LSI, LPI, dan Pengurus-Kita yang tak Pernah Insyaf

Liga Primer Indonesia (LPI) yang dideklarasikan pada 24 Oktober 2010 di Semarang dan diresmikan pada 22 Desember 2010 di Jakarta, menurut rencana, akan digelar pada 8 Januari 2011 mendatang di Solo. Dalam pemberitaan media massa selama ini, LPI disebut-sebut sebagai kompetisi sepak bola profesional tandingan Liga Super Indonesia (LSI).

Terlepas dari istilah “kompetisi tandingan” —dampak dari perseteruan kubu Nurdin Halid dan kubu Arifin Panigoro, saya memberi kesan bahwa LPI dapat dianggap sebagai “Galatama”-nya sepak bola Indonesia. Artinya, kompetisi di Indonesia mendua lagi. Anda tentu ingat dengan kompetisi di Indonesia sebelum era Liga Indonesia (LI). Saat itu, PSSI memiliki dua model pembinaan yaitu kompetisi Perserikatan (diidentikkan sebagai kompetisi amatir) dan kompetisi Galatama (diidentikkan sebagai kompetisi profesional). Namun demikian, kedua konsep itu tidak relevan untuk diterapkan pada masa ini. Alasannya, tentu saja, LSI merupakan kompetisi profesional. Kalaupun terjadi pemisahan, hal itu tidak terlepas dari adanya perseteruan kedua kubu.

Salah satu faktor sepak bola profesional yaitu pendanaan klub yang mandiri (baca: bukan dana dari APBD). Hal itu pula yang menyebabkan Arema (Malang) dan Bandung Raya (Bandung) pada akhir Galatama XIII/1993-1994 akan “mengakhiri” hidupnya. Majalah Sportif Nomor 252, 1-15 Juni 1994 misalnya melaporkan “Arema Menunggu Keajaiban” dengan menulis: “…Bom kematian itu tanda-tandanya bakal meledak di Arema Malang. Tapi haruskah itu terjadi?…”.

Lain lagi dengan pemberitaan di Jawa Barat, antara lain melalui koran Pikiran Rakyat dan Bandung Pos. Bandung Raya akhirnya dibantu, antara lain oleh Komda (kini Pengda) PSSI Jawa Barat di bawah pimpinan Ukman Sutaryan yang menggelontorkan dana Rp 1 Milyar. Sejarah pun mencatat bahwa Bandung Raya menjadi salah satu tim terkuat LI dalam tiga kompetisi pertama (1994-1997), termasuk gelar juara LI II/1995-1996 atas nama Mastrans (Masyarakat Transportasi) Bandung Raya. Namun, sejarah mencatat pula bahwa dengan permasalahan dana, Bandung Raya akhirnya mengundurkan diri dari LI.

Nah, berkaitan dengan faktor “pendanaan klub yang mandiri” tadi, faktor ini hampir selalu dijadikan konsep dalam sejarah sepak bola Indonesia. Sayang, para pengurus (antara lain PSSI, klub, pejabat daerah, dan sebagainya) tampak tidak insyaf-insyaf dengan konsepnya. Perhatikanlah perjalanan sejarah berikut ini.

Pada Kongres PSSI 1981, Syarnubi Said terpilih sebagai ketua umum PSSI 1981-1985 melalui Kongres PSSI. Dalam Kongres PSSI yang digelar di Jakarta, 19-21 Desember 1981, ini pula PSSI memberikan otonomi penuh kepada Galatama sekalipun secara administratif berada di bawah PSSI. Namanya pun berubah menjadi Liga Utama (ya, mirip-mirip BLI atau PT LI di era sekarang). Namun, Galatama ternyata tetap lebih populer daripada Liga Utama.

Pada 1994, Liga Indonesia (LI) digelar dengan konsep bahwa peserta LI terdiri dari klub-klub (eks) Galatama dan klub-klub (eks) Perserikatan. Klub-klub Galatama sudah dipahami sebagai klub-klub profesional. Lalu, bagaimana dengan klub-klub Perserikatan? Nah, saat itu, PSSI memberikan konsep bahwa klub-klub Perserikatan yang dapat mengikuti LI adalah klub-klub profesional yang dibentuk oleh Perserikatan induknya. Anda tentu masih ingat dengan Jakarta FC (dibentuk oleh Persijatim) dan Malang United (dibentuk oleh Persema). Kalau pun klub-klub Perserikatan lain tidak mengubah namanya, hal itu berkaitan dengan pro-kontra penghilangan sejarah klub atau alasan lain. Dengan konsep pemisahan antara “Perserikatan (profesional)” dan “Perserikatan (induk/amatir) diharapkan ada semangat kemandirian untuk memperoleh dana. Sementara Perserikatan induk memiliki tugas untuk membina para pemain amatir melalui kompetisi U-18 (Piala Suratin), U-15 (Piala Haornas), dan seterusnya, yang kelak “dijual” ke klub-klub profesional, terutama Perserikatan profesional sebagai klub yang dibentuknya.

Pada 2008, Liga Super Indonesia (LSI) digelar. Konsepnya? Sama, bukan? Kok mengulang-ulang terus! (Maaf, kalimat singkat itu untuk mempersingkat tulisan saja. Harap maklum he he he.). Namun, apa yang terjadi sekarang? Ada beberapa klub yang masih menunggak gaji.

Akhirnya, khusus faktor “pendanaan klub yang mandiri” —dari beberapa faktor lainnya, apakah LPI akan berjalan sebagaimana mestinya? Semoga, semua pihak dapat menyadari pada konsep awalnya. Ayo, insyaf-insyaf, termasuk para suporter. [Ya, dalam konteks suporter, sepak bola profesional di Indonesia tidak berjalan, “ciri khas”-nya adalah memaksakan diri memasuki stadion meskipun tidak memiliki tiket (baca pula: tidak punya harga diri); memiliki tiket tetapi tidak dapat masuk karena ulah oknum panitia yang serakah (baca: bermental kolusi dan korupsi); menyalahkan kapasitas stadion yang kecil dibandingkan jumlah penonton yang banyak.]

3 Comments »

  1. 1
    waliwalak Says:

    apapun nama kompetisinya saya berharap setiap tim dpt menjunjung tinggi sportifitas dan fair play…tdk ada lg stop tawuran,anarkhis,mafia wasit, ataupun pihak2 yg slalu dirugikn…oh iya bung novan mohon update utk peserta2 LPI dgn skuadnya kalo bs…kalo g salah ada peserta LPI yg namanya REAL MATARAM, TANGERANG WOLVES nama yg kebarat baratan..

  2. 2

    Hidup LPI. Kalo LPI dilarang, Nurdin Halid lebih dulu dilarang oleh FIFA. Maling teriak maling. Maju terus sepak bola Indonesia. Galatama hidup lagi tidak masalah. LPI bagus. LSI bagus. Yg tidak bagus cuma Nurdin Halid dan dkknya di PSSI.

  3. Nurdin Halid munduuuurrr! Tidak tau diri, tidak punya malu! Sok pahlawan! Org2 PSSI kok jd takut semua gitu sih sm Nurdin. Dasar banci semua! Majukan sepak bola Indonesia tanpa intimidasi dan penindasan!!! Aku dukung penuh LPI… Salam erat persaudaraan dari PERSEBAYA-PERSIB-PERSEMA-SOLO FC


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: