Surat Terbuka untuk Bapak R.A.F. Itu Sedikit Terjawab

Pengalaman masa lalu, pengelola blog yang anda kunjungi ini sangat suka memberi masukan ke berbagai pihak, terutama media massa (lokal dan nasional). Entah sungguh-sungguh, iseng, atau jahil, itu soal lain. Selain komentar biasa, pahit-pahitnya masukan itu berupa kritik. Namanya juga kripik, eh kritik, tentu enak rasanya. Akan tetapi, pada umumnya, ketika kritik itu disampaikan kepada kita, merah mukanya. Darah itu merah jenderal!

Sebutlah antara lain “Piala Amerika Kapan Mulai?” yang dimuat di tabloid BOLA edisi Minggu Keempat Juni 1993. Itu untuk sepak bola internasional. Masukan untuk sepak bola Indonesia, bacalah “Koreksi Data Persipura” yang dimuat di tabloid Media GO edisi Nomor 1136 Tahun XI, Jumat, 16 September 2005. “Beberapa referensi data yang kami miliki memuat daftar Persipura sebagai juara Perserikatan 1980. Ketika itu, lawannya yang kemudian jadi runner-up adalah PSMS Medan. Partai ini dimainkan di Semarang, Jawa Tengah. Persiraja Banda Aceh sendiri juara pada 1981. Bukan 1980. Benar, lawannya di grand final adalah Persipura. Skor 3-1. Apa pun, terima kasih atas perhatian Anda.” Demikian tanggapan redaksi Media GO.

Merasa kurang puas, artikel “Tanda Tanya Persipura” pun dikirim dan dimuat di tabloid SOCCER edisi No. 17/VI/Sabtu, 22 Oktober 2005. Dalam perkembangannya, ketika informasi (data) relatif lengkap, artikel “Revisi Fakta Juara-juara Perserikatan” pun dikirim dan dimuat di koran TopSkor edisi Vol. 3, No. 107, Jumat, 18 Mei 2007. Untuk sepak bola Bandung, bacalah “Koreksi Persib vs PSV” yang dimuat di majalah PERSIBmagz edisi November 2007-Issue #06. Namun, hal yang tidak dapat dilupakan juga ialah ketika saking semangatnya “meluruskan” sejarah dengan cara menulis artikel “Persib Catat Prestasi Gemilang di Piala Jusuf 1970-an” yang dimuat di koran Pikiran Rakyat edisi Senin, 8 Januari 2007, saya pun mendapat teguran dari Bung Redaktur. Ya, disadari atau tidak dengan tulisan saya sebelumnya, saya dianggap telah menyalahi (apa yang saya sebut) kode etik jurnalistik meskipun Bung Redaktur tidak memberitahukannya secara tegas. Teguran (kritik) itu merupakan salah satu pembelajaran bagi saya.

Selebihnya, tentu saja ada dua-tiga surat yang tidak (atau belum?) pernah dimuat di media massa. Salah satunya, surat terbuka untuk sesepuh Persib Bandung, Bapak R.A.F. (Rahmatullah Ading Affandie). [Di Bandung, R.A.F. merupakan saksi hidup perjalanan Persib dan sepak bola Indonesia sejak jaman Hindia Belanda. Kelak, saya mengetahui bahwa beliau sering kali menulis untuk beberapa media massa sejak 1950-an (atau mungkin sebelumnya) bersama Soeleiman Siregar (PSMS Medan), Jusuf Jahja (Persija Jakarta), Jahja Jacoeb (PSM Makassar), dan Mr. Kosasih (kelak menjadi Ketua Umum PSSI 1967-1974).]

Kisah berawal ketika saya membeli buku “Lintasan Sejarah Persib” karya R. Risnandar Soendoro (mantan pemain dan pelatih Persib) yang diluncurkan pada 6 Juni 2001. Seminggu setelah itu, saya pun langsung mengirim surat untuk bertanya kepada pemain terbaik Kejurnas PSSI 1973 itu. Pada masa ini, saya belum memiliki data yang lengkap. Maklum, saya baru menelusuri data secara intens sejak 22 Desember 2001.

Namun, sebetulnya, masih ada pertanyaan (selain yang disampaikan kepada penulis buku tersebut) yang belum terjawab. Dalam “Pengantar”-nya yang berjudul “Persib dalam Kenangan dan Harapan”, R.A.F. menulis: “Bukan hanya orang-orang Solo. Tapi masyarakat Jawa Tengah, bahkan melebar hingga Madiun dan sekitarnya, mulanya tidak percaya akan satu ‘tragedi’ yang terjadi di Kota Surakarta Hadiningrat. Pada suatu hari Ahad bulan Juni tahun 1937!” dan “…Demikianlah. Persib jadi juara PSSI tahun 1937, masing-masing peserta mendapat uang saku F.2,50 (seringgit-dua rupiah lima puluh sen) seorang, tanpa “bonus”, tanpa resepsi, tanpa syukuran, tanpa dihormat dielu-elukan. Tim yang sukses itu bubar di stasiun Bandung, pulang sendiri-sendiri kecuali Aleksa yang menenteng piala juara dipapag dua putranya, dan Adang dijemput istrinya. Belum musim, lebih dari itu!…”. [Menurut pengakuan R.A.F., konon Kurdi, wartawan Sipatahoenan menjadi nara sumber sehingga tulisan ini bisa tersaji.]

Bagi saya, terlepas dari “benar” atau “salah” (karena alasan daya ingat), tulisan tersebut sangat kontras dengan tulisan “Maen Bal Tempo Doeloe” karya Haryoto Kunto yang dimuat di suplemen “Gelora” koran Pikiran Rakyat edisi 27 Mei 1998, 3 Juni 1998, dan 10 Juni 1998.

Dalam tulisan “tiga seri” karya penulis yang disebut-sebut sebagai Kuncen Bandung (kini telah meninggal dunia) itu, Haryoto Kunto menulis: “…Siang hari itu, Bapak Rd. Sadikin baru saja menerima telegram dari pimpinan rombongan kesebelasan Persib yang sedang bertanding di Solo, menyampaikan kabar gembira, “Kesebelasan Persib menang dan menjuarai final pertandingan PSSI tahun 1937. Mohon penyambutan di Stasion Bandung!” demikian pesan yang diterima…”. (Suplemen “Gelora” koran Pikiran Rakyat edisi Rabu, 27 Mei 1998.)

Lalu, sebuah foto dokumentasi Haryoto Kunto pun tertulis dalam caption-nya: “Persib di 1937 menjadi juara turnamen antarkota di Surakarta. Terlihat pada gambar, tim Persib ‘Si Maung Bandung’ pawai kemenangan keliling kota lewat Jl. Braga.” (Suplemen “Gelora” koran Pikiran Rakyat edisi Rabu, 3 Juni 1998.). Peristiwa ini memang terjadi pada keesokan harinya.

Ya, cerita yang satu, sepi (menurut R.A.F.), sedangkan cerita yang lain, ramai (menurut Haryoto Kunto). Sungguh kontras. Sayang…, surat terbuka kepada Bapak R.A.F. yang dikirimkan ke salah satu media massa itu belum (dan pasti tidak) akan dimuat lagi. Maklum, sudah cukup lama. Apalagi sampai akhirnya, sang tokoh (R.A.F.) meninggal dunia, sebelum saya sempat menemuinya.

Namun, upaya penelusuran data masih harus dilakukan dan diteruskan. Sampai akhirnya pada tahun 2010 ini, jawaban atas pertanyaan itu sedikit terungkap meskipun belum memuaskan. Majalah Olah Raga edisi Tahoen Ke II, Februari 1938, No. II memuat foto-foto (semacam Kaleidoskop selama tahun 1937), antara lain melaporkan: “Tanggal 18 Mei ’37, hari Selasa, djam 5 sore, meskipoen hoedjan lebat, ta’ oeroeng Persib didjempoet oleh riboean pendoedoek Bandoeng, karena oenggoel dalam perang baratajoeda di medan hidjau, Sri Wedari Solo.”.

Ya, dalam foto itu, saya pun menyaksikan masyarakat Bandung yang mengerumuni para pemain Persib di stasiun Bandung.

Perihal tulisan “…Pada suatu hari Ahad bulan Juni tahun 1937!”, majalah Olah Raga edisi Tahoen I, Maart 1937, No. II sedikit memberi gambaran dalam iklannya: “Dari sekarang kobar-kobarkanlah semangat Congres dan Stedentournooi PSSI tanggal 15, 16, 17, 18 Mei 1937 di Soerabaja”. Dalam berita di media yang sama, turnamen antarkota dipindahkan ke Solo, sedangkan kongresnya tetap di Surabaya.

Demikian. Sampai jumpa lagi di waktu yang akan datang. See you next time.

Salam. Merdeka…!!!

1 Comment »

  1. 1
    aguz banderaz Says:

    mantap,.persib nu aing,..


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: