Kongres Sepak bola Nasional: Mencontoh Kisah Sukses Persib

Salam jumpa lagi NMR sampaikan kepada anda. Karena sibuk dengan “tugas khusus”, NMR pun terlambat untuk memperbarui hasil pertandingan di blog ini. Namun, anda tidak perlu kecewa karena link-link PT Liga Indonesia sudah NMR sertakan sehingga update hasil pertandingan pun dapat dinikmati secara segera. Anda cukup meng-klik link-link tersebut.

Dalam kesempatan kali ini, NMR ingin bercerita tentang hal-hal menjelang Kongres Sepak bola Nasional (KSN). Setiap tim memiliki peranan masing-masing untuk memajukan prestasi sepak bola Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke. Namun, NMR hanya akan melihatnya dari sudut pandang Persib Bandung. Salah satu alasannya, informasi (fakta-data) untuk Persib memadai sehingga alur ceritanya diharapkan lebih mengalir (baca: tidak terputus-putus). Sebagian cerita ini merupakan kutipan dari “Persib ’86: Lahirnya Kembali Generasi Emas Persib” ditambah riset terbaru yang dilakukan NovanMediaResearch akhir-akhir ini. Selamat mengikuti!

Prestasi PSSI dan/atau tim nasional (timnas) Indonesia tidak dapat dilepaskan dari Persib. Begitu pun sebaliknya. Tentu saja, tim-tim lainnya se-Indonesia turut berperan dalam memberikan “saham-saham”-nya. Bukankah timnas Indonesia merupakan kumpulan para pemain Indonesia?

Pada tahun 1961, Persib berhasil menjadi juara Perserikatan (baca: Kejurnas PSSI). Dalam tahun 1961 inilah, timnas Indonesia berhasil menjadi juara Piala Asia Junior 1961 di Bangkok (Thailand), Merdeka Games Cup 1961 di Kuala Lumpur (Malaysia), dan Aga Khan Gold Cup 1961 di Dacca (Pakistan bagian Timur, kini Bangladesh). Suasananya sama. Sama-sama menikmati aura prestasi.

Setahun kemudian? Tahun 1962, prestasi sepak bola Indonesia disebut-sebut mengalami penurunan meskipun gelar juara Merdeka Games Cup dapat dipertahankan. Pada tahun 1962 inilah Persib dikirim PSSI ke Aga Khan Gold Cup 1962. Sayang, prestasi Persib tidak maksimal karena timnas Indonesia turut mempengaruhi. Dalam konteks ini, NMR ingin menunjukkan prinsip kerja sama antara klub dan timnas.

Latar belakangnya, Persib ditunjuk PSSI ke Aga Khan Gold Cup 1962 secara mendadak, yaitu beberapa hari seusai Merdeka Games Cup 1962. “Pelatnas” Persib pun hanya empat hari. Mengapa PSSI mengirim Persib secara mendadak? Ya, karena timnas Indonesia yang baru saja mempertahankan gelarnya di Merdeka Games Cup 1962 sedang mempersiapkan diri menuju Seoul (Korea Selatan) atas undangan negeri ginseng itu. Lalu, karena jaraknya dekat, Tokyo (Jepang) pun dikunjungi. Setelah itu, timnas Indonesia pun diikutsertakan ke Saigon (Vietnam) untuk mengikuti turnamen Hari Nasional Vietnam. Tampaknya, timnas Indonesia lebih tertarik untuk ke Korea Selatan/Jepang/Vietnam daripada mempertahankan Aga Khan Gold Cup yang diraihnya pada 1961. Jatah pun diberikan kepada Persib (juara Perserikatan 1961).

Persib yang “kaget” dikirim ke Aga Khan Gold Cup 1962 pun “hanya” memiliki pemain yang terbatas. Alasannya, lima pemain terkuat Persib yang dipanggil ke timnas Indonesia untuk memperkuat Persib ditolak PSSI. Mereka adalah Fattah Hidajat, Henkie Timisela, Ishak Udin, Emen Suwarman, dan Jojo Sunarjono.

Padahal, bersama kelima pemain itu, Persib berhasil mengalahkan timnas Jepang 2-1 di Stadion Siliwangi, Bandung. Timnas Jepang merupakan salah satu peserta Asian Games IV tahun 1962 yang gagal di babak penyisihan dan kemudian berkunjung ke Bandung. Di Asian Games IV tahun 1962 itu, Jepang mengalahkan Thailand 3-1, kalah 0-2 dari India dan 0-1 dari Korea Selatan.

Selain itu, pada Generaal Rehearsal (turnamen “4 Besar” untuk mencari para pemain “baru” Asian Games IV tahun 1962) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Persib bersama kelima pemain itu berhasil menjadi juara.

Singkat cerita, dalam perkembangannya, Persib mengalami keterpurukan prestasi pada tahun 1970-an. Paling tidak, itulah yang disebut-sebut sejarah Persib. Sampai akhirnya, pada akhir tahun 1970-an, Persib pun berjuang di Divisi I Perserikatan edisi perdana (1979). Dalam Putaran “12 Besar” Kejurnas PSSI 1979 ini, Persib gagal promosi karena satu-satunya tiket diperoleh Persipura Jayapura untuk menuju Divisi Utama Perserikatan 1980.

Karena merasa bertanggung jawab atas kegagalan ini, membuat Ketua Umum Persib Solihin Gautama Prawiranegara mengundurkan diri. Kisruh kepengurusan Persib dalam RALB (Rapat Anggota Luar Biasa) pun memanas. Namun, karena masih dipercaya soal kepemimpinan dan ketegasannya, Solihin G.P. pun masih dipercaya untuk menjadi ketua umum Persib kembali sehingga mantan gubernur Jawa Barat itu menjabat sebagai ketua umum Persib 1976-1982.

Dalam masa yang hampir bersamaan, beberapa pengurus Persib dan pengamat sepak bola di Bandung mengadakan diskusi sepak bola pada 21 November 1979 di Gedung Pusaka Tani, Jalan Palasari Bandung. Diskusi yang berjudul “Pola Pembinaan Persib Kita dalam Kondisinya Sekarang” itu membahas kertas kerja Rahmatullah Ading Affandie (RAF) dan beberapa pengamat lainnya. Dalam konteks ini, istilah “Diskusi” cukup relevan dengan “Sarasehan” atau “Kongres Sepak bola Nasional”.

Menurut sang pemrakarsa diskusi, Syamsudin Curita, diadakannya diskusi ini bukan merupakan reaksi atas kegagalan Persib pada Perserikatan 1979, tetapi ide ini muncul atas keprihatinannya mendengarkan suara-suara masyarakat di surat kabar-surat kabar yang bernada sinisme, jengkel, dan menyudutkan para pemain dan pengurus. Alangkah baiknya, ide-ide atau tanggapan itu disalurkan dalam suatu diskusi yang nantinya secara nyata dapat dipersembahkan kepada Persib sebagai usaha meningkatkan mutu persepakbolaan di Bandung.

Singkat cerita, lagi-lagi singkat cerita, kepengurusan Persib sudah solid kembali. Sumbang saran lewat diskusi pun telah dilakukan. Kini tantangan ke depan ada di tangan Persib. Marek Janota sang pelatih asal Polandia didatangkan. Mulai Februari 1980, Marek Janota mulai mencari, menghimpun, dan membina para pemain muda berbakat Persib. Salah satunya, Robby Darwis yang ditemukan Marek Janota ketika “jalan-jalan” ke kampung (Lembang, Kabupaten Bandung —kini Kabupaten Bandung Barat).

Hasilnya, sejarah mencatat bahwa dalam tahun 1983 sampai 1997/1998 (selama 15 tahun berturut-turut), Persib selalu berada di papan atas. Prestasi timnas Indonesia pun turut terkena imbasnya. SEA Games 1987 dan 1991 meraih emas. Asian Games 1986 ke Semifinal. Malah, prestasi ini membawa rejeki untuk Robby Darwis (pemain Persib) untuk menjadi ikon sepak bola Indonesia, setidak-tidaknya versi NovanMediaResearch. Mengapa rejeki? Ya, tidak semua orang berkesempatan seperti ini. Sehebat-hebatnya pemain nasional di dalam dan luar negeri, tetapi gagal meraih juara, sejarah akan mencatatnya kurang beruntung meskipun mereka tetap menjadi legenda: juara tanpa mahkota.

Jadi, selamat ber-“Kongres Sepak bola Nasional” untuk insan-insan sepak bola Indonesia. Salam🙂

6 Comments »

  1. 1
    UDIN PETOT Says:

    EDUN, cerita luar biasa .
    Nambah pengetahuan bagi saya…
    hatur nuhun

  2. 2
    alice pngen ..... Says:

    wew

  3. 3
    debodor Says:

    sejarah timnas tidak lepas persib,kejayaan persib,kejayaan timnas begitu juga sebaliknya ini artinya timnas kuat berasal dari tim-tim daerah yang merupakan cika bakal terbentuknya timnas yang kuat jadi pembibitan di tim-tim lokal sangat penting dan terus kontinyu….(mampir mas ke blog aku trus ksih komen)

  4. 4
    omiyan Says:

    Ya Persib adalah bagian dari sejarah PSSI jaman dulu tapi sayangnya sepak bola Nasional rusak gara-gara KETUM tidak diganti-ganti entah kenapa ada orang begitu betah padahal tidak memberikan kontribusi buat kemajuan sepak bola nasional

    salam

  5. 5

    ya,. marek janota yg di musim 1975/1978 membawa persija jadi runner up perserikatan dan musim 1978/1979 akhirnya mampu membawa persija jadi juara perserikatan,..kalo gak salah tahun 1990-an era liga indonesia sempat melatih persikab,.

  6. seharusnya berkaca dari masa lalu liga indonesia bisa lebih maju, kalau dulu tim2 jepang rela ‘belajar’ sepak bola ke bandung, sekarang sebaliknya kita yang harus belajar dari kesuksesan jepang, pengelolaan dan manajemen klub yang baik adalah kunci sukses J-league. Siapa tahu ISL bisa lebih hebat lagi dan mampu menandingi J-League, tentunya dengan berbagai pembenahan yang fundamental, termasuk diantaranya meninjau kembali kuota pemain asing (5 sebaiknya dikurangi menjadi 3, demi regenerasi pesepakbola nasional)


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: