KPSI, Makhluk Apaan Tuh?

He he, 14 Desember 2012 kemarin, FIFA ternyata tidak menghukum PSSI. Padahal, rencananya, FIFA akan “menyelesaikan” konflik PSSI dan KPSI.

PSSI. Siapa tuh? Sudah jelaslah, PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) merupakan federasi sepak bola Indonesia. Tentu saja, PSSI merupakan federasi sepak bola Indonesia yang sah (legal) di mata FIFA. PSSI yang saat ini dipimpin oleh Ketua Umum PSSI Djohar Arifin-lah yang diakui FIFA. Jadi, seandainya Djohar Arifin Husin membawa nama FSI (Federasi Sepak Bola Indonesia), bisa dipastikan tidak diakui FIFA karena federasi sepak bola Indonesia yang sah yaitu PSSI, bukan FSI.

KPSI? Makhluk apaan tuh? Rasa-rasanya blog NMR ini tidak pernah menulis KPSI, kecuali dalam tulisan kali ini. Ya, bagi NMR, PSSI itu hanya ada satu, tetapi para pengurus yang mengklaim sah ada dua (pihak). NMR pun selalu menulis PSSI versi Ketua Umum Djohar Arifin Husin dan PSSI versi Ketua Umum La Nyalla Mattalitti. Soal siapa pengurus yang sah, ya dikembalikan lagi kepada kecakapan hukum para anggotanya. Artinya, para voters di KLB Palangkaraya/KB di Jakarta, mana yang benar-benar memiliki entitas hukum.

Sekali lagi, KPSI itu makhluk apaan? Dalam pandangan NMR, KPSI itu hanya sekadar nama. Ia bisa bernama Forum PSI, La Nyalla Mattalitti Fans Club, La Nyalla Mattalitti and partner, atau apa pun namanya. Kalau PSSI versi Djohar Arifin Husin pun bisa bernama KASI (Komite Asli Sepak Bola Indonesia), Djohar Arifin Husin Fans Club, Djohar Arifin Husin and partner, atau apa pun namanya. Kalau Djohar Arifin Husin memakai nama Forum PSI atau FPSI bagaimana? Tentu tidak bisa karena dalam tulisan NMR tadi, Forum PSI atau FPSI sudah dipakai oleh La Nyalla Mattalitti. Jadi, ngapain Djohar Arifin Husin mengubah nama PSSI menjadi KASI atau apa pun namanya kalau nama PSSI sudah diakui FIFA? Tentu bikin repot, bukan? Karenanya, PSSI tetaplah bernama PSSI. Bahkan PSSI pun tidak diubah menjadi ASI (Asosiasi Sepak Bola Indonesia) atau FSI (Federasi Sepak Bola Indonesia). Dilihat dari tulisan ini, KPSI dan KASI, sejajar, bukan? Toh, keduanya mengusung nama PSSI. Karenanya, kalau KPSI tidak diakui FIFA, ya wajar karena namanya KPSI, bukan PSSI. KPSI mau dibubarkan karena KPSI bukan merupakan suatu federasi, ya memang benar. Dimana sejarahnya bahwa PSSI itu berganti nama menjadi KPSI? Iya toh?! Sekali lagi, federasi yang diakui FIFA itu, PSSI, bukan KPSI, bukan KASI, bukan NMR he he he.

[Ada cerita lain. Anda masih ingat dengan Persegres dan Gresik United? Kita pun mengetahui bahwa Gresik United merupakan peleburan Persegres (Gresik) dan Petrokimia Putra (Gresik). Ketika terjadi dualisme, antara Persegres dan Gresik United, mana yang sah? Sekadar info saja, RSSSF menulis Gresik United. Hal itu wajar karena (mungkin) RSSSF mengacu pada situs web resmi PT Liga Indonesia. Bagaimana dengan NMR? Seperti biasa, blog NMR ini senang berbicara secara kronologi. Maksudnya, latar belakang apa sebelumnya yang mengakibatkan latar belakang apa sesudahnya. Jadi, ada hubungan sebab akibat. Kembali ke Persegres/Gresik United. Setahun yang lalu, Gresik United yang berkiprah di PT Liga Indonesia mengganti namanya menjadi Persegres Joko Sumudro. Nama itu diambil dari nama PT-nya. Para pengurus dan pendukung (suporter)-nya berbondong-bondong ke Stadion Petrokimia, Gresik, dalam pertandingan peresmian, meskipun sebagian di antara mereka ada yang menyayangkan mengapa Gresik United diganti namanya menjadi Persegres Joko Samudro. Akhirnya, blog NMR pun menulis Persegres (Joko Samudro), bukan? Dalam perkembangannya, tiba-tiba, nama Gresik United dimunculkan lagi. Alasannya, untuk mengatakan bahwa Gresik United-lah sebagai nama yang sah, sambil menambahkan, kedua klub itu dimanfaatkan sebagai ajang pembinaan para pemain lokal. Alhamdulillah, “Sambil menyelam, minum air”. Nah, blog NMR tidak menentukan klub mana yang sah? Itu urusan mereka. Namun, seandainya pada kompetisi musim lalu Persegres Joko Samudro kembali ke nama aslinya menjadi Gresik United, apakah Gresik United yang di PT LPIS akan bernama Gresik United juga? Atau paling tidak, apakah Gresik United akan dimunculkan? Akhirnya, minimal akan ada Gresik United LSI vs Gresik United LPI. NMR pun memandang bahwa ANTV masih ragu-ragu dengan politik sepak bola. Maksudnya, lihatlah, Persegres (kembali) ditulis Gresik United. Maksudnya, untuk “menutupi” Gresik United LPI. Padahal, dalam catatan NMR, sudah betul-betul bahwa Gresik United itu menjadi Persegres Joko Samudro.]

PSSI Inginnya Dipermainkan

Membaca subjudul “PSSI Inginnya Dipermainkan” terkesan PSSI ingin dipermainkan oleh pihak lain, seperti oleh KPSI”. Padahal, konteks NMR dalam tulisan ini yaitu PSSI yang mempermainkan. PSSI tampak ingin main-main.

Mari kita perhatikan. PSSI merupakan federasi sepak bola Indonesia yang sah. Dari sini, PSSI sebenarnya bisa tancap gas. Ngapain pusing-pusing mikirin LSI dengan PT LI-nya. Kompetisi LPI bisa dijalankan tanpa memusingkan kehadiran Kompetisi LSI. Toh LSI sudah dianggap PSSI sebagai kompetisi ilegal. Ya, PSSI tinggal jalan terus. Namun, faktanya tidak sesederhana itu, bukan? Artinya, memang ada “sesuatu”.

PSSI merupakan federasi sepak bola Indonesia yang sah. Sudah berkali-kali saya tegaskan. Artinya, ya silakan jalan terus. Namun, sebagaimana subjudul tadi, mengapa PSSI bermain-main. Sudah tahu sah, eh malah menerima ajakan KPSI untuk “ber-cipika-cipiki” di Kualalumpur (Juni 2012). Sudah tahu PSSI itu legal, eh malah mau “berjabat tangan mesra” dengan KPSI di Jakarta (Desember 2012). Akhirnya, kok MOU dengan KPSI dibatalkan lewat KLB di Palangkaraya. Kok mau main-main sih? Silakan PSSI jalan terus. Nyatanya, tidak bisa, bukan? Kini, PSSI sah/legal, eh malah menerima ajakan taskforce. NMR melihat, disetujuinya taskforce oleh PSSI karena PSSI versi Djohar Arifin Husin hanya melihat dari satu sisi, yaitu PSSI sah dan KPSI tidak sah. Ya, iya lah, mana ada federasi sepak bola Indonesia bernama KPSI. Yang ada kan hanya PSSI.

PSSI sah, legal, sah, legal, sah, legal. He he, itu hanya terjemahan saja. Singkat kata, PSSI harus jalan terus. Tidak usah memusingkan LSI dan PT LI-nya. Namun, nyatanya tetap tidak bisa, bukan? Berarti memang ada masalah di antara mereka.

Tadi ditulis, NMR itu senang berbicara tentang kronologi. Ceritanya begini. Sejak KLB Solo 2011, PSSI memutuskan Liga Super Indonesia dan Liga Primer Indonesia dibubarkan. Kedua kompetisi ini dihilangkan. Apa gantinya? Liga Prima Indonesia. NMR tidak mau memusingkan apakah Prima itu Primer atau Premiere, tetapi yang jelas dan tegas: Liga Prima Indonesia. Karenanya, NMR menulis Liga Prima Indonesia dan bukan Liga Primer Indonesia atau bahkan Indonesian Premiere League.

Faktanya, Liga Super Indonesia memang hilang, dalam arti jadi breakaway league. Kompetisi yang sah (menurut PSSI) tentu saja LPI. Persoalannya, mengapa Liga Primer Indonesia dimunculkan. Kalau PSSI konsisten, tentu namanya harus Liga Prima Indonesia. PSSI tidak usah memusingkan Liga Super Indonesia karena sudah dicap sebagai kompetisi ilegal. Itu saja. Jangan ikut-ikutan “melanggar”.

Kelak, seandainya PSSI dan Liga Prima Indonesia tinggal menjadi satu-satunya kompetisi yang sah, NMR percaya, tanpa peduli malu atau gengsi, klub-klub PT LI akan berbondong-bondong ke PT LPIS. Itu wajar-wajar saja karena kompetisi yang sah ialah Liga Prima Indonesia atau apa pun namanya kelak. Kalau malu atau gengsi, tentu hanya ada satu pilihan: klubnya dibubarkan. Selesailah nama-nama klub tadi. Tinggal puing-puing sejarah.

NMR bersyukur FIFA tidak menjatuhkan sanksi

Tanggal 14 Desember 2012 kemarin, FIFA tidak menjatuhkan sanksi kepada PSSI. Ini bukan persoalan ingin disanksi atau tidak. NMR bersyukur. Soalnya, sebelum rencana sanksi itu, ada taskforce dan/atau pemerintah. Seandainya PSSI disanksi oleh FIFA, taskforce/pemerintah akan menjadi bulan-bulanan. “Ah, ini gara-gara pemerintah ikut campur,” mungkin seperti itu. Harap maklum, masyarakat Indonesia itu, menurut pandangan saya, tampak tidak fair. Segala peristiwa selalu dipandang negatif seolah-olah tidak ada segi positif. Perhatikanlah dalam segala peristiwa dalam bidang manapun (baca: nonsepakbola). Kita selalu menunjuk dengan satu jari, padahal empat jari menunjuk ke kita.

Repotnya lagi, ad interim Menpora ialah seorang tokoh dari Golkar. Wuih, bisa jadi bulan-bulanan lagi. Nah, itulah maksud tidak fair. Padahal boleh jadi sang tokoh itu memiliki sikap yang “jernih”. Namun, saya sebagai pengelola blog NMR pun menyadari bahwa latar belakang seseorang umumnya dipersepsikan turut mewarnai perpolitikan di Indonesia. Namanya juga ilmu politik. Ya, tinggal dibuktikan saja. Kalau memang mampu dibuktikan he he. [Anda ingat dengan Osama bin Laden? Ketika ia masih hidup, satu pihak menyebut ia masih hidup, sedangkan pihak lain menyebut ia sudah mati. Pihak yang menyebut ia masih hidup atau ia sudah mati itu, tahu darimana? Jago ya bisa tahu? Atau sok tahu? Keberadaan dan ketidakberadaannya dimanfaatkan. Ya, itulah ilmu politik. Ilmu sosial. Sebaliknya, kalau ilmu hukum, semua harus ada fakta-fakta hukumnya.]

Perdamaian

Ada taskforce? FIFA masih sayang kepada sepak bola Indonesia? Ya, perdamaian antara PSSI DAH dan PSSI LNM tampaknya perlu diwujudkan. Kedua pihak harus bersatu. Tidak ada lagi “cipika-cipiki” di Kualalumpur dan tidak ada lagi “berjabat tangan mesra” di Jakarta yang semuanya dagelan. Saya melihatnya seperti “iklan layanan masyarakat” yang mengajak senyum.

DAH dan LNM mesti ngopi bareng di kedai kopi. Ngobrol santai. Jangan sepihak. Mau tahu sepihak? Ya, beberapa waktu lalu, NMR menyaksikan DAH bertanya jawab di Radio Elshinta. Interaktif? Ya! Tapi mengapa hanya via SMS dari pendengar dan bukannya menerima telepon? LNM pun begitu. Di radio lain (maaf, saya lupa nama radionya), LNM tidak mau bertanya jawab via telepon. Inginnya diwawancarai oleh penyiar.

Kapan keduanya bertemu? Ah, cuma cipika-cipiki dan berjabat tangan mesra. Setelah itu “perang” lagi. Kalau pun ada TvOne yang mempertemukan keduanya di Indonesia Lawyer Club, nyatanya kubu DAH tidak datang. NMR pun yakin, kubu DAH sudah menganggap bahwa TvOne itu kubunya LNM. Wah repot lagi. Kita pun selalu mempersepsikan begitu, bukan? Itulah salah satu alasan mengapa saya mengatakan tidak fair. Boleh jadi, TvOne itu “jernih”. Akan tetapi, ya itu tadi, siapa yang percaya dan tidak percaya?

Kritisnya lagi, tidak ada TV lain yang membuat program serupa (minimal untuk kasus PSSI-lah). Mungkin kalau TV non TvOne/ANTV, pandangan kita akan “jernih”. Sulit ya? TV mana yang mau? Nyatanya, DPR RI saja tidak berhasil mempertemukan DAH dan LNM di gedung dewan. Wah wah wah, kapan mau ketemunya? Kapan mau ngobrol santai?

Terlepas dari itu, apakah PSSI DAH mau mengikuti ajakan taskforce? Mungkin iya. Namun, jika dilihat dari satu sudut pandang (baca: menganggap KPSI sebagai lawan yang tidak sah), ya hasil akhir taskforce tidak akan jalan. Paling-paling PSSI seperti membatalkan MOU lagi. Bisa-bisa taskforce dianggap melanggar Statuta. Weleh weleh.

Akhirnya, kalau PSSI DAH itu legal, ya silakan jalan. Kompetisi LPI dijalankan. Program-programnya dijalankan. Jangan pikirkan KPSI, taskforce, atau apa pun. Namun, nyatanya, begitu-begitu saja, bukan? Artinya, sekali lagi, diakui atau tidak, memang ada “sesuatu”.

Apakah pembatalan (sementara) keputusan FIFA ini akan mendamaikan kedua pihak? Atau benar-benar terwujud? Semua balik lagi ke DAH Cs dan LNM Cs. Kita jenuh. Dedi Gumelar (anggota DPR RI) bilang, di kubu DAH dan di kubu LNM, tidak ada merah putih. Hiks….

Iklan

1 Comment »

  1. 1
    bayuhend Says:

    Mas, PSSI bukan Djohar Arifin, segala keputusan bukan karena keinginan Djohar Arifin, tapi murni karena hasil dari suatu Konggres. Kalo anda mau sedikit membuka lagi emori ke Kongres Solo dan Kopnggres Bali setelahnya, jelas-jelas telah memutuskan PT. Liga Indonesia dengan ISLnya adalah liga yang syah.

    Tapi ternyata Djohar Arifin secara sepihak memutuskan lainnya. Apakah kompetisi harus selalu berganti setiap pemimpinnya ganti? Jika memang ISL belum jadi kompetisi ideal, perbaiki kekurangannya jangan masin asal ganti saja. Anda pikir liga Inggris pada saat baru lahir sudah menjadi liga seperi sekarang? Selama berpuluh-puluh tahun tidak ganti, hanya berganti nama pada awal 90an, tapi tidak berganti sistem secara frontal atau bahkan mengganti peserta dengan klub siluman.

    Saya dan anda hanyalah penikmat, tidak bekerja/mencari nafkah langsung dari sepakbola. Para pemain, pelatih yang selama ini berhubungan langsung dan akan terkena dampak langsung saat terjadi carut marutnya sepak bola Indonesia. Tapi sekarang anda lihat, klub-klub, para pemain, pelatih…mereka lebih memilih ISL, karena mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi.


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: