Lapangan Tegallega Bandung

Stadion Utama Sepak bola (SUS) yang dibangun di Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, akan segera diresmikan. Kelak, SUS ini akan menjadi kandang Persib Bandung. Namun, sebelum itu, NMR ingin mengajak anda untuk mengenang Lapangan Tegallega yang menjadi homegroundpertama Persib.

Katanya, dalamcatatan sejarah nih, Lapangan Tegallega ini berada di pinggiran Kota Bandung. Akibatnya, pada masa itu, masyarakat Kota Bandung lebih memilih menonton pertandingan klub-klub anggota NIVB. Mereka ini bermain sepak bola di tengah-tengah kota. Sebutlah Lapangan Sparta (kini, Stadion Siliwangi), Lapangan UNI di Jalan Karapitan (sebelum dan sesudah di Karapitan ini sering berpindah-pindah), dan Lapangan SIDOLIG (kini, sejak 1972, bernama Stadion Persib). Ketiga lapangan-stadion itu bukanlah milik Persib, tetapi milik klub-klub anggota VBBO, pesaing Persib. Oh ya, di era NKRI, Stadion Siliwangi itu sendiri dalam perencanaannya dimaksudkan untuk menjadi tuan rumah Asian Games III/1958 di Bandung.

Lalu, bagaimana dengan Lapangan Tegallega? Begini ceritanya dan simaklah baik-baik. Kalau perlu sambil makan camilan. Hari Sabtu, 9 September 1933 merupakan hari yang bersejarah bagi masyarakat Kota Bandung. Ya, pada hari itulah berlangsung upacara pembukaan Sportpark Tegallega Bandung. Pembukaan ini, selain dihadiri oleh priyayi-priyayi, juga dikunjungi oleh Burgemeester Bandung dan beberapa ambtenar Eropa. Harap maklum, masih di jaman pemerintahan Hindia Belanda, Bung. Sayang, saya sebagai pengelola blog NMR ini tidak atau belum menemukan siapa nama Burgemeester Bandung alias Walikota Bandung saat itu. Kalau diperkirakan dari tahun pemerintahannya, ya tuan B. Coops.

Kira-kira pukul 16.45 WIB, eh WTB (Wilayah Tegallega Bandung), voorzitter (Ketua) Komite Sportpark Tegallega Bandung, tuan Enoch, berpidato singkat tentang riwayat pendirian Sportpark ini yang mengingat akan kepentingan dan kemajuan penduduk Bandung. Pidato ini disambut oleh Burgemeester Bandung dan utusan Voetbalbond Indonesia Jacatra yang mengucapkan selamat.

Seiring dan seirama dengan pembukaan Sportpark Tegallega Bandung itu dimeriahkan dengan turnamen sepak bola antarkota (interstedelijke voetbal wedstrijden) yang diikuti oleh VIJ, Mosvia, dan tuan rumah PSIB.

Hasil pertandingan:

Sabtu, 9 September 1933: Mosvia vs VIJ 3-0

Minggu, 10 September 1933: PSIB vs VIJ 2-1

Berdasarkan kedua pertandingan tersebut, Mosvia berhasil menjadi juara, disusul PSIB (runner-up), dan VIJ (juru kunci). “…Selamat kami oetjapkan kepada Mosvia dan PSIB dan kepada VIJ kami seroekan: Koetkanlah ‘kesebelasan’ moe oentoek dikemoedian hari dan pertahankanlah nama VIJ sebagai pahlawan PSSI 1933/34…”.

Akhirnya, pada hari Minggu, 10 September 1933 itu, tuan Atmadinata telah menyerahkan 11 medali emas dan 1 vaandel-medaille untuk Mosvia, 1 Sipatahoenan-beker untuk PSIB, dan 1 Toko Intan-Bidoeri-beker untuk VIJ.

Ada yang menarik ya? Ada 11 medali emas. Kalau sang jawara itu berkekuatan lebih dari 11 pemain, mungkin medali emas itu dipotong-potong he he he. OK-lah, selamat menikmati suasana baru: Dari Lapangan Tegallega ke Stadion Gedebage. Entah bernama apa kelak. Soalnya, nama stadion di Kecamatan Gedebage itu sedang di-polling via SMS dari tiga nominasi: Bandung Lautan Api, Stadion Gedebage Kota Bandung, dan Gelora Rosada.

Iklan

2 Comments »

  1. 1
    fhjghgfhfg Says:

    PSIB itu Persib Bandung ya?


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: