“Sedih”-nya Putra Samarinda, “Senang”-nya Petrokimia Putra

Persisam dan Persisam Putra. Apakah ada perbedaannya? Kita mengetahui bahwa Persisam merupakan perserikatannya kota Samarinda. Persisam Putra? Persisam Putra merupakan klub gabungan (merger) antara dua klub yang berasal dari kota Samarinda yaitu Persisam dan Putra Samarinda. Jadi, jelas, dua nama itu berbeda.

Pada masa lalu, Persisam merupakan peserta kompetisi Perserikatan —kompetisi ini sering diidentikkan sebagai kompetisi amatir. Begitupun Putra Samarinda yang pernah mengikuti kompetisi Galatama (dan Liga Indonesia) —kompetisi ini sering diidentikkan sebagai kompetisi (semi) profesional.

Lalu, apakah bisa “klub sepak bola utama” yang profesional melakukan merger dengan “klub Perserikatan” yang amatir? Tidak rasional, bukan?

Namun, sebagian (besar?) dari kita tampaknya melupakan konsep Liga Indonesia yang direncanakan pada awal pendiriannya. Pada saat itu, Perserikatan yang menjadi peserta Liga Indonesia ialah klub profesionalnya, bukan amatir. Perhatikan pula istilah-istilah yang muncul: Eks Galatama dan Eks Perserikatan. Jadi, Persija (amatir) misalnya, membentuk klub Persija (profesional) untuk mengikuti kompetisi profesional (Liga Indonesia). Mau yang lebih mudah, lihatlah Malang United sebagai klub bentukan Persema Malang (meskipun akhirnya kembali lagi ke Persema karena alasan dapat “menghilangkan” sejarah dan/atau “salah paham” pada konsep).

Lupa atau tidak peduli pada konsep inilah yang membuat hampir semua pihak (klub) hampir tidak pernah berpikir profesional (khususnya pada masalah dana). Namun, tentu saja, hal ini bukan masalah mudah dan profesional atau tidak profesional bukan semata-mata pada perubahan nama klub. Tidak sesederhana itu.

Selain itu, klub profesional boleh pindah homebase atau bubar, tetapi Perserikatannya tetap ada. Lihatlah Persisam Putra! Persisam Putra boleh-boleh saja bubar (maaf, ini hanya contoh untuk menjelaskan), tetapi Persisam (tanpa “Putra”) mestinya tetap ada. Karena itu, NMR menulis Persisam Putra sebagai peserta Divisi Utama Liga Indonesia 2008-2009 (kompetisi profesional) dan Persisam (sebagai peserta kompetisi U-21 (kompetisi amatir).

Bagaimana jika klub profesional pindah homebase? Lihatlah Persijatim Jakarta Timur (DKI Jakarta)! Pada masa lalu, meskipun Persijatim berubah nama menjadi Persijatim Solo FC sehingga dapat mengikuti Liga Indonesia sebagai wakil kota Solo (Jawa Tengah), Persijatim Jakarta Timur tetap ikut serta dalam kompetisi amatir (U-18 dan U-15) di Zona DKI Jakarta.

Kembali ke Persisam dan Persisam Putra. “Beruntunglah” Persisam yang namanya tidak hilang. Nama Persisam masih harum dalam tulisan-tulisan di beberapa media massa. Putra Samarinda? Ah, mungkin Putra Samarinda “sakit hati” karena namanya jadi hilang dalam “perjuangan” merger tersebut.

Rasa “sakit hati” Putra Samarinda tentu tidak dirasakan oleh Petrokimia Putra (Gresik). Petrokimia Putra dan Persegres masih tercatat dalam sejarah sebagai Gresik United (meskipun kita jarang menulis atau mengatakan Persegres dan Petrokimia Putra). Jika mau disamakan, mengapa Gresik United tidak ditulis Persegres saja sebagaimana Persisam? Ya, mungkin itu hanya soal “nasib” antara klub Perserikatan dan klub Galatama.

Namun demikian, Persisam Putra dan Gresik United masih tetap langgeng. Bagaimana dengan PPSM Sakti (Magelang) sebagai hasil merger antara PPSM dan Panca Sakti? Kabar terakhir yang NMR peroleh, PPSM dan Panca Sakti telah “bercerai”. Kalau pun PPSM Sakti masih dipakai dalam kompetisi musim lalu, hal itu berkaitan pada masalah administrasi di PSSI. Nama PPSM Sakti terdaftar sebelum PPSM dan Panca Sakti bercerai.

Jadi, mana yang tepat: Persisam atau Persisam Putra? Jangan-jangan kita lupa dan tidak peduli pada masalah “sederhana” itu!

Iklan

5 Comments »

  1. 1
    day... Says:

    kini hanya ada satu, yaitu PERSISAM PUTRA.

  2. 2

    saya dari SD sangat tertarik dengan masalah persepakbolaan di Indonesia, sekaligus prihatin karna banyaknya “the real” club dari masing-masing daerah di Indonesia yang “menghilang”, “dihilangkan”, atau malah “mati” ditelan zaman. Seringnya klub asli daerah pindah homebase dan daerah yang ditinggalkan mencari klub dari daerah lain sebagai penggantinya, seakan akan jati diri klub tidak jelas. Saya salut sama perjuangan warga Surabaya (read: Bonek) yang mati-matian memperjuangkan “the real” Persebaya, yaitu Persebaya 1927 sebagai klub kebanggaan dari Surabaya, sehingga tidak seperti klub klub perserikatan di daerah lain yang kebanyakan sudah kehilangan jati dirinya sebagai klub asli daerah.

    • 3
      NovanMediaResearch Says:

      Ya, kisah Persebaya (1927) merupakan kisah memperebutkan/mempertahankan klub, bukan daerah, karena kalau daerah, Persebaya (yang kini bernama Bhayangkara FC) pun bertempat di Surabaya (baca juga: Sidoarjo) sebelum pindah ke Bekasi. Dari sini, kita bisa mempelajari bagaimana cara memperoleh kepemilikan klub (khususnya Perserikatan) dan dalam hal ini, masyarakat pencinta Persebaya berpihak pada Persebaya (1927). Di daerah-daerah lain pun, saya kira, tidak jauh berbeda. Juga ada dinamikanya. Selain itu, kecenderungan sekarang, coba saja perhatikan, yang berpindah itu: “organisasi”-nya ataukah “manajemen”-nya. Buktinya, klub daerah pun bisa dilahirkan kembali.

  3. 4

    Maaf Min, koreksi hehe Persebaya yang kini jadi Bhayangkara FC bukan “produk” asli Surabaya. Maka dari itu sempat ada penolakan terhadap Persebaya. Berbeda halnya jika klub itu benar benar lahir di Kota Surabaya, seperti Niac Mitra jaman Galatama.
    Saking “kadung tresno”-nya masyarakat Surabaya terhadap klub asli Surabaya (Persebaya 1927) dan bukan kepada klub yang berasal dari daerah lain yang pindah ke Surabaya (Persikubar Kutai Barat a.k.a Bhayangkara FC). Fanatisme Bonek saya anggap sebagai salah satu suporter yang begitu fanatik mendukung klub aslinya, berbeda dengan suporter di daerah lain, contohnya Pasoepati yang loyal mendukung klub yang membawa nama Solo (Pelita, Persijatim Solo FC, dan Persis Solo)
    Begitulah persepakbolaan Indonesia, penuh lika liku perubahan entah
    “organisasi” atau “manajemen” yang kadang membuat sejarah panjang klub menghilang terkubur jaman dan akhirnya terlupakan.
    Saya sendiri sebagai penikmat sepak bola Tanah Air, tidak “seloyal” Bonek dalam urusan mendukung klub hehe sebagai anak daerah, saya mendukung Persegi Gianyar, kemudian berpindahnya Putra Samarinda, otomatis membuat saya mendukung Bali United, sekaligus sebagai suporter Persebaya karena telah 5 tahun berdomisili di Kota Pahlawan. Semoga saja persepakbolaan di Indonesia semakin membaik _/|\_
    Salam Min, your post is really interesting to read.


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: