22 Desember 2001-2012: 11 Tahun NovanMediaResearch Menelusuri Data

Pada suatu waktu ketika kantor sebuah penerbitan di Kota Bandung sedang direnovasi. [Silakan, anda bisa menafsirkannya]. Karena gedungnya sedang direnovasi, tentu ada buku-buku dan majalah-majalah yang berserakan di suatu ruangan. Entah mengapa, saya senang “mengobrak-abriknya”. Digenggamlah dua majalah: majalah World Soccer dan majalah Fussball. Wow, ada iklan buku-buku kompetisi dari tahun ke tahun! Pantas saja, media-media memuat data yang begitu lengkap, pikir saya saat itu. Kalau Kompetisi Indonesia, bagus juga tuh, pikir saya lagi. [Sayang, saat itu buku-buku sejenis tentang sepak bola Indonesia belum ada. Kelak, pada tahun 1999, saya tahu bahwa tabloid Media GO menerbitkan buku Liga Indonesia I s.d. V.]

Setelah dibuka-buka setiap lembarnya, “Pak pinjam majalah ini ya,” ujar saya kepada Pak Imam Jahrudin Priyanto (di bangku di sebelah kiri saya) sambil “diawasi” Pak Johnny F. Tamaela (di bangku sebelah kanan saya).

Satu-dua hari kemudian, Pak Imam J.P. bertanya: “Majalahnya sudah dikembalikan, belum?”. “Sudah Pak,” jawab saya. “Pak, pinjam majalah ini lagi ya?” pinta saya kepada Pak Imam J.P. lagi. “Ya,” jawabnya singkat. [Mungkin Pak Imam J.P. saat itu bergumam dalam hati, ini anak pinjam melulu ya he he he.]

Beberapa hari kemudian, saya mengetik daftar juara Liga Jerman yang terdapat dalam majalah Fussball sambil diperhatikan Pak Deni Hamdani. [Mungkin Pak Deni bergumam dalam hati, ini anak kurang kerjaan kali ya?!] OK, saya tidak perlu “khawatir” untuk menceritakan ini. Mungkin inilah rangkaian kehidupan ketika saya akhirnya menjadi penelusur data. Padahal, saat itu, saya belum memiliki pemikiran seperti itu.

Di hari-hari berikutnya, saya berada di perpustakaan Pikiran Rakyat. Katanya, koleksinya ada sejak tahun 1975. Di sinilah, ada sebuah ruangan yang lebih kecil lagi, saya masuk. Dari sekian buku, saya mengangkat buku Formula 1 yang memuat daftar juara pembalap dan juara konstruktor. “Oh, saya, Pak. Sedang cari data,” ujar saya buru-buru kepada salah seorang karyawan di sana. “Oh ya, silakan,” ungkap karyawan tadi. Saya buru-buru berbicara hal itu karena saya merasa bahwa Bapak tadi akan mempertanyakan keberadaan saya meskipun terlihat ragu-ragu. Ya, saya memang proaktif dan biasanya terlalu so akrab. [Maafkan saya untuk hal yang satu ini.]

Ya, inilah tulisan pembuka saya dalam rangka memperingati 11 tahun NMR menelusuri data. Tidak terasa, tanggal 22 Desember 2012 ini merupakan 11 tahun saya sebagai pengelola blog NMR menelusuri data secara terus-menerus. Sebelum itu sih hanya sesekali (temporer) saja. [Itu juga sebagai “pelarian” dari kejenuhan studi saya he he he.]

Berawal pada tahun 1987 ketika ayah saya membeli koran Kompas dan tabloid BOLA (baca: BOLA merupakan bagiannya). Pada masa itu, Laporan Utamanya tentang Piala Champions (Eropa) 1987 yang mempertemukan Bayern Muenchen dan FC Porto. Saya juga tidak mengerti mengapa ayah saya ujug-ujug membeli koran. Di dalam tabloid BOLA itu terdapat daftar juara Piala Champions sejak 1957. [Dari daftar juara itu, saya masih ingat pertanyaan ayah saya: “Real Madrid itu dari Italia?” he he he.]

Sepengetahuan saya, itulah koran/tabloid pertama yang “saya” beli. Alasannya, karena beberapa kali saya sempat melihat tetangga saya membaca koran Gala (kini, Galamedia). Kalau mengingat masa-masa itu sih di daerah saya sangat jarang orang-orang berjualan koran. Mungkin juga karena saya masih kecil dan “tidak diijinkan” untuk beredar ke sekeliling. Setelah babak final Piala Champions 1987 itu, saya pun membeli tabloid Tribun Olahraga. Isinya, laporan pertandingan Piala Champions 1987, termasuk daftar juaranya. [Oh ya, yang membeli koran/tabloid tadi tentu saja ayah saya he he he.]

Berkaitan dengan daftar juara Piala Champions itu, tiba-tiba ingatan saya mengarah pada Kompetisi Perserikatan 1987 ketika PSIS Semarang berjumpa dengan Persebaya Surabaya. Karenanya, saya sempat mengirimkan surat ke tabloid BOLA agar BOLA memuat daftar juara Kompetisi Perserikatan sejak pertama kali diselenggarakan sampai dengan tahun 1987. Saya pun tidak tahu apakah surat saya dimuat atau tidak. Alasannya, karena tabloid BOLA “mengharuskan” pengirim surat untuk melampirkan foto kopi KTP dan saya tentu saja tidak melampirkannya. Apalagi, saat itu, saya tidak mengerti apa itu KTP sehingga tidak mempedulikannya. Selain itu, mungkin saya tidak mengetahui keberadaan surat saya itu apakah dimuat atau tidak. Soalnya, seperti yang saya ceritakan tadi bahwa di daerah saya hampir tidak terjamah oleh media-media sehingga saya pun sulit memantaunya.

Pada tahun 1990, tiba-tiba saya menerima kiriman surat dari Cianjur. Saya lupa namanya. Katanya, sebelumnya, dia telah membaca artikel saya yang dimuat di tabloid Tribun Olahraga yang berjudul: “Road to Roma Italia 1990”. Wuih, senangnya. [Saya masih ingat, honorarium artikel saya di tabloid Tribun Olahraga Rp 15.300,- dan di tabloid BOLA Rp 10.200,- (meskipun hanya satu alinea karena di tabloid BOLA berupa berita).] Isi surat dari Cianjur itu, dia meminta daftar nama peserta Piala Dunia sejak 1930 s.d. 1990. Wah, sudah saja saya kutip dari tabloid BOLA dengan cara ditulis tangan dan lalu dikirimkan ke orang Cianjur itu. Sayang, surat balasan saya itu ternyata kembali lagi kepada saya. “Alamatnya tidak bisa dituju,” ujar Pak Pos. Padahal, sepengetahuan saya, alamat orang Cianjur yang dimuat di tabloid Tribun Olahraga itu cukup lengkap. Ya, sudahlah, pikir saya.

[Kelak, ketika ada orang-orang yang meminta gambar/poster pemain sepak bola di tabloid BOLA misalnya (ingat kan dengan rubrik “Suara Tifosi”?), ujug-ujug saya tergerak untuk “membantu”-nya dengan membuat kejutan. Padahal yang diminta bukan saya, tetapi tabloid BOLA. Itu pun jika BOLA tidak bisa memenuhinya dengan alasan tertentu (misalnya, edisi koleksinya sudah habis. Saya sudah lupa apa alasannya waktu itu). Kalau tidak salah, saya pernah mengirimkan gambar/poster yang diinginkan kepada 2-3 orang. Saya lupa namanya, tetapi yang saya ingat nama daerahnya: Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Itu pun kalau saya punya. Kalau tidak punya, apa yang mau saya beri he he he.]

Oh ya, perihal data pula, pada tahun 1990-an, saya pernah mengirimkan surat ke FIGC (Italia) dan FA (Inggris) dengan bahasa Inggris seadanya. Cukup percaya diri ya he he he. Rencananya sih nantinya mau mengirimkan ke lebih dari 16 negara. Karena saya hanya memperoleh 16 alamat federasi sebagaimana ditulis tabloid BOLA dan tabloid Tribun Olahraga ketika menjawab para pembacanya. Mau tau isinya? Isinya, saya meminta daftar juara Liga beserta pemain terbaik dan topscorer; daftar juara Piala Liga dan runner-up serta score-nya; daftar olahragawan terbaik (untuk setiap negara). Hasilnya? Sampai hari ini belum ada jawaban! Sudah lama ya?! [Kalau pun belum, seiring dengan perkembangan jaman, beberapa media (cetak dan online) sudah memuatnya. Jadi, bukan sesuatu yang aneh lagi.]

Sampailah pada tanggal 22 Desember 2001, saya menelusuri data di Balai Arsip Pers Tjetje Senaputra. Soalnya, kalau di perpustakaan Pikiran Rakyat tidak bisa. Mungkin lain lagi ceritanya bagi orang-orang yang sedang mengerjakan skripsi. Tujuannya kan jelas, sedangkan saya hanya iseng. Soal koleksi, di Balai Arsip Pers Tjetje Senaputra ternyata justru lebih lama, yaitu sejak tahun 1973. Saya kira, di Balai Arsip Pers Tjetje Senaputra inilah saya menjadi pengunjung yang paling sering berkunjung. Soalnya, saya membuka-buka koran Pikiran Rakyat dari edisi Januari 1973 s.d. 1995. Sampai suatu saat saya beralih ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta. Kebetulan di tempat baru ini, ada banyak koleksi yang benar-benar berharga. Wuih, berdebu. Napas pun terganggu.

Karenanya, secara garis besar, saya mengetahui sejarah sepak bola Indonesia. Ketika di antara anda bertanya dan kadang meminta informasi detail, sering kali saya terlambat untuk membalasnya (maaf kalau ada yang terlupa karena mungkin tertutup oleh emailemail lainnya. Ada juga yang masuk Spam). Harap maklum, selain membuka-buka arsip, saya harus mendatangi Balai Arsip Pers Tjetje Senaputra kembali untuk melengkapi detailnya. Ya, sekali lagi, maklum, karena catatan saya hanya memuat garis besarnya saja. Namun, oleh karena sudah ada catatan garis besarnya, saya pun bisa langsung menuju pada edisi koran yang dimaksud. Jadi, tidak sulit lagi.

Sayang sekali, ketika beberapa kali saya mengunjungi Balai Arsip Pers Tjetje Senaputra lagi, koran-koran yang sebelumnya sempat saya baca, eh malah sudah hilang. Entah kemana? Beruntung, daftar pencetak gol dalam adu penalti Indonesia vs Korea Utara di Pra Olimpiade 1976 misalnya, sudah saya catat. Itu baru satu tema (baca: final Pra Olimpiade 1976), belum tema-tema yang lain. Anda ingin tahu mengapa saya merasa beruntung? Ya, karena edisi koran itu sudah hilang. Mungkin terselip. Soalnya, orang yang berkunjung bukan hanya saya, tetapi juga orang lain. Pada umumnya, katanya, mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi atau sejarawan yang sedang menulis artikel.

Akhirnya, tidak terasa, 22 Desember 2001 hingga 22 Desember 2012 ini, sudah 11 tahun saya menelusuri data secara terus-menerus meskipun akhir-akhir ini merasa “lelah” juga. [Suatu saat, saya ingin kembali ke “dunia nyata”.]

[Catatan I: Bagaimana dengan media online? Dalam hal ini, pada pertengahan tahun 2000-an, saya menemukan RSSSF dari Google. Hal itu dilatarbelakangi oleh kegiatan saya yang sedang menelusuri data. Namun, oleh karena saya sudah memiliki data dari surat kabar dan ketika saya membandingkan dengan RSSSF, ternyata ada sesuatu yang “aneh”. Akhirnya, pada awalnya, saya sering mempertanyakan hal itu kepada RSSSF. Alhamdulillah, Mr. Karel Stokkermans dan Mr. Neil Morrison menyambutnya. Jadilah, data sepak bola Indonesia menjadi sesuatu yang baru. Paling tidak, menurut versi saya. Kebetulan, data-data penemuan saya terkonfirmasikan oleh data-data penemuan mereka. Ada kesamaan.]

[Catatan II: Ada suatu cita-cita. Maksud saya untuk menelusuri data ialah ingin agar sepak bola Indonesia berprestasi lagi. Ketika Indonesia berhasil masuk final Piala AFF 2010 dan SEA Games 2011, saya sempat senang (meskipun akhirnya gagal). Mungkin, inilah saatnya sepak bola Indonesia bisa maju (baca: mengoleksi gelar juara). “Administrasi Beres, Prestasi Sukses”. Itulah moto yang saya bawa. Apalagi ada moment dari “kegagalan” Arema mengikuti Liga Champions Asia 2006. Saat itu, karena administrasi, Arema gagal ikut serta. Terlepas dari itu, saya membayangkan, mengapa prestasi (baca: minimal kinerja/permainan) klub-klub Eropa bisa bagus. Ah, mungkin karena kompetisinya terdata dengan baik. Logiskah? Bagi saya, “logis”. Ya, ini merupakan sesuatu yang tidak terlihat oleh anda. Nah, itulah cita-cita saya ketika menelusuri data. Kalau data dan catatan sejarahnya acak-acakan, bagaimana kita bisa maju. (Tentu tidak semua, tetapi kita jangan melihat klub-klub yang jelek). Jujur, saya pun merasakan bahwa menyusun data itu tidak mudah. Data-data NMR pun masih acak-acakan. Ini sebuah otokritik.]

Iklan

17 Comments »

  1. selamat bung novan atas kerja kerasnya selama ini….. semoga blog bung novan makin maju…. saya juga sedang mencoba membuat statistik untuk timnas indonesia…. tapi referensi data masih jauuuuuuh….. contoh untuk statistik timnas ada di http://englandstats.com …. semoga bung novan bisa membantu dengan data2nya…. terima kasih…

  2. 2
    cumi2got Says:

    Den Bagus…ente masih survive toh ya 😀
    Hahahaha
    (Tebak siapa saya???)

  3. 4
    Anonim Says:

    Ini blog aku suka banget. Tipe orang pekerja keras. (sama seperti kami, yang saat ini juga merintis jalan dengan membuat data lewat facebook soccer one http://www.facebook.com/pages/Soccer-One/135039923198810. Banyak referensi yang saya gali, baik lewat wikipedia, rsssf maupun situs-situs lain. Namun tampaknya blog ini lebih menyajikan detail. aku suka, Dan anda bisa dijadikan panutan referensi kami. Ada tiga data yang sampai kini, masih penasaran bung, dan sulit mencari data lengkapnya. Bisakah anda membantu kami mencari dan memberi referensi jawabannya.
    1. Klasemen Galatama yang benar untuk musim 1978/79 dan 1983/84.
    2. Daftar sejarah nama pelatih timnas Indonesia. Banyak media termasuk wikipedia saya ragukan kebenarannya. Seingat saya di Pra Piala Dunia 1986 yang lalu, pelatih timnas kita adalah Sinyo Aliandoe. Tetapi banyak referensitertulis nama Bertje M di era tahun itu. Jadi bisakah anda membantu kami data yang lebih akurat dan benar.
    3. Siapakah saja atau referensikan saja peraih medali emas dalam sejarah PON 1948-2012.
    4. Sebelum resmi punya ajang dengan nama Community Shield Indonesia, sejak 2009 hingga sekarang yang diambil alih oleh PSSI nya Djohar dan sekarang PT LI lebuh berfokus pada ajang Inter Island Cup, jika tidak salah pernah 2-3 kali digelar even serupa menjelang pembukaan musim baru ISL. Bisakah anda membantu kami mencari datanya. Seingat saya laga-laga tersebut secara beruntun, di tiap tahunnya mempertemukan Juara Liga vs Juara Copa, Persipura vs Arema, Persik vs Arema, Sriwijaya vs Persipura. Sayangnya arsip excell kami rusak dan tak terbuka lagi, Apa anda punya data dan referensinya ?

    Terima kasih atas jawabannya, dan kami tunggu. Salam persahabatan selalu.

    (Jika anda membalasnya lewat email akan lebih baik, mengingat internet kami sering eror).

    Sorry bung, kami ada salah tulis. yang kami tanyakan diatas adalah klasemen galatama 1979/80 (BUKAN 1978/79), mengingat musim pertamanya khan 1979/80. waktu itu masih ingat dalam memori saya waktu SD, walau kalau tidak salah dibuka dengan partai Arseto vs Pardedetex 3-2. Dan diakhiri dengan laga Jayakarta vs IM 1-1. Warna Agung sudah menjadi juara dipekan sebelumnya yang mengalahkan Jayakarta 1-0.

    • 5
      novanmediaresearch Says:

      PERTAMA:
      Kalau berbicara tentang sumber data, tentu saya mencarinya dari media massa[plus daya ingat, kalau saya mengalami sendiri). Saya sering kali mencari media massa yang sejaman, paling tidak yang mendekati jamannya. Tujuannya, agar lebih pas.

      KEDUA:
      Dalam catatan saya, kompetisi Galatama I/1979-1980 dibuka pada hari Sabtu, 17 Maret 1979 yang menampilkan Arseto vs Pardedetex 3-2 (Abdul Kadir 4, 43, Ambrita 59; John Lesnusa ?, Zulham Efendi ?) dan Jayakarta vs Warna Agung 2-0 (Andi Lala 35, Anjas Asmara 55). Jadwal pertandingan di Senayan itu tentu saja sore dan malam. Besoknya, Minggu, 18 Maret 1979, Sari Bumi Raya vs Perkesa ’78 1-0 (Djadjang Nurdjaman 86) dan Indonesia Muda vs NIAC Mitra 1-1 (Jopie Noya 75; Yusuf Malle 81).

      Kepastian Warna Agung untuk menjadi juara Galatama 1979/1980, bukan sepekan sebelumnya, melainkan justru dalam pertandingan terakhir Galatama edisi perdana itu. Ketika itu (Selasa, 6 Mei 1980), semua klub sudah menyelesaikan pertandingannya, kecuali kedua klub itu dengan klasemen sementara: Warna Agung (peringkat ke-1) dengan 24 main, 17 menang, 3 seri, 4 kalah, gol 61-23, dan nilai 37, sedangkan Indonesia Muda (peringkat ke-3) dengan 24 main, 15 menang, 5 seri, 4 kalah, gol 60-27, dan nilai 35.

      Seandainya, Indonesia Muda bisa mengalahkan Warna Agung dengan selisih 3 gol (misal 3-0, 4-1, dan seterusnya), tentu Indonesia Muda akan menjadi juara. Namun, fakta membuktikan bahwa kedua klub bermain imbang 1-1 melalui gol Johny Fahamsyah (Warna Agung, menit 34) yang dibalas gol Taufik Saleh (Indonesia Muda, menit 82). Akhirnya, Warna Agung pun berhasil menjuarai Galatama I/1979-1980.

      KETIGA:
      Timnas Indonesia itu kan macam-macam namanya. Juga tergantung kejuaraan/turnamennya. Kalau timnas di Pra Piala Dunia 1986, Sinyo Aliandu.

      KEEMPAT:
      Daftar juara sepak bola PON (1948-2012): PON I/1948: Solo, PON II/1951: Jawa Barat, PON III/1953: Sumatra Utara, PON IV/1957: Sumatra Utara, PON VIII/1973: DKI Jakarta, PON IX/1977: DKI Jakarta, PON X/1981: Lampung, PON XI/1985: Sumatra Utara, PON XII/1989: Sumatra Utara, PON XIII/1993: Irian Jaya, PON XIV/1996: Jawa Timur, PON XV/2000: Jawa Timur, PON XVI/2004: Jawa Timur dan Papua, PON XVII/2008: Jawa Timur, dan PON XVIII/2012: Kalimantan Timur.

      Catatan: PON V/1961: Saya belum yakin, antara Sulawesi Selatan vs Jawa Tengah, plus Jawa Barat dengan “misteri” lempar koin-nya, PON VII/1969: Saya belum yakin dengan DKI Jakarta vs Sumatra Utara. Sejak PON XIII/1993, diberlakukan untuk pemain U-23/Amatir. PON XIV/1996 dimajukan dari tahun 1997 karena pada tahun 1997 negara kita sibuk dengan pemilihan umum. [“Belum Yakin” itu maksudnya versi saya. Saya harus mengalami (melihat/menonton/mendengar/membaca) sendiri. Jadi, untuk mengisi kekosongan data, harus ada pengunjung lain yang bercerita.]

      KELIMA:
      Saat itu, juara Piala Indonesia diadu dengan juara Liga Indonesia. Itu merupakan acara menjelang Piala Indonesia. Untuk menyemarakkan Piala Indonesia. Piala/Copa Indonesia adalah tema sentralnya. [Maaf, emailnya tidak tampak.]

  4. 6
    Anonim Says:

    Thanks atas tanggapannya yang memuaskan. Sama seperti anda, walau di saat kompetisi galatama I, usia saya waktu itu masih SD (umur 9), saya masih ingat semua hampir hasil-hasiilnya di luar kepala. Saat itu saya masih juga menggunakan referensi dari koran Surabaya Post dan Kompas. Banyak yang saya kliping saat itu. Sayang jaman itu tidak ada era komputer. Semua kliping saya itu hilang, karena selepas dari SMA saya sekolah dii luar kota. Banyak data-data saya yang hilang karena tidak saya simpan dengan benar.

    Mengenai hasil galatama, saya kira yang laga-laga pertama sudah benar. Tapi tidaklah untuk laga terakhir. Saat Warna Agung mengalahkan Jayakarta saat itu Warna Agung untuk juara menang, memang harus bisa menang. Dan akhirnya kemenangan 1-0 di sepekan sebelum kompetisi telah memastikan Warna Agung diambang juara. Dengan menyelesaikan seluruh laganya Warna Agung unggul 2 angka dan plus 10 gol lebih baik di banding Jayakarta.

    Saya tegaskan pertandingan penutup Galatama I yang benar adalah Jayakarta vs Indonesia Muda. Itu ibaratnya final penentuan juara 1-2-3 bagi Jayakarta. Urutan 2-3 bagi IM. IM butuh menang untuk urutan dua. Sedang Jayakarta masih mengejar keajaiban, asal menang 11 gol atas IM. Karena saat jelang laga, Jayakarta ketinggaln selisih 10 gol dengan Warna Agung dan jumlah gol memasukkannya pun lebih sedikit dibanding Warna Agung. Pertandingan itu sendiri berakhir 1-1.

    Yang menarik dari musim pertama ini adalah:
    1. Sebelum Galatama berputar, kampanye liga menggaung hingga ke kota kecil di rumah saya, Lumajang. Saya mulai senang bola karena adanya ini. Yakni ketika Warna Agung melakukan tur ke kota kami dan menyikat tim kami, PSIL dengan 6-0.

    2. Pada putaran I. Niac Mitra yang memimpin klasemen diberi bonus oleh Liga dan PSSI menjadi wakil Indonesia di ajang Aga Khan Gold Cup di Bangladesh. Saat itu Niac Mitra tampil juara tak terkalahkan. Yang paling saya ingat adalah ketika di Fase grup, mengalahkan Korsel 4-1. lalu Tiongkok 2-1 di perempatfinal grup dan Tiongkok lagi di Final dengan adu penalti 4-2. Dullah Rochim juga menjadi juara.

    3. BBSA Tama yang menempati urutan jurukunci mengundurkan diri kompetisi.

    Jujur mas, ini saya ketik posting pakai memori saya lho (tidak ada kerpekan). Cuma masalahnya, apa memori saya ini masih benar, mohon dicek juga dengan data yang sebenarnya.


    Soal Timnas yang saya tanyakan siapakah nama-nama pelatih Indonesia yang benar di era 1980-1990 (nama pelatih dan tahun bekerjanya ?)

    —-
    Soal medali emas, saya masih buta. Saya hanya ingat sejak PON 1981 saja, yang dijuarai Lampung, dengan pemain-pemain andalannya dari Jaka Utama saat itu


    Soal Charity shield, mungkin bung anda yang benar. Sebelum 2009 digelar sebelum Copa (saya memang lupa). Tapi saya ada bayangan pertandingan Arema vs Persipura dan Arema vs Persik. Cuma saya lupa hasilnya dan saya kehilangan arsipnya. Maklum bung, usia saya sekarang sudah berumur (kepala 4) jadi daya ingatnya sudah berkurang. Dan sayapun orang kerja, tidak seperti jaman sekolah dulu, yang tanpa beban, apapun selalu ingat.

    • 7
      novanmediaresearch Says:

      PERTAMA:
      Sampai saat ini, saya belum memiliki klasemen Galatama I/1979-1980 yang “benar”. Untuk mengetahui “kebenaran” sebuah klasemen, kita harus mengetahui seluruh pertandingan plus peristiwa-peristiwa yang mengikutinya.

      Dalam koran “Pikiran Rakyat” edisi Rabu, 7 Mei 1980 terdapat berita tentang pertandingan terakhir Galatama I/1979-1980 (di Senayan, Selasa, 6 Mei 1980) ketika Warna Agung bermain imbang 1-1 dengan Indonesia Muda.

      Saya tidak mengetahui latar belakang NIAC Mitra yang dikirim PSSI ke Aga Khan Gold Cup 1979 ialah sebagai juara putaran I Galatama I/1979-1980. Dalam catatan saya, klasemen akhir putaran I Galatama I/1979-1980 mencatat Jayakarta (peringkat ke-1), Indonesia Muda (ke-2), dan NIAC Mitra (ke-3).

      KEDUA:
      Untuk nama-nama pelatih timnas Indonesia, tunggu tanggal mainnya. Saya harus memverifikasi terlebih dahulu. Ada berbagai timnas. Ada berbagai turnamen. Dan sebagainya. Saya kira, saya harus membuat kelas-kelas terlebih dahulu. Misalnya saja pada tahun 1985 terdapat nama-nama Sinyo Aliandu (Pra Piala Dunia 1986 yang dimainkan pada 1985), Yuswardi (Pesta Olahraga Pesta Sukan I/Brunei Darussalam 1985), dan Harry Tjong (Pesta Olahraga SEA Games XIII/1985). Kalau menyebut 1980-1990, berarti dimulai dari Frans van Balkom (Pra Olimpiade 1980) hingga Anatoly F. Polosin (Piala Kemerdekaan 1990). Yang jelas, kelak, nama-nama pelatih timnas tersebut terkesan “aneh” bagi siapa pun, terutama perihal periode kepelatihannya. Bahkan, di sana sini tampak tumpang tindih.

      Contoh lain. Timnas Indonesia di Anniversary Cup 1981 dilatih oleh M. Basri (pelatih NIAC Mitra). Ke depan, nama M. Basri ini sering dikait-kaitkan dengan Trio Basiska (M. Basri/Iswadi Idris/Abdul Kadir) yang merupakan trio pelatih timnas Indonesia di Pra Piala Dunia 1990 yang dimainkan pada 1989. Fakta itu memang benar. Namun, akhirnya, ada yang “menyimpulkan” bahwa Trio Basiska menjadi pelatih timnas di awal tahun 1980-an. Di sinilah tumpang tindih antarcerita terjadi.

      KETIGA:
      Ya, itu pertandingan eksebisi atau opening game menjelang Piala/Copa Indonesia. Pesertanya, juara Piala/Copa Indonesia melawan juara Liga Indonesia. Keduanya merupakan juara pada satu periode sebelumnya. Khusus untuk Opening Game 2008 dipertandingkan Arema (juara Piala/Copa Indonesia 2005 dan 2006) melawan Sriwijaya FC (juara Piala/Copa Indonesia 2007/2008). Alasannya, Sriwijaya FC merupakan juara Liga Indonesia 2007/2008 dan sekaligus juara Piala/Copa Indonesia 2007/2008. Kita menyebutnya, double champion dalam periode yang sama.

  5. 8
    Anonim Says:

    Jadi tujuan saya bertanya adalah meminta klasemen Galatama musim I yang benar (karena masih ada kesalahan selisih gol di data rsssf) dan klasemen galatama musim 1983/84 (bagaimana klasemen di wilayah dan 8 Besar).

    Siapa saja nama-nama pelatih dan tahun bekerjanya di rentang waktu 1980-1989.

    Konfirmasi hasil laga pertemuan laga penghormatan sebelum jaman 2009 (Charity Shield).

    Satu lagi bung. Anda bisa bantu kami, siapakah saja yang menjadi pelatih Timnas Indonesia di babak kualifikasi/Pra-Piala Dunia sejak 1974 hingga 2014 kemarin?

    Siapa saja nama-nama pemain Timnas Indonesia di SEA Games 1977, 1979, 1987 dan 1991.

    Thanks

    • 9
      elang Says:

      squad sea games 1987 saat tim kita juara :
      1. ponirin Meka (kiper/persijatim)
      2. putu yasa (kiper/persebaya)
      3. Robby Darwis (bek/Persib)
      4. Herry Kiswanto (bek/Kramayudha)
      5. Marzuki Nyakmad (bek/…?)
      6. Sutrisno (bek/PSMS)
      7. M.Yunus (bek/…?)
      8. Frangky Weno (bek/Makassar Utama,..?)
      9. Azhary Rangkuti (DM/Persija)
      10. Patar Tambunan (tengah/Persija)
      11. Jaya Hartono (tengah/Niac Mitra)
      12.Tiastono Taufik (tengah/Persija)
      13.Ribut Waidi (tengah/PSIS)
      14.Rully Neere (tengah/Pelita Jaya)
      15.Ricky Yacob (depan/Arseto,captain)
      16.Budi Wahyono (depan/PSIS)
      17.Nasrul Kotto (depan/Arseto)
      18.Adityo Darmadi (depan/Persija)
      pelatih : Berce Matulapelwa
      asisten : Sarman Panggabean,
      Sutan Harhara, Salmon Nasution

      Squad Juara Sea Games manila 1991
      1. Eddy Harto (Kiper/Kramayudha)
      2. Erick Ibrahim (kiper/gelora dewata atau petro..?)
      3. Robby Darwis (bek/Persib)
      4. Toyo Haryono (bek/Kramayudha)
      5. Sudirman (bek/arseto)
      6. Herry Setiawan (bek/Pelita Jaya)
      7. Salahuddin (bek/Barito Putra)
      8. Maman Suryaman (DM/Pelita jaya)
      9. Ferrel Hattu (tengah/Petrokimia putra)
      10. Kashartadi (tengah/kramayudha)
      11..Heriansyah (tengah/Barito putra)
      12.Aji Santoso (tengah/Arema)
      13.Hanafing (tengah/Mitra Surabaya)
      14.Yusuf ekodono (tengah/persebaya)
      15.Peri Sandria (depan/Kramayudha)
      16.Widodo.C.Putro (depan/warna agung)
      17.Rocky Poetiray (depan/arseto..?)
      18.Bambang Nurdiansyah (depan/pelita jaya)
      pelatih : anatoly polosin (uni sovyet)
      asisten : vladimir urin,danurwindo

      itu juga kalau saya gak salah inget bro,..

  6. 10
    Anonim Says:

    * Mungkin anda benar. Jika kita perpatok pada klasemen putaran pertama yang real, memang klasemennya seperti yang anda tertulis. Namun saat Aga Khan Gold Cup itu digelar, memang putaran pertamanya belum selesai 100%. Saat itu Niac Mitra memimpin klasemen dan kebetulan sudah menyelesaikan seluruh laga putaran pertamanya.

    * Saya masih yakin, jawaban saya yang lebih benar. Penutup Galatama adalah Jayakarta vs Indonesia Muda. Sedang laga terakhir Warna Agung dikompetisi galatama musim tersebut adalah saat melawan Jayakarta, digelar sebelum laga Jayakarta vs Indonesia Muda. Saya juga masih ingat dalam kompetisi itu selama semusim Warna Agung hanya kalah 4 kali (3 kali diputaran pertama. 0-2 lawan jayakarta (laga perdana Warna Agung), 1-2 dari SBR, satunya lagi, duh sampai lupa …. ?, sedang diputaran kedua hanya kalah 0-1 dari SBR di Bandung (jadi dua kali kalah). Mengapa saya begitu ingat ? Ya, karena saya menjagokan Warna Agung karena berkunjung ke kota saya. Saya juga ingat bagaimana Warna Agung begitu berprestasi di musim kedua Galatama. Mereka sempat tak terkalahkan dalam 17 laga di putaran pertama. SAyangnya sejak tersandung 0-2 dari Makasar Utama di Senayanm perlahan, WA mulai drop, dan kendali kompetisi kemudian diambil alih oleh Niac Mitra yang dimusim itu tampil gila-gilaan. Saya masih ingat bagaimana di musim itu Niac Mitra mampu menggilas SBR 8-0 dan Tidak Sakti 11-0 di Gelora 10 November Surabaya, juga 14-0 atas Cahaya Kita di stadion Pluit. Wajarlah bung, memori itu masih ada dalam bayangan ingatan saya, karena saya dulu menggunting klipingnya (sayang sekarang sudah hilang semua entah kemana). Ini pelajaran, data sejarah sulit diungkit kebenarannya tanpa bukti yang nyata. Makanya jangan sekali-kali memusnahkan dikumen bersejarah.

    Untuk pertanyaan saya lainnya, jawabannya saya masih tunggu dari anda bung, salam, bravo sepakbola Indonesia. Thanks.

    • 11
      Anonim Says:

      Bung, pengisi data referensi di situs rsssf itu apa benar Anda sendiri? Ada kemiripan data blog ini dengan data rsssf. Saya menduga Anda berperan pengisi data di rsssf. Mohon penjelasannya. Terima kasih.

      • 12
        novanmediaresearch Says:

        Tentu saja bukan. Saya BUKAN satu-satunya, tetapi salah satunya. Data-data yang saya kirimkan ke RSSSF pun belum tentu dimuat di blog NMR ini.

  7. 13
    Anonim Says:

    oke goodjob. teruskan dan lanjutkan. kebenaran sejarah sangat kami perlukan, terimakasih.

    bung, pertanyaan lama saya kok belum dijawab ya ?
    1. Berapa skor laga-laga eksebisi pra Copa Indonesia ?
    2. Siapakah saja yang menjadi pelatih Timnas Indonesia di babak kualifikasi/Pra-Piala Dunia sejak 1974 hingga 2014 kemarin?
    3. Siapa saja nama-nama pemain Timnas Indonesia di SEA Games 1977, 1979, 1987 dan 1991 lengkap dengan asal klubnya saat itu.

    Thanks dan salam.

    • 14
      novanmediaresearch Says:

      Daftar Pemenang Opening Game:

      Opening Game 2006 merupakan pertandingan pembuka Piala Indonesia II/2006 (10 Mei 2006 s.d. 16 September 2006). Opening Game 2006 digelar di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang (30 April 2006): Arema (juara Piala Indonesia I/2005) vs Persipura (juara Liga Indonesia 2005) 3-0.

      Opening Game 2007 merupakan pertandingan pembuka Piala Indonesia III/2007-2008 (9 Mei 2007 s.d. 13 Januari 2008). Opening Game 2007 diadakan di Stadion Gelora Delta, Kabupaten Sidoarjo (13 Mei 2007): Persik (juara Liga Indonesia 2006) vs Arema (juara Piala Indonesia II/2006) 2-1.

      Opening Game 2008 merupakan pertandingan pembuka Piala Indonesia IV/2008-2009 (6 November 2008 s.d. 28 Juni 2009). Opening Game 2008 diselenggarakan di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Kota Palembang (5 November 2008): Sriwijaya FC (juara Piala Indonesia III/2007-2008) vs Arema (juara Piala Indonesia I/2005 dan II/2006) 5-3 melalui adu tendangan penalti.

      Daftar Pelatih Timnas Indonesia di Pra Piala Dunia:

      1974: Suwardi Arland
      1978: Tony Pogacknik
      1982: Harry Tjong
      1986: Sinyo Aliandu
      1990: Trio Basiska (M. Basri/Iswadi Idris/Abdul Kadir)
      1994: Ivan Toplak
      1998: Danurwindo
      2002: Benny Dollo
      2006: Peter Withe

      • 15
        sultan Says:

        di kualifikasi piala dunia 82, setelah kalah dalam beberapa laga awal, harry tjong diganti endang witarsa

  8. 16
    sultan Says:

    dalam catatan data saya PON 1961 di bandung dijuarai SULSEL dgn mengalahkan JATENG di final. PON 1965 ditiadakan akibat peristiwa G.30S. Sedang PON 1969 di surabaya dijuarai bersama oleh SUMUT dan DKI JAYA


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: