Apa Kabar Sistem Promosi-Degradasi dalam Sepak Bola Indonesia?

Kabar terakhir dalam pemberitaan kompetisi sepak bola Indonesia yaitu satu hari kemarin (Minggu, 24 Juni 2012) ketika Semen Padang memastikan diri menjadi juara Liga Prima Indonesia (LPI) 2011/2012. Sebelumnya, lima hari yang lalu (Rabu, 20 Juni 2012), Sriwijaya FC pun memastikan diri menjadi juara Liga Super Indonesia (LSI) 2011/2012.

Itulah dua kompetisi tingkat (level) tertinggi dalam sepak bola Indonesia. Diakui atau tidak, itulah faktanya. Adapun istilah “memastikan diri” dalam tulisan NMR (atau di media mana pun), kita maklumi saja karena kedua klub tersebut telah mengunci gelar juara ketika kompetisi tingkat tertinggi sepak bola Indonesia itu belum berakhir. Hasil itu dipahami berdasarkan kelaziman: menang 3 poin, seri 1 poin, dan kalah 0 poin. (Kan pemikirannya terlalu jauh seandainya Semen Padang atau Sriwijaya FC seperti Juventus yang sempat dibatalkan gelar juaranya dan sekaligus dikenai degradasi ke Serie B. Ah, lebay he he he. Ya, dalam tulisan ini, saya memang mau bercerita tentang “keputusan bersama”). Jadi, untuk sang juara, saya mengucapkan selamat!

Lalu, bagaimana dengan kompetisi tingkat kedua dalam sepak bola Indonesia? Divisi Utama Liga Indonesia (LI) yang dikelola oleh PT Liga Indonesia (PT LI) ternyata mulai memasuki Putaran Final “8 Besar” pada 25 Juni 2012. Sementara Divisi Utama yang dikelola oleh PT Liga Prima Indonesia Sportindo (PT LPIS) mulai memasuki Putaran Final “3 Besar” pada 1 Juli 2012. Khusus untuk Divisi Utama PT LPIS, seluruh peserta sudah memastikan diri mendapat tiket promosi ke LPI karena kedudukan mereka dalam babak penyisihan (reguler). Mereka adalah Pro Duta (juara Grup 1), Persepar (juara Grup 2), dan Perseman (juara Grup 3). Bagaimana dengan Divisi Utama PT LI? Tampaknya hal itu tidak jauh berbeda dari periode-periode sebelumnya.

Namun, bagaimana pun, keadaan sekarang ini sudah berbeda. Mengapa? Karena mulai periode mendatang, dualisme kompetisi kita akan bersatu lagi. Menurut hemat saya, itulah mengapa bahwa pembicaraan sistem promosi-degradasi jarang terdengar.

Sistem Promosi-Degradasi

Sebelumnya, mari kita lihat sistem promosi-degradasi dalam kompetisi yang dikelola PT LI. Seperti biasa, klub-klub yang bertahan di LSI adalah peringkat ke-1 s.d. ke-14 LSI; juara, runner-up, dan peringkat ke-3 Divisi Utama LI, dan pemenang playoff peringkat ke-15 LSI melawan peringkat ke-4 Divisi Utama LI. Sebaliknya, klub yang kalah dalam pertandingan playoff ditambah peringkat ke-16, ke-17, dan ke-18 LSI mengalami degradasi ke Divisi Utama LI.

Bagaimana dengan sistem promosi-degradasi dalam kompetisi yang dikelola oleh PT LPIS? Tampaknya, peserta LPI tidak akan dikenai degradasi karena jumlah peserta LPI hanya 12 klub. Untuk mencapai jumlah 15 klub, PT LPIS akan menambahnya dari tiga klub Divisi Utama PT LPIS yang promosi. (Ada kabar pula bahwa peringkat juru kunci LPI akan berhadapan dengan runner-up terbaik di antara tiga grup Divisi Utama LPIS. Pemenang playoff itu akan promosi ke LPI). Terlepas dari itu, mungkin ada kesan sistem promosi-degradasi ditetapkan belakangan.

Namun, sekali lagi, informasi promosi-degradasi pun secara keseluruhan masih tampak simpang siur. Memang, kita tidak perlu malu untuk mengakui bahwa kita bingung untuk menata kompetisi mendatang: berapa jumlah peserta, klub mana yang promosi, dan klub mana yang degradasi. Itu baru LPI/LSI dan Divisi Utama. Bagaimana dengan divisi-divisi lainnya? Mari kita perhatikan dan hargai mereka!

Kembali ke Belakang untuk Menata Masa Depan

Sejak tanggal 9 Juli 2011, reformasi PSSI dimulai. Kompetisi ditata ulang. Liga Super Indonesia dan Liga Primer Indonesia dihapus. Akhirnya, muncullah Liga Pro 1 dan Liga Pro 2. Karena muncul protes, lahirlah Liga Prima Indonesia yang memiliki peserta sebanyak 24 klub. Ke-24 klub itu termasuk tiga klub yang seharusnya “menunggu” untuk menyelesaikan dualismenya: Persija, Arema, dan Persebaya (baca: seharusnya ada 21 klub saja yang mengikuti kompetisi LPI. Atau kalau mau tetap 24 klub, tiga klub lain dari Divisi Utama seharusnya dipromosikan. Jika tidak, kelak, bola salju berputar dan kelahiran dualisme kompetisisemakin menggelinding. Apalagi, tentu ketiga klub itu akan protes karena merasa tidak diajak berkompetisi. Belum lagi PSMS yang akhirnya mendua. Jika klub-klub itu tidak mendua, berapa jumlah pesertanya? Demi gengsi dan pengaruh “kekuatan-kekuasaan”, jumlah peserta pun diperbanyak meskipun mendua. Dualisme kompetisi tentu bukan hanya disebabkan alasan itu. Masalahnya terlalu kompleks).

Bagaimana dengan kompetisi musim depan? Logika (pemikiran) mana yang mau dipakai? Kalau melihat ke belakang, saya memandang bahwa Liga Prima Indonesia (yang diawali Liga Primer Indonesia) logikanya adalah semacam “Galatama”. Artinya, dalam “bahasa”saya, LSI dianggap sebagai “Perserikatan” dan LPI dianggap sebagai “Galatama”. Namun, siapa yang mau jika LSI yang profesional dianggap sebagai “Perserikatan”?

Ketika ada dua kompetisi dalam sepak bola Indonesia (LPI dan LSI), di antara kita pun memakluminya sebagai “Perserikatan” dan “Galatama” seperti era sebelum tahun 1994. Bagi saya, hal itu tidak relevan. Coba saja simak, “Masa sih LSI yang profesional dianggap ‘Perserikatan’ yang diidentikkan sebagai kompetisi amatir?!”. Faktanya, kini LSI dan LPI adalah sama-sama profesional (meskipun ke-profesional-annya masih patut dipertanyakan).

Nah, ketika LPI ini diluncurkansebetulnya saya setuju. Itu seandainya jalan pikiran kita adalah Galatama. Sayangnya, maunya Galatama, tetapi pemikiran (promosi-degradasi)-nya non-Galatama.

OK-lah, jalan pikiran kita adalah Galatama. Artinya, LPI itu seperti Galatama. Tentu adanya kompetisi Galatama model baruini harus disepakati terlebih dahulu oleh para anggota PSSI. Logika Galatama itulah yang saya tangkap. Namun, persoalan Galatama dan Perserikatan tampaknya tidak mengena di benak kita. Terkesan konsep Galatama dan Perserikatan sudah usang. Selain itu, persoalannya adalah kondisi sosiopolitis dalam sepak bola Indonesia yang belum terbangun. Dampaknya, ada kesan “tidak dihargai”. Apalagi masyarakat pencinta sepak bola Indonesia, baik pakar maupun awam, terkesan lupa sejarah dan tidak tahu pada konsep. Hal itu pernah saya ulas. (Entahlah, mungkin saya pun tidak tahu konsep yang dimaksud PSSI dan para pakar).

Jika konsep Galatama yang dipakai, sah-sah saja jika Persebaya, Persebaya 1927, Arema Indonesia, Arema FC, Persija LPI, dan Persija LSI bisa ikut serta. Ada usulan, karena pesertanya banyak, dibagi dua wilayah (grup) saja. Apa boleh buat, konsep seperti itu tampaknya kita telan sebagai jalan kompromis saat ini. Namun, apakah harus seperti itu? Alasannya, mereka adalah klub baru. Kalau perlu, Persib atau Persipura pun bisa membentuk lima klub sekaligus (itu juga kalau mau dan mampu). Klub-klub baru lainnya pun tinggal mendaftar ulang. Misalnya, apakah PSM mau ikut serta atau tidak, ya terserah PSM. Begitupun klub-klub lainnya. Syaratnya, asal siap dengan segala persyaratannya. Itu kalau logika LPI kita sebagai logika Galatama.

Namun, apakah semua anggota PSSI setuju dengan logika Galatama seperti itu? Menurut hemat saya, persoalannya justru bukan setuju atau tidak setuju, tetapi diakui atau tidak, di antara kita justru tidak paham dengan apa yang harus disetujui atau tidak disetujui. Ada pihak yang merasa rancu ketika (misalnya) Persija LSI dan Persija LPI ikut serta. Kok ada dua tim yang sama? Jadi, di situ masalahnya. Logika mana yang mau dipilih?

Terlepas dari persoalan itu, bagaimana kita menata kompetisi? Sejak 9 Juli 2011, PSSI era Djohar Arifin Husin menata ulang para peserta kompetisi. Terlepas dari “meluruskan” kesalahan PSSI era Nurdin Halid tentang klub-klub profesional, hal itu tampaknya terlalu terburu-buru ketika konsep sepak bola profesional belum dipahami seluruh anggota PSSI. (Memang, saat itu situasi dan kondisinya cukup mepet bagi PSSI). Hal itu memunculkan kesan “tidak menghargai” perjuangan klub-klub lain yang berjuang untuk meraih tiket promosi. Bahkan ketika di antara Komite Eksekutif (Executive Committee) terpecah, PSSI tetap memutuskannya. Seandainya keputusan tentang jumlah dan nama-nama peserta itu diambil dalam Kongres PSSI, tentu sepakat atau tidak sepakat akan diputuskan secara bersama. Artinya, tidak sepihak. Sayang, PSSI tetap memutuskannya. Hal itu tentu tidak jauh berbeda dengan sikap Nurdin Halid ketika memutuskan seenaknya klub-klub yang mengikuti kompetisi (meskipun hal itu sesuai dengan Statuta PSSI pada jamannya). Ketika era Nurdin Halid, hal itu yang sering membuat kita gemas, bukan? (Sebagai catatan, saya berusaha menjauhkan diri dari persoalan perpolitikan di negeri ini. Saya juga berusaha untuk keluar dari zona Arifin Panigoro-Nirwan Bakrie. Bagi saya, hal itu terlalu ribet. Tidak menarik).

Ketika keputusan itu diputuskan secara sepihak, jangan heran jika timbul dualisme kompetisi. Sayang, hasilnya, masih ada klub-klub LPI dan LSI yang tetap tidak profesional, bukan? Nah, mari kita menata kompetisi periode mendatang. Mari kita sepakati berapa jumlah peserta kompetisi. Lalu, diurut berdasarkan penilaian. Setelah itu ditetapkan. Semua sepakat karena semua sudah menyepakatinya secara bersama. Kalau dinilai, tetapi masih dipertanyakan regulasinya oleh para anggota PSSI, ya jangan dipaksakan. Selain itu, jangan sampai, jumlah peserta yang disepakati sebanyak 20 klub, tetapi oleh karena jumlah yang memenuhi syarat mencapai 30 klub, lantas kompetisi pun dipaksakan berpesertakan 30 klub. Di situ harus ada sikap legawa di antara klub yang memiliki peringkat penilaian ke-21 sampai ke-30.

Misalnya, jumlah peserta kompetisi tingkat tertinggi adalah 20 klub dan kompetisi tingkat kedua (baca: Divisi Utama) adalah 20 klub, maka catatlah klub-klub yang mendaftar. Klub-klub itu dinilai dan diurut peringkatnya. Jika tidak profesional, diturunkan ke peringkat-peringkat berikutnya. Jadi, jangan heran kalau Sriwijaya FC yang menjadi juara LSI musim ini kelak ketika tidak profesional maka klub itu tidak mengikuti kompetisi tertinggi. Bahkan di Divisi Utama pun belum tentu. Begitupun dengan Semen Padang yang kini menjadi juara LPI. Jangan paksakan pula jika Persib tidak profesional mengikuti kompetisi tertinggi.

Klub-klub yang sebelumnya berada di LPI/LSI dan Divisi Utama bisa saja hanya mengikuti Divisi I, Divisi II, atau Divisi III. Sayang, PSSI sering kali mempromosikan secara gampang untuk memenuhi kuota Divisi I, Divisi II, dan Divisi III. Dampaknya, ketidakjelasan konsep ini seakan tak pernah berujung. Ini kalau logika kita adalah logika Galatama. (Konsep ini pun kalau dikaji sebetulnya rancu. Coba perhatikan. Seandainya LSI/LPI dipenuhi oleh 20 klub profesional dan Divisi Utama juga dipenuhi oleh 20 klub profesional, sedangkan Persib menempati peringkat ke-41 sebagai klub profesional, jika Persib sebagai klub profesional didegradasi ke Divisi I, apakah statusnya otomatis menjadi klub amatir? Sebaliknya, jika tidak dinilai dan diurut berdasarkan penilaian, apakah PSKC Cimahi yang merupakan klub amatir lantas statusnya berubah drastis menjadi klub profesional oleh karena mendapat tiket promosi ke LPI/LSI?)

Cerita sepak bola profesional tersebut adalah cerita ketika LSI dimulai pada 2008/2009, bukan? Kok lupa? Bukankah PSIS dan Bontang FC mengikuti LSI 2008/2009 oleh karena menggantikan klub-klub yang turun penilaiannya (baca: kekurangan finansial)? Bahkan kalau dikaji lagi, konsep ini pun direncanakan ada ketika Liga Indonesia 1994/1995. Sayangnya, di antara kita lupa pada sejarah dan tidak mau tahu dengan ceritamasa lalu seperti itu. Akhirnya, ketidakjelasan cerita itu pun selalu berulang.

Sebagai bumbu cerita, kita jangan heran jika kompetisi tertinggi sepak bola Indonesia musim depan hanya berpesertakan Persib (dan Semen Padang) saja. Itu pun kalau masih memenuhi syarat profesional. Kalau tidak, kita hanya bisa menyaksikan bahwa LSI/LPI hanya berjumlah NOL peserta.

Jadi, pertanyaannya, kita mau menyetujui logika (jalan pemikiran) kompetisi yang mana? Ah, jawabannya mungkin bukan setuju atau tidak setuju, tetapi kita masih tidak tahu apa yang menjadi pertanyaannya! Karena ceritanya selalu berulang. Hiks….

Iklan

9 Comments »

  1. ya begitulah selama ini konsep promosi dan degradasi…tapi saya sepakat bahwa harus ada penilaian ulang terhadap profesionalisme klub maupun kompetisi….

  2. 2
    aenoza Says:

    hmm,gimana pendapat bung novan tentang konsep liga musim mendatang?
    apakah bung novan punya strategi/inisiatif tentang peleburan dua liga/kubu tersebut?
    saya tau bung novan,saya atu pecinta bola indonesia pasti membayangkan atau berangan2 tentang liga musim depan itu
    dan pasti menarik bila bung novan membahas ide dan opini bung novan tersebut.:D:D

    • 3
      novanmediaresearch Says:

      Di tulisan ini sudah jelas. Ceritanya kan berulang. Kalau pun mau dijelaskan lagi: PERTAMA, samakan persepsi atau jalan pikiran tentang klub dan kompetisi sepak bola profesional, KEDUA, dimusyawarahkan untuk mencapai mufakat apa yang dipilih dan diputuskan (baca: tidak sepihak). Selebihnya, ada dalam tulisan saya tersebut.

  3. 4
    Antok Says:

    Pt. lpis d bubarkan saja…lpis gak becus..gara2 kecuramgan lpis tim kesayangan saya psir rembang gagal promosi ke level 1..psir maju terus

  4. Bagaimana nanti untuk penulisan sejarah tahun 2012….
    siapa yang diakui juara????

  5. 6
    1932psis Says:

    kpn mlai main lagi…..pngn dlk psis lagi,,…

  6. 7
    achenk Says:

    untuk musim depan dibikin 2 wilayah seperti dulu, tapi diambil dari 2 kompetisi LSI dan LPI masing – masing diadu kemudian nanti yang lolos keputaran berikutnya adalah yang mempunyai poin sampai urutan ke 1 s/d 18 karena hanya membutuhkan 18 klub dalam satu liga, klub yang tersisa harus menerima bila tersingkir ke divisi utama karena tidak bisa bersaing untuk ke liga utama

    • 8
      novanmediaresearch Says:

      Belum kepikiran kalau 2PSMS, 2Persija, 2Persebaya, 2Arema, dsb ada di “Liga”, kecuali logika Galatama. BTW, kalau maju terus, Arema mana yg di LCA/AFC? Unik 🙂

  7. 9
    Anonim Says:

    bung, solusinya; djohar arifin sama lanyala suruh bikin club, trus ikut kompetisi. biar tau rasanya jadi pekerja


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: