Variasi Data Piala Celebes 2012 dan Pelita Bandung Raya

Piala Celebes 2012 sudah berakhir dua hari yang lalu. Namun, saya masih tertarik membahasnya. Mengapa? Ya, ternyata, gema Piala Celebes 2012 itu begitu menggelegar. Diakui atau tidak, disadari atau tidak, Piala Celebes 2012 ini “sebanding” dengan El Clasico di Spanyol. [Ah lebay he he he. OK, rileks sajalah. Kita lanjutkan yuk!] Apalagi, khusus di Indonesia, ada pro dan kontra dari pemerhati sepak bola yang turut meramaikannya. Coba bandingkan dengan beberapa turnamen lain, seperti Piala Magelang 2012 misalnya, yang tampak “sunyi-sepi”. Padahal, Piala Magelang 2012 merupakan gelarannya PSSI versi Ketua Umum Djohar Arifin Husin.

Sebetulnya, saya tertarik dengan referensi yang disampaikan sebelum dan sesudah Piala Celebes 2012 ini. Harap maklum, blog ini kan berkaitan dengan data sepak bola Indonesia. Berkaitan dengan hasil turnamen tersebut, setidaknya ada tiga golongan besar referensi bahwa Persib tidak pernah mengangkat trophy lagi: (1) Selama 17 tahun, (2) Selama 12 tahun, dan (3) Selama 11 tahun. Sebagian besar menyampaikan referensi nomor (1). Saya sendiri menyampaikan nomor (2). Sementara sebagian kecil menyampaikan nomor (3).

Nah, di sinilah saya senang dengan variasi referensi. Ada referensi yang saling melengkapi. [Sebelumnya, kejadian seperti ini beberapa kali saya alami ketika pihak “luar negeri” mengirim email untuk mengonfirmasi data yang ternyata jauh lebih lengkap.] Perihal referensi nomor (3) tadi, sebetulnya saya sudah mengetahuinya dari Kang Dani Wihara atau Kang Budi Kresnadi (?) dalam sebuah obrolan di salah satu televisi lokal, (kalau tidak salah) lebih dari tiga tahun yang lalu. Katanya, Persib terakhir kali menjadi juara pada Piala H.U. Hatta Djatipermana (2001). Namun, karena catatan saya pada Januari-Desember 2001 tidak menemukan (baca: mungkin terlewat untuk menulisnya), saya pun menulis referensi nomor (2) tadi, yaitu Piala Siliwangi 2000.

Oh ya, kemarin saya lupa membahas Makassar United. Soalnya buru-buru he he he. Keberadaan Makassar United ini mengingatkan saya pada Harimau Tapanuli. Pada akhir tahun 1980-an atau awal tahun 1990-an, Harimau Tapanuli ini seperti klub profesional, lebih dari klub Galatama. Padahal, statusnya amatir. Namanya juga klub dari seorang pengusaha “gila bola”. Ya, turunannya dari Pardedetex itulah. Saya hanya melihat pada satu sisi, yaitu pemain asing. Pada masa itu, ketika Galatama tidak memakai pemain asing, Harimau Tapanuli justru telah memakainya. Makassar United juga memakai pemain asing, bukan? Selain itu, menurut kabar (baca: menurut Abdi Satria dalam obrolan di radio), Makassar United ini bermaterikan para pemain PSM Makassar yang belum dikontrak lagi. Untuk mengisi waktu dan membinanya, Makassar United “me-refresh” mereka dalam Piala Celebes 2012. Sebagai gambaran situasi dan kondisi PSM Makassar yang belum menggunakan jasa mereka lagi, anda bisa cari informasi di beberapa media setempat (baca: media di Makassar dan sekitarnya).

Pelita Bandung Raya

Ada juga berita menarik lain. Ternyata, Pelita Jaya/Bandung Raya itu bernama Pelita Bandung Raya (?). Hal yang menarik bagi saya yaitu berupa pertanyaan: apakah Pelita Bandung Raya itu bernama asli Bandung Raya? Ataukah Pelita Bandung Raya itu bernama asli Pelita Jaya? Sampai saat ini, saya masih menyebutnya “Pelita Jaya”. Artinya, Pelita Jaya, Arema, dan Bandung Raya masih ada. Pelita Jaya (baca: Pelita Bandung Raya) di LSI, Arema di LSI, dan Bandung Raya di Divisi II LPI. Terserah mau memakai nama apa nantinya. Jadi, derby Persib vs Pelita Bandung Raya pun seharusnya Persib vs Pelita Jaya. Sementara yang namanya derby masa lalu, ya Persib LSI vs Bandung Raya (divisi II) LPI. Derby kota mungkin bisa. Namun, data pertemuan mana yang dipakai: Persib vs Bandung Raya ataukah Persib vs Pelita Jaya? Nah, ini bagiannya media massa.

Jujur saja —meskipun kata-kata itu tidak mesti saya ucapkan, tetapi hanya sebagai penegasan saja— akhir-akhir ini saya merasa “bingung” untuk menelusuri sejarah klub. Saya kira, saya telah menulisnya beberapa waktu lalu sebanyak lima edisi. Tampak ada sejarah yang “putus”.

Kembali ke Pelita Bandung Raya. Inilah satu kalimat untuk menyambutnya: “Tiada yang tidak mungkin dan “aturan”-nya telah berganti ketika kita masih tertidur. Jaman sudah berubah”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: