Timnas PSSI, NIVU, dan HNVB

Bond Jakarta dan Bond Solo sebelum bertanding dalam Indonesische Stedenwedstrijden 1930 di Yogyakarta (19 April 1930). Dalam pertandingan hari kedua ini, Bond Jakarta menang 3-1 dan lolos ke babak "final".

Pada suatu masa di tanah air kita. Ya, pada awal tahun 1900-an di “Indonesia”. [Perhatikan tanda kutip. Dalam bahasan kali ini, NMR memaknai Indonesia (tanpa tanda kutip) sebagai negara merdeka pada 17 Agustus 1945 yang memiliki UUD 1945. Ini bukan cerita tentang ketatanegaraan loh he he he]

Pada masa ini, NIVU sedang mempersiapkan “Timnas NIVU” menuju Piala Dunia 1938 di Perancis. PSSI sedang dipengaruhi pandangan Bauwens System (Jerman). HNVB sedang memperoleh “berkah” dari “perseteruan” antara NIVB/NIVU dan PSSI.

Pada awal tahun 1900-an, wilayah “Indonesia” yang dikenal sebagai Hindia Belanda (Nederlands Indie) merupakan wilayah jajahan Kerajaan Belanda. Selain Hindia Belanda, Kerajaan Belanda pun menguasai Suriname, Antillen, dan Belanda sendiri.

Ibi Societas, Ibi Ius. Di mana ada masyarakat (bagaimana pun primitifnya masyarakat itu), di situ ada hukum. Tiada masyarakat yang tanpa hukum. Begitu pula Hindia Belanda yang dikuasai hukum dasar tertulis (baca: konstitusi atau UUD) dari Kerajaan Belanda. Pada masa ini, Indische Staatsregeling (IS) yang merupakan UUD-nya pemerintahan Hindia Belanda memberlakukan “Golongan Penduduk” (baca: bukan golongan warga negara).

Secara umum, Pasal 163 IS membagi penduduk Hindia Belanda menjadi tiga golongan, yaitu (1) Eropa (baca: Belanda), (2) Timur Asing (baca: Tionghoa), dan (3) Pribumi (baca: “Indonesia”). [Tentu saja tidak sesederhana itu karena ada kriteria-kriterianya, seperti Arab dan India yang dimasukkan ke dalam golongan Timur Asing misalnya, sedangkan Jepang ada kalanya dimasukkan ke dalam golongan Eropa. Dalam hal ini, NMR hanya menyederhanakan.]

Apakah NMR mau membahas politik hukum suatu negara? Tidak! Membahas peraturan perundang-undangan? Juga tidak! Membahas sepak bola Indonesia? Ya! Anda pun sudah paham bahwa sepak bola Indonesia merupakan aspek yang dibahas NovanMediaResearch selama ini.

Pada masa ini, orang-orang Belanda menghimpun diri dalam klub-klub “kecil”. Klub-klub “kecil” itu dihimpun dalam klub-klub “besar”. Istilahnya, perserikatan (bond). Lalu, lahirlah klub-klub “besar” itu seperti VBO Jakarta, VBBO Bandung, dan SVB Surabaya. Klub-klub “besar” itu menghimpun diri dalam NIVB yang setiap kongresnya selalu diselenggarakan kompetisi (baca: turnamen antarkota). Kompetisi NIVB/NIVU pun berlangsung mulai 1914 sampai 1950.

Pertandingan-pertandingan dalam kompetisi NIVB/NIVU cukup bagus. Mereka menggunakan lapangan-lapangan yang bagus, elite, dan bonafid. Para penonton, termasuk orang-orang “Indonesia” sering kali menonton pertandingan-pertandingan kompetisi NIVB/NIVU. [Hal yang wajar. Kita pun, di jaman ini, senang menonton secara nyaman, bukan?]

Itulah sebabnya mengapa orang-orang “Indonesia” senang menonton pertandingan-pertandingan NIVB/NIVU. Malah mereka bergabung dengan klub-klub NIVB/NIVU yang dalam perkembangannya pula memperkuat “Timnas NIVU” menuju Piala Dunia 1938 di Perancis. [Pada masa ini, hidup merupakan pilihan. Mereka hidup pada jamannya. Batas-batas “nasionalis” dan “tidak nasionalis” masih dianggap kabur. “Merdeka” dan “tidak merdeka” masih impian. Merdeka dapat dikatakan sebagai takdir Tuhan yang memang sudah menjadi ketetapan-Nya. Perhatikan Alinea ke-3 UUD 1945: “Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa…”. Bagi pihak-pihak yang mengalami, perhatikan pula pilihan kehidupan di antara batas-batas Orde Lama-Orde Baru dan Orde Baru-Orde Reformasi. Kita tidak tahu masa depan seperti apa. Kita hanya bisa merencanakan dan berbuat karena kita tumbuh dan berkembang di jamannya.]

Bagaimana dengan golongan-golongan penduduk lainnya? Orang-orang Tionghoa pun tidak mau ketinggalan. Mereka membentuk klub-klub binaannya. Klub-klub itu mengimpun diri dalam CKTH pada 1927. Dalam perkembangannya, pada 1930, CKTH berubah menjadi HNVB. Mereka pun menyelenggarakan kompetisinya dalam setiap penyelenggaraan kongres. [Sampai saat ini, NMR memiliki referensi yang terbatas tentang sepak bola Tionghoa. Jadi, untuk sementara, NMR hanya menyajikannya secara sekilas.]

Bagaimana pula dengan orang-orang “Indonesia”? Mungkin sudah jamannya, orang-orang “Indonesia” pun membentuk klub-klub “kecil”. Klub-klub “kecil” itu membentuk klub-klub “besar” seperti, VIJ Jakarta, BIVB Bandung, SIVB Surabaya, dan sebagainya. Klub-klub “besar” itu menghimpun diri dalam PSSI. Kompetisi pun digelar dalam setiap kongresnya. Dalam catatan, kompetisi yang dimulai pada 1931 (cikal bakal pada 1930) itu berakhir hingga 1994 (dan hingga kini, 2010). Sayang, klub-klub “Indonesia” hanya dapat bertanding di lapangan-lapangan di daerah pinggiran. Sebutlah lapangan jelek dan becek. Katanya sih, mirip rawa. [Namun, ada hikmah. Ketika klub-klub anggota NIVB/NIVU dan CKTH/HNVB hanya berada di kota-kota besar, klub-klub anggota PSSI menyebar ke daerah-daerah pelosok. Dampaknya, klub-klub anggota PSSI pun semakin bertambah jumlahnya.]

Pada tahun 1930-an, kerja sama-kerja sama antarorganisasi olahraga Hindia Belanda (baca: pihak yang menjajah) dan “Indonesia” (baca: pihak yang dijajah) menjadi tren. Dalam cabang olahraga tenis misalnya, NITLB bekerja sama dengan Pelti. Lalu, di cabang olahraga bola keranjang, NIKB dengan PBKSI. Begitu pula PSSI yang bekerja sama dengan NIVB yang kita kenal sebagai Gentlemen’s Agreement 1937 pada tanggal 5 Januari 1937. Jangan lupa pula, ketika NIVB membuka diri terhadap PSSI, timbul perpecahan di dalam NIVB. Karenanya, NIVB yang bekerja sama dengan PSSI ialah organisasi yang berbendera NIVU pimpinan Mastenbroek.

Oh ya, bagaimana dengan orang-orang Tionghoa yang berhimpun dalam HNVB? Tampaknya asyik-asyik saja. “Tema sentral”-nya di negeri kita adalah perseteruan antara Belanda (penjajah) dan “Indonesia” (pejuang kemerdekaan). Sepak bola Tionghoa yang mendapat “berkah” memanfaatkannya untuk saling berkunjung ke tanah leluhur, negeri Tiongkok (kelak, negeri ini dikenal sebagai negara Republik Rakyat Tiongkok: China). Selain klub-klub Tionghoa yang berkunjung ke sana, klub-klub Nan Hwa asuhan Lee Wai Tong pun sering kali berkunjung ke “Indonesia” (baca: Pulau Jawa). Nan Hwa adalah klub asal Hongkong, suatu wilayah di China bagian Selatan. [Ingat, sampai 1997, Hong Kong masih terlepas dari Republik Rakyat Tiongkok.]

Kembali ke cerita NIVU-PSSI, atas Gentlement’s Agreement 1937, kali ini NIVU “mengijinkan” klub-klub PSSI untuk bertanding melawan klub-klub dari luar negeri. Tujuannya ialah untuk mencari pemain hebat guna memperkuat timnas NIVU ke Piala Dunia 1938. (Dalam sudut pandang yang lain, PSSI pun ingin mengirimkannya atas nama “Indonesia”). Ya, klub luar negeri itu, Nan Hwa. Sejarah pun mencatat bahwa “Timnas PSSI” berhasil menahan Nan Hwa 2-2 pada 7 Agustus 1937 di Semarang. Pertandingan itu pun dicatat dalam sejarah sebagai debut timnas Indonesia (baca: “Timnas PSSI”). Dalam kunjungannya ke “Indonesia”, Nan Hwa bertanding sebanyak 18 kali.

Inilah hasil pertandingan Nan Hua yang ditelusuri dan ditemukan NovanMediaResearch dari media yang se-jaman.

Nan Hua vs BB Vios combinatie 5-1

Nan Hua vs Chr. Tegal combinatie 2-1

Nan Hua vs SVJA (Batavia) 3-1

Nan Hua vs VBO (Batavia) 3-2

Nan Hua vs THH (Pekalongan) 6-3

Nan Hua vs PSSI 2-2

Nan Hua vs VSO (Semarang) 3-2

Nan Hua vs MVU (Magelang) 5-2

Nan Hua vs HBS (Soerabaja) 2-1

Nan Hua vs SVB (Soerabaja) 1-1

Nan Hua vs Tionghoa (Soerabaja) 2-1

Nan Hua vs Miss Riboet (Bandoeng) 0-3

Nan Hua vs VBBO (Bandung) 5-0

Nan Hua vs Sparta (Bandung) 3-1

Nan Hua vs VBO (Batavia) 0-4

Nan Hua vs Hercules (Batavia) 1-0

Nan Hua vs Rest Batavia 4-4

Nan Hua vs VIJ (Jacarta) 3-1

Keberhasilan “Timnas PSSI” menahan Nan Hua cukup mengagetkan NIVU. Bagaimana tidak, selama ini para pemain dari klub-klub anggota PSSI selalu bermain di lapangan yang jelek. Minim fasilitas. NIVU terkejut dengan kemajuan sepak bola “Indonesia”. Singkat cerita, dengan alasan Piala Dunia 1938 akan segera digelar, NIVU pun menutup diri terhadap para pemain PSSI.

Sebagai “anak negeri jajahan”, PSSI tidak bisa berbuat banyak. Selain itu, pada masa ini, lahir pandangan Bauwens System. Dr. Bauwens, ahli dan referee internasional terkemuka pada masa itu, menyatakan: “Bereskanlah dahulu rumah tangga, kemudian meninjau ke luar.”. [Inilah latar belakang pandangan itu. “…Sehabis perang besar di Eropah, keadaan sport seoemoemnja di Djerman mendjadi terlantar. Adalah Dr. Bauwens, achli dan international referee terkemoeka, jang telah melingkiskan lengan badjoe, memobiliseer pemoeda dan menoempahkan segenap tenaga pikiran oentoek memoelihkan kembali pergerakan sport dinegerinja. Selama memoelihkan keadaan itoe, sama sekali tidak dipikirkan bepergian keloear negeri.]

Apa boleh buat, PSSI tidak bisa mengirimkan tim nasionalnya ke luar negeri, seperti Piala Dunia 1938 (dan olimpiade) karena FIFA hanya mengijinkan satu organisasi dalam satu negara. Akhirnya, PSSI pun “menyepi”: konsolidasi. Mengurus dan menyempurnakan rumah tangga sendiri.

Kelak, pasca-17 Agustus 1945 sampai 17 Agustus 1950, kekuasaan wilayah “Indonesia” masih diperebutkan oleh Belanda dan Indonesia. [Sebagian kisah ini dapat anda baca di Timnas 1938, Timnas Kita?]

Ternyata, sejarah berkata lain. Indonesia berdaulat sepenuhnya. NIVU yang masih sempat berkompetisi pada 1949 dan 1950 di era RIS (Republik Indonesia Serikat) mau tidak mau harus bubar. Jika masyarakat umum meyakini NIVU sudah “mati” sebelum 1945, NMR justru menyatakan NIVU masih “hidup”. Hal itu, selain NIVU masih sempat menyelenggarakan kompetisi ISNIS (Ikatan Sepak bola Negara Indonesia Serikat) pada 1949 dan 1950, juga dibuktikan dengan adanya berita (surat) pada 1951 yang diterima PSSI dari FIFA (Karel Lotsky) kepada PSSI (Maladi) dan ISNIS (van Rommel). Surat itu menanyakan perihal kesiapan Indonesia guna menghadapi kedatangan Swedia. Karel Lotsky adalah Ketua KNVB yang menjadi anggota pengurus FIFA. Dalam catatan NMR, Karel Lotsky adalah ketua NIVB yang namanya diabadikan dalam piala (trophy) kompetisi NIVB.

Daftar Singkatan:

BIVB = Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond

CKTH = Comite Kampioenstrijden Tiong Hoa

HNVB = Hwa Nan Voetbal Bond

NIKB = Nederlandsch Indische Korfbal Bond

NITLB = Nederlandsch Indische Tenis Lawn Bond

NIVB = Nederlandsch Indische Voetbal Bond

NIVU = Nederlandsch Indische Voetbal Unie

PBKSI = Persatuan Bola Keranjang Seluruh Indonesia

Pelti = Persatuan Lawn Tennis Indonesia

PSSI = Persatoean Sepak raga Seloeroeh Indonesia

SIVB = Soerabajasche Indonesische Voetbald Bond

SVB = Soerabajasche Voetbal Bond

UUD = Undang-undang Dasar

VBBO = Voetbal Bond Bandoengsche en Omstreken

VBO = Voetbalbond Batavia en Omstreken

VIJ = Voetbalbond Indonesische Jacatra

5 Comments »

  1. 1
    amin yulianto Says:

    hai ternyata kota pekalongan punya klub tionghoa juga ya…!
    mungkin sekarang sudah bubar apa masuk kompetisi liga persip pekalongan ya?
    ada yang tau daftar juara kompetisi HNVB. tolong aku kasih tau,,,,

  2. 2

    wah, hebat sekali, detail sekali mengenai sepakbola tanah air. Kita dari komunitas Aleut! komunitas anak muda pecinta sejarah di Bandung. Jika ada info ttg sejarah sepakbola kota kami, kami minta infonya boleh?

  3. […] Timnas PSSI, NIVU, dan HNVB. 2010. Dimuat di https://novanmediaresearch.wordpress.com/2010/06/29/timnas-pssi-nivu-dan-hnvb/#comment-908 (blog ini highly recommended buat pecinta sepakbola […]

  4. 5
    interisti Says:

    memang “beda”, sangat informatif dan datanya eksklusif..


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: