“Misteri” Turnamen Kongres PSSI 1950 Semakin Terungkap

Perjalanan NovanMediaResearch (NMR) untuk mengungkap beberapa “misteri” dalam persepakbolaan Indonesia tampaknya tidak mudah. Salah satu kendalanya adalah sumber media yang harus dicari. Media-media itu adalah media-media yang sejaman. Paling tidak, media yang mendekati jamannya. Namun, dalam perkembangannya, misteri-misteri itu semakinterungkap sedikit demi sedikit.

Berkaitan dengan hal itu, Sabtu, 26 Mei 2012 kemarin, saya merasa sangat senang. Saat itu, saya menerima email dari Mr. Karel Stokkermans (RSSSF) meskipun sebagaimana email dari rekan-rekan yang lain, email ini tentu bukanlah yang pertama. Namun, dari isinya, informasi (data) itulah yang dicarisaya selama ini. Akhirnya, meskipun sedikit, data-data itu bisa mengungkap salah satu “misteri” dalam sepak bola Indonesia.

Data itu adalah hasil pertandingan Kongres PSSI 1950, termasuk beberapa catatannya. Ya, data-data dari hasil research-nya. Sebelumnya, saya pun telah berupaya untuk mencarinya di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Jalan Raya Salemba, Jakarta). Namun, sampai saat ini, sebelum ada kiriman email tersebut, saya belum menemukannya. Satu-satunya media yang berhasil saya baca adalah majalah Merdeka (baca: tulisan logo majalah tersebut seperti tulisan logo koran “Merdeka”-nya B.M. Diah). Namun, setelah saya membuka majalah itu, dari edisi Agustus, September, hingga Oktober 1950, berita Kongres PSSI 1950 itu tidak ditemukan. Aneh ya? Sampai akhirnya, data-data dari De Locomotief (Semarang) itulah yang diterima.

Sebagian dari anda tentu pernah mengetahui Kompetisi Perserikatan 1950. Siapa juara dan runner-up-nya? Ada kalanya Persib-Persebaya dan ada kalanya pula Persebaya-Persib. Anda mungkinmasih ingat dengan daftar juara Perserikatan ini: 1950: Persib, 1951: Persebaya, dan 1952: Persebaya. Dalam daftar lain: 1950: Persebaya, 1951: Persebaya, dan 1952: Persebaya.

Saya sendiri memiliki data-data itu ketika era internet belum masuk ke Indonesia. Terakhir, saya memiliki daftar juara Perserikatan yang dimuat dalam tabloid BOLA edisi Minggu Pertama April 1994. Pada masa itu, data-data tersebut seolah menjadi mainstream di Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan NMR tentang Kompetisi Perserikatan 1950? Jauh sebelum tertarik dengan data dan menelusurinya sejak tahun 2001, saya masih meyakininya. Namun, setelah membaca profil Aang Witarsa yang menyatakan bahwa dirinya pernah menjadi juara “PSSI tidak resmi”, pendirian saya pun goyah. Akhirnya, saya sendiri mencatat “tidak ada juaranya” karena tahun 1950 tidak ada kompetisinya. (Antara lain, silakan baca edisi khusus HUT ke-40 Persib dalam koran Pikiran Rakyat edisi Maret 1973).

Di tengah minimnya data sepak bola nasional di Indonesia pada masa itu (baca: sebelum era internet), Kompetisi Perserikatan di Semarang itu tampak simpang siur. Maklum saja, kebetulan Persib pernah menjadi juara di kota itu (baca: Semarang). Itu terjadi pada tahun 1950 dan 1961. Kalau tahun 1961 Persib tidak menjadi juara, mungkin ceritanya akan lain. Simpang siur itu tidak akan terjadi.

Mari kita baca karya cipta para penulis buku berikut ini:

R. Risnandar Soendoro dalam bukunya yang berjudul “Lintasan Sejarah Persib” menulis: “…PSSI dibentuk kembali tahun 1950. Bersamaan dengan Kongres PSSI di Semarang tahun 1950 itu diselenggarakan pertandingan puncak kompetisi sepak bola. Pertandingan Kongres yang diselenggarakan pada tanggal 2 September 1950 itu dijuarai Persib yang dalam final mengalahkan PSIS Semarang 2-0…”.

Dani Wihara dan Endan Suhendra dalam bukunya yang berjudul “Persib Aing” menulis: “…Tahun 1950, Persib hanya mampu menjadi runner-up dalam kejuaraan yang bersamaan dengan Kongres PSSI di Semarang. Persib gagal tampil sebagai juara setelah dikalahkan Persebaya…”.

Sementara itu, Novan Herfiyana dalam artikelnya berjudul “Revisi Fakta Juara-juara Perserikatan” menulis: “…Masih pada tahun 1950 ada data yang menyebutkan bahwa Persib sebagai juara. Penulis menduga bahwa Persib menjadi juara dalam rangka menyemarakkan Kongres PSSI pada 2-4 September 1950 di Semarang. Kongres tersebut merupakan yang pertama sejak Indonesia merdeka. Karena itu, tidak mengherankan jika ada media yang menyatakan bahwa pada tahun 1950 Persib menjadi juara PSSI tidak resmi, karena Kejurnas PSSI baru dimulai pada 1951…”.

Kutipan ketiga karya cipta itu ada sedikit kontradiktif. Namun, bukan soal kontradiktifnya. Maksud saya mengutip kedua kutipan tersebut yaitu untuk mencatat beberapa kata kunci: 1950, Kongres PSSI, Semarang, Persib juara, dan Persebaya juara.

Lalu, informasi apa yang saya terima melalui email itu. OK, saya berupaya untuk menafsirkannya.

Sebelum turnamen Kongres PSSI 1950 diselenggarakan, diadakan babak kualifikasi. Penyelenggaranya adalah PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia). Di wilayah Banten, semula, Persija akan melawan Persib. Namun, Persib “menolak” karena tidak ada kebutuhan untuk bertanding (play-off). Alasannya, Persib pernah mengalahkan Persija dalam pertandingan tahun 1949. (Perkiraan saya, pertandingan itu adalah pertandingan pertama pascaperang: Persib vs Persija 2-1. Pascaperang di sini tentu Agresi Militer Belanda II tahun 1948. Saat itu, fokus negara kita adalah mempertahankan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Negara kita pun memiliki kedaulatan penuh pada 17 Agustus 1950).

Sementara itu, PSIS menjadi juara setelah menyisihkan Persis dan PSIM. Begitupun Persebaya yang mengalahkan Persema.

Akhirnya, jadwal pertandingan Kongres PSSI pun ditetapkan: PSIS vs Persija (2 September 1950), Persija vs Persebaya (3 September 1950), dan Persebaya vs PSIS (4 September 1950). Kita ingat bahwa pada masa itu, PSSI masih bernama PORI. Karenanya, PORI sebagai penyelenggara. Kita pun tahu bahwa PSSI dihidupkan kembali dalam Kongres PSSI di Semarang, dimulai tanggal 2 September 1950 dan diakhiri tanggal 4 September 1950.

Namun, dalam perkembangannya, Persibdatangdan bersikerassebagai juara Banten. (Dalam tulisan di atas, pertandingan kualifikasi mempertemukan Persib vs Persija). PSSI pun memutuskan untukmengubah jadwal.

Inilah hasilnya:

Semifinal:

2 September 1950: Persib vs PSIS 2-0

3 September 1950: Persebaya vs Persija 6-1.

Final:

4 September 1950: Persib vs Persebaya 2-0.

Peringkat akhir: (1) Persib dan (2) Persebaya.

PORI

PSSI (Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia) berdiri pada tanggal 19 April 1930. Lalu, Pelti (tenis) dan PBKSI (bola keranjang) menyusul. PSSI, Pelti, dan PBKSI adalah untuk “menyaingi” NIVB/NIVU, NITLB, dan NIKB. Atas inisiatif PSSI, dibentuklah ISI (Ikatan Sport Indonesia) —cikal bakal KONI.

Pada tahun 1942, para pencinta atletik hendak membentuk organisasi atletik untuk menyaingi NIAU. Namun, rencana itu tertunda karena Jepang menduduki Indonesia sejak 8 Maret 1942. Di jaman pendudukan Jepang, nama-nama organisasi disatukan dalam Tai Iku Kai. Pada 15 Agustus 1945, Jepang kalah dalam Perang Dunia II tahun 1945. Negara-negara di dunia pun seolah vakum kekuasaan.

Indonesia, memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Untuk mengisi kemerdekaan sebagai negara yang berdaulat, dalam bidang olahraga, Presiden Soekarno mengganti Tai Iku Kai menjadi Gelora. Lalu, pada Januari 1946, Gelora diganti menjadi PORI.

Dalam “bahasa” NMR, PORI meliputi daerah dan bidang (olahraga). Daerah: PORI Jawa Barat, PORI Jawa Tengah, dan seterusnya. Bidang: PORI Sepak bola, PORI tenis, dan seterusnya.

Nah, Kongres PORI I/1946, PON I/1948 akan diselenggarakan di Solo. Selain PORI, dibentuk juga KORI (baca: KONI-KOI). Tujuannya untuk mengurus olahraga RI ke dunia luar (baca: Olimpiade). Lalu, sesuai Kongres PORI II, PON II akan diselenggarakan pada tahun 1950. Namun, Indonesia “sibuk” karena pada tahun 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer II tahun 1948. Indonesia pun sibuk dengan masa-masa 1949-1950. Faktanya, akhirnya PON II diselenggarakan pada tahun 1951.

Kembali ke PORI. Sebagai warga negara Indonesia, kita tentu mengetahui masa-masa pemerintahan negara 1945-1949 dan 1949-1950. Tarik-menarik antara RI lama (baca: Hindia Belanda) dan RI baru, terjadi. RI baru menganggap organisasi olahraga Hindia Belanda itu harus membubarkan diri atau bergabung ke RI.

Akhirnya, Indonesia memperoleh kedaulatan penuh sejak 17 Agustus 1950. Semua organisasi, termasuk organisasi olahraga ditata. Diperbaiki. Direformasi. PORI beberapa cabang olahraga diberikan otonomi kembali. Salah satunya, PORI sepak bola yang beralih kembali ke PSSI dalam Kongres PSSI di Semarang, 2-4 September 1950. Dalam Kongres PSSI tersebut, istilah “Sepak Raga” dalam PSSI pun diganti menjadi “Sepak Bola”.

Memasuki tahun 1960-an, “sistem terpusat” Presiden Soekarno berimbas pada dunia sepak bola. Ada Kogor (Komando Gotong Royong) di sana.

Iklan

3 Comments »

  1. 1
    wong Says:

    coba tanya Prof.dr.I.A. Ferdinandus, M.Div.D.Min.(Adri Ferdinandus)bek Persebaya sekitar tahun itu klo g alsah rumahnya di daerah kertajaya surabaya atau
    Liem Tiong Hoo atau biasa dikenal dengan dr Hendro Hoediono kediaman sekaligus tempat prakteknya di jalan Yos Sudarso(striker persebaya tahun 1940)

  2. Membangun Website yang bermutu dan berkualitas dapat digunakan untuk menyebar luaskan informasi positif.
    Semoga dari informasi yang posiit dapat memberikan inspirasi dan motivasi bagi setiap pengunjung. Incredible !!!

  3. Salam perkenalan dan sukses selalu untuk semua yang hadir disini.
    Hari ini saya berkunjung dan sudah beberapa artikel yang diposting.
    Setiap artikelnya memang perlu dibaca dan disimak serta sangat berguna bagi pembacanya.

    Terima kasih.


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: