Assyabaab Salim Group Surabaya

Perhatikan alur berikut ini: Jaka Utama => Yanita Utama => Kramayudha Tiga Berlian => Assyabaab (Salim Group Surabaya) => (Mastrans) Bandung Raya => Persija.

Maaf, anda sebagai pengunjung blog NMR ini, jangan bertanya tentang alur itu. Saya tidak akan menanggapinya. Soalnya, saya tidak bisa menanggapinya dengan kata-kata. Ini memang soal rasa. Jadi, baca saja cerita saya berikut ini dan abaikan alur tadi.

Namanya, Assyabaab. Assyabaab merupakan salah satu klub intern anggota Persebaya. Membaca dan/atau mendengar klub bernama Assyabaab mengingatkan saya pada acara “Dari Gelanggang ke Gelanggang”-nya TVRI Stasiun Pusat Jakarta di era 1990-an. Paling tidak, awal-awal tahun 1990-an-lah. Saat itu, saya mengetahui Assyabaab dalam salah satu sesinya: “Highlight Galatama”. [Kalau mendengar kata “Highlight”, saya selalu terkesan dengan ucapan adik saya saat itu. “Higlig” dibaca seperti “Jilid” dan bukan “Hailait” he he he]

Selain dari TVRI, saya pun mengetahui Assyabaab melalui tabloid BOLA. Wah, saat itu tabloid BOLA masih jarang di daerah saya. Ketika mengetahui Assyabaab melalui TVRI dan tabloid BOLA itu, imajinasi saya menerawang ke arah nama beraroma Arab. Soalnya, nama Assyabaab masih dirasa aneh di telinga saya. Entahlah, apakah Assyabaab itu ada unsur Arab-nya atau tidak. Katanya sih, iya!

Singkat cerita, Assyabaab ini benar-benar menjelma dengan segala prestasinya meskipun tidak sebesar prestasi beberapa klub lainnya di Indonesia. Sejak mengenal nama itulah, setiap kali mengetahui jejak Assyabaab di surat kabar, kelak, saya hampir pasti mendokumentasikan (baca: mencatat)-nya. Tentu saja, info-info cerita masa lalu. Kalau info-info cerita masa kini, terutama dalam kompetisi intern Persebaya, wah berseliweran. [Bagi anda pembaca Jawa Pos atau Surya, tentu info-info masa lalu itu lebih mudah diperoleh. Maklum saja, Surabaya kan rumahnya Assyabaab]

Saya sendiri baru bisa mendokumentasikan info-info Assyabaab (amatir) masa lalu itu, seperti: keikutsertaan Assyabaab di Kejuaraan Sepak Bola Antarklub PSSI 1975 (Pikiran Rakyat, 1-5 September 1975), kabar ditunjuknya Assyabaab oleh PSSI ke Timur Tengah (Pikiran Rakyat, 6 Februari 1976), dan gelar juara Invitasi Nasional PSSI U-19 di Yogyakarta yang diraih Assyabaab setelah di babak final mengalahkan Bintang Selatan Medan 6-5 (Pikiran Rakyat, 31 Oktober 1981).

Ya, itu memang Assyabaab (amatir), baik senior maupun junior. Pada masa itu, junior dikenal dengan nama remaja-taruna (mirip-mirip U-15/U-16 dan U-18/U-19) dan anak gawang (kini, dikenal sebagai SSB untuk U-12 ke bawah). Berbicara tentang Assyabaab (amatir) itu pula, ada informasi yang menarik, yaitu Assyabaab di Situbondo (Aneka No. 12, 20 Juni 1961).

Terlepas dari itu, salah satu informasi yang melekat dalam benak saya, kata kunci Assyabaab itu “1948” (berdiri) dan “M. Barmen” (pemilik). Soal ada angka tahun yang lain dan nama pemilik yang lain, saya tidak tahu. Itu urusan anda-lah, khususnya masyarakat pencinta Assyabaab, yang mesti menelusurinya.

Dari Assyabaab Galatama ke Assyabaab Salim Group

Apakah anda sudah membaca tulisan NMR berjudul “Sejarah Galatama”? Dalam tulisan itu, NMR menyinggung nama klub amatir dan klub profesional yang dibedakan. Nah, dalam tulisan ini, nama pembeda itu terletak pada kata “Galatama” meskipun dalam praktik sering tidak dipakai. Rasa-rasanya, hampir setiap klub seperti itu. Jadi, dalam tulisan ini, saya ingin menulis nama “Assyabaab Galatama” sebagai klub profesional yang mengikuti Kompetisi Galatama.

Assyabaab Galatama berdiri pada tanggal 13 Maret 1989. Dalam catatan NMR, kiprah Assyabaab sebagai klub profesional mulai diikutsertakan dalam Piala Jawa Pos I/1989 di Surabaya. Setelah itu, Piala Petrokimia I/1989 di Gresik dan Piala IPHI I/1989 di Surabaya menjadi arena berikutnya. Prestasi terbaiknya, juara ke-3 di turnamen sepak bola yang diselenggarakan Ikatan Penasihat Hukum Indonesia tersebut.

Seperti biasa, menjelang Kompetisi Galatama selalu diadakan Piala Liga. Pada masa itu, Piala Liga dijadikan ajang “percobaan” bahwa anggota Galatama itu layak atau tidak untuk mengikuti Kompetisi Galatama. Dalam Piala Liga V/1989 (bernama Piala Liga Bank Summa —setelah sebelumnya Piala Liga Milo), prestasi Assyabaab benar-benar menjanjikan: peringkat ketiga di bawah Kramayudha Tiga Berlian (juara) dan Pelita Jaya (runner-up). Ya, ini soal keberuntungan saja karena Assyabaab kalah undian dari Pelita Jaya untuk lolos ke babak grandfinal.

Singkat cerita kembali. Assyabaab pun mengikuti Divisi I Galatama 1990. Hasilnya, Assyabaab menjadi juara Divisi I Galatama 1990. Pada masa ini, juara dan runner-up Divisi I Galatama 1990 akan diadukan dengan peringkat ke-17 dan ke-18 Divisi Utama Galatama 1989 untuk memperebutkan dua tiket promosi. Sayang, seperti pengalaman Divisi I Galatama 1980 dan 1983, promosi-degradasi itu selalu tidak terwujud karena ada beberapa klub yang mengundurkan diri dan akhirnya membubarkan diri. Tampaknya, Divisi Utama Galatama selalu kekurangan peserta. Akhirnya, Assyabaab pun mengikuti Kompetisi Galatama 1990-1992. [Catatan:Kalau diperhatikan, menurut pandangan NMR, Divisi I Galatama 1980, 1983, dan 1990 tersebut merupakan ajang seleksi untuk mengikuti Kompetisi Galatama. Jadi, bukan sekadar pembagian divisi. Terkesan formalitas. Kalau tahu begini, padahal klub-klub baru itu langsung saja menjadi peserta Kompetisi Galatama…]

Kembali ke cerita Assyabaab. Pada masa inilah, Salim Group masuk. Klub Assyabaab merger dengan manajemen Salim Group pada tanggal 8 Juli 1991. Assyabaab Salim Group (Surabaya) pun bermarkas (sekretariat) di Kompleks Plaza Surabaya.

Selain di Piala Liga (Galatama) dan Kompetisi Galatama (juga kelak di Liga Indonesia), Assyabaab Salim Group pun beberapa kali diikutsertakan dalam beberapa turnamen. Prestasinya lumayan juga. Juara Piala Bentoel 1991, runner-up Piala Tugu Muda 1991, juara Piala Kasogi 1993, dan juara Piala Indocement 1993. Inilah data gelar juara dan runner-up untuk Assyabaab:

Piala Bentoel 1991:

[Stadion Gelora 10 November (Kota Surabaya, Jawa Timur), Senin, 4 Februari 1991]

Assyabaab vs Arema 4-3 (1-1) (adu penalti) (Yongky Kastanya 30; Mahdi Haris 24)***

***) Pertandingan babak final sebetulnya pada Minggu, 3 Februari 1991. Namun, setelah 2 x 45 menit terjadi hujan lebat. Babak perpanjangan waktu 2 x 15 menit pun semestinya diadakan pada Senin, 4 Februari 1991,tetapi tidak dilakukan karena lapangan tergenang air hujan. Kedua tim sepakat untuk langsung melakukan adu tendangan penalti.

Piala Tugu Muda 1991:

[Stadion Citarum (Kota Semarang, Jawa Tengah), Senin, 30 September 1991]

Mitra Surabaya vs Assyabaab 2-0 (Hendri Susilo 25, Edward Mangilomi 55)

Piala Kasogi 1993:

[Stadion Gelora 10 November (Kota Surabaya, Jawa Timur), Minggu, 11 Mei 1993]

Assyabaab vs Mitra Surabaya 2-1 (perpanjangan waktu)

Piala Indocement 1993:

[Stadion Pajajaran (Kota Bogor, Jawa Barat), Sabtu, 28 Agustus 1993]

Assyabaab vs Persib 1-0 (Hendri Susilo 72)

Iklan

6 Comments »

  1. 1
    bajoel Says:

    reques nama pemain no punggung 10???
    assyabaab salim grup 1995/1995

  2. 3
    elang Says:

    assyabaab adalah klub anggota persebaya yg terkuat bersama suryanaga. 2 klub ini langganan juara persebaya. Kalo di bandung seperti UNI,. Assyabaab secara tradisi adalah klub komunitas arab di surabaya. Pemain jebolan tim ini adalah tulang punggung persebaya dari masa ke masa. Mulai abdul kadir,rusdy bahalwan,hasan maghrobi,ahmad thayeb,m.nizar dll

  3. Saya ingin melanjutkan SSB di Assyabaab itu gmana cara daftarnya ya

    • 5
      novanmediaresearch Says:

      Menurut hemat saya, datangi kantor klubnya. Bisa juga mendatangi SSB tersebut ketika berlatih. Kalau perlu dekati pelatih dan/atau pengurusnya. Saya kira, dari hasil obrolan itu, kita bisa mengetahui “persyaratannya” 🙂

      Anda masih mending. Lebih dari lima tahun yang lalu ada beberapa orang yang bertanya kepada saya [dalam Komentar Blog, kini blog tersebut sudah dihapus dan email]. Mereka tidak tahu harus ke mana. Soalnya tidak semua daerah (kota/kabupaten) punya SSB. Akhirnya, saya pun menanggapi seadanya. Salah satunya justru berbicara dari sudut pandang orang lain. Maksudnya, agar sang pencari bakat blusukan. Eh akhirnya malah Indra Syafri yang melakukan. Mungkin itulah hikmahnya dari blusukan. Artinya lebih jauh, banyak “orang daerah” yang berminat, tetapi mereka lemah dalam akses. Salah satunya, ya itu tadi, pertanyaan KEMANA-nya itu yang belum terjawab atau terbahas dalam media massa atau apa pun 🙂

  4. 6
    Anonim Says:

    Pemain-pemain nasional yang lahir dari Assyabaab amatir (klub internal Persebaya): Purwono, Hamid Asnan, Subangkit, Rusdi Bahalwan, Subodro, Abdul Kadir, Waskito, Jacob Sihasale, M Agil Alhabsyi. Selain itu Assyabaab juga banyak menyumbang pemain untuk Persebaya: Suharsoyo, Yongki Kastanya, Aries Sainyakit, Fuad Alkatiri, Ishak Ismail, Yani Faturahman,


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: