Pro Duta (Sleman) pun Menjadi Pro Titan (Medan)

Satu lagi klub “sepak bola utama” di Indonesia dikabarkan akan berpindah homebase. Kali ini, Pro Duta dari Kabupaten Sleman (DI Yogyakarta) akan menempati rumah barunya di Kota Medan (Sumatra Utara).

Klub profesional yang memulai kiprahnya di Kota Bandung (Jawa Barat) ini tidak sekadar pindah, tetapi juga namanya berganti menjadi Pro Titan. Titan sendiri merupakan pihak yang menjadi sponsor bagi Pro Duta. Hal ini tentu mengingatkan nama awal Pro Duta yang ketika bersatus amatir (klub amatir anggota Persib) merupakan merger antara PS Pro dan Duta —pascaturnamen Piala Duta 1987 di Lapangan Tegallega, Kota Bandung. [Kini penerus Pro Duta diemban oleh Maung Bandung FC di Divisi III LI 2010 Zona Jawa Barat.]

Bagi Kota Medan, kedatangan Pro Titan ini tentu akan menyemarakkan kembali persepakbolaan Kota Medan. Jika berada dalam grup yang sama di Divisi Utama Liga Indonesia (LI) 2010/2011, pertandingan derby pun akan berlangsung ketika PSMS (Medan) melawan Pro Titan (Medan). Paling tidak, Pro Titan akan mengingatkan kembali pada keberadaan Medan Jaya (Medan) yang kini berpindah homebase ke Kabupaten Mandailing Natal (Madina) sehingga bernama Madina Medan Jaya (Mandailing Natal) —sebelumnya “di-take-over” oleh Pemerintah Kabupaten Penajam, Kalimantan Timur.

Bagaimana dengan Medan United? Klub yang satu ini masih berada di Divisi II LI 2010. Bagaimana pula dengan masyarakat pencinta sepak bola Medan? Klub mana yang akan mereka pilih: PSMS atau Pro Titan? Mereka akan memilih siapa di antara kedua klub itu yang paling berprestasi? Tentu! Namun, di luar itu, ada faktor sosial-politik yang turut berpengaruh. Faktor sejarah (histori) misalnya.

Berdasarkan pengamatan NMR, keberadaan PSMS masih merupakan daya tarik histori. Fanatisme, kata orang. Namun, hal itu tidak mesti setiap pendukung saling “menjauhi” atau “memusuhi”.

Sebagai contoh, lihatlah di Kota Bandung pada saat Liga Indonesia 1994/1995. Stadion Siliwangi penuh ketika Persib (Bandung) bertanding. Stadion Siliwangi pun penuh ketika Bandung Raya (Bandung) bertanding. Kedua “panitia” untung karena memperoleh pendapatan dari tiket penonton. Pedagang merchandise di jalanan pun untung ketika baju-baju dan syal-syal kedua klub (Persib dan Bandung Raya) menanggung keuntungan. Perekonomian masyarakat “kecil” terbantu.

Lalu, apa yang terjadi ketika Persib bertanding melawan Bandung Raya? Stadion Siliwangi tetap penuh. Penuh oleh pendukung mana? Sebagian besar (mungkin 99 persen) dari mereka adalah pendukung Persib. Ya, di sinilah daya tarik histori yang NMR maksud. Jadi, keberadaan klub-klub baru yang “menandingi” tim-tim Perserikatan di daerah yang sama sesungguhnya tidak harus “dijauhi” atau “dimusuhi”. Alasannya, semua untung. Semua terhibur karena olah bola para pemain. Tidak ada yang salah dengan keberadaan klub-klub pendatang. Tim-tim Perserikatan memiliki daya tarik histori. Itulah nilai lebihnya. Ujung-ujungnya, kebersamaan ini akan menciptakan kebanggaan bagi daerahnya. Persib-Bandung Raya dan Persebaya-Mitra Surabaya adalah contohnya. Keduanya berprestasi. Kebersamaan meraih prestasi tanpa harus menjelekkan dan “mengecilkan” pihak lain. Kita boleh fanatik, tetapi bukan fanatisme sempit. Perserikatan (bond) memang tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah persepakbolaan Indonesia.

1 Comment »

  1. 1
    harun Says:

    mengapa pro duta berganti nama??


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: