Arema: Juara Liga Super Indonesia 2009/2010

Kompetisi sepak bola Liga Super Indonesia (LSI) menghasilkan juara baru. Kali ini, Arema (Malang) berhasil meraih gelar juara LSI 2009/2010. Kepastian itu diperoleh ketika dalam pertandingannya yang ke-33, Arema berhasil menahan imbang tuan rumah PSPS (Pekanbaru) 1-1 di Stadion Kaharuddin Nasution, Rumbai, Pekanbaru (Rabu, 26 Mei 2010).

Dalam konteks persepakbolaan Indonesia, Arema tercatat sebagai “klub sepak bola utama” ketiga yang meraih juara Liga (Super) Indonesia. Dua klub terdahulu telah memulainya, yaitu Mastrans Bandung Raya (Bandung) pada LI 1995/1996 dan Petrokimia Putra (Gresik) pada LI 2002.

Masa Pendirian dan Perkembangan Arema

Berbicara tentang Arema dan “klub sepak bola utama”, kita tidak dapat melepaskan diri dari pembicaraan klub amatir dan klub profesional. Menurut konsepnya, klub-klub amatir yang hendak mengikuti kompetisi profesional (Galatama-LI) diharuskan mengubah statusnya lebih dahulu menjadi klub profesional. Kelak, klub-klub itu boleh mengubah namanya, merger, atau bahkan berpindah markas (homebase).

Jayakarta (Jakarta) misalnya, yang merupakan anggota Persija (Jakarta Pusat) membentuk klub profesional untuk mengikuti Galatama. Begitupun UNI (Bandung) sebagai anggota Persib (Bandung) yang membentuk klub profesionalnya. Sejarah pun mencatat bahwa UNI mengubah namanya menjadi Bandung Raya, yang kelak juga merger dengan Masyarakat Transportasi (Mastrans) sehingga khusus untuk LI 1995/1996 bernama Mastrans Bandung Raya. Menurut Ketua Bandung Raya yang juga PO UNI, Syamsudin Curita, perubahan nama itu dimaksudkan agar tidak terjadi kekeliruan nama dengan UNI Perserikatan (Pikiran Rakyat, 4 September 1987). Jika anda merupakan warga Jawa Barat, anda tentu mengingat tulisan Sari Bumi Raya ’76 (amatir) dan Sari Bumi Raya ’79 (profesional) di surat kabar Jawa Barat. Namun, di surat kabar Indonesia hanya ditulis Sari Bumi Raya (tanpa ’76 atau ’79) dalam Galatama I/1979-1980. Sari Bumi Raya (amatir) didirikan pada 10 Juni 1976, sedangkan Sari Bumi Raya (profesional) mengikuti Galatama yang mulai berputar pada 17 Maret 1979.

Ada juga Assyabaab (Surabaya) yang merupakan anggota Persebaya (Surabaya). Klub yang sempat memulainya di Divisi I Galatama 1990 ini melakukan merger dengan “Salim Group Surabaya” pada bulan Juli 1991 sehingga bernama Assyabaab Salim Group Surabaya. Berpindah homebase? Tenang, klub profesional boleh pindah kandang, tetapi klub amatir tetap berada di tempat asalnya, kecuali jika ditentukan lain. Lihatlah Mitra Surabaya (anggota Persebaya) yang tetap berada di Surabaya meski klub profesionalnya pindah ke Kutai Kartanegara dengan nama Mitra Kukar (sebelumnya, Mitra Kalteng Putra). Begitu pun Pro Duta (profesional) yang berpindah ke Sleman, tetapi Pro Duta (amatir)-nya tetap asyik-asyik saja mengikuti kompetisi intern Persib (kini, kompetisi U-15, U-18, dan U-20 Pengcab PSSI Kota Bandung).

Kembali ke kisah Arema, berdasarkan penelusuran informasi (data) NovanMediaResearch, pada bulan Juni 1987 dikabarkan akan dibentuknya klub Galatama Aremada ’86 (Malang) yang diambil dari Arema (Arek Malang) dan Aremada ’86 yang merupakan anggota Divisi I Persema Malang (Pikiran Rakyat, 10 Juni 1987). Dalam perkembangannya, Arema pun menjadi salah satu dari lima klub baru Galatama. Empat klub baru lainnya, yaitu Medan Jaya (Medan), Lampung Putra (Lampung), Bandung Raya (Bandung), dan Palu Putra (Palu). [Pikiran Rakyat, 30 Juli 1987]. Kelak, Pusri (Palembang) mengikuti jejak kelima klub tersebut. Selain itu, sejarah pun mencatat bahwa Arema berdiri pada 11 Agustus 1987.

Sebagai anggota baru Galatama, Arema dan klub-klub lainnya belum tentu diijinkan untuk mengikuti Galatama. Mereka harus diuji terlebih dahulu performa klubnya. Pada masa ini, klub-klub baru Galatama itu diuji coba dalam pertandingan segitiga bersama tiga klub terbawah Galatama 1986/1987, yaitu Semen Padang (peringkat ke-6), Perkesa ’78 (peringkat ke-7), dan Warna Agung (peringkat ke-8). Sementara Tunas Inti yang berperingkat ke-9 dari 9 klub peserta Galatama 1986/1987 telah mengundurkan diri dari Galatama.

Dalam pertandingan segitiga itu, Medan Jaya dan Pusri disatukan dengan Semen Padang (Padang) di Medan (7-9 September 1987), Arema dan Palu Putra disatukan dengan Perkesa Mataram (Yogyakarta) —sebelumnya bernama Perkesa ’78 (Sidoarjo)— di Malang (9-11 September 1987), serta Lampung Putra dan Bandung Raya disatukan dengan Warna Agung (Jakarta) di Bandar Lampung (11-13 September 1987). Kelak, uji coba-uji coba bagi klub-klub baru Galatama periode berikutnya dilakukan di Piala Liga.

Dalam perkembangannya, di Malang sedang diselenggarakan Piala Bentoel 1987. Arema pun turut menjadi pesertanya meskipun tertahan di babak penyisihan. Kejadian ini ternyata membawa berkah. Arema diijinkan secara langsung untuk menjadi anggota Galatama tanpa mengikuti pertandingan segitiga terlebih dahulu. Menurut Administrator Liga (Galatama), Acub Zainal, hal itu cukup memadai sebagai uji coba.

Masa penantian Arema pun sudah di depan mata. Galatama 1987/1988 mulai digelar pada tanggal 3 Oktober 1987. Sayang, dalam debutnya di Galatama, Arema harus mengakui keunggulan Perkesa Mataram 0-1 di Stadion Gajayana, Malang (4 Oktober 1987). Namun demikian, kekalahan itu tidak menyurutkan langkah Arema untuk berprestasi lebih tinggi di Galatama. Arema pun menempati peringkat ke-6 Galatama 1987/1988 dan tercatat sebagai klub baru tersukses dari klub-klub baru lainnya.

Era Liga Indonesia Jauh Lebih Berprestasi

Dalam sejarah sepak bola Indonesia, di era Galatama, Arema berhasil meraih prestasi terbaik di Galatama (juara pada 1992/1993) dan Piala Liga (runner-up pada 1992 setelah kalah 0-1 dari Semen Padang). Sementara di tingkat (level) turnamen, prestasi terbaik Arema dicatat pada Piala IPHI (Ikatan Penasihat Hukum Indonesia) I/1989 (runner-up). Pada babak final Piala IPHI I/1989 yang digelar di Stadion Gelora 10 November, Surabaya (29 September 1989), Arema mengalami kekalahan 0-1 dari Bandung Raya melalui gol Amir Huda pada menit 88. Gelar runner-up pula yang diraih Arema ketika dalam babak final Piala Bentoel 1991 yang digelar di Stadion Gelora 10 November, Surabaya (4 Februari 1991) dikalahkan Assyabaab Surabaya 3-4 melalui adu tendangan penalti. Atas kesepakatan kedua tim, adu tendangan penalti ini dilakukan tanpa didahului perpanjangan waktu 2 x 15 menit karena lapangan stadion tergenang air hujan. Malah babak final pun yang seharusnya digelar pada 3 Februari 1991 tertunda karena hujan lebat.

Sebelumnya, dalam waktu normal 2 x 45 menit, gol Arema yang dicetak Mahdi Haris pada menit 24 dapat dibalas oleh pemain Assyabaab, Yongki Kastanya pada menit 30.Selebihnya, Arema hanya menjadi partisipan antara lain di Piala Gubernur Jawa Tengah, Piala Jawa Pos, Piala Petrokimia, dan Piala Bentoel, serta Piala Utama. Pada masa kejayaan Arema 1990-an ini pula, Aji Santoso dan Singgih Pitono tercatat sebagai generasi emas pertama Arema di timnas Indonesia.

Memasuki era Liga (Super) Indonesia, prestasi Arema jauh lebih baik daripada era Galatama. Arema tercatat sebanyak tujuh kali melewati babak penyisihan (reguler) dengan lolos ke babak “12 Besar” dan “8 Besar”. Sayang, mungkin satu-satunya yang dapat dianggap sebagai masa kelam ialah ketika Arema terdegradasi ke divisi I pada LI 2003. Padahal, pada awal penyelenggaraan Divisi Utama LI 2003, Arema telah melepaskan kepemilikannya kepada PT Bentoel Arema dengan kompensasi dana segar. Ketika pelepasan tertanggal 29 Januari 2003 inilah peringkat Arema masih berada pada peringkat ke-20 atau juru kunci dari 20 peserta. Arema yang akhirnya menempati peringkat ke-17 Divisi Utama LI 2003 itu terdegradasi ke divisi I. Namun, Arema dapat melunasinya ketika menjuarai Divisi I 2004 dan sekaligus promosi kembali ke Divisi Utama LI 2005. Dari sini, Arema yang pada tahun 2009 mengubah namanya menjadi Arema Indonesia tancap gas. Gelar juara Piala Indonesia 2005 dan 2006 diraih. Kini, gelar juara Liga Super Indonesia 2009/2010 berada dalam genggamannya.

Namun demikian, Aremania dan masyarakat pencinta Arema tentu harus ingat pada sejarah pendirian, pertumbuhan, dan perkembangan Arema. Manis dan pahit, senang dan sedih turut mewarnai.

“Jelas sedih. Enam belas tahun sudah saya membawa tim ini. Tentu banyak suka dukanya. Saat ini saya terpojok oleh keadaan yang memaksa saya harus mengambil langkah pahit.”

“…saya jadi sasaran kemarahan orang. Biasanya kalau tim kalah yang dimaki pelatihnya, ini kok manajer. Mengamuknya Aremania juga hal aneh…”

Demikian ungkapan-ungkapan Lucky Adrianda Zainal (manajer Arema ketika “terpaksa” melepaskan Arema kepada PT Bentoel Prima) sebagaimaan dikutip dari tabloid BOLA edisi Jumat, 31 Januari 2003.

6 Comments »

  1. 1

    selamat sudah juara,.semoga benar2 juara sejati,.bukan karena faktor nonteknis,..karena percuma kalo juara dgn faktor non teknis,..saat tampil diluar anda tidak akan berdaya,..tapi secara keseluruhan arema baru 2 kali juara nasional (GALATAMA 1992/1993 dan LIGINA 2009/2010 saat ini),. bandingkan dengan persebaya yang sudah 6 kali juara nasional (PERSERIKATAN 1951,1952,1978,1987/1988,LIGINA 1996/1997,2004),. atau persib,psm dan psms yg juga sudah 6 kali juara nasional,.

    • 2
      den aremanita Says:

      AREMA tidak suka mengumbar KEHEBATANNYA..
      karena AREMA bukan club yg congkak..
      AREMA adalah club yg bermain indah dan semakin maju,,
      bukan semakin TENGGELAM..

  2. 3
    capung Says:

    ha..ha..ha..arema hebat..hebat dari hongkong..tim masih kemaren sore..juara dikatrol pssi aja udah sok..

  3. 5
    ferdiajah77 Says:

    Harapan saya, PERSITANGSEL bertemu dengan PERSIB di Lga tanding nanti. Hidup PERSITANGSEL KU.

    • 6
      ferdiajah77 Says:

      Ayoooo . . . maju trus jangan takut hadapi lawan mu. PERSIB.
      Sekali lagi. . . . hidup persitangsel.


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: