Sepak bola Sumut: Perserikatan 1985 sebagai Gelar Terakhir PSMS

Berbicara tentang persepakbolaan Sumatra Utara, kita tidak dapat melepaskan diri dari pembicaraan PSMS Medan. Pada tahun 1950-an, PSMS dimaklumi sebagai organisasi (bond) besar. Karenanya, beberapa bond “kecil” memprakarsai untuk mendirikan PSST (Persatuan Sepak bola Sumatra Timur) sebelum lahir PSSU (Persatuan Sepak bola Sumatra Utara).

Pada tahun 1950-an itu pula, meskipun Sumatra Utara sempat meraih medali emas dalam cabang olahraga sepak bola Pekan Olahraga Nasional (PON) III/1953 dan IV/1957, para pemainnya tidak sanggup membawa tim yang merupakan kependekan dari Persatruan Sepak bola Medan dan Sekitarnya itu untuk menjuarai kompetisi Perserikatan (baca: Kejurnas PSSI). PSMS sendiri akhirnya berhasil menjuarai kompetisi Perserikatan 1967 dengan bermaterikan beberapa pemain juniornya yang membawa PSMS (Junior) sebagai juara Piala Suratin 1967 (bersama Persija Junior) 3-4 bulan sebelumnya.

Terlepas dari kompetisi Perserikatan, PSMS tercatat sebagai jago turnamen. Lihatlah prestasinya: juara Piala Marah Halim (2 kali), Piala Fattahillah (1 kali), Piala Tugu Muda (1 kali), Piala Surya (1 kali), Piala Jusuf (1 kali), dan Piala Bang Yos (3 kali). Piala Walikota Padang pun turut diraihnya.

Namun, dalam level kompetisi, Kompetisi Divisi Utama Perserikatan PSSI 1985 tercatat sebagai kompetisi terakhir yang dijuarai PSMS. Dalam babak grandfinal di Stadion Utama, Senayan, Jakarta (23 Februari 1985) PSMS berhasil menumbangkan Persib Bandung 4-3 melalui adu tendangan penalti setelah dalam pertandingan selama 2 x 45 menit dan perpanjangan waktu 2 x 15 menit kedua tim bermain imbang 2-2. Dalam waktu normal, M. Sidik (menit 14 dan 35) membawa PSMS unggul 2-0 lebih dahulu sebelum disamakan Iwan Sunarya (menit 65) melalui tendangan penalti dan Adjat Sudradjat (menit 75). Sementara dalam lima kali tendangan penalti yang dilakukan oleh setiap tim, PSMS berhasil memperoleh dua angka melalui Musimin dan Mameh Sudiono, sedangkan Persib hanya memperoleh satu angka melalui Adjat Sudradjat.

Dalam pertandingan grandfinal Perserikatan 1985 itu, PSMS menurunkan formasi pemain: Ponirin Meka (penjaga gawang), Nirwanto, Hamdardi, Suheri, Sunardi B., Sakum Nugroho/Bangga Gultom, Musimin, Hadi Sakiman, Amrustian, Sunardi A., dan M. Sidik/Mameh Sudiono.

10 Comments »

  1. 1
    Daulat Pohan Says:

    Pak Nopan, tolong diulas juga sepakbola PON dari sejak PON 1 sd PON yang terakhir. Disini juga sejak tahun 1950 tim PON SUMUT banyak memenangkan medali emas. Mungkin ada 4 atau 5 kali.
    Terima kasih sebelumnya.

    • 2
      novanmediaresearch Says:

      Koleksi catatan saya masih belum lengkap. Kalau secara garis besar, saya yakin tim Sumatra Utara meraih medali emas PON 1953, 1957, 1985, dan 1989. Untuk PON 1969 masih belum ada catatan. Jadi, saya belum yakin. Jadi, ditunggu saja….

      • 3
        Daulat Pohan Says:

        Oke Bang, Pertandingan PON 1985 dan PON 1989 itu saya sempat nonton finalnya, Tahun 1985 vs Irian Jaya, SUMUT menang adu penalti. Tapi paling dramatis tahun 1989, ketika SUMUT tidak dijagokan dan dianggap underdog, ternyata di Semifinal mengalahkan JABAR dengan adu penalti setelah tertinggal 0-2 terlebih dahulu. Di final mengalahkan Jawa Timur yang ketika itu dipenuhi pemain nasional seperti Putu Yasa, Hanafing, Freddy Muli, Putut Wijanarko, Aji Santoso, M. Al Haddad dll. Pertandingan yang seru dan dramatis dimana SUMUT tertinggal dahulu 0-1. Tahun 1981 juga masuk final, tapi kalah melawan Lampung karna sistem pertandingan langsung dilanjutkan adu penalti, bukan perpanjangan waktu. Tahun 1969, nggak ada data, padahal ketika itu PSMS sedang dipuncak kehebatannya.

      • 4
        novanmediaresearch Says:

        Final PON 1985 dan 1989, saya juga sempat nonton di televisi (TVRI). PON 1985, Sumut vs Irian Jaya 3-2 (0-0) (0-0) melalui adu tendangan penalti. Penjaga gawangnya Jamaludin Hutauruk. PON 1989, Sumut vs Jatim 2-1. Saya ingat gol emas PON 1989 dari jarak jauh dan tak terjangkau oleh penjaga gawang.

        Ini memang soal persepsi. Sebagai orang Bandung, meskipun sepak bola Bandung (Jawa Barat) memiliki generasi emas pada era 1980-an, saya justru melihat Jabar sebagai tim yang biasa saja pada PON 1989. Sebaliknya, saya justru merasa kecewa pada tim Jabar ketika gagal menjadi yang terbaik di PON 1985.

        Terlepas dari itu, bagi saya, sepak bola PON ini menjadi sesuatu yang “aneh”. Misalnya, PON 1951 dijuarai Jabar, padahal Jakarta Raya yang diunggulkan. PON 1953 dan 1957, Sumut meraih emas. Sayang, di Perserikatan era 1950-an, PSMS tidak sempat juara. Justru bigmatch PON 1957 misalnya, terjadi pada Jabar vs Sulsel (5-3).

        Namun, di balik hal yang “aneh” itu, ada yang seirama. Sepak bola Jakarta merajai pada tahun 1970-an dan sepak bola Jatim merajai sejak 2000-an. PON dan Perserikatan begitu sejalan, seperti Persija Jakarta 1970-an dan PON 1970-an. Sementara klub-klub Jatim merajai divisi-divisi sepak bola di Indonesia.

        Kini, sebagian peraih emas PON 2012 ada di Persisam Putra.

  2. 5
    Daulat Pohan Says:

    Seingat saya tahun 1969 SUMUT juga menjuarai PON, ada 5 kali juara. Beberapa kali menjadi runner-up termasuk yang terakhir tahun 2012. Tapi mungkin saya salah, mungkin bang Novan bisa cek kembali data nya. Dulu di Medan era 1967 sampai 1971 PSMS juara perserikatan dan juga sudah beberapa kali menjuarai PON. Sampai masyarakat Medan dan SUMUT mengatakan PSMS sudah capek menjadi juara. Karna memang kala itulah generasi emas nya PSMS dan SUMUT.

    Saya setujum bahwa generasi emas Bandung (JABAR) adalah di era 80-an. Mestinya secara teknis dan permainan Persib lebih pantas juara Perserikatan tahun 1983 dan 1985. Permainan Persib kala itu begitu cantik seperti tiki-taka nya Barcelona sekarang. PSMS hanya mengandalkan semangat dan fanatisme disertai permainan keras dan cepat ala rap-rap. Taktik sederhana dengan sentuhan satu dua di sektor sayap kiri atau kanan. Dilanjutkan dengan umpan lambung atau terobosan ke depan gawang. Lapangan tengah sepenuhnya dikuasai oleh Persib dan tidak bisa dimenangkan oleh PSMS. Di era itu beruntung PSMS memiliki empat pemain belakang yang sama bagusnya dan dua gelandang bertahan yang gigih untuk bisa saling menutupi membendung serangan yang indah dan penuh improvisasi dari Persib. Akhirnya pertandingan ditentukan oleh adu penalti dan Ponirin memang menjadi penentu karna memiliki gerak reflek yang prima. Ini dibuktikan juga di tim Asian Games 1986 dan Sea Games 1987. Meskipun PSMS menang di hasil adu penalti tapi Persib menang pada permainan. Mungkin faktor nasib baik dan mental. Saya juga mengagumi Persib dari sisi permainannya yang indah.

    PON 1985 dan 1989 JABAR sangat dijagokan untuk menjadi juara, saya masih ingat era itu, pemain PERSIB sangat bersinar, cuma heran ketika di PON tidak bisa maksimal seperti di perserikatan. Siapa yang meragukan Kang Robby Darwis dkk. Tahun 1985 pertandingan pembuka PON langsung mempertemukan SUMUT dan JABAR yang berada di grup yang sama, pertandingan cukup seru seperti di perserikatan tetapi skor berakhir imbang 0 – 0. Pelatih SUMUT bukan lagi Parlin Siagian, Wibisono dan Zulkarnain Pasaribu tapi pelatih baru Nobon yang sangat terkenal ketika masih sebagai pemain Nasional. Perkembangan berikut saya sudah lupa, tapi finalnya SUMUT vs Irian Jaya dan hasilnya yang seperti bang Novan sebutkan diatas.
    JABAR waktu itu tersisih, cuma persisnya bagaimana, mungkin bung Novan punya datanya.

    Di tahun 1989 pertandingan pembuka SUMUT vs JABAR berakhir 1 – 0 untuk SUMUT. Anehnya di Semifinal kedua kesebelasan bertemu lagi. Saya nonton di Senayan. Jabar sudah unggul 2 – 0 sampai pertandingan tinggal tersisa 15 menit berkat dua gol Agus Suparman (Persita). Para penonton asal SUMUT sudah beranjak berangsur pulang karna waktu tersisa tinggal sedikit dan tidak mungkin bisa mengejar ketinggalan. Itulah sepakbola, sebelum peluit akhir pertandingan ditiup, tidak ada yang bisa memastikan hasilnya. SUMUT mengejar ketinggalan melalui dua gol Suherman (PSDS) dan Lasdi Arman (Medan Jaya). Skor imbang sampai akhir perpanjangan waktu dengan 2 – 2. Akhirnya dilakukan adu penalti. Kembali SUMUT dengan penjaga gawang Syahril Nasution unggul, saya lupa skor nya. Mungkin 4 – 2 atau 5 – 3, saya lupa.

    Di Final SUMUT mengalahkan JATIM 2 – 1 setelah sebelumnya tertinggal 0 -1 dari gol Syamsul Arifin (Niac Mitra). Praktis sepanjang pertandingan SUMUT dikurung habis oleh JATIM yang memiliki kualitas segudang pemain Nasional dari juara Perserikatan (Persebaya) dan Galatama (Niac Mitra) dimana sebelumnya tenaga anak-anak Medan terkuras habis ketika melawan JABAR dengan waktu recovery lebih pendek. Lima menit sebelum pertandingan berakhir SUMUT menyamakan kedudukan dari gol Bernard Siahaan (PSDS). Kemudian dilakukan perpanjangan waktu. Gol emas lahir dari tendangan jarak jauh dari hampir setengah lapangan oleh Suharto AD (PSMS & PSAD) yang tidak bisa dijangkau oleh Putu Yasa. Di SUMUT ada dua Suharto, yaitu Suharto MJ (Medan Jaya) dan Suharto AD (Angkatan Darat). Akhirnya SUMUT juara PON yang terakhir kali di tahun 1989.

    Tahun 2012 kembali ke final tapi kalah di perpanjangan waktu dari KALTIM. Mungkin penampilan puncak SUMUT adalah di semi-final ketika ketemu Papua dengan skor kemenangan 2 – 0. Secara teknis SUMUT lebih unggul dari KALTIM yang hanya mengandalkan serangan balik. Tapi pada akhirnya sepakbola adalah gol. KALTIM menjadi juara untuk pertama kalinya…..

  3. 6
    elang Says:

    wah, seneng juga saya baca komen bung novan dan bang daulat, jadi nostalgia. Saya ingat nonton Grandfinal PON 1989 di TVRI sempat kepotong dunia dalam berita hehe. Selesai dunia dalam berita lanjutan pertandingan yg memasuki perpanjangan waktu yg kemudian suharto AD memastikan kemenangan sumut. Yang saya ingat saat itu pemain sumut kalo gak salah ada iwan karo-karo (medan jaya) juga abdul rahman gurning (psms). Dikubu jatim kapten ferrel hattu (petrokimia),ada juga mustaqim (petrokimia), hanafing, jessie mustamu, jaya hartono (niac mitra). Ada juga maura hally (persebaya). Jatim unggul permainan tapi sumut menang mental. Pemain jatim keder dan takut oleh gertakan permainan keras para pemain sumut. Sampai2 iwan karo-karo djuluki jagal atau algojo senayan. Faktor lain jatim pakai kostum biru karena kostum hijau dpakai sumut. Seusai pertandingan pendukung sumut berlari di tribun atas senayan sambil mengibarkan bendera hijau sumut.

  4. 7
    elang Says:

    daulat@ untuk bung daulat, menurut catatan saya PON 1969 di surabaya memang juaranya adalah SUMUT. namun sumut tidak sendiri, karena sumut jadi juara akembar bersama DKI JAYA. hal ini 6 tahun kemudian terulang lagi di kejurnas PSSI perserikatan 1975 saat ‘lagi-lagi sumut (PSMS) jadi juara kembar bersama dki jaya’ (PERSIJA). Total SUMUT adalah tim terbanyak meraih juara alias menyabet emas PON dengan raihan 5 kali juara. Serta 3 kali jadi runner up pada PON 1973,1981 dan 2012. Di urutan kedua ada JATIM yang 4 kali juara pada PON 1996,2000,2004 dan 2008. Serta 1 kali jadi runner up pada 1989. Namun untuk catatan raihan 4 emas jatim diperoleh saat cabor sepakbola PON menerapkan aturan pembatasan usia U-23 yang dimulai di PON 1996. Di urutan ketiga DKI JAYA dengan 3 kali juara pada 1969,1973 dan 1977 serta 2 kali runner up pada 1951 dan 1953. Urutan keempat PAPUA dengan 2 kali juara pada 1993 dan 2004 (juara kembar dgn jatim) serta 4 kali runner up pada 1977,1985,1996,2008. Sedang PSMS adalah satu-satunya klub indonesia yang mampu jadi juara nasional 3 kali berturut-turut -‘juara perserikatan 1967,1969 dan 1971’- pasca kemerdekaan. Sedang slogan yang muncul era kejayaan PSMS dan tim PON SUMUT adalah ‘medan sudah bosan juara’

    • 8
      Daulat Pohan Says:

      @Bung Elang, Terima kasih atas info nya bung. Dengan demikian lengkap sudah data-data yang saya ingin konfirmasi. Memang era 1950 sampai 1985 adalah era terbaik bagi PSMS dan SUMUT. Sampai ada slogan “PSMS dan SUMUT sudah bosan dan sudah capek jadi juara, terlebih di era 1967 sd 1971. Sekarang sepakbola Sumatera Utara dan Medan sedang tertidur dalam mimpi panjangnya dan tidak lagi pernah juara sepakbola Nasional sejak tahun 1985 dan PON tahun 1989. Dulu sepakbola SUMUT dan Medan begitu berjaya sampai melahirkan banyak pemain nasional, sekarang juara nasional atau PON saja sulit. Pembinaan sepakbola di Medan sudah terhenti akibat sistem Liga yang diterapkan sekarang tidak cocok dengan pola pembinaan berjenjang dari klub2 anggota bond (perserikatan) dahulu. Perkembangan sepakbola di Medan dahulu tidak lepas dari kompetisi2 yang seru di Perkebunan2 (PTP) kemudian berlanjut pada klub2 anggota perserikatan PSMS dan kota-kota lainnya seperti anggota klub2 kota Binjai (PSKB), Asahan (PSSA), Tebing Tinggi (PSKTS), Simalungun (PSS) dll. Kompetisi pemain-pemain dari klub dalam satu kota dan perkebunan ini kemudian meningkat ke tingkat propinsi (PON SUMUT) atau mewakili ibukota propinsi (Medan). Era dulu Medan dan SUMUT tidak pernah kekurangan bibit pemain muda dan berbakat. Era kompetisi liga sekarang menyebabkan pembinaan berjenjang pemain dari sejak belia dulu secara perlahan-lahan mengalami kematian. Dulu bagi warga Medan sangat seru menyaksikan klub2 lokal anggota PSMS seperti Bintang Utara, Perisai, Tirtanadi, Dinamo, PSAD, Sinar Medan dll saling berkompetisi untuk menentukan siapa yang akan menjadi juara antar klub PSMS. Dari klub-klub tersebut lahirlah pemain2 seperti Ramli dan Ramlan Yatim, Cornelis Siahaan, Bahrum, Yusuf Siregar, Nobon, Parlin Siagian, Tumsila, Yuswardi, Sarman Panggabean, Ronny Paslah, Zulham Effendi, Wibisono, Zulkarnaen Pasaribu, Sunardi A, Sunardi B, Musimin, Sugito, Mameh Sudiono, M. Siddik, Sumardi, Ponirin, Nirwanto, Hamdardi, Iwan Karo-karo dan banyak lagi pemain lainnya. Sekarang pemain-pemain tangguh seperti dulu sudah jarang dilahirkan dari kompetisi antar klub. Klub seperti PSMS lebih suka mendatangkan pemain dari luar Medan atau pemain asing yang tentunya tidak memiliki semangat dan fanatisme ala Medan seperti pemain2 di era dulu. Sementara pemain2 berbakat di Sumatera Utara banyak keluar daerah bermain di klub2 lain. Kesulitannya adalah tidak mampu menerapkan pola permainan cepat, keras dan penuh fanatisme (Rap-rap) seperti dahulu. Disamping itu kehilangan ketokohan yang mampu membina sepak bola seperti TD. Pardede maupun Kamaruddin Panggabean. Sampai kapan sepakbola SUMUT tertidur dalam mimpi panjangnya… Hanya Tuhan yang tahu…..

  5. 9
    Anonim Says:

    PSMS pasti bisa ba nyak bibit di kampung dan kebun.

  6. 10
    Anonim Says:

    Medan dulu gudang bakat sepak bola karena lapangan sepak bola tersedia cukup, sekarang sudah jadi macam-macam, bagaimana bisa bangkit bang?


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: