakat pencinta sepak bola Indonesia mengetahui bahwa membentuk klub itu sangat sulit dalam aspek pendanaan. Nah, dalam konteks ini, mari kita tengok PS Bengkulu sebagai salah satu contoh. Maaf, saya tidak bermaksud mengecilkan masyarakat Kota Bengkulu dalam masalah kemampuan pendanaan, tetapi dalam konteks ini, saya justru salut dengan pendanaan setiap klub yang terbelah di Indonesia. Lihatlah PS Bengkulu yang benar-benar berada di dua kompetisi (Divisi Utama PT LPIS dan PT LI). Benar-benar unsur kepentingan ekonomis ada di sini. Siapa yang berada di belakangnya? Hal-hal seperti ini terjadi pula di beberapa klub lainnya.

Pemberitaan di beberapa media massa juga menarik. Lihatlah bagaimana media-media itu menulis daftar pertemuan di antara klub, baik klub “asli” maupun klub “palsu”. Seandainya, kelak, ada hasil rekonsiliasi, apakah klub A vs klub B akan disertakan dengan daftar empat kali pertemuan dalam satu tahun kompetisi (dua di LSI dan dua di LPI)?

Jadi, bagaimana seharusnya kita menyusun sejarah klub?

***)Catatan: tulisan tersebut berdasarkan sumber-sumber media. Kebenaran material dan formal tentu harus berdasarkan fakta-fakta hukum. Memang aneh dalam sepak bola, kalau dalam perekonomian, ketika PT atau CV atau Yayasan terbelah tentu tidak akan seberani klub sepak bola dalam menjalankan roda perekonomiannya. Sang pemilik modal (saham) tidak mau rugi he he he.

About these ads

4 responses

  1. menurut saya, Persebaya yang memiliki sejalah ya Persebaya Surabaya yang di Divisi Utama PT LI, begitu juga dengan Persija Jakarta dan PSMS MEdan yang berlaga di ISL,

    1. untuk kasus eks perserikatan mmg lbh susah dari eks galatama
      contoh kasus persebaya ..PT> dibentuk tahun 2008 dg nama PT.Persebaya Indonesia
      yg dimiliki oleh klub2 anggota persebaya dan Pemda surabaya.
      perpecahan persebaya versi WW dan cholid ghomorah (bukan SIM) pada waktu itudimulai dengan perpecahan pengcab PSSI jatim (naiknya LNM)dan perpecahan pengcab PSSI surabaya(WW dan cholid) WW dengan PT baru menguasai persebaya yg di dukung -/+ 6 klub anggota dan cholid didukung sebagian besar anggota klub masih dengan PT Persebaya Indonesia yg terbentuk 2008(sampai melibatkan intelejen POLDA jatim untuk mengetahui legalitas 2 kubu)
      2010 persebaya di tolak untuk ikut DU Pt LI(alasan administarsi) >>timbul untuk mengikuti LPI
      nama persebaya 1927 timbul dikarenakan ijin pertandingan
      .

      1. novanmediaresearch

        Ya. Kabarnya berimbas pula pada kompetisi intern Persebaya. Kini hanya ada satu Persebaya karena PSSI DAH sudah “hapus” klub2 IPL. Tinggal cari mana yg sah.

  2. inilah salah satu alasan restrart kompetisi. Agar semua jelas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: