Bagaimana Seharusnya Kita Menyusun Sejarah Klub? (5): Persil Lampung

Tulisan bagian ke-5 dari judul “Bagaimana Seharusnya Kita Menyusun Sejarah Klub?” ini merupakan tulisan pamungkas. Sebetulnya masih ada tulisan-tulisan lain yang sejenis, tetapi nanti sajalah saya lanjutkan. Kalau referensinya sudah terkumpul banyak. Nah, dalam tulisan pamungkas ini, saya akan menceritakan keinginan para tokoh (dan masyarakat) yang ingin membentuk dan/atau membangkitkan kembali klub sebagai kebanggaan daerahnya. Baguslah…, tapi….

Saya mengutip koran Radar Banten(online) edisi Senin, 6 Februari 2012 dulu ya. Begini isi bagian atasnya (nara sumber: Wakil Gubernur Banten Rano Karno): “…Hingga saat ini, Banten belum memiliki kesebelasan sepak bola. Tidak seperti DKI Jakarta yang me­miliki Persija, Sriwijaya FC di Pa­lembang, dan Persib di Jawa Barat. Wakil Gubernur Rano Karno me­ngatakan, Banten memerlukan klub sepak bola yang dibanggakan. Selain sebagai sarana olahraga, klub sepak bola juga bisa menjadi citra sebuah daerah di tingkat nasional. ‘Para pemuda bisa bergabung dan olahraga adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi perilaku menyimpang masyarakat,’ ujar Wagub saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (3/2) lalu. Wagub berjanji, kedepan Banten akan membentuk kesebelasan sepak bola. ‘Masa Banten kalah dengan Tangerang yang sudah punya Persita dan Serang yang punya Perserang. Banten kedepan harus punya kese­belasan sendiri untuk membawa nama Banten ke kancah nasional,’ terangnya…”.

Ada yang salah dari isi berita tadi? Saya mencatat, antara lain: “Masa Banten kalah dengan Tangerang yang sudah punya Persita dan Serang yang punya Perserang.” Bukan, bukan soal Persikota selain Persita dan Serang Jaya selain Perserang yang saya maksudkan, tetapi bukankah (kabupaten/kota) Tangerang dan (kabupaten/kota) Serang itu bagian dari Banten? Namun, OK-lah, kita berempati saja dengan pernyataan “Si Doel Anak Betawi” yang sebelumnya pernah menjadi wakil bupati Kabupaten Tangerang itu.

Sekarang, mari kita beralih ke persepakbolaan Provinsi Lampung. Dalam pemberitaan secara online di Lampung Post (Grup Media Indonesia), Tribun Lampung (Persda-Kompas Gramedia Group), dan Radar Lampung (JPNN-Jawa Pos Group), saya memperoleh berita tentang wacana pembentukan kembali Persil Lampung. Sama seperti di Provinsi Banten, bukankah Persil ini di-asosiasi-kan sebagai klub (baca: provinsi)? Malah dalam pernyataan beberapa tokoh, PSBL dikembalikan saja ke Kota Bandar Lampung, ibu kota Provinsi Lampung. Selain itu, disebut-sebut kejayaan sepak bola Lampung sejak era Persil dan keberhasilan Provinsi Lampung meraih medali emas PON X/1981. Ya, NMR mencatat bahwa Lampung memang pernah merebut medali emas PON X/1981 setelah di babak final mengalahkan Sumatra Utara 4-2 melalui adu tendangan penalti. (Pikiran Rakyat edisi 1 Oktober 1981)

OK-lah, berbicara tentang persepakbolaan Provinsi Lampung, kita tidak bisa lepas dari otonomi daerah. Setiap daerah memiliki suasana kebatinannya masing-masing. Saya menyebut untuk Lampung ini dengan istilah keadaan sosio-politis. (Oh ya, hal yang terkesan “tumpang tindih” adalah ketika nama-nama klub Galatama disebutkan seperti Jaka Utama dan Lampung Putra. Padahal, kalau mau membandingkan, konteks Persil yang tepat adalah perserikatan).

Sampai tahun 1970-an, sepak bola di Sumatra memang terbagi menjadi Sumatra Bagian Utara (SumBagUt) dan Sumatra Bagian Selatan (SumBagSel). Nah, Lampung itu sendiri masih “bersatu” dengan Komda PSSI Sumatra Selatan di Palembang. Karenanya, tidak heran jika pada tahun 1971 dibentuk Persil Lampung yang dalam perkembangannya Komda Lampung mendapat lampu hijau dari PSSI. Komda Lampung bisa berdiri karena telah memenuhi syarat (saat itu) ada lima perserikatan: Persil, Persilu (Lampung Utara), Persilat (Lampung Tengah), Persilas (Lampung Selatan), dan Perspan (Panjang). Pada saat itu, Tanjungkarang-Telukbetung masih menjadi ibu kota Provinsi Lampung. [Saya masih ingat dalam media akhir tahun 1970-an, Jaka Utama ditulis Jaka Utama Tanjungkarang, dan bukan Jaka Utama (Bandar) Lampung]

Sampai awal tahun 1980-an, Persil menghilang dan digantikan oleh PSTT (Tanjungkarang-Telukbetung). PSTT ini menjadi saingan Jaka Utama. Ya, seperti Persebaya-NIAC Mitra atau Persib-Bandung Raya-lah. Namun, PSTT pun menghilang dan digantikan oleh PSBL. Harap maklum, Tanjungkarang-Telukbetung berganti nama menjadi Kota Bandar Lampung seiring dengan keluarnya Peraturan Pemerintah (PP) No. 24 Tahun 1983 tentang Pergantian Nama Kota Tanjungkarang-Telukbetung menjadi Kota Bandar Lampung. Di dalam aturan ini, Panjang dimasukkan ke dalam wilayah Kota Bandar Lampung. Karenanya, Perspan Panjang (mestinya) menghilang.

Jadi, kalau berkaca pada kronologi tadi, bukankah PSBL itu PSTT dan PSTT itu Persil? Mengapa Persil harus dibentuk kembali? OK-lah, selama aturannya memungkinkan ya bagus-bagus saja. Mungkin ya aneh saja ada PersiBanten, PersiLampung, PersiSumsel, PersiSumut, PersiJabar, dan seterusnya. Bukankah persoalannya adalah mengapa Persita/Persikota atau PSBL tidak berada dalam kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia? Di situ sebetulnya persoalannya.

Oh ya, sebetulnya masih ada hal-hal yang menarik dalam sepak bola kita. Masih ingat kan dengan tulisan saya berjudul “Persijatim Telah Mati”? Kini, ada lagi: Persires Bali De Vata. Persires ya di Riau, sedangkan Bali De Vata ya di Bali. Mungkin rancunya seperti Persijatim Solo FC. Perserikatan Jakarta Timur kok ada di Solo?.

OK, lagi-lagi OK, kini pun muncul klub-klub baru semacam PS Badung dan PS-PS lain. Harap maklum, Persekaba Badung sudah pindah ke Yahukimo Papua. Sayang, sekarang entah bagaimana nasibnya. Jadi, bagaimana seharusnya kita menyusun sejarah klub? Bagaimana fakta-faktanya? Anda sendiri-lah sebagai masyarakat pencinta klub-klub bersangkutan yang seharusnya peduli? Demikian. Salam.

14 Comments »

  1. 1
    Abi Says:

    Ditunggu yang Arema

    • 2
      novanmediaresearch Says:

      Utk yg ini saya belum mau akan membahasnya🙂 Tidak seru kalau tdk ada data baru yg “aneh”. Semua standard. Kalau yg dualisme, saya perlu “merenung” dahulu.

  2. 3
    derry Says:

    Salam…
    Tulisan ini menarik sekali, saya termasuk pencinta PSBL Lampung.
    Bolehkah saya menyadur-nya, mohon izinnya

    tabikpun

  3. 5
    derry Says:

    Sebagai informasi, kami Balafans (fans PSBL) coba mengubah sebutan PSBL BandarLampung dengan PSBL Lampung. Mudah2an efektif untuk membangkitkan animo masyarakat Lampung akan PSBL Lampung. Oh iya PSBL Lampung sejauh ini masuk putaran III Divisi 1 PSSI, dan isunya termasuk promosi divisi utama PSSI tahun depan.

    Mohon doanya…

    • 6
      novanmediaresearch Says:

      Ada baiknya “dibenarkan” dulu sejarahnya. PSBL kan ada dua. Penyisihan di PSSI (DAH) di bawah Persikasi, di PSSI (LNM) di bawah Jakarta Timur FC dan PS Bangka.

  4. 7
    derry Says:

    Betul PSBL Lampung juga terjangkit dualisme, yang berhasil lolos ke babak ke 3 adalah versi PSSI DAH sedang yang di PSSI LNM tidak berhasil lolos ke putaran berikutnya. Terlepas terjadinya dualisme di tubuh PSBL Lampung, maka Balafans akan mendukung team dari Lampung yang mampu berprestasi di tingkat nasional (bahkan sempat ada wacana meminta Pelita Jaya masuk ke Lampung)

    Saya sendiri hanya tau sedikit tentang sejarah Jaka Utama – Lampung Putera dan PSBL Bandar Lampung. Sedangkan mengenai PERSIL dan PSTT, saya tidak tau sama sekali (mendengarnya pun baru2 ini saja). Oleh karenanya saya sangat berterima kasih atas tulisan ini yang sekaligus menambah ilmu pengetahuan saya juga teman2 Balafans yang lain.

    Terima kasih banyak ya mas Novan.

    • 8
      novanmediaresearch Says:

      Terima kasih kembali🙂 Pada hakikatnya, kita mesti berterima kasih kepada media-media atas laporan-laporannya karena saya hanya mengungkapkan kembali fakta-fakta yang “tersembunyi”. Ya, sumber blog saya (NMR) adalah media-media yang sejaman.

  5. 9

    kalo sejarah sepak bola sumsel ada gak ?
    tolong info nya y ,,
    di tunggu..
    mksh

  6. 10
    cemuk Says:

    yg juga menggelitik hati sy adalah penyebutan klub yg tidak sesuai eyd : contoh persija jakarta, persipura jayapura, persijatim solo fc dst kalau diurai akan menjadi PERsatuan Sepakbola Indonesia JAkarta jakarta atau PERsatuan Sepakbola Indonesia JAkarta TIMur solo football club nama yg aneh bukan ?

    • 11
      novanmediaresearch Says:

      Kalau PS Persib atau PS PSMS tentu anda lebih tergelitik lagi.

      Saya pun mengidentifikasi ada tidak kurang dari 23 versi nama “Perserikatan”.

      Sebagai info, dulu, meski di Solo, PSSI masih mengadministrasikan nama Jakarta FC. Kalau Persijatim Solo FC atau Solo FC, saya kira, hal itu “ditulis” oleh masyarakat (dan juga media massa), termasuk NMR🙂

  7. kl tentang sepak bola sematera selatan, psis palembang gmn lur..?..
    mohon info nya.
    terimakasih

    • 13
      novanmediaresearch Says:

      Lumayan banyak, tetapi terputus2. Berkaitan dengan ISP, PS Sriwijaya, dsb. Kirim email saja karena saya vakum dulu untuk isi blog ini dlm waktu yg cukup lama.

  8. 14

    Maju lah lampung apa pun itu nama yg penting maju sepak bola nya, oh yah saran saya disetiap club agar tdk menghilang kan nama propinsi nya, contoh club dunia dr inggris manch…. united and city and ac milan and inter milan….


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: