Ikon Sepak bola Indonesia: Robby Darwis dan Herry Kiswanto

Siapa (mantan) pemain yang layak dijadikan ikon (icon) sepak bola Indonesia? Sesungguhnya, sudah lebih dari 3 (tiga) tahun yang lalu NMR hendak mengangkat tema ini. Namun, karena beberapa pertimbangan, antara lain soal keberanian, tema seperti ini belum sempat ditampilkan ke permukaan. Maklum, sepengetahuan NMR, sampai saat ini, belum ada pihak-pihak (termasuk media massa) yang mengangkatnya. Kalau pun ada, biasanya dinyatakan 10-100 Besar. Itu pun disusun bukan berdasarkan peringkat (ranking), tetapi abjad (alphabet).

Robby Darwis (Sumber foto: Novan Herfiyana)

Bukan apa-apa. Di negeri yang kita cintai ini, selain keterbatasan data, sikap sungkan (ewuh pakewuh) turut mempengaruhi. Lihatlah, siapa (mantan) pemain yang membuat biografi? NMR pun sempat mengingat ketika membuka-buka media tahun 1960-an. Ketika media tersebut membahas Bapak Sepak bola Vietnam, ada seorang pembaca di rubrik “Surat Pembaca” untuk mempertanyakan siapa Bapak Sepak bola Indonesia. Namun, media itu pun hanya mempersilakan kepada para pembaca yang mampu menjawabnya.

Namun, soal keberanian tadi, tepatnya nekad 🙂 NMR akhirnya mendapat tambahan tenaga keberanian —selain ingin memposisikan diri sebagai yang pertama, “aneh”, dan lain daripada yang lain. Ya, tambahan tenaga keberanian yang muncul dalam satu tahun terakhir ini, secara kebetulan NMR peroleh setelah menyaksikan acara Galeri Sepakbola Indonesia yang ditayangkan setiap hari Sabtu dan Minggu pada pukul 13.30 WIB. Dalam salah satu episode, acara tersebut menayangkan salah satu profil mantan pemain nasional. Tentu yang disertai prestasi-prestasinya sehingga NMR dapat menjadikannya sebagai data pembanding (untuk kepentingan cover both side dan check and recheck). Dampaknya, NMR pun semakin berani untuk mengangkat tema ini. Jadi, diharapkan terasa lebih fair. Lebih objektif.

Herry Kiswanto (Sumber foto: Media GO --scan/repro

Katanya, siapa yang memiliki informasi, dia akan menguasai dunia. Dari kalimat itu, NMR menangkap makna: kita dapat secara leluasa melakukan apa saja berdasarkan data-data yang ada. Katanya pula, siapa yang memiliki informasi, dia akan mampu (secara segera) membuat keputusan. Ya, dua kalimat tersebut mengandung dua kata kunci.

Kata kunci ketiga? Arogan! Dalam hal-hal tertentu, NMR senang dengan istilah arogan. Bagi NMR, dalam hal ini, arogan tidak dimaknai sebagai sombong atau angkuh, tetapi dimaknai sebagai rasa percaya diri (PD = PeDe).

Hampir setahun yang lalu, NMR sempat berbincang-bincang dengan seorang wartawan dari Bandung. Ketika membicarakan para pemain tim nasional (timnas) Indonesia tahun 1950-1960-an, kata-kata arogan sempat NMR lontarkan. NMR bercerita, ayah NMR misalnya yang ketika berbicara tentang timnas 1950-1960-an selalu bangga membesar-besarkan pertandingan Indonesia di Olimpiade Melbourne (Australia) 1956. “Dulu kan Indonesia berhasil menahan imbang Uni Soviet 0-0,” kata ayah NMR. Dalam kesempatan yang lain, beberapa saudara dan temannya ayah NMR pun selalu membangga-banggakannya. “Kamu tahu, dulu Indonesia bisa menahan Rusia (maksudnya, Uni Soviet) 0-0?” tanyanya serasa bangga menceritakan teman-teman seangkatannya yang berprofesi sebagai pemain timnas 1950-1960-an.

Novan Herfiyana ketika bertemu Robby Darwis seusai pertandingan uji coba (Senin, 11 Januari 2010).

NMR yang selalu berkutat dengan data-data sepak bola Indonesia sesungguhnya merasa bosan dengan pernyataan/pertanyaan itu. NMR kira, sebagian dari anda mungkin pernah mengalaminya karena informasi itu sudah umum. (Kenapa kekalahan 0-4 dalam partai ulang tidak pernah disebut-sebut oleh mereka ya he he he). Namun demikian, NMR hanya dapat bergumam dalam hati: “Oh, begitu bangganya mereka pada kejayaan para pemain yang membawa harum nama bangsa dan negara Indonesia di arena internasional”. Meskipun itu kisah lama, namun intinya mereka tetap bangga. Salut!!!

Pernyataan dan pertanyaan serupa pernah NMR baca pula dalam tulisan wartawan senior di sebuah tabloid olahraga ketika wartawan senior tersebut mewawancarai salah seorang mantan pemain timnas tahun 1950-1960-an. Namun, dalam tulisannya pula, wartawan senior itu pun mengakui rasa bangga yang dialami oleh salah seorang mantan pemain timnas yang diwawancarainya tadi. Rasa bangga sebagai anak bangsa yang ikut mengharumkan nama Indonesia di arena internasional. Ya, sikap arogan itulah yang NMR maksudkan sebagai rasa bangga karena berawal dari rasa PeDe. Rasa PeDe untuk mengangkat tema ini (baca: ikon sepak bola Indonesia).

Kata kunci keempat? Dapat dipertanggungjawabkan. Ya, maksudnya, data-datanya akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Jika PeDe berasal dari dalam diri sendiri, NMR khawatir ada rasa GeeR. Agar lebih fair, NMR pun menunggu penilaian dari luar.

Pada tahun 2005, salah seorang wartawan dari Jakarta bertanya kepada NMR. “Siap kalau (kamu) diseminarkan?” tanyanya. Maksudnya, data-data NMR diseminarkan. NMR memahami maksudnya. Ajakan itu bisa jadi hanya iseng atau main-main saja. Ajakan itu bisa jadi hanya ingin menguji NMR tentang sebuah penegasan dia untuk mempertanyakan keakuratan data-data NMR (Saat itu, NMR menulis artikel yang “aneh” ke seorang wartawan tersebut. Sebagai catatan pula, artikel itu dimuat, tetapi NMR belum memuatnya dalam blog NovanMediaResearch). Cari dalam alamat blog yang lain ya🙂

Kisah-kisah pengalaman dalam tulisan di atas merupakan latar belakang NovanMediaResearch yang mencoba memberanikan diri untuk memilih para pemain Indonesia yang layak dijadikan sebagai ikon sepak bola Indonesia (minimal) berdasarkan versi NovanMediaResearch.

Inilah empat kata kunci latar belakang itu: (1) ada banyak informasi (data-data), (2) dengan data-data itu, dapat membuat keputusan, (3) arogan (percaya diri) untuk membuat keputusan, dan (4) data-datanya (semoga) dapat dipertanggungjawabkan.

Mengapa NMR harus mengemukakan kata-kata kunci itu? Ya, karena NMR harus mencoba memberanikan diri untuk “menciptakan” ikon sepak bola Indonesia. Maklum, sebagaimana diceritakan tadi, pemilihan semacam ini belum pernah ada dalam sejarah sepak bola Indonesia. Kalau pun ada (karena data-data yang terbatas), biasanya dipilih 10-100 pemain. Itu pun bukan berdasarkan peringkat, tetapi abjad (alphabet).

Lalu, apa yang menjadi kriteria bahwa seorang pemain itu dapat dipilih menjadi ikon sepak bola Indonesia? Ada tiga kriteria:

  1. Pernah membawa klubnya menjadi juara kompetisi nasional level teratas (lebih khusus lagi, yang paling banyak).
  2. Pernah membawa timnas Indonesia menjadi juara di tingkat internasional.
  3. Pernah membawa klubnya menjadi juara di dua model kompetisi yang berbeda (Perserikatan/Galatama => Liga Indonesia/Liga Super Indonesia).
  4. (Nilai tambah): membawa klub/timnas menjadi juara di tingkat turnamen nasional/internasional. Khusus bagi Galatama, juara Piala Liga bisa dimasukkan.

Siapa pemain yang layak dijadikan sebagai ikon sepak bola Indonesia? Setelah diperas, ternyata ada dua nama yaitu Robby Darwis dan Herry Kiswanto. Kebetulan, kedua pemain itu pernah berada dalam dua jalur pembinaan kompetisi nasional yang berbeda yaitu Robby Darwis di Perserikatan dan Herry Kiswanto di Galatama. Dengan demikian, secara kebetulan, keduanya dapat mewakili kedua kompetisi tersebut.

Oh ya, kalau anda bertanya bagaimana dengan para pemain tahun 1950-1960-an? Ah, lihat saja antara Pele dan Maradona. Atau kalau dari sisi kelengkapan prestasi, lihat saja antara Rudy Hartono dan Susi Susanti di cabang olahraga bulu tangkis.

Jika di antara anda memiliki nama-nama lain selain keduanya atau ada masukan/koreksi (kritik) tentang data-data, silakan untuk memberitahukannya kepada NMR di novanmedia@yahoo.com.

Demikian. Salam🙂

Profil Robby Darwis dan Herry Kiswanto:

Robby Darwis:

Prestasi:

Juara (Divisi Utama) Perserikatan 1986, 1989/1990, 1993/1994

Juara SEA Games 1987 dan 1991

Juara (Divisi Utama) Liga Indonesia 1994/1995

Juara Piala Kemerdekaan 1987

Juara Piala Sultan Hassanal Bolkiah 1986 di Brunei Darussalam

Juara Piala Siliwangi 1984 (Tempo Utama), 1989, dan 1994

Juara Piala Jawa Pos 1990

Piala Persija 1991

Juara Piala Johnny Pardede International Hotel 1992

Juara Piala Pers 1993

Kekurangan:

Ketika di Kelantan (Malaysia) hanya bermain sebanyak satu kali.

Karir:

1981: Persib U-23

1982: Persib U-19 Piala Suratin (kini, U-18)

1983: Persib

1983-1984: Tempo Utama (Bandung)

1984: Tunas Inti (Jakarta)

1985-1989: Persib

Juli-Oktober 1989: Kelantan (Malaysia)

1989 dan seterusnya: Persib dan Persikab

Herry Kiswanto:

Prestasi:

Juara Galatama 1983/1984 dan 1984 (Yanita Utama), 1985 dan 1986/1987 (Krama Yudha Tiga Berlian)

Juara SEA Games 1987

Juara (Divisi Utama) Liga Indonesia 1995/1996

Juara Piala Kemerdekaan 1987

Juara Piala Sultan Hassanal Bolkiah 1986 di Brunei Darussalam (bersama Persib yang dipinjam dari Krama Yudha Tiga Berlian)

Juara Piala Liga 1987, 1988, dan 1989

Juara Piala Kasogi 1993

Juara Piala Indocement 1993

Karir:

1979: Persib

1979-1983: Pardedetex (Medan)

1983-1984: Yanita Utama (Bogor)

1985-1991: Krama Yudha Tiga Berlian (Palembang)

1991-1994: Assyabaab/Assyabaab Salim Grup (Surabaya)

1994-1996: Bandung Raya/Mastrans Bandung Raya (Bandung)

Kekurangan:

Karirnya sempat terputus di timnas Indonesia

7 Comments »

  1. 1

    keduanya sama-sama legendaris sepakbola indonesia dan saya tempatkan dalan pemain timnas indonesia sepanjang massa,.namun jangan lupakan ISWADI IDRIS,..dia juga cocok dijadikan icon,… sang kapten yang selalu percaya diri sehebat apapun musuh,berteknik tinggi,selalu bermain total di setiap pertandingan,…

    • 2
      novanmediaresearch Says:

      Betul. Dalam catatan saya, nama-nama seperti Iswadi Idris banyak. Namun, apakah nama-nama pemain tersebut sesuai dengan kriteria yang saya ajukan?

  2. 3
    eka kalbu Says:

    Robby Darwis
    Juara ke 4 Asia Games di Korsel 1986
    masuk kandidat pemain untuk timnas PPD 1985 sub grup III B (pelatih sinyo aliandoe)
    jadi pemain terbaik indonesia 1987
    dan pernah jadi pemain timnas piala asia 1996
    pemain legendaris 2007

    http://www.facebook.com/pages/Dukung-Robby-Darwis-jadi-Pelatih-Tim-Nas-U-23-untuk-Sea-Games-2011/236699693695

    • 4
      novanmediaresearch Says:

      Terima kasih atas infonya. Kalau mau diinformasikan, masih ada prestasi-prestasi lain dari Robby Darwis seperti juara beberapa turnamen segitiga, dan sebagainya. Namun, saya tetap mengacu pada tiga kriteria (plus) tersebut yang tertulis dalam blog🙂

  3. 5
    PUNTEN Says:

    herkis juara sea games 1987 sanes 1991

    • 6
      novanmediaresearch Says:

      Nuhun. Terima kasih atas koreksinya. Langsung saya betulkan ya?! Saya terlalu fokus pada Robby Darwis🙂 sehingga tidak hati-hati dalam check and recheck data. Benar kata Anda bahwa Herry Kiswanto menjuarai SEA Games 1987 (bukan 1991). Selain itu, sekalian saja saya tambahkan bahwa Herry Kiswanto pernah membawa timnas Indonesia menjadi juara Piala Kemerdekaan III/1987 bersama rekan-rekannya antara lain Ponirin Meka, Jaya Hartono, Robby Darwis, Patar Tambunan, Rully Neere, Ribut Waidi, Budi Wahyono, Ricky Yakob (dan lain-lain). Sekali lagi, terima kasih atas koreksinya🙂

  4. 7
    phil sunaryo Says:

    Saya setuju pendapat anda, saya menyukai kedua pemain tersebut disamping Ricky Yacobi tentunya. Saya sering melihat langsung bagaimana mereka bermain(juga lewat tv). Menurut saya sampai sekarang belum ada pemain timnas yang sebaik mereka.


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: