Alfred Riedle

Pada hari Senin, 10 Mei 2010 yang lalu, Alfred Riedl telah mendarat di Indonesia. Siapa dia? Tentu saja sang tokoh asal Austria itu akan melatih timnas Indonesia (senior) dan timnas Indonesia (U-23).

Mengapa ia dipanggil untuk menangani timnas Indonesia? Kita semua tentu memahaminya bahwa ia (antara lain) telah berhasil mengangkat prestasi tim lain sebelum menangani timnas Indonesia.

Berbicara tentang prestasi di tim sebelumnya, sebagian dari kita tentu tahu dengan pelatih-pelatih timnas Indonesia terdahulu. Sebut saja Wiel Coerver (Belanda). Setelah berhasil membawa Feyenoord menjadi juara Piala UEFA 1973/1974, ia dipercaya untuk menangani timnas Indonesia di Pra Olimpiade 1976.

Lalu, datang pula Frans van Balkom (Belanda). Setelah berhasil mengangkat prestasi timnas Hongkong di Pra Piala Dunia 1978 (pada masa ini timnas Indonesia berada di bawah Hongkong dan Singapura), ia pun menjadi pelatih timnas Indonesia di Pra Olimpiade 1980.

Ada pula, Marek Janota (Polandia). Kali ini ia menjadi pelatih timnas Indonesia setelah membawa Persija menjuarai Perserikatan 1978/1979. Sayang, “hancur lebur”-nya timnas Indonesia di Piala Kirin (Jepang) 1979 membuatnya didepak oleh PSSI. Tampaknya Marek Janota tidak seberuntung Tony Pogacknik yang sempat membawa Persija menjuarai Perserikatan 1954. Tony Pogacknik malah menjadi pelatih timnas Indonesia 1954-1964 dan 1977. Kelak, dalam kedudukan seperti Marek Janota dan Tony Pogacknik yang menangani klub Indonesia, diikuti Henk Wullems (Belanda) yang melatih (Mastrans) Bandung Raya untuk kemudian ke timnas Indonesia.

Berikutnya, Ivan Venkov Kolev (Bulgaria). Ia dipanggil lagi untuk kedua kalinya setelah mengangkat prestasi timnas Myanmar. Masih ada? Ya, Peter Withe (Inggris) dilamar PSSI untuk mengikuti jejak prestasi timnas Thailand.

Gelar juara? Ah…, masih belum dapat tuh. Kini, Alfred Riedle tengah mencobanya. Akankah ia berhasil membawa timnas Indonesia menjadi juara?

Kita tunggu saja. Namun, yang jelas, siapa pun pelatih dan pemainnya, kali ini timnas Indonesia mau tidak mau harus meraih medali emas (dan juara umum) SEA Games 2011. Ini harga mati karena negara kita menjadi tuan rumah. Demi gengsi, bung.

Lalu, bagaimana kalau kita gagal lagi? Apa boleh buat, kita merasa ragu karena tidak memiliki track record yang bagus. Timnas Indonesia asuhan Anatoly F. Polosin (Rusia) pun sempat dikritisi habis-habisan selama dua tahun sebelum Indonesia meraih medali emas SEA Games 1991.

Beruntung Anatoly F. Polosin (beserta asistennya: Vladimir I. Urin dan Danurwindo) tidak “kabur” atau dipecat gara-gara kritikan itu. Ya, ibarat Sir Alex Ferguson yang selama empat tahun menunggu gelar di Manchester United. Namun, di sisi lain, kita pun melihat Benny Dollo yang diberi kesempatan selama dua tahun.

Jadi, haruskah Alfred Riedl diberi kepercayaan sebagaimana kepada Anatoly F. Polosin dan Sir Alex Ferguson yang mengangkat prestasinya setelah 2-4 tahun? Atau seperti Benny Dollo yang tidak diperpanjang kontraknya.

Bagaimanapun usaha (ikhtiar) dan takdir selalu tarik-menarik. Akhirnya, hanya sejarah yang dapat mencatat sehingga NMR (dan rekan-rekan lain) pun hanya dapat mengungkapkan kembali sejarah keberadaan pelatih timnas Indonesia kepada anda.

Semoga prestasi timnas Indonesia kembali sukses. Ya, NMR merasa mulai masa ini kita bangkit, maju kembali ke pentas dunia. Sepak bola Indonesia perlu dukungan dari semua pihak, termasuk dukungan dari para suporter yang kembali bersatu: saling memuji keunggulan tim masing-masing tanpa harus menjelekkan satu sama lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: