Sriwijaya FC 1976 dan 2004: Konsekuensi Rekor MURI Bisa Batal demi Hukum

Apakah Anda sore tadi (Rabu, 13 Januari 2010) jam 15.30 WIB menyaksikan pertandingan Sriwijaya FC Palembang vs Persija Jakarta Pusat, baik di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring (Palembang) maupun (terutama) melalui layar ANTV? Bukan…, bukan pertandingan itu yang NMR hendak bahas kali ini, tetapi cerita menjelang pertandingan tersebut.

Ya, secara sekilas NMR sempat menyaksikan Trivia Quiz dengan pertanyaan (lebih kurang): Kapan Sriwijaya FC lahir? Jawaban: Tahun 1976.

Mengapa NMR mengulas hal ringan seperti ini. Ada yang menarik?

Bagi warga kota Palembang (Sumatra Selatan), khususnya masyarakat pencinta rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) harap hati-hati dengan jawaban itu. Memang tidak ada yang salah, baik Anda, NMR, bahkan ANTV sekalipun. Itu semua karena tidak ada data administrasi di PSSI. Kok arahnya ke situ? Ya, menyerempet sedikit lah….

Berdasarkan sudut pandang yang satu, Sriwijaya FC merupakan kelanjutan nama dari Persijatim Solo FC (Solo) —sebuah nama yang “diberikan” media massa—, Jakarta FC (Jakarta Timur), dan Persijatim (Jakarta Timur). Jadi, ia lahir pada tahun 1976. Benar!

Namun, berdasarkan sudut pandang yang lain, Sriwijaya FC harus ditegaskan lahir pada tahun 2004. Mengapa? Ya, karena sebagai klub baru, Sriwijaya FC dinobatkan sebagai peraih dua piala pada musim yang sama yaitu Liga Indonesia 2007/2008 dan Piala Indonesia 2007/2008. Kalau tidak 2004, maka rekor MURI itu batal demi hukum. Alasannya, Sriwijaya FC merupakan klub pertama yang meraih kejayaan di dua kejuaraan itu pada era Liga Indonesia. Sepengetahuan NMR, itulah dasar bagi MURI.

Kalau tahun 1976, berarti itu terjadi pada era sebelum Liga Indonesia dan kita mengatakan sebagai klub pertama di Indonesia. Kalau tahun 1976 yang dipakai, berarti rekor MURI tidak berlaku bagi Sriwijaya FC karena Krama Yudha Tiga Berlian telah mendahuluinya yaitu juara Galatama 1986/1987 dan Piala Liga 1987.

Dalam kasus lain, kalau tahun 2004 yang dipakai, konsekuensinya Persijatim sebagai klub profesional telah mati. Kalau sebagai tim amatir, ya masih hidup. Dengan kata lain, Persijatim sebagai tim amatir masih bisa ikut serta dalam kompetisi amatir yaitu U-15, U-18, dan sebagainya di Zona DKI Jakarta.

Lalu, bagaimana dengan Divisi I, II, dan III yang katanya amatir? Ah, bingung. Mungkin juga hal ini terjadi di negara-negara lainnya. Misal di Spanyol (sebagai analogi). Kalau Barcelona B mendapat promosi, maka Barcelona B tersebut tidak diijinkan masuk ke divisi di atasnya. Artinya, Persijatim (Jakarta Timur) yang ikut divisi III akan bermuara sampai divisi I karena di divisi utama atau LSI tidak berhak lagi. Jatahnya kan sudah diambil Sriwijaya FC.

OK-lah, satu paragraf di atas kita singkirkan dulu. Kalau Persijatim (Jakarta Timur) sebagai klub professional dinyatakan masih hidup, berarti setiap klub amatir dapat membentuk klub baru untuk kemudian dijual. Misalnya, Persikad (Depok) dijual ke Bandung dan namanya menjadi Bandung FC. Lalu, Persikad amatir hidup lagi dan membentuk Persikad. Setelah itu, dijual lagi ke Surabaya sehingga namanya menjadi Surabaya FC. Lalu, Persikad hidup lagi dan membentuk klub-klub yang sama lainnya. Karena itu, jangan heran kelak akan lahir Medan FC, Bandung FC, Surabaya FC, Semarang FC, dan sebagainya. Padahal klub-klub itu berasal dari satu nama induk (Persikad).

Bagaimana dengan kompetisi musim ini? Ada yang menulis Persijatim dan ada pula yang menulis Jaktim FC atau Jakarta Timur FC. Mana yang benar? Boleh jadi, kita tidak memiliki data. Selain itu, sebagian besar dari kita pun memandang sebagai Persijatim. NMR sendiri masih tetap menulis Jakarta Timur FC. Alasan NMR, selain karena nama itu dipakai pada musim lalu, nama Jakarta Timur FC merupakan nama baru dan bukan Persijatim (kecuali kata-kata “kelanjutan nama”). Apakah memang demikian? Sekali lagi, NMR tidak tahu. Mestinya PSSI memiliki data administrasi. Jangan-jangan masyarakat pencinta dan pengurus perserikatan Jakarta Timur juga tidak tahu (?).

Jadi, kembali lagi ke Sriwijaya FC, penyebutan 1976 dan 2004 bukan hal yang sepele. Keduanya mengandung konsekuensi….

9 Comments »

  1. 1

    setuju bung,…

  2. 2
    Ella Says:

    Kalau saya jadi orang palembang sih gak bakalan bangga, Kenapa ?
    Karena Krama yudha fc dulu juga sama membeli ps yanita utama bogor yg bangkrut. sama modelnya seperti sriwijaya fc yg cuma ngebeli persijatim.

  3. 3
    Edward Says:

    nampaknya bakal ada 2 tim persijatim professional nih

  4. 4
    vanjava Says:

    yg di maksud “era Liga Indonesia” bukannya pas dimulai tahun “1994/1995”, trus hubungannya dengan “juara Galatama 1986/1987 dan Piala Liga 1987”?

    • 5
      novanmediaresearch Says:

      PERTAMA: Selain Liga (Super) Indonesia, ada Piala Indonesia. Selain Galatama, ada Piala Liga.
      KEDUA: Untuk memahaminya perlu “menjiwai” suasana pada masa itu (Galatama). Saya yang telah menelusuri data (semoga) dapat memahaminya🙂 Mudah-mudahan juga Anda (VanJava) atau yang lain dapat memiliki pengalaman yang lain.
      KETIGA: Masa lalu bisa jadi tidak relevan dengan masa kini. Namun, kembali lagi ke hal kedua (perlu dipahami lebih dahulu). Soalnya ada perbedaan persepsi. Meskipun contoh ini kurang tepat, misal, Jerman (Barat) juara Piala Eropa dulu (1972), lalu juara Piala dunia (1974). Sementara, Perancis juara Piala Dunia dulu (1998), lalu juara Piala Eropa 2000. Maksud keterangan ini ialah bahwa antarkejuaraan itu digelar secara berturut-turut (baca: tanpa jeda). Lihatlah, Krama Yudha Tiga Berlian (pada masa 1986-1987) dan Sriwijaya FC (pada masa 2007-2008).
      KEEMPAT: Dalam konteks MURI, rekor itu diberikan karena Sriwijaya FC dinyatakan sebagai klub baru (berdiri pada 2004). Karena klub baru, berarti saya melihatnya sebagai prestasi hebat di era “Liga Indonesia”. Soalnya, kalau di era “Indonesia” secara keseluruhan sudah ada yang memulainya yaitu Krama Yudha Tiga Berlian.

  5. 6
    Anton Says:

    Urusan gini memang ribet kalau klub bisa pindah2 homebase dan ganti nama. Kasus serupa: Fiorentina yang sekarang, secara sejarah sebetulnya beda dengan Fiorentina dulu yang sudah bangkrut. Trus situasi serupa di Spanyol juga terjadi di Jerman (ada Bayern Muenchen B, yang berlaga di lower division). Di Singapura, konon timnas junior dibuatkan satu tim (“Young Lions”) yang kemudian berlaga di divisi utama mereka.

    • 7
      novanmediaresearch Says:

      Timnas Indonesia U-20 juga pernah membawa nama Persiba Bantul di Divisi II Liga Indonesia 2004.

  6. 8
    Shiina Mashiro Says:

    bukankah seharusnya jika Persijatim pro (sriwijaya dianggap lahir 1976) hidup seharusnya klub perserikatannya tdk dapat membentuk klub profesional lagi? (karena jatahnya diambil sriwijaya)
    tapi jika teori klub profesional Persijatim dianggap hidup mengapa menurut mas pemilik blog perserikatannya dapat membentuk klub yg sama lalu “dijual” lalu bikin lagi dan dijual lagi?

    apa persepsi saya saja yg keliru?

    • 9
      NovanMediaResearch Says:

      Berkaitan dengan konteks judul: Jika Sriwijaya FC lahir pada 1976 berarti rekor MURI harus batal karena rekornya (sebetulnya) sudah diambil Kramayudha Tiga Berlian. Namun masalahnya, manajemen SFC sudah menyatakan bahwa SFC lahir pada 2004. Itu artinya, rekor MURI bagi SFC harus ditulis “sejak LI” dan bukan “sejak sepak bola Indonesia”. Jadi, anda mau pilih yang mana: 1976 atau 2004?

      Berkaitan dengan “klub profesional yang dibentuk Perserikatan sebagai induknya”, ini juga tidak ada panduan baku. Saya kan menyebutkan kalau SFC itu dibentuk berarti Persijatim (profesional)-nya sudah mati. Faktanya, kini, ada beberapa perserikatan yang hidup lagi. Misalnya Perseba (Super) yang menjadi Pusamania Borneo FC, kok Perseba ikut Liga Nusantara 2015? Kalau begitu jadinya, mengapa tidak, misalnya Persikad pindah, lantas Persikad “baru” dibentuk lagi. Begitu seterusnya. Jadi, tiada yang keliru. Maksudnya, konsep yang bagaimana yang dianut oleh sepak bola kita (selama belum ada panduan baku).

      Sebetulnya tidak hanya dalam Perserikatan. “Klub sepak bola utama” pun tidak jauh berbeda. Perhatikan Villa 2000 yang mengikuti Divisi Utama (profesional) dan Liga Nusantara (amatir) pada musim yang sama. [Ini soal sejarah dan kadang kita lupa. Sebutlah Mitra Kukar, kok Mitra Surabaya ikut Liga Nusantara 2015?]

      Akhirnya, kesimpulan dari obrolan ini yaitu: “Persijatim dihidupkan lagi, mengapa tidak?”. Jalan ceritanya memang begitu🙂


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: