Ketika Timnas Indonesia Juara Piala Antarpelajar Asia (1985) Terakhir Kali

Dalam rangka menyambut Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober (1928), PT Kereta Api Indonesia (Persero) memberikan potongan harga (discount) sebesar 28 persen untuk pelajar dan mahasiswa. Ketentuan itu berlaku khusus untuk kereta api komersial jarak jauh. Agar diperhatikan bahwa hal ini berlaku untuk pemesanan dan perjalanan pada 1-30 Oktober 2013. Umur maksimalnya 28 tahun loh. Padahal di undang-undang, yang namanya pemuda itu berumur maksimal 30 tahun 🙂 [Kita pahami sajalah karena semua berkaitan dengan angka “28” karena PT KAI pun baru saja memperingati hari ulang tahunnya pada 28 September 2013.]

Ooopsss…, saya sebagai pengelola blog NovanMediaResearch tidak bermaksud untuk membahas dunia perkeretaapian lebih lanjut. Anggap saja itu hanya sebagai selingan saja. OK, agar tidak terlalu jauh, saya langsung saja membahas kisah timnas Indonesia pelajar ketika menjuarai Kejuaraan Antarpelajar Asia 1985. Inilah gelar terakhir timnas junior kita dalam Kejuaraan Antarpelajar Asia. Kalaupun di salah satu sumber koleksi media saya menyebut bahwa timnas Indonesia pelajar menjuarainya pada 1994, sampai detik ini, dari koleksi media terbitan Januari 1994 hingga Desember 1994, saya tidak menemukannya. (Mohon pemberitahuannya jika anda memiliki data-faktanya).

Sebagaimana biasa, kisah ini merupakan kisah PERTAMA yang dibahas ulang secara detail, SATU-SATUNYA, dan BERBEDA, untuk anda. “Pertama” karena sepengetahuan saya belum ada pihak-pihak lain yang membahas, “Satu-satunya” setidaknya untuk saat ini, “Berbeda” dimaknai bahwa datanya detail (lain daripada yang lain. Maunya…). Jadi, selamat menikmati sajian “Kami”.

Latar belakang dan Gambaran Umum Kisah

Sepanjang tahun 2013 ini, “tiada hari tanpa sepak bola Indonesia di televisi” mewarnai kehidupan kita. Malah terkesan lebih dominan, “tiada hari tanpa TIMNAS INDONESIA di televisi”. Saya tak perlu memberikan contoh-contoh event-nya. Toh anda sudah tahu.

Namun, tahukah anda bahwa kejadian seperti ini pernah terjadi pula pada 1985? Bukan soal event-nya, tetapi euforia-nya. Ya, euforia. Pada 1985 itu, muncul Pra Piala Dunia 1986 yang digelar pada 1985, Pesta Sukan I Brunei Darussalam pada 1985, Piala Kemerdekaan I/1985, SEA Games XIII/1985, dan tentu saja Kejuaraan Antarpelajar Asia 1985 yang akan dibahas kali ini.

Saking berdekatan dan berkaitan, ada nama pelatih yang berbeda. Ada nama timnas yang berbeda. Ada pula cerita Adolf Kabo (Perseman Manokwari) sebagai satu-satunya pemain dari Perserikatan yang menjadi bagian dari skuad timnas PPD 1986 akhirnya harus dimasukkan ke dalam timnas Indonesia Perserikatan yang berlaga di Pesta Sukan I Brunei Darussalam 1985 karena waktu penyelenggaraannya yang hampir bersamaan. Selain itu, kisah hebat Indonesia yang menjungkalkan Thailand di PPD 1986 serta keterpurukan kita dari negara yang sama 0-7 di SEA Games XIII/1985 turut membumbui arena “balas dendam” timnas Indonesia pelajar di Kejuaraan Antarpelajar Asia 1985. Artinya, materi tim berbeda, tetapi suasananya dikait-kaitkan. (Untuk menggambarkannya mirip “perlakuan” Indonesia kepada Malaysia dan Vietnam di tahun 2013 ini).

Kejuaraan Antarpelajar Asia 1985

Dalam salah satu catatan kaki (footnote) buku saya, saya menulis: “Dalam babak final Piala Pelajar Asia 1984 yang berlangsung di Stadion Jawaharlal Nehru, New Delhi, India (11/10/1984), Indonesia mengalahkan Thailand 1-0 dan dalam babak final Piala Pelajar Asia 1985 yang berlangsung di Stadion Utama, Senayan, Jakarta, Indonesia (20/12/1985), Indonesia mengalahkan lawan yang sama, Thailand 2-0. Dalam timnas Indonesia pelajar asuhan Omo Suratmo, Maryoto, dan Bukhard Pape ini tercatat nama-nama pemain, antara lain Yudi Guntara, Noach Meriem, Frans Sinatra, dan Budiman Yunus”.

Kejuaraan Antarpelajar Asia 1985 diselenggarakan di Jakarta, Indonesia pada 10-20 Desember 1985. Tampak sebelas negara ikut serta, termasuk tuan rumah dan sekaligus juara bertahan timnas Indonesia.

Timnas Indonesia pelajar (SMA) asuhan Bukhard Pape, Omo Suratmo, dan Maryoto membawa 20 pemain, yaitu Bambang Ketut Irawan, Abdul Karim, Maruf Pattimura, Muhammad Yunus, Bonggo Pribadi, Theodorus Bitbit, Zaenal Asri, Sudana Sukri, Erwin Yoyo, Toyo Haryono, I Made Pasek Wijaya, Frans Sinatra Huwae, Zamli Nazar, Budiman Yunus, Fauzan Hakim, Steven Ihutua, Akhmad Kholik, Ibrahim Lestaluhu, Marzuki, dan Yudi Guntara.

Dalam babak penyisihan, ke-11 negara dibagi ke dalam dua pool. Pool A terdiri dari India, Brunei Darussalam, Srilangka, Burma, dan Indonesia, sedangkan Pool B terdiri dari Thailand, Korea, Singapura, Malaysia, China, dan Hong Kong. Babak penyisihan ini berlangsung di dua tempat, yakni Stadion Kuningan, Jakarta Selatan dan Stadion Persija, Menteng, Jakarta Pusat. Sementara Stadion Utama, Senayan, Jakarta Pusat, diperuntukkan babak semifinal dan babak final.

Babak Final

Jumat, 20 Desember 1985. Sejumlah 50.000 penonton sudah memenuhi Stadion Utama, Senayan, Jakarta. Di antara mereka, tampak pula Menpora dr Abdul Gafur, Ketua Umum KONI Pusat Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Dirjen Diklusepora Prof Dr WP Napitupulu, dan Ketua Umum PSSI Kardono.

Saat itu, lapangan stadion memang licin akibat hujan lebat sebelum pertandingan. Namun, hal itu tidak mengurangi riuhnya penonton untuk memberikan semangat kepada para pemain timnas Indonesia pelajar. (Sebagai catatan, saya pun menonton secara langsung atau live di TVRI).

Kick off pun dimulai yang dipimpin Kim In Soo, wasit asal Korea, untuk memimpin pertandingan selama 2 x 40 menit. Serangan dibangun dengan cepat dari semua sudut. Sayang, sampai babak pertama berakhir, kedua tim masih bermain imbang tanpa gol.

Babak kedua dimulai. Penonton lebih bergemuruh ketika kiri luar Budiman Yunus mencetak gol pada menit ke-43 usai menerima umpan dari kanan luar Ibrahim Lestaluhu. Skor 1-0 untuk Indonesia.

Setelah tertinggal 0-1, tekanan-tekanan Thailand menjadi kurang tajam akibat Erwin Yoyo “mematikan” Bunpob Prapruit. Bunpob pun tampak tak berkutik karena pemain-pemain belakang Indonesia menghambat lajunya serangan Thailand.

Indonesia pun berhasil menambah gol melalui tembakan jarak jauh Zaenal Asri pada menit ke-69. Skor 2-0 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.

Ibarat gaya tarkam di persepakbolaan Indonesia masa lalu (sekarang juga deh), ribuan penonton menyerbu lapangan. Pemain-pemain Indonesia dielu-elukan dan Bukhard Pape, pelatih asal Jerman (Barat) digotong para suporter.

Penonton pun berteriak histeris dengan mengatakan bahwa kekalahan 0-7 Indonesia dari Thailand di Bangkok telah kita balas. (Padahal timnasnya beda ya. Itu yang senior, ini yang junior he he he. Ya, perpaduan sebagian pemain timnas PPD dan timnas Pesta Sukan memang “hancur lebur” 0-7 di hadapan Thailand di SEA Games XIII/1985. Saya pun yang menonton tayangannya di TVRI saat itu masih mengingatnya. Bagaimana tidak, rasa senang di PPD malah kalah telak di SEA Games XIII/1985. Rasanya tak tega. “Dipermainkan” sampai tujuh kosong).

Akhirnya, Menpora dr Abdul Gaffur dan Ketua Umum PSSI Kardono menyerahkan trophy kepada kapten timnas Frans Sinatra Huwae. Setelah itu, piala itu oleh para pemain dan suporter diarak keliling lapangan.

Di posisi ketiga, diraih secara bersama oleh Malaysia dan Burma setelah dalam pertandingan untuk memperebutkan peringkat ketiga sehari sebelumnya (19/12/1985) kedua tim berbagi angka 1-1.

Menurut Aang Witarsa, Koordinator pelatih diklat sepak bola Depdikbud, untuk tahun depan 4-5 pemain akan menyelesaikan pendidikannya di SMA dan melewati umur. Karenanya, untuk mempersiapkan diri dalam Kejuaraan Antarpelajar Asia 1986 di Brunei Darussalam, tim Indonesia harus menggantinya. (Sebagai catatan, 10 dari 20 pemain pernah merasakan gelar juara Kejuaraan Antarpelajar Asia 1984 di New Delhi, India).

Formasi pemain:

Indonesia: Bambang Ketut Irawan (penjaga gawang), Theodorus Bitbit, Muhammad Yunus, Erwin Yoyo, Zaenal Asri, Frans Sinatra Huwae, Ibrahim Lestaluhu/Akhmad Kholik, Yudi Guntara, Steven Ihutua, Zamil Nusar, dan Budiman Yunus.

Thailand: Chaiyong Kampiam (penjaga gawang), AcadetchSomboonpaisan, Vini Suwannang, Achesak Somboonpaisan, Peropong Suwannasri, Poonsak V., Bunpob Prapruit, V. Maicami, Chaiboncha Mangkalakili, Somcahi Thongbei, dan Somai Klianklard.

Iklan

10 Comments »

  1. 1
    trygil Says:

    sayang setalah itu tidak pernah juara lagi

  2. Salam perkenalan dan sukses selalu untuk semua yang hadir disini.
    Hari ini saya berkunjung dan sudah beberapa artikel yang diposting.
    Setiap artikelnya memang perlu dibaca dan disimak serta sangat berguna bagi pembacanya.

    Terima kasih.

  3. entah kenapa kalau saya pribadi masih kurang sreg dengan sepak bola indonesia… semoga saja kedepannya kita bisa lebih hebat lagi

  4. Semoga Tim Nas Pelajar bisa berjaya ditahun tahun mendatang…

  5. 5
    angga Says:

    Zainal asri legenda yg dilupakan… saya tetangganya… hidupnya sudahbsusah

    • 6
      Anonim Says:

      @angga: emang tinggal dimana angga dan zainal asri?..saya masih kebayang tendangan jarak jauhnya ke gawang Thailand

    • 7
      jb Says:

      @angga:pertanyaan sama dg. Anonymous…zainal asri tinggal dimana sekarang? Tendangannya legend banget..kalau gak salah cuplikan golnya sering ditanyangkan buat acara olah raga di TVRI

  6. 8
    Anonim Says:

    Perhatikan mereka2 yang pernah bawah nama bangsa dan negara..seperti noac meriem.saya kenal baik sekarang hidup susah

  7. 9

    untuk tingkat Piala Pelajar Asia kita boleh berbangga seperitnya, karena prestasinya tidak buruk2 amat malah bagus, hanya saja info mengenai prestasi Indonesia di Piala Pelajar sangat minim. Terakhir saya tau kalau Andritany pernah menjadi Penjaga GAwang terbaik di Piala Pelajar Asia tahun 2007, selebihnya masih misteri. semoga bung novan dapat mengungkap misteri ini.,..salam

    • 10
      NovanMediaResearch Says:

      Ini kan membahas “juara”. Kalau runner-up, ketiga, keempat, bahkan “hancur”, ya ada 🙂 Kelak, nama-nama mereka merupakan para pemain yang berkibar pada 1980-an dan 1990-an.


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: