Sepak Bola Profesional Indonesia (1): Sejarah Galatama

Sabtu, 4 Agustus 2012, tepat sepekan yang lalu, saya tertarik memerhatikan kotak (box) data rubrik “Legenda” di tabloid BOLA edisi No. 2.386, Sabtu-Minggu, 4-5 Agustus 2012. Dalam data prestasi “Abdul Malik Faisal: Raja Bahari Makassar” (meskipun bukan pemain sepak bola) ditulis (lebih kurang): 1984-PON Jakarta, 1988-PON Jakarta, 1992-PON Jakarta, 1996-PON Jakarta, dan 2000-PON Jakarta.

Mari kita perhatikan data tahun 1984, 1988, dan 1992. Apakah PON-PON berlangsung pada tahun-tahun tersebut? Berdasarkan informasi yang diketahui selama ini, PON-PON itu berlangsung pada tahun 1985, 1989, dan 1993. Kata kuncinya: “PON diselenggarakan setiap empat tahun sekali”. Jadi, wajar jika media tersebut menulisnya dengan “kelipatan 4”. Namun, hal itu jika kita melihatnya pada masa kini. [Bandingkan dengan Piala Toyota 1980 yang dimainkan pada tanggal 11 Februari 1981ketika Nacional vs Nottingham Forest 1-0 melalui gol Victorino. Namun, saya kira, perbandingan seperti ini tidak relevan.]

Namun demikian, menurut hemat saya, menyusun sejarah itu tidak (hanya) bisa dilihat dari masa kini. Untuk menyelami suasana kebatinannya, kita harus melihatnya dari masa lalu. Saya sering menyebutnya: “Dari media yang sejaman”. Nah, berkaitan dengan data tadi, berdasarkan daya ingat saya, PON 1996 itu seharusnya diselenggarakan pada tahun 1997. Namun, karena tahun 1997 negara kita sibuk dengan rencana Pemilu 1997 maka PON 1997 pun dimajukan satu tahun menjadi tahun 1996. Salah satu dampaknya di Jawa Barat, Porda 1996 mau tidak mau harus dimajukan ke tahun 1995, padahal Porda seebelumnya diselenggarakan pada tahun 1992.

Hal yang sama saya perhatikan ketika membaca Buku Pintar karya Iwan Gayo. Di buku fenomenal itu ditulis Kompetisi Perserikatan 1995, 1993, 1991, 1989, 1987, 1985, 1983, 1981, 1979, 1977, 1975, 1973, 1971, dan seterusnya. Nah, saya kira, logika-logika semacam itu karena diambil dari data Kompetisi Perserikatan 1970-an setiap dua tahun sekali. Bagi orang awam, data-data Kompetisi Perserikatan itu membingungkan, bukan?

Itulah “Kata Pencerah” saya untuk menyusun sejarah Kompetisi Galatama. Sebagian besar informasi diambil dari koran Pikiran Rakyatserta sebagian kecil diambil dari koran Kompas dan majalah Tempo. Bagi sebagian pihak, informasi-informasi yang tercecer “sangat sulit” untuk dijadikan pembenaran sejarah Galatama. Namun demikian, tanpa menelusuri berita dari hari ke hari sepanjang tahun, mustahil NMR bisa menyusun sejarah Galatama. Di dalamnya tercermin suasana kebatinan pada jamannya. Selamat menikmati.

1975:

Pada masa ini, PSSI merasa bingung untuk mencari tim yang akan dikirim ke turnamenPiala Ratu (Queen’s Cup) di Thailand. Karena mendesak, agar lebih praktis, PSSIberencana untuk menyelenggarakan turnamen antarklub yang pesertanya berasal darilima kota besar di Indonesia, seperti Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Makassar.

30 Agustus s.d. 4 September 1975:

Tidak tahu apakah lupa atau tidak dengan tujuan awal penyelenggaraan turnamen (karenatidak disinggung-singgung lagi), akhirnya PSSI menyelenggarakan turnamen antarklubpada 30 Agustus s.d. 4 September 1975. Pesertanya: Bintang Utara (anggota PSMSMedan), Jayakarta (Persija Jakarta), UNI (Persib Bandung), Blitar Putra (PSBI Blitar),Assyabaab (Persebaya Surabaya), dan PSAD (PSM Makassar). Dalam turnamen itu,Jayakarta berhasil menjadi juara setelah di babak final yang berlangsung di StadionUtama, Senayan, Jakarta (4 September 1975) mengalahkan Assyabaab 6-5 melalui adutendangan penalti. Lalu, Jayakarta menerima piala bergilir dari Ketua Umum PSSIBardosono.

[Catatan I: Kelak, PSSI melahirkan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Antarklub Amatir Perserikatan pada tahun 1980 —meskipun masih ditulis tahun 1979— dan Kejurnas Antarklub Profesional —dikenal sebagai Galatama— pada tahun 1979. Dalam konteks lain, NMR menduga bahwa istilah “Amatir-Perserikatan” kemudian disalahpahami sebagai Kejurnas PSSI —yang sejak tahun 1980-an lebih populer disebut Kompetisi Perserikatan. Kebetulan pada masa ini, Mandala (Jayapura) sebagai klub intern anggota Persipura (Jayapura) berhasil menjadi juara Kejurnas Antarklub Amatir Perserikatan tahun 1980 sehingga pihak-pihak yang “lupa” pada ceritanya mencocok-cocokkannya pada prestasi Persipura yang disebut-sebut menjadi juara (Divisi Utama) Perserikatan 1979 atau 1980.]

[Catatan II: Kelak, untuk mengikuti kompetisi Galatama, klub-klub amatir anggota Perserikatan itu harus berubah status dari klub amatir menjadi klub profesional. Klub pun bisa berganti nama. Contoh: jika Jayakarta tetap menggunakan nama Jayakarta maka UNI menggunakan nama Bandung Raya. Perubahan nama UNI menjadi Bandung Raya pun memiliki maksud (menurut pengurusnya) agar masyarakat Bandung tidak merasa bingung untuk membedakan UNI amatir dan UNI profesional. Contoh lain: dalam Galatama I/1979-1980 muncul Sari Bumi Raya. Jika di media nasional ditulis Sari Bumi Raya saja maka di media lokal ditulis Sari Bumi Raya 1979. Hal itu untuk membedakan antara Sari Bumi Raya 1979 (profesional) dan Sari Bumi Raya 1976 (amatir) yang lahir pada 10 Juni 1976. Sebutlah ketika Sari Bumi Raya ’79 (Bandung) mengalahkan Perkesa ’78 (Bogor) 1-0 melalui gol Djadjang Nurdjaman pada menit 86 (Minggu, 18 Maret 1979, sehari setelah Kompetisi Galatama dibuka secara resmi pada Sabtu, 17 Maret 1979)]

[Catatan III: Kelak, status klub profesional dan klub amatir semakin jelas. Jika klub profesional mengikuti Galatama maka klub amatir harus puas mengikuti Galakarya. Contoh: Pupuk Iskandar Muda (Lhokseumawe) yang di Galatama menjadi Aceh Putra (Lhokseumawe). Begitupun Indocement yang berada di Galatama (maksudnya, kompetisi profesional LI) dan Galakarya.]

23 Maret 1976:

Ketua Umum PSSI Bardosono menyatakan bahwa PSSI akan segera membentuk klubprofesional tahun ini juga. Hal itu disampaikan di Ragunan, 23 Maret 1976, ketika melepasJayakarta (juara turnamen antarklub 1975) ke Australia.

15 Agustus 1976:

Ketua Umum PSSI Bardosono mengesahkan lahirnya delapan klub profesional pertama diIndonesia pada upacara yang berlangsung di kantor PSSI, Senayan, Jakarta (15 Agustus1976). Ke-8 klub profesional tersebut ialah Pardedetex (Medan), Bangka Putra (Sungailiat, Bangka), Jayakarta (Jakarta), Buana Putra (Jakarta), Tunas Jaya (Jakarta), Warna Agung (Jakarta),Palu Putra (Palu), dan Beringin Putra (Makassar). Selain itu, diumumkan pula susunanpengurusnya: Bardosono (ketua), Soetyono J. Alis (wakil ketua), Benny Moelyono(sekretaris), dan F.H. Hutasoit (bendahara). Sebagai catatan, dalam upacara tersebutyang statusnya profesional hanya klubnya dan bukan pemain. Dengan demikian,pemainnya masih tetap berstatus amatir.

15 September 1976:

Ketua Umum PSSI Bardosono melalui direktur kompetisi Soebronto mengungkapkanbahwa para pemain dari klub-klub profesional baru akan dinyatakan sah sebagai pemainprofesional pada 15 Oktober 1977 (setelah PON IX/1977).

24 Mei 1977:

Bardosono (ketua umum PSSI) menyerahkan kepemimpinannya kepada Moehono (ketuaII PSSI) sejak 24 Mei 1977.

23 Juli s.d. 3 Agustus 1977:

PON IX/1977 dibuka secara resmi oleh Presiden Soeharto (23 Juli 1977) dan ditutupsecara resmi oleh Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubuwono IX (3 Agustus 1977).

9 Agustus 1977:

Pardedetex (Medan) bermain imbang 2-2 dengan Warna Agung (Jakarta) dalampertandingan peresmian liga sepak bola profesional yang berlangsung di Stadion Teladan,Medan (9 Agustus 1977).

14 Agustus 1977:

Ali Sadikin terpilih sebagai ketua umum PSSI 1977-1981 dalam Kongres Luar Biasa PSSIyang berlangsung di Semarang, 14 Agustus 1977. Dampaknya, pengesahan statuspemain profesional yang direncanakan pada 15 Oktober 1977 tidak terjadi.

Akhir Agustus 1977:

Ketua Umum PSSI Ali Sadikin menunda pelaksanaan sepak bola profesional. Alasannya,pelaksanaan sepak bola profesional di Indonesia terlalu tergesa-gesa. Menurutnya, setiappembentukan suatu jenis olahraga profesional di Indonesia harus dibicarakan lebih dahuludengan KONI Pusat dan Dirjen Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga DepartemenPendidikan dan Kebudayaan.

Oktober 1978:

PSSI dalam Sidang Paripurna Pengurus (SPP) PSSI membentuk program Gala:Galatama, Galakarya, Galasiswa, dan Galanita.

17 Maret 1979:

Kompetisi Galatama I/1979-1980 dibuka secara resmi. Pertandingan Arseto (Jakarta) melawan Pardedetex (Medan) menjadi pertandinganperdana kompetisi Galatama (I/1979-1980). Dalam pertandingan yang berlangsung diStadion Utama, Senayan, Jakarta (17 Maret 1979) itu, Arseto menang 3-2 atasPardedetex. Tiga gol Arseto dicetak oleh Abdul Kadir (2 gol) dan Ambrita, sedangkan dua gol Pardedetex dicetak oleh John Lesnusa dan Zulham Efendi. Dengan demikian, Abdul Kadir yang mencetak gol pertama pada menit 4 tercatat sebagai pencetak gol pertama dalam sejarah Galatama.

[Catatan: Stadion Utama, Senayan, Jakarta tampaknya hanya menjadi tempat pembukaan saja karena sehari setelah itu (sejak 18 Maret 1979), klub-klub dari Jakarta menggunakan Stadion Persija, Menteng, Jakarta sebagai homebase/homeground-nya].

17 September 1980 s.d. 2 Oktober 1980:

“Seleksi Calon Anggota Galatama” diselenggarakan pada 17 September s.d. 2 Oktober 1980. Inilah cikal bakal Divisi I Galatama yang kelak diselenggarakan tahun 1983 dan 1990. Namun, dalam praktiknya, penyelenggaraan Divisi I Galatama itu tidak pernah konsisten karena Divisi Utama Galatama selalu kekurangan peserta oleh karena kekurangan finansial yang mengakibatkan klub-klub mengundurkan diri dan akhirnya membubarkan diri.

21 Desember 1981:

Sjarnoebi Said terpilih sebagai ketua umum PSSI 1981-1985 dalam Kongres PSSI pada19-21 Desember 1981 di Jakarta. Dalam Kongres PSSI ini pula, PSSI memberikanotonomi penuh kepada Galatama sekalipun secara administratif berada di bawah PSSI.Namanya pun berubah menjadi Liga Utama. Namun, dalam perkembangannya, namaGalatama tetap populer.

“…Nasib Liga Utama (d/h Galatama) tak bakal lagi ditentukan lewat berbagai surat keputusan. Pimpinan PSSI sudah memberikan hak otonomi kepada organisasi yang menghimpun klub sepakbola non-amatir itu…” (Majalah Tempo, 19 Juni 1982)

11 Oktober 1980 s.d. 13 Maret 1982:

Dalam Galatama II/1980-1982, pemain asing diperbolehkan bermain di Galatama. Berbeda dari pemain asli Indonesia yang berstatus amatir, para pemain asing itu berstatus profesional. Ciri khasnya: ada kontrak. Fandi Ahmad dan David Lee (NIAC Mitra) serta Jairo Matos (Pardedetex) menjadi pemain asing generasi pertama di Galatama.

“…Untuk mengatur nasib sendiri, Liga Utama telah menyiapkan anggaran dasar dan anggaran rumahtangga sendiri. Yang menarik dari anggaran rumahtangga itu adalah dicantumkannya secara terang-terangan adanya status profesional bagi pemain yang tergabung dalam Liga Utama. Selama ini ada semacam ketakutan terhadap kata tersebut. ‘Padahal dalam praktiknya mereka sudah profesional,‘ kata T.D. Pardede, bos Klub Pardedetex…” (Majalah Tempo, 19 Juni 1982)

April-Mei 1983:

Divisi I Galatama mulai diselenggarakan meskipun cikal bakalnya sudah ada pada tahun 1980 ketika menyelenggarakan “Seleksi Calon Anggota Galatama 1980”.

7 Juni 1983:

PSSI di bawah Ketua Umum Sjarnoebi Said melarang keberadaan pemain asing di kompetisi (semi) profesional Galatama.

13 April 1985 s.d. 7 Mei 1985:

Piala Liga untuk pertama kalinya diselenggarakan meskipun wacana itu sudah muncul pada tahun 1980. Kelak, memasuki edisi VI, Piala Liga berganti nama menjadi Piala Galatama.

25 Oktober 1993:

Piala Galatama VII/1993 tercatat sebagai Piala (Liga) Galatama edisi terakhir. Gelora Dewata (Denpasar) berhasil menjadi juara Piala Galatama VII/1993 setelah mengalahkan tuan rumah Mitra Surabaya (Surabaya) 1-0 dalam babak grandfinal di Stadion Gelora 10 November Surabaya (25 Oktober 1993).

4 November 1993 s.d. 8 Juli 1994:

Galatama XIII/1993-1994 tercatat sebagai kompetisi Galatama edisi terakhir.

8 Comments »

  1. 1
    himam Says:

    saya suka ulasan sejarahnya. mohon ijin sharing informasinya ya

  2. Komentar ini saya berikan sebagai rasa terima kasih karena Anda sudah berbagi hal yang positif melalui blog ini.
    Semoga apa yang sudah Anda bagikan, menjadi manfaat bagi pengunjung di blog ini.
    Dan kiranya Tuhan melindungi Anda & keluarga.🙂

  3. 4
    Chusnuddin99 Says:

    apakah tidak ingin mengulas tentang sejarah sepakbola wanita di Indonesia?

  4. 6
    Anonim Says:

    kami berdoa agar tim indonasia tetap ngul dalam segi apapun

  5. 7
    Anonim Says:

    Izin share informasinya


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: