“Kemarahan” Bepe pada NMR

Pada suatu kesempatan di negeri antah barantah. Bertemulah dua orang yang berbeda. Kedua orang itu adalah Bepe dan NMR. [Keduanya menjalankan profesi yang berbeda. Berasal dari klub yang berlawanan. Bahkan (sebagian) pendukungnya pun masih “berperang”. Namun, keduanya senang dengan isi “nasional” seperti blog NMR ini he he he. Meskipun begitu, percayalah, keduanya mencintai klub favoritnya masing-masing, termasuk NMR ini. Mau bukti? Buat apa saya capek-capek membuat buku tentang klub kesayangan saya.] Lalu, terjadilah dialog.

Bepe: “Apa kabar, Kang Novan?”

NMR: “Kabar baik. Apa kabar juga, Mas Bepe?”

Bepe: “Kabar baik juga. Gila luh, Van. Kok nama saya ‘diambangkan’ di tulisan NMR?”

NMR: “Tulisan yang mana?” (Tanya NMR sambil penasaran)

Bepe: “Itu, ‘Ikon Sepak Bola Indonesia” dan ‘Pemain Sportif Sepak Bola Indonesia’”

NMR: “Oh, itu” (NMR pun sudah menduga jawabannya). “Jadi, karena dua tulisan itu yang membuatmu masuk timnas Indonesia di Piala AFF 2012?”

Bepe: “Nggak juga sih, tetapi kedua tulisan itu turut ‘mempercepatnya’.”

NMR: “Baguslah kalau begitu. Sukses ya!” (NMR pun hanya bisa berdoa)

Anda, sebagai pengunjung blog ini, boleh-boleh saja tidak percaya dengan dialog tersebut. Ya, saya pun membenarkannya karena dialog itu memang hanya dongeng. Namun, percayalah, kini Bambang Pamungkas sudah berada di Malaysia. Dan…, boleh jadi, jika ia membaca tulisan saya ini, ia akan menyangkal “kebenaran” dialog tadi. [Tulisan saya hari ini sempat akan dimuat beberapa hari yang lalu ketika Bepe mulai bergabung ke timnas Indonesia asuhan pelatih Nil Maizar. Akhirnya, karena kepastian Bepe sudah berada di Malaysia, tulisan ini pun dimuat hari ini].

Di tengah “peperangan” antara PSSI-nya Djohar Arifin Husin dan PSSI-nya La Nyalla Mattalitti yang sempat menciptakan timnas-nya masing-masing, Bepe memang tergerak. Suatu keadaan yang sulit. Namun, dalam situasi dan kondisi seperti ini, saya tidak setuju dengan istilah “nasionalis” dan “tidak nasionalis”. Saya percaya, semua pemain yang dipanggil timnas, meskipun urung bergabung, tentu memiliki sikap nasionalis. Jangan ragukan itu!

[“…Kami bukan malaikat. Kami tahu kami berbuat salah, tetapi setidaknya kami berada pada sebab-musabab yang benar, begitu kata Presiden ke-34 Amerika Serikat Dwight D. Eisenhower ketika mengadakan kunjungan resmi ke Chili pada 1960. Eisenhower adalah salah satu presiden AS yang punya track record dan pengalaman perang paling panjang. Ia banyak terlibat dalam Perang Dunia I, perang Pearl Harbour, serangan di Maghreb, Sisilia, dan Normandia. Sampai akhirnya pada 1950 ia diangkat menjadi Komandan Agung Pertama (First Supreme Commander) NATO. Dalam kehidupan nyata, kadang-kadang kita dihadapkan pada keputusan yang amat sulit. Begini salah, begitu salah. Tetapi Eisenhower telah menunjukkan ketetapan hati ketika harus memilih di antara yang terburuk…”]{Saya mengutip tulisan ini dari tabloid Bisnis Uang edisi No. 38/II/12-25 Januari 2006}

Ya, begini salah, begitu salah. Dalam suatu waktu dipuja karena berada di satu pihak dan dalam waktu yang lain dihujat karena berada di pihak yang lain. Itulah komentar-komentar di antara kita. Kita merasa “menang” karena sikap kita berada di satu sisi. Mengapa kita tidak berempati untuk berada di sisi lainnya? Anda tentu masih ingat dengan sikap anda ketika Bepe (dan beberapa pemain lainnya) wara wiri antara mau dan tidak mau bergabung ke dalam timnas. Ada sikap yang berbeda, bukan? Ada yang mendukung Bepe dkk dan ada juga yang menghujat Bepe dkk. Hal itu terjadi sebelum dan sesudah. Orang yang tadinya dihujat, kini dipuja. Sebaliknya, orang yang tadinya dipuja, kini dihujat. Semua karena berita yang berubah dari detik ke detik. Konsistenkah kita dari waktu ke waktu? [Pesannya yaitu “Jangan membanting pintu karena suatu saat (mungkin) anda akan melewatinya kembali” (Don Harold). “Merayakan” kemenangan, jangan berlebihan, menerima kekalahan, jangan sampai down. Jangan terlalu tinggi, nanti jatuhnya sakit, jangan terlalu bawah, nanti naiknya susah. Pada suatu saat, kawan jadi lawan dan pada saat yang lain, lawan jadi kawan. Wajar toh?! Piala Dunia 1938 pun ada di lemari kita, bukan?]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: