Sepak Bola Profesional Indonesia (2): Banyak Jejak di Sepak Bola Bandung

“Setiap tim memiliki masa kejayaan dan gelar juara hanyalah soal waktu”. Demikian “teori” Novan Herfiyana dalam karyanya yang berjudul “Persib 1986: Lahirnya Kembali Generasi Emas Persib”. Sebetulnya, pihak yang pertama kali menyebut secara tegas bahwa pernyataan tadi sebagai teori adalah Endan Suhendra, wartawan Galamedia, ketika menyampaikan laporan sejarah Persib secara berseri selama sebulan penuh (Maret 2009). Di kalangan wartawan olahraga di Bandung, Endan Suhendra menjadi acuan data olahraga. Karenanya, tidak heran jika karya-karyanya sudah bisa dibaca oleh masyarakat pencinta olahraga (sepak bola), seperti “Persib Aing” (karya bersama Dani Wihara, wartawan Media GO), “Skuad Persib di LSI”, dan “Jejak Maung Ngora”.

Mengapa dalam kesempatan kali ini blog NovanMediaResearch(NMR) menyampaikan teori tersebut? Selain sebagai pengantar untuk membicarakan sepak bola Bandung, hal ini tentu saja untuk membicarakan salah satu tim di Indonesia, yaitu Persib Bandung. Setidaknya sejak masyarakat pencinta Persib merasa “bosan” atas Prestasi puncak Persib yang tidak kunjung tiba untuk menjuarai Liga Indonesia (LI) lagi sejak 17 tahun yang lalu, “suasana masa lalu” senantiasa menjadi rujukan semangat. Apakah hal itu salah? Tentu tidak! Sejarah bisa dijadikan sebagai cermin: “Ambillah yang bagus, buanglah yang jelek”. Begitu saja kok repot. Buat apa tokoh-tokoh masa lalu menciptakan pelajaran sejarah di sekolah-sekolah kalau bukan untuk dipelajari? Soal bosan atau tidak pada pelajaran sejarah, itu soal lain. Soalnya, setiap orang memiliki minat masing-masing. Begitu, bukan?

Namun demikian, berdasarkan pandangan NMR, ke-belum-berhasil-an Persib untuk mengulang prestasi sebagai juara LI terletak pada teori tadi: “Setiap tim memiliki masa kejayaan dan gelar juara hanyalah soal waktu”. Ya, diakui atau tidak, Persib bisa menjadi juara LI 1994/1995 karena pada masa itu Persib masih memiliki generasi emas. NMR mencatat bahwa berkah generasi emas Persib ini bertahan sejak 1983 (bahkan 1982) sampai 1998. Menurut catatan NMR, prestasi tersebut menjadi prestasi terbaik terlama dibanding tim-tim lainnya di Indonesia. (Jika anda punya data pembanding, silakan banding!)

Bagaimana prestasi Persib setelah 1998? Ternyata, tidak kunjung membaik. NMR pun mencatat bahwa prestasi Persib di LI/LSI jauh lebih kelam daripada masa kelam Persib 1970-an. (Sekali lagi, jika anda punya data pembanding, silakan banding!). Karenanya, setelah 1998, lahirlah generasi emas PSM Makassar. Setelah LI 2005, prestasi PSM pun semakin menurun. Lalu, muncullah Sriwijaya FC, Arema, dan Persipura. Sayang, prestasi Arema yang “naik-turun” turut dipengaruhi oleh dualisme.

Mari kita fokus ke Persib, sebagai salah satu contoh. Mengapa Risnandar Soendoro didemo oleh bobotoh Persib untuk turun dari jabatannya sebagai pelatih Persib ketika LI 2006? Sebaliknya, mengapa pula nama tokoh yang sama tetap dipuja-puja ketika membawa Persib di LI 1995/1996? Ya, maklum saja, prestasi Persib di LI 1995/1996 (meskipun tidak menjadi juara) masih menjadi bagian dari generasi emas Persib. Jadi, hal itu masih relevan dengan teori: “Setiap tim memiliki masa kejayaan dan gelar juara hanyalah soal waktu”.

[Berdasarkan kabar terakhir (14 Agustus 2012), Djadjang Nurdjaman telah terpilih sebagai pelatih Persib di LSI 2012/2013. Bukankah kalau melihat sejarah, selain membawa prestasi emas bagi Persib (1980-1990-an), Djadjang Nurdjaman juga pernah “men-degradasi-kan” Persib ke Divisi I Perserikatan pada akhir tahun 1970-an. Dalam sejarah Persib selama ini, peristiwa degradasi Persib ini disebut-sebut sebagai puncak masa kelam Persib era 1970-an. So, kita pun mesti relevan dengan keadaan jamannya.]

Terlepas dari itu, hal lain dan konteks permasalahan berbeda sebetulnya ada pada tim-tim lain di Indonesia. Misalnya, ada pendapat: “Kumpulkan saja para pemain asli daerah untuk dihimpun dalam klub daerahnya”. Namun, untuk contoh mutakhir, hal itu tidak berlaku bagi Sriwijaya FC. Faktanya, Sriwijaya FC tetap berhasil menjadi juara meskipun para pemainnya “campuran”. Ada lagi komentar: “Untuk apa buang-buang duit kalau timnya tidak menjadi juara?”. Namun, buang-buang duit itu hanya berlaku untuk 17 klub lainnya, kecuali Sriwijaya FC yang berhasil menjadi juara. Sekali lagi, begitu, bukan?

Persib dan Kisah Sepak Bola Profesional di Bandung

Persib adalah tim kebanggaan warga Jawa Barat, bukan hanya Kota Bandung. Namun, negatifnya, kehidupan sosio-kulturalnya jutru membuat persepakbolaan Jawa Barat kurang berkembang di tanah air. (Dalam kesempatan lain, NMR mungkin akan membahasnya, tetapi tidak janji!)

Ya, Persib seolah-olah telah menjadi klub profesional tersendiri. Sampai saat ini, Persib sebagai Perserikatan induknya tetap memiliki 36 klub intern yang pada umumnya disebut PS (Persatuan Sepak Bola) meskipun ada juga PO (Persatuan Olahraga). Namun, karena keadaan jaman yang berbeda, PO itu pun tinggal PS saja alias cabang olahraga sepak bola saja. Dalam catatan NMR, klub-klub intern anggota Persib tetap berjumlah 36 klub meskipun sering terjadi pergantian nama. Sebutlah Isuda yang berganti nama menjadi Djarum Super dan kini Kartabraja. Ada juga Sari Bumi Raya yang menjadi Pemda Jabar dan kini menjadi Bina Pakuan (?).

Dari klub-klub intern anggota Persib itu, ada yang membentuk klub profesional dengan tujuan untuk mengikuti kompetisi profesional, seperti Sari Bumi Raya, UNI/Bandung Raya, Pemda Jabar, Bina Pakuan, dan Pro Duta. Berdasarkan pengalaman sejarah pula, Sari Bumi Raya pindah ke Yogyakarta dan Pro Duta pindah ke Sleman dan Medan. Meskipun demikian, klub intern amatirnya masih tetap menjadi anggota Persib dan mengikuti kompetisi intern Persib (meskipun dalam perkembangannya berubah format: pembagian grup dan sistem gugur). Jangan lupakan pula 007 FC (Bandung) yang merger dengan Madiun Putra FC sehingga bernama 007 Madiun Putra FC. Kini, kemana 007 FC-nya? “Dihilangkan” ataukah sudah bercerai kembali?

Selain itu, ada hal menarik. Dalam Divisi III LI musim ini —meskipun disebut sebagai kompetisi amatir— UNI dan Bandung Raya ikut serta. Lalu, apakah UNI dan Bandung Raya lupa pada sejarahnya ketika mengikuti Galatama? Ya, inilah konsep yang terlupa atau memang konsep sepak bola profesionalnya yang tidak jelas.

Nah, maksud blog NMR membahas klub-klub intern anggota Persib yang membentuk klub profesional itu ialah bahwa pada jamannya (tahun 1993), Persib (lebih tepatnya, salah seorang tokohnya) sempat mewacanakan untuk membentuk klub Galatama tersendiri. Artinya, Persib yang pada saat itu berstatus sebagai tim amatir-Perserikatan memandang perlunya klub profesional. Ingat, tahun 1993! Artinya, hal itu masih di era Perserikatan dan Galatama. Konteks peristiwa ini sama dengan konsep LI ketika klub-klub Galatama yang sudah profesional dileburkan dengan klub-klub profesional yang dibentuk oleh Perserikatan (amatir) selaku induknya. Ini contoh relevan untuk masa kini ketika kita sering melupakan sejarah, bukan?

Akhir-akhir ini di Bandung muncul berita tentang pembentukan PT Persib 1933. Ya, mengapa tidak? Kalau perlu, bentuk saja lagi PT-PT yang lain. Asal, sesuai hukum tentunya. NMR memandang bahwa kehadiran PT Persib 1933 itu diperlukan (tetapi jangan berlebihan). Konsepnya seperti ini: Persib sebagai perserikatan induknya membentuk PT Persib Bandung Bermartabat sebagai pengelola klub profesional dan PT Persib 1933 sebagai pembina para pemain binaan Persib yang berasal dari PS-PS anggota Persib atau masyarakat luas (Harap maklum, anak-anak cilik yang bertalenta seperti di acara Agustusan atau “Ayam/Domba Cup” jarang terpantau. Orang tua mereka pun tidak tahu harus disalurkan kemana. Tata caranya masih belum tahu).

PT Persib Bandung Bermartabat bisa-bisa saja memindahkan Persib ke daerah lain, kecuali diperjanjikan dengan Persib selaku perserikatan induknya. Isi “statuta”-nya: “Tidak boleh. Titik.” Keuntungan (material) pun bisa dibagi kepada Persib (induknya), lalu akhirnya berimbas ke daerah (pemerintah dan masyarakat)-nya. Akan tetapi, untuk saat ini di Indonesia, hal itu tampaknya masih mimpi. (Karenanya NMR menganggap wajar ketika beberapa tokoh Indonesia membeli klub-klub asing. Soalnya, profesional di sana kan menguntungkan. Ini bisnis, Bung!)

Lalu, bagaimana dengan PT Persib 1933? Di sinilah PT Persib 1933 sebagai pembina para pemain binaan dari klub-klub intern anggota Persib. Kalau ada uang, ya silakan saja beli saham PT Persib Bandung Bermartabat, tapi bukan saham kosong. Kalau tidak ada uang/saham, ya masyarakat pencinta Persib harus rela bahwa Persib tidak akan mengikuti kompetisi. Itu saja. PT Bobotoh yang didirikan pun bisa membeli saham meskipun “recehan”. Jadi, bukan dimaknai sebagai sumbangan. Sepak bola profesional kok sumbangan? Kalau saham recehan itu tidak menguntungkan bagi bobotoh, ya berarti rugi. Namanya juga bisnis, tentu ada untung dan ada juga rugi. Kembali ke PT Persib 1933, kelak, hasil dari PT Persib 1933, para pemain muda bertalenta itu disalurkan ke Persib (profesional). Jika Persib (profesional) tidak berminat maka para pemain muda bertalenta itu bisa disalurkan (baca: dijual) kepada klub-klub lainnya di Indonesia.

Kalau perlu, PT Persib 1933 bisa menyelenggarakan kompetisi amatir Persib secara profesional. Ada sponsor maksudnya. Dari keuntungan inilah, keuntungan-keuntungannya bisa disalurkan ke Persib sebagai perserikatan induknya. Begitu seterusnya.

Konsep seperti itu bisa pula diterapkan untuk perserikatan-perserikatan atau klub-klub lainnya di Indonesia. Sayangnya, seperti yang sudah saya bahas beberapa waktu yang lalu, pandangan kita tentang konsep sepak bola profesional (baca juga: PT PBB dan PT Persib 1933) sungguh berbeda.

Catatan I: Mengapa tidak Sriwijaya FC (profesional) diambil-alih oleh PS Palembang sehingga Persijatim-nya bisa dihidupkan kembali. Namun, sekali lagi, pandangan NMR dan pandangan anda boleh jadi berbeda tentang konsep sepak bola profesional.

Catatan II:  Apa yang ingin dicari ketika Pelita Jaya dan Deltras hendak merger. Menurut pandangan NMR, tidak ada gunanya.  Kalau tidak sanggup membiayai kompetisi meskipun di divisi utama, Deltras lebih baik di-vakum-kan dahulu. Meskipun dikenai sanksi sampai Divisi III, Deltras masih tetap hidup untuk kembali ke kompetisi tingkat tertinggi. Dengan demikian, klub Deltras tidak akan hilang.

Iklan

1 Comment »

  1. Membangun Website yang bermutu dan berkualitas dapat digunakan untuk menyebar luaskan informasi positif.
    Semoga dari informasi yang posiit dapat memberikan inspirasi dan motivasi bagi setiap pengunjung. Incredible !!!


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: