Kompetisi Profesional: Tak Tahu dan Tak Mau Tahu

Wacana sepak bola profesional di Indonesia sebetulnya telah ada pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Setidaknya informasi itu diperoleh NovanMediaResearch dari media massa tahun 1930-an. Sampai akhirnya pada tahun 1970-an, PSSI era Ketua Umum Bardosono menyampaikan gagasan untuk membentuk klub profesional. Hal itu diungkapkan Bardosono ketika melepas PS Jayakarta (klub intern anggota Persija), juara Invitasi Antarklub PSSI 1975, ke Australia.

Gagasan tersebut kemudian diresmikan oleh PSSI era Ketua Umum Ali Sadikin dengan melahirkan kompetisi (semi) profesional Galatama. Mengapa semi? Ya, karena klubnya profesional, sedangkan pemainnya amatir. Itulah awal sejarahnya.

Sayang, Galatama yang semula ramai menjadi sepi. Sebaliknya, kompetisi Perserikatan ramai. Sampailah pada pertengahan tahun 1990-an ketika PSSI hendak meleburkan Galatama dan Perserikatan. Wacana peleburan itu dianggap tidak masuk akal oleh sebagian kalangan (masyarakat, pengamat, wartawan, dan sebagainya).

Inilah kompetisi era baru: klub profesional (Galatama) dipadukan dengan antusiasme suporter (Perserikatan). Konsepnya, klub Galatama yang ikut tentu saja klub profesional. Sebaliknya, klub Perserikatan yang ikut adalah klub profesional yang dibentuk Perserikatan sebagai Perserikatan induknya. Selain itu, klub-klub secara bertahap harus meninggalkan APBD.

Korban pertama, Aceh Putra, klub eks Galatama asal Lhokseumawe, tidak ikut serta Liga Indonesia I/1994-1995. Korban kedua, Persiku Kudus tidak ikut Liga Indonesia II/1995-1996. Dalam perkembangannya, ada klub-klub yang berganti nama dan berpindah daerah. Entah karena tidak tahu atau memang tidak mau tahu, para pengurus klub terlena. Kompetisi berjalan apa adanya.

Mulai tahun 2008-2009, PSSI membentuk Liga Super Indonesia. Konsepnya, ya sama dengan awal-awal Liga Indonesia. Kok balik lagi? Lupa?

Lalu, muncullah Liga Primer Indonesia pada (2010)-2011. NMR melihat bahwa Liga Primer Indonesia ini memiliki logika ketika era perserikatan dan Galatama. Namun, siapa yang mau mengalah Galatamanya LPI atau Galatamanya LSI? Namanya juga perseteruan.

Kini, Liga Prima Indonesia bergulir. PSSI pun membuka “dapur” bahwa klub-klub yang ikut serta adalah klub-klub profesional. Lalu, apakah ada perbedaannya Liga Indonesia, Liga Super Indonesia, dan Liga Prima/Primer Indonesia?

Sayang, kita tampaknya tidak tahu konsep. Malah kita tidak pernah mau tahu dengan konsep. Tahu-tahu kita disuguhkan permainan sepak bola. Apalagi PSSI, baik era Nurdin Halid maupun era Djohar Arifin Husin, tampak pelit memberikan informasi “dapur”-nya. Akhirnya kita pun sering kali kurang harmonis, salah paham, dan saling curiga oleh karena informasi yang kurang jelas. Informasi “dapur” itu disampaikan ketika kita sudah menyaksikan Liga Super Indonesia dan Liga Prima Indonesia.

2 Comments »

  1. 1
    amirtha Says:

    Dear mas novan. Sekilas saya baca artikel anda, terlihat anda paham sepak bola indonesia. Diluar konflik sepak bola indonesia saat ini, bagaimana pendapat anda untuk memajukan prestasi sepak bola indonesia, baik timnas, kompetisi, klub sepak bola, sekolah sepakbola. Dan untuk menyikapi dualisme PSSI dan kompetisi, bagaimana solusi yg terbaik dari anda?

    • 2
      novanmediaresearch Says:

      Terlepas dari soal paham atau tidak, saya hanya mencatat catatan perjalanan “seseorang atau pihak” ketika hendak melakukan sesuatu berdasarkan pemikiran pada jamannya. Hal itu saya ikuti berdasarkan hasil riset berita dari ke hari dari tahun ke tahun. Sayangnya, kita sering lupa pada apa yang sudah direncanakan. Itu sederhananya.

      [Maaf, sekarang saya sedang “bertapa” dulu untuk kemudian membahas apa yang menjadi pertanyaan. Mudah-mudahan pada suatu waktu. Salam :)].


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: