Dari Bandung untuk (Sepak Bola) Indonesia

Apakah anda mengenal tokoh bernama Oto Iskandar Di Nata? Tokoh yang memiliki julukan “Si Jalak Harupat” (burung Jalak yang tajam lidahnya —julukan untuk Oto Iskandar Di Nata karena kritiknya yang pedas terhadap pemerintah Belanda di parlemen Hindia Belanda bernama Volksraad) itu, kini merupakan salah seorang dari sekian banyak pahlawan nasional negara Republik Indonesia. Kelak, julukan “Si Jalak Harupat” diabadikan untuk nama stadion di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang diresmikan pada tanggal 26 April 2005, selain nama Oto Iskandar Di Nata sendiri yang dipakai untuk nama jalan di beberapa daerah di Indonesia.

Kita mengetahui bahwa Oto Iskandar Di Nata merupakan salah seorang pejuang kemerdekaan, antara lain dengan menjadi wakil bangsa Indonesia di Volksraad. Perhatikanlah isi berita berikut ini. “Di Jacatra pada boelan Januari jang baroe laloe telah dibentoek soeatoe badan, jang dinamai: Comite Sportbond Indonesia. Jang doedoek dalam Comite itoe Toean-Toean bangsa awak jang ternama, seperti Toean Toean Oto Iskandar Dinata, Thamrin, Soekardjo, Soetardjo, Datoek Toemenggoeng, d.l.l.-nja Semoeanja Toean Toean itoe anggauta Volksraad…”. (Majalah “Olah Raga” edisi Tahoen Ke I, Maart 1937, No. II —tulisan dibiarkan apa adanya dan tidak ada suntingan (editing) baik huruf maupun tanda baca.).

Namun, terlepas dari itu, NovanMediaResearch sebagai blog yang fokus pada kisah-kisah sepak bola Indonesia ingin membahas peranan Oto Iskandar Di Nata dalam perjalanan PSSI dan sepak bola Indonesia. Inspirasi untuk menyusun tulisan ini lahir sejak lima bulan lalu ketika NMR “memiliki” majalah “Olah Raga” —meskipun keberadaan majalah “Olah Raga” ini telah diketahui pada 2004. Maklum, sumber ini (karena “langka”-nya bahan bacaan olahraga-sepak bola di Indonesia) sering kali dijadikan bahan referensi untuk bahan skripsi para mahasiswa yang beberapa di antaranya kini telah diterbitkan dalam sebuah buku.

Pada suatu masa di tahun 1937. Oto Iskandar Di Nata (Directeur) dan Soeprodjo (Hoofdredacteur) menerbitkan majalah “Olah Raga”. Mulai tahun 1938, R.M.S. Tjokrosisworo mendampingi Soeprodjo dalam jajaran “Redacteuren” selain Oto Iskandar Di Nata yang tetap menjadi “Directeur”. Redaksi dan administrasi media massa ini beralamat di Kerkhofweg 36 Bandung. Harga media yang diterbitkan bulanan ini yaitu f 1 per 12 nomor, Los nomer 10 sen, dan khusus untuk anggota PSSI 5 sen per lembar. Majalah “Olah Raga” ini dijadikan sebagai sarana silaturrahmi dan tukar-menukar (berbagi) informasi bagi kalangan masyarakat pencinta sepak bola Indonesia.

Banyak suara pers yang menyambut kehadiran majalah “Olah Raga” ini. Media “Pemandangan” misalnya menyampaikan sambutannya yang dimuat di majalah “Olah Raga” edisi Tahoen I, Maart 1937, No. II, halaman 15: “…Soedah lama ditoenggoe-toenggoe! Sekarang soedah sampai ditangan kita, madjallah boelanan bernama ‘OLAH RAGA dibawah pimpinan Toean Oto Iskandar Di Nata sebagai Directeur dan Toean Soeprodjo sebagai Hoofdredacteur. Kedoea tenaga ini kita kenali dari dekat. Kedoea-doeanja actief dan selaloe gembira. Dan kedoe-doenja memang gemar sport, teroetama toean Oto Iskandar Di Nata…”.

Selain dari media “Pemandangan”, sesungguhnya masih ada sambutan-sambutan dari media-media lain seperti “Darmo Kondo”, “Sipatahoenan”, “Tempo”, “Sinar Pasoendan”, dan “Tawekal”.

Jika diperhatikan secara saksama, isi (content) media ini jauh lebih lengkap meskipun tentu saja ada kekurangannya. Untuk membandingkannya dengan media (olahraga) jaman sekarang, jangankan dengan media lokal (Bandung-Jawa Barat) di mana lokasi majalah “Olah Raga” ini berada, dengan media nasional pun, isi majalah “Olah Raga” ini jauh lebih lengkap.

Simaklah! Selain iklan yang cukup banyak, di dalamnya ada berita-berita olahraga (sepak bola) secara umum. Cara-cara bermain sepak bola juga ada. Ada juga informasi nama dan alamat perserikatan (bond) anggota PSSI, termasuk perubahan nama dan alamat sekretariat. Bukan hanya perserikatan sebagai anggota PSSI, tetapi juga klub-klub intern dari perserikatan yang bersangkutan. Malah hasil kompetisi intern pun dimasukkan. Begitupun nama pemain, termasuk para pemain yang terkena mutasi dan skorsing. Dari data ini, kita dapat melihat perpindahan para pemain. Bandingkan dengan PSSI jaman sekarang yang katanya punya “Smart Card” untuk para pemain se-Indonesia.

Lengkapnya informasi (data-data) itu tidak dapat dilepaskan dari pesan yang disampaikan oleh pengelola majalah “Olah Raga”. Dalam “Seroean dari Redactie” misalnya, pengelola media ini menyampaikan pesannya: “…Kirimkanlah potret djago-djago Toean dengan reservenja pada kami, tentoe kami bikinkan clisee. Mengirimkan foto pada kami berarti menjokong Congres dan Stedentournooi PSSI…”.

Jika perserikatan-perserikatan itu belum mengirimkan informasi terbaru, media ini mengingatkan kembali. Dalam catatan (note/noot) untuk “Berita PSIBS” yang melaporkan “Persip Poerwokerto di perloeaskan djadi Persatoean Sepakraga Indonesia Banjoemas Sedaerah (P.S.I.B.S.)” misalnya, media ini menyampaikan “Noot”-nya: “Mana anggautanja?”. (Majalah “Olah Raga” edisi No. 8, September 1937, Tahoen I).

Media dari Bandung ini pun memberikan kesempatan kepada PSSI untuk mengambil-alih pengelolaannya. Perhatikanlah sesi “Majalah Olah Raga” dalam Konferensi Daerah PSSI Bagian Jawa Barat yang diselenggarakan di Gedung “Himpoenan Soedara” di Moskeeweg yang dipimpin oleh Komisaris PSSI tuan Oto Iskandar Di Nata, antara lain: “Conferentie mempoenjai kejakinan bahwa Pengoeroes PSSI haroes mempoenjai madjallah opisil. Peroesahaan OR oleh badan penerbit jang sekarang disediakan oentoek sewaktoe-waktoe diover oleh Pengoeroes PSSI di Solo.”. Kelak, NMR mengetahui keberadaan majalah yang diterbitkan oleh PSSI bernama “Sepak Bola” yang (kalau tidak salah) terbit mulai 1950-an. Namun demikian, majalah yang pada 1990-an masih sempat NMR saksikan di salah satu toko buku itu tidak diketahui apakah merupakan media yang sama atau bukan.

Adanya majalah “Olah Raga” sebagai media olahraga (sepak bola) ini merupakan salah satu episode (khususnya dalam aspek media massa) dalam perjalanan untuk memajukan sepak bola Indonesia.

2 Comments »

  1. 1
    aguz banderaz Says:

    saya usul,.mungkin besok kalo stadion kota bandung yg rencananya di gedebage jadi kasih nama aja stadion MOCHAMMAD TOHA,.sesuai dgn pengorbanan beliau untuk kemerdekaan negeri ini,..


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: