Persebaya Juara Perserikatan 4 Kali Berturut-turut

Sebelum masuk ke materi pokok, sebagaimana direncanakan dalam halaman blog sebelumnya, NMR ingin menjawab pertanyaan: “Mengapa tim-tim kandidat juara Piala Dunia 2010 mengalami kegagalan?”. Namun demikian, karena “tiga teori kandidat juara” itu telah banyak dibahas di berbagai media massa, maka NMR akan membahas secara singkat saja. Baca saja di media-media ya…?!

Kandidat pertama (juara di semua benua): Brasil, gagal.

Kandidat kedua (selain siklus menunggu gelar juara selama 24 tahun, ada beberapa indikator lain, seperti lika-liku menuju putaran final Piala Dunia dan calon tuan rumah Copa America): Argentina, juga gagal.

Kandidat ketiga (angka keramat): Jerman, lagi-lagi gagal.

Mengapa mereka gagal? Tahukah anda bahwa dari Piala Dunia ke Piala Dunia hampir selalu dibahas salah satu tim semifinalis di Piala Dunia periode sebelumnya yang “pasti” gagal di Piala Dunia periode berikutnya? Ternyata, empat tim semifinalis Piala Dunia 2006 hadir semua di Piala Dunia 2010. Jadi, teori itu sudah berakhir. [Jangan terlalu serius ya?!.]

Materi pokok: Persebaya juara Perserikatan Empat Kali Berturut-turut?

Apakah anda pernah melihat daftar juara Perserikatan yang menyebutkan bahwa Persebaya menjadi juara Perserikatan 1950, 1951, dan 1952? Juara Perserikatan tiga kali berturut-turut?

Apakah data dalam salah satu versi daftar juara Perserikatan itu benar? Ya, benar! Malah NovanMediaResearch berani lebih ekstrem lagi: juara Perserikatan empat kali berturut-turut. Kok bisa?

Mari kita lihat ke belakang: kembali ke masa lalu. Selama berlangsungnya Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, NMR sering kali melakukan searching di berbagai media, terutama media online. Kata kunci atau informasi apa yang dicari? Kisah “Indonesia” dan “Piala Dunia 1938”.

Hasilnya, sebagian besar (mungkin 99,9 persen), informasi itu disajikan sebagaimana biasanya. Tidak ada yang “baru”. Sementara (mungkin) 0,1 persen, kisah NMR lain daripada yang lain. [Jadi, kalau anda ingin membaca kisah-kisah yang aneh, lain daripada yang lain, serta ngawur, kunjungilah blog ini. Baca dan nikmatilah…].

Kalau berbicara tentang informasi yang berbeda, hal itu dapat didasarkan pada detail atau tidak detailnya informasi. Kalau “Indonesia” itu adalah Hindia Belanda [memang demikian adanya], tentu Indonesia-lah yang berlaga di Piala Dunia 1938. Akan tetapi, kalau yang dibahas PSSI, NIVB/NIVU, dan HNVB, tentu saja ada sudut pandang yang lain. Ada sesuatu yang detail yang perlu dicermati secara saksama.

Nah, berkaitan dengan hal itu, itulah salah satu jawaban mengapa Persebaya disebut-sebut sebagai juara Perserikatan tiga/empat kali berturut-turut —meskipun akhirnya NMR hanya berpendapat dua saja.

Sebagaimana diketahui bersama, dalam catatan sejarah, kompetisi PSSI dimulai pada tahun 1931. Kompetisi itu biasanya diselenggarakan bersamaan dengan Kongres PSSI, kecuali pada 1937. Saat itu, Kongres PSSI mengalami pengunduran jadwal. Tempatnya pun berpindah: dari Solo ke Surabaya. Sementara kompetisinya tetap digelar di Solo yang putaran finalnya diikuti oleh Persib Bandoeng (juara District I), PSIT Tjirebon (District II), Persim Mataram (District III), dan Persis Solo (District IV).

Kompetisi itu berjalan normal hingga tahun 1941. Pada 1942 dan 1943, ketika masa “Pendudukan Jepang” kompetisi mengalami kendala. Sejarah Indonesia pun mencatat bahwa Jepang mulai menduduki “Indonesia” pada 8 Maret 1942.

Pada masa ini, terutama pada pascakemerdekaan RI (17 Agustus 1945), para pemain bangsa Indonesia yang kebetulan harus berprofesi sebagai pejuang kemerdekaan harus mempertahankan kemerdekaan negerinya yang diambil alih kembali oleh Belanda dari tangan Jepang. Belanda pun ingin menguasai kembali.

Dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan, persepakbolaan NIVU bangkit kembali. NIVU masih menyelenggarakan kompetisi ISNIS/VUVSI (Ikatan Sepakbola Negara Indonesia Serikat/Voetbal Uni Verenigde Staten van Indonesie). Pesertanya, antara lain VBO Jakarta (pesaing VIJ/Persija sebagai anggota PSSI), VBBO Bandung (pesaing Persib), VSO Semarang (pesaing PSIS), dan SVB (pesaing SIVB/Persebaya). Dalam kompetisi NIVU pasca-RI berdiri yang hanya diselenggarakan sebanyak dua kali (1949 dan 1950) itu, SVB keluar sebagai juara dua kali berturut-turut.

Kisah itu kan berada dalam suasana Negara Republik Indonesia Serikat yang berakhir pada 17 Agustus 1950. Keadaan sosial-politik Negara Kesatuan Republik Indonesia tentu sudah lebih kuat. Segala hal yang berbau Belanda tentu saja kurang dukungan secara politik dan mau tidak mau harus bubar.

Singkat cerita, VBO Jakarta bubar. Sebelum bubar, VBO mengadakan rapat pembubaran dan sekaligus menganjurkan klub-klub “kecil” anggotanya (dan para pemainnya) bergabung ke VIJ yang telah berganti nama menjadi Persija. Jika VBO bergabung ke Persija, VBBO Bandung —yang sempat bernama PSBS— membubarkan diri sehingga di Bandung hanya ada Persib. UNI dan SIDOLIG pun kehilangan induk. Lalu, kedua klub-klub “kecil” anggota VBBO itu masuk menjadi anggota Persib.

Bagaimana dengan SVB? Dalam sejarah Persebaya, SVB melebur dengan SIVB untuk menjadi Persibaya —pada 1959 menjadi Persebaya. Kalau SVB menjadi juara ISNIS 1949 dan 1950 serta SIVB/Persibaya/Persebaya menjadi juara Perserikatan 1951 dan 1952, berarti Persebaya menjadi juara Perserikatan empat kali berturut-turut, bukan?

Apa yang menjadi dasarnya? Pertama, ketika Persebaya menjadi juara Perserikatan 1952, salah satu media menyebutkan (lebih kurang) “Untuk kali ke-4, Persebaya juara lagi”. Kedua, selain itu, beberapa nama pemain SIVB/Persibaya/Persebaya juga pernah membawa SVB menjuarai kompetisi ISNIS.

Mengapa ditulis “1950, 1951, dan 1952” dan bukan “1949, 1950, 1951, dan 1952”. Mungkin, kita selalu nge-pas-nge-pas-in (baca: mencocok-cocok-kan) karena PSSI lahir kembali pada September 1950 di Semarang dan bukan 1949. Kalau 1949, cerita sejarahnya tidak logis, bukan?

Lalu, terlepas dari cerita tentang Persebaya tadi, apakah anda pernah mengetahui bahwa Persib menjadi juara Perserikatan 1950? Dalam satu-dua profil Aang Witarsa (pemain Persib 1950-an), Aang Witarsa pernah menyatakan bahwa dirinya membawa Persib menjadi juara PSSI tidak resmi pada 1950 di Semarang. Tidak resmi? NMR menduga bahwa kompetisi PSSI tidak resmi itu terjadi ketika Kongres PSSI 1950 di Semarang (ketika PSSI dihidupkan lagi).

Kita pun jadi mengingat kembali kisah NMR sebelumnya tentang perjalanan kompetisi yang bersamaan dengan penyelenggaraan Kongres PSSI. Dalam cerita sebelumnya, bukankah PSSI yang lahir pada 19 April 1930 dimeriahkan oleh “kompetisi” pada 1930 (yang NMR tulis sebagai cikal bakal kompetisi Perserikatan)? [Catatan: hanya NovanMediaResearch yang menulis seperti itu. Semoga akan ada pihak-pihak lain yang membuat cerita sejarah ini menjadi “sempurna”.]

Baca juga:

Timnas 1938, Timnas Kita?

Revisi Fakta Juara-juara Perserikatan

Pengungkapan Fakta yang Disempurnakan: PSMS Juara Perserikatan 3 Kali Berturut-turut

Kejurnas PSSI 1964/1965: Kejurnas PSSI Gaya Baru

Iklan

10 Comments »

  1. 1
    feri istanto Says:

    Bung Novan tepat… Putaran Final Kompetisi/Kejuaraan PSSI memang jadwalnya biasanya dibarengkan dengan penyelenggaraan Kongres PSSI… Jadi jadwal kompetisi mengikuti jadwal kongres. Tapi untuk Kompetisi Tahun 1930 berlaku sebaliknya.

    Hal ini saya dapatkan berdasar artikel di Kedaulatan Rakyat tahun 1960an. Jadi Kongres PSSI yang mengikuti jadwal Kompetisi saat itu. Ceritanya kurang lebihnya adalah di Yogyakarta waktu itu diselenggarakan turnamen antar kota bersamaan dengan perayaan Paskah. Nah disela sela turnamen itulah diselenggarakan pertemuan (kongres) yang akhirnya membidani lahirnya PSSI. Makanya tidak mengherankan, kalau beberapa pemain (Maladi/Persim-PSIM, M. Pamoedji/Persebaya) menjadi wakil klub yang hadir dalam pertemuan itu.

    • 2
      novanmediaresearch Says:

      Wah terima kasih sekali nih infonya. Info ini dapat dijadikan sebagai pelengkap dan “penyempurna”. Semoga akan semakin memperkaya khazanah sepak bola Indonesia yang tidak pernah lari dari pakem sejarahnya. Adakah rekan-rekan lain yang dapat menambah dan bahkan mengoreksinya?

  2. 3
    Waliwalak Says:

    Mau tanya bung novan,kalo squad persibaya pada saat juara 4kali itu sapa aja?thanks

    • 4
      novanmediaresearch Says:

      Formasi pemain SVB ketika menjadi juara Kompetisi ISNIS NIVU 1950: Mo Heng (penjaga gawang), Walandouw, Tiong Khiem, Elmensdorp, Peng Hwa, Saderan, Van der Weiden, Ing Hien, San Liong, Seeman, dan Stalder.
      Formasi pemain Persibaya (SIVB + SVB) ketika menjadi juara Kompetisi Perserikatan PSSI 1951: Kek Kwie (penjaga gawang), Saderan, Ferdinandes, Matsurip, Sidik, Peng Hwa, Hasan, Tiong Ho, Stalder, San Liong, dan Taihitu.
      Selebihnya, masih perlu ditelusuri lagi. Maaf, data belum tersedia.

  3. 5
    waliwalak Says:

    thanks bgt bung bwt infonya..

  4. 6
    pringgawiraatmaja Says:

    kalau di musim 1993/1994 skuad persebaya ada siapa saja bung novan ?

    • 7
      novanmediaresearch Says:

      [Disusun secara alfabet]: PENJAGA GAWANG: Hengky Kurniawan, Koko Sunaryoko, Riono. BELAKANG: Arifin, Ali Mashuda, Azaria, Hartono, Irawan, Kennedy, Margono, Mujianto, Subangkit. TENGAH: Eddy, Maura Helly, M.N. Muzaky, M. Nurkiman, Winedy Purwito, Yongky Kastanya. DEPAN: Abdul Rohmad, Agus Salim, Agus Winarno, Anis, Dodik Suprayogi, Nurul Huda.

  5. 8

    bung novan, saya masih kebingungan dengan hasil sesungguhnya perserikatan 1941. di rsssf dan dokumen persis solo, mereka mengklaim menjadi juara usai mengalahkan Persib bandung. sedangkan persebaya jug amengklaim mereka yang juara usai mengalahkan Persija.. di lain sisi ternyata PSIM Jogja mengklaim mereka berhasil jadi runner up kala itu usai kalah di final lawan Persebaya… lah yang bener yang juaara dan runner up siapa????

  6. […] memperkuat argumen. Jika Anda tertarik dengan sejarah Persebaya, silakan melanjutkan membaca di novanmediaresearch.wordpress.com dan […]


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: