Azwar Anas dan Agum Gumelar

Ini merupakan kisah lama, tetapi tidak terlalu lama. Katakanlah, kisah pada akhir tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an. Kisah ini pun sesungguhnya kisah yang akan diangkat NMR pada akhir bulan Maret 2010 lalu menjelang digelarnya KSN (Kongres Sepak bola Nasional) di Malang, 30-31 Maret 2010. Namun, karena suasananya dirasa tidak tepat, NMR pun menundanya untuk sementara. Sampai akhirnya, kisah ini pun diangkat kembali pada saat ini. Kisah apakah itu?

Pada saat itu, beberapa hari menjelang KSN, NMR memerhatikan ada komentar (pendapat) Bung Sumohadi Marsis (pemerhati olahraga sepak bola) yang cukup menggelitik. Katanya (lebih kurang) Azwar Anas memilih mengundurkan diri pada 1998 karena merasa gagal memajukan prestasi PSSI (baca: timnas Indonesia). Begitu pun dengan Agum Gumelar yang memilih sikap yang sama.

Apakah pendapat sang tokoh (yang kemudian dikutip sebagian media di Indonesia) itu tepat? Dari satu sudut pandang, menurut NMR, pendapat itu bisa jadi tepat. Namun demikian, NMR melihatnya dari sudut pandang yang lain, yaitu mundurnya kedua ketua umum PSSI (Azwar Anas dan Agum Gumelar) itu dilatarbelakangi oleh suasana-suasana pada masa itu.

Ya, suasana yang dirasakan NMR saat itu ialah Azwar Anas mundur karena lebih berkonsentrasi pada jabatan barunya (baca: menteri) dan Agum Gumelar lebih memilih untuk mencalonkan diri sebagai ketua umum KONI Pusat. Jadi, (maaf) bukan karena gagal sehingga kedua tokoh itu mundur dan terkesan lebih ksatria kalau mundur [meskipun di balik itu, NMR tetap mengakui jiwa ksatria keduanya karena setiap kali memimpin (di mana pun), hal itu hampir selalu dikatakannya sebagai bentuk pengabdian kepada nusa dan bangsa].

Terlepas dari kisah tadi, dalam konteks ini, NMR sebetulnya ingin mengungkapkan hal yang lain, yaitu NMR lebih menyukai media-media yang sejaman untuk menyampaikan kisah-kisah masa lalunya. Hal itu diharapkan agar NMR menyerap suasana-suasana pada masa itu. (Sayangnya tidak semua berhubung ketersediaan media-media yang sejaman).

Latar belakangnya seperti ini. Kalau anda membaca kisah-kisah masa lalu (di media mana pun, termasuk di blog ini) berdasarkan sudut pandang pada masa sekarang ini tentu akan terasa aneh, lucu, rancu, janggal, atau apalah istilahnya. Hal itu bisa menimbulkan protes (baca: perbedaan pendapat). Jangankan anda, komentar lucu dan janggal itu pula yang dirasakan NMR ketika membaca dan menyampaikan kisah-kisah masa lalu kepada anda. (Karenanya, NMR mengambil jalan atau cara dari media-media yang sejaman).

Ya, ada kalanya tanggapan kita memunculkan sikap yang tidak fair. Maklum, jamannya saja sudah berbeda, termasuk keadaan sosial-politiknya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: