PSSI yang Bingung: Persikabo atau Mojokerto Putra?

Dalam satu pekan terakhir, “kebingungan” PSSI dan/atau PT Liga Indonesia untuk memutuskan Persikabo (Bogor) atau Mojokerto Putra (Mojokerto) untuk lolos ke babak “8 Besar” Divisi Utama Liga Indonesia (LI) 2009/2010 mewarnai pemberitaan olahraga (sepak bola) di beberapa media tanah air.

Apakah anda sudah membaca Jangan Lupa dengan Kasus Lama Klub Anda yang Belum Terselesaikan di blog ini? Artikel dimaksud disajikan pada tanggal 25 Februari 2010 atau dalam dua bulan yang lalu ketika babak penyisihan (reguler) Divisi Utama LI 2009/2010 belum berakhir. Sayang, tampaknya PSSI kurang tanggap. PSSI menganggapnya biasa-biasa saja. Atau PSSI belum tahu ada blog ini he he he. OK-lah kalau begitu.

Ah, sayang pula bahwa sebagian media di tanah air hanya menganggapnya sebagai berita biasa (?). Maksud NMR, kalau berita itu diangkat memang sebuah berita. Namanya juga mengandung unsur-unsur faktual dan aktual. Namun, maksud NMR lagi, antisipasinya (baca: sikap proaktif) itu yang kurang didengungkan jauh-jauh hari.

Ya, bagi NMR, permasalahan itu bukanlah hal biasa. Bukan apa-apa, setiap peristiwa di tanah air selalu menciptakan reaksi (sebelumnya) dan hikmah (sesudahnya). Namun, reaksi di negeri ini (?) selalu dicari-cari. Bukankah proaksi (proaktif) lebih baik daripada reaksi (reaktif)?

Katakanlah seperti ini (dan ini merupakan “suasana kebatinan” NMR ketika hendak meng-upload artikel tadi). Pertama, kalau Persikabo gagal lolos ke babak “8 Besar” Divisi Utama LI 2009/2010 karena nilainya memang kurang, bukankah gugatan itu tidak akan terjadi? Kedua, kalau pun Persikabo lolos ke babak “8 Besar” karena nilainya memenuhi syarat, bukankah Persikabo tidak akan menuntut tambahan tiga nilai yang dikurangi? Buat apa menuntut, nilainya saja cukup kok. Namun, permasalahannya menjadi lain ketika Persikabo masih berpotensi untuk lolos ke babak “8 Besar”.

Sebetulnya, berdasarkan “suasana kebatinan” tersebut, NMR menginginkan agar sebelum babak penyisihan berakhir, setiap peserta sudah menyepakati keputusan yang diberikan PSSI dan/atau PT Liga Indonesia terlepas dari apakah keputusan itu menyalahi FIFA atau tidak. Dari situ diharapkan agar setiap peserta merasa tenang karena lolos atau tidaknya ke babak “8 Besar” sudah diketahui dalam diri setiap peserta.

Kalau sudah begini, bagaimana pula dampaknya terhadap hasil Divisi Utama LI 2008/2009? Makin bingung, bukan? Bagaimana pula dengan Madina Medan Jaya (Mandailing Natal) dan Gaspa (Palopo)?

Lepas dari dampaknya terhadap Divisi Utama LI 2008/2009, “kebingungan-kebingungan” seperti ini pernah terjadi pula pada Divisi I LI 2002/2003. Di sisi lain, NMR pun sempat “berdebat” dengan salah seorang rekan (yang sehobi dengan NMR) tentang penggunaan istilah “2002” dan “2002/2003”. Ya, karena “kebingungan” itu, Divisi I LI 2002 mengalami pengunduran ke Januari 2003. Akhirnya, NMR pun menulis “2002/2003”. (Hal itu bukan prinsipil selama diketahui tim-tim peserta dan langkah-langkah menuju babak final sehingga tidak terjadi tumpang tindih antarfakta atau antarperistiwa).

Pada Divisi I LI 2002/2003 itu, semula putaran final akan diikuti empat tim. Namun, karena terjadi protes, PSSI “kebingungan” dan akhirnya menetapkan enam tim lolos ke babak “6 Besar”. “Kebingungan” PSSI itu pun mengakibatkan ketidakadilan bagi Persis Solo.

Ah…, PSSI, jangan dulu bicara Visi 2020, benahi dulu administrasinya. Visi 2020? Maaf, NMR belum baca bukunya sehingga belum bisa berkomentar. Belum punya bukunya he he he….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: