Pra Piala Dunia 1986: Thailand vs Indonesia 0-1

Pada 15 Oktober 2013 mendatang, timnas Indonesia akan menghadapi China dalam pertandingan lanjutan Pra Piala Asia 2015. Sebelum membahas pertandingan-pertandingan Indonesia vs China masa lalu, mari kita simak pertandingan akhir nan penting bagi timnas Indonesia ketika berlaga di Pra Piala Dunia 1986.Sebagaimana biasa, kisah yang dibahas saya sebagai pengelola blog NovanMediaResearch ini merupakan yang PERTAMA yang membahas ulang secara detail, SATU-SATUNYA (hingga saat ini), dan BERBEDA (dari yang pernah dibahas di media, termasuk di blog NMR sendiri). Sekarang, duduklah baik-baik, simaklah secara saksama, dan selamat menikmati sajian “Kami”.

Jadwal tak Rapi dan Klasemen Sementara Putaran I

fatSeperti kita ketahui bahwa timnas Indonesia menjadi raja dalam putaran I Pra Piala Dunia 1986. [Kini, tampaknya, “Pra Piala” di event apa pun diganti menjadi “Babak Kualifikasi”.] Bagaimana tidak, timnas asuhan Benny Mulyono (manajer tim) dan Sinyo Aliandu (pelatih) itu berhasil mengoleksi poin sempurna (6 poin) setelah mengalahkan Thailand 1-0 (15/03/1985), Bangladesh 2-0 (18/03/1985), dan India 2-1 (22/03/1985). Meskipun dianggap mengejutkan pada masa itu, kemenangan yang diraih timnas Indonesia bisa dianggap wajar karena semua pertandingan berlangsung di negeri sendiri, Stadion Utama, Senayan, Jakarta.

Namun demikian, jadwal pertandingan yang digelar itu tampak tidak rapi, dalam arti tidak seragam. Dengan demikian, klasemen putaran I pun akan tampak seperti ini:

No.

Tim

M

M

S

K

Gol

Nilai

1.

Indonesia

3

3

0

0

5-1

6

2.

India

1

0

0

1

1-2

0

3.

Thailand

1

0

0

1

0-1

0

4.

Bangladesh

1

0

0

1

0-2

0

Keberadaan klasemen sementara seperti itu belum membuat timnas Indonesia tenang. Benny Mulyono pun mengungkapkan rasa was-was-nya. Pertandingan berikutnya yang paling dinantikan oleh Benny Mulyono dan rekan-rekan seperjuangannya yaitu pertandingan tuan rumah Thailand menghadapi India di Bangkok, Thailand. Indonesia pun berharap agar India bisa menahan Thailand dan kalau bisa mengalahkannya. [Dan…, pada pertandingan yang digelar 26 Maret 1985 itu, India berhasil menahan tuan rumah Thailand 0-0. Klasemen sementara pun akan berubah: India => 2x main, 1x seri, 1x kalah, gol 1-2, nilai 1, sedangkan Thailand => 2x main, 1x seri, 1x kalah, gol 0-1, nilai 1.

Berangkat ke Tiga Negara Bawa Sambel

Dasar orang Indonesia, eh pemain Indonesia, kemana-mana membawa makanan kesukaannya. [Mungkin pemain-pemain seantero jagad juga seperti itu. Dasar NMR yang suka mendramatisasi he he he.] Ya, saat itu, pasukan Indonesia memang membawa sambel. Ini memang bagian dari strategi Indonesia yang mempersiapkan segala sesuatunya secara cermat, baik teknis maupun nonteknis.

Katanya, katanya Benny Mulyono yang merupakan pemilik dan pimpinan klub Galatama Warna Agung nih, soal makanan di Bangkok (Thailand) mungkin tidak jadi masalah. Di Dacca (Bangladesh), Indonesia akan meminta bantuan ibu-ibu Kedutaan Besar (Kedubes) Indonesia. Nah, yang sulit itu di Calcutta (India). Soalnya, Kedubes ada di New Delhi, sedangkan Komjen ada di Bombay. [Jadi, gimana dong?]

Rombongan Indonesia Berangkat ke Thailand

Rabu, 27 Maret 1985, dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Indonesia, rombongan timnas Indonesia berangkat menuju Bangkok, Thailand. Dengan menaiki pesawat Thai International TG-414, Indonesia tiba dengan selamat di tempat tujuan. Siapa saja mereka?

Tim dipimpin pelatih Sinyo Aliandu yang didampingi dr. Januar Arifin dan Idih Hadian (masseur). Kemana Benny Mulyono (manajer) dan Salmon Nasution (asisten pelatih)? Ternyata mereka sudah tiba sehari sebelumnya.

Apakah kelima ofisial itu akan bermain? Oh, tentu tidak he he he. Itu sudah menjadi bagiannya pemain. Ada 19 pemain yang ikut serta. Mereka adalah Hermansyah, Donny Latuperissa, Elly Idris, Rully Nere, Zulkarnaen Lubis, Bambang Nurdiansyah, Herry Kiswanto, Ristomoyo, Syaifuddin Fabanyo, Jusuf Bachtiar, Aun Harhara, Wahyu Tanoto, Dede Sulaeman, Warta Kusuma, Dudung Abdullah, Tonggo Tambunan, Ferrel Raymond Hattu, Marzuki Nyakmad, dan Sain Irmis.

Khusus Marzuki Nyakmad, tadinya ia tidak akan dibawa karena mengalami cedera. Ia pun tidak dimainkan ketika Indonesia berjumpa dengan India (22/03/1985). [Maaf, untuk tiga pertandingan di putaran I, NMR tidak membahasnya, tetapi langsung ke putaran II yang lebih seru.]

Bagaimana pertandingannya ketika melawan Thailand? “Kami siap dimaki”. Itulah kata-kata tegas Sinyo Aliandu yang coba diulanginya lagi seperti sejak awal.

Indonesia Berpeluang, Thailand Masuk Kotak

Anda tahu mengapa Adolf Kabo (timnas Indonesia Galatama untuk Pra Piala Dunia 1986) dimasukkan ke timnas Indonesia Perserikatan? Secara sekilas mungkin anda sudah tahu karena di bagian awal tulisan ini sudah dibahas. Ini detailnya. [Namanya juga kisah yang lain daripada yang lain he he he.]

Dalam pertandingan lanjutan cabang olahraga sepak bola Pesta Sukan I Brunei Darussalam 1985 itu timnas Indonesia Perserikatan berhasil maju ke babak semifinal setelah menang 2-1 atas Thailand (28/03/1985). Dua gol kemenangan Indonesia dicetak oleh Kosasih dan Yonas Sawor. Kemenangan ini tentu sangat melegakan Indonesia. Harap maklum, sebelumnya Indonesia kalah 0-2 dari Malaysia, sedangkan Thailand “hanya” kalah 1-2 dari tim yang sama. Jadi, Indonesia harus menang. Kalau seri, ya gagal. Akhirnya, Indonesia pun melaju ke babak semifinal, sedangkan Thailand masuk kotak.

Formasi pemain Indonesia: Ponirin Meka (penjaga gawang), Max Krey/Muharam Rosdiana, Dede Iskandar, Robby Darwis, Sutrisno, Suheri, Kosasih, Adjat Sudradjat, Adolf Kabo/Charles Ohee, Yonas Sawor, dan Wawan Karnawan. Formasi pemain Thailand: Paiboon (penjaga gawang), Wisut, Sompol/Rangsiwut, Suvit, Vitoon, Pinyo, Thaveewat, Chotvit, Sutthipong, Parinya, dan Surapol/Rangsiwut.

Jika Indonesia bisa memasukkotakkan Thailand di Pesta Sukan I Brunei Darussalam 1985 pada 28 Maret 1985 maka bagaimana pertandingan Indonesia melawan Thailand di Pra Piala Dunia 1986 pada 29 Maret 1985? Singkat cerita, hasilnya sama saja coy!

Jumat, 29 Maret 1985. Stadion Thai Japan, Bangkok, Thailand dipadati oleh 5.000 penonton, termasuk Ketua Umum PSSI Kardono dan Dubes RI Subambang. [Sedikit amat?! Bandingkan ketika kedua tim bermain di Senayan (15/03/1985) yang dihadiri 60 ribu penonton.] Kick off pun dimulai yang dipimpin Sano, wasit asal Jepang.

Pada malam itu, pemain-pemain timnas Indonesia tampak kompak. Ada umpan-umpan pendek. Ada pula terobosan-terobosan berbahaya ke daerah pertahanan lawan. Permainan Indonesia tampak mendominasi. Sebaliknya, Thailand bermain keras dan kasar. Namun, hal itu tidak mempengaruhi permainan Indonesia.

Thailand tentu saja ingin membalas kekalahan 0-1 dari Indonesia ketika bertanding di Jakarta. Permainan pun makin kasar. Wasit Sano akhirnya memberikan kartu kuning kepada Watana (Thailand) pada menit 36 setelah menjegal Elly Idris. Namun, kartu kuning pula yang diperoleh Rully Nere pada menit 39.

Di babak I sendiri, tepatnya menit 25, timnas Indonesia sudah menang 1-0 lewat gol kapten kesebelasan Herry Kiswanto melalui tendangan “volley” yang keras dari tengah lapangan. Saking kerasnya, penjaga gawang Somphong Nantaprapasin yang tak menduga datangnya bola masih sempat menyentuh tangannya, tetapi gagal. Skor 1-0 itu bertahan hingga turun minum.

Babak II pun dimulai. Permainan Thailand makin kasar yang akhirnya diladeni pula oleh Indonesia. Pada menit 51, Vurawud diganjar kartu kuning karena mengganjal Wahyu Tanoto. Begitupun pada menit 65, kapten timnas Thailand Vitaya Laohakul  –yang pernah menjadi pemain pro di Jerman dan di Jepang– diberi kartu kuning karena dengan sengaja menendang Marzuki Nyakmad.

Tidak mau kalah, pada menit 76, penjaga gawang Hermansyah dihadiahi kartu kuning karena dianggap memperlambat tempo permainan. Yang juga tidak mau kalah, tentu saja di-kartu-merah-kannya Rully Nere pada menit 77 karena dianggap men-tackle keras Vitaya. Bersyukur, skor 1-0 bertahan hingga peluit akhir dibunyikan wasit Sano. Indonesia pun makin berpeluang untuk lolos ke babak selanjutnya, sedangkan Thailand sudah pasti masuk kotak.

Agar tidak mati penasaran, inilah klasemen sementara pada masa itu:

No.

Tim

M

M

S

K

Gol

Nilai

1.

Indonesia

4

4

0

0

6-1

8

2.

India

2

0

1

1

1-2

1

3.

Thailand

3

0

1

2

0-2

1

4.

Bangladesh

1

0

0

1

0-2

0

Formasi pemain Indonesia: Hermansyah (penjaga gawang), Ristomoyo, Aun Harhara, Warta Kusuma, Marzuki Nyakmad, Herry Kiswanto, Rully Nere, Zulkarnaen Lubis, Bambang Nurdiansyah/Ferrel Raymond Hattu, Elly Idris, dan Wahyu Tanoto/Dede Sulaeman.

Formasi pemain Thailand: Somphong Nantaprapasin (penjaga gawang), Surak Chaikiti, Suthin Chaikiti/Charirak, Somphong Watana, Chalid/Sakdarin, Vitaya Laohakul, Wurawud, Tawirath, Chalor Hongkajon, Chalermuth Sangapon, dan Withun.

Kenangan NMR saat itu:

***) Pertandingan Thailand vs Indonesia ini disiarkan langsung di TVRI.

***) Entah mengerti atau tidak pada injury time, ayah NMR mengatakan curang kepada wasit karena waktu yang dilihatnya di jam stadion (tentu lewat tayangan TVRI) sudah melewati angka 45. “Pantas saja, wasitnya dari Jepang,” ujar ayah saya. [Sama-sama “bule” he he.] Saya (NMR) sendiri seperti tidak peduli (cuek) dengan pertandingan ini. Rasa-rasanya belum mengerti sepak bola.

***) Keesokan harinya, teman-teman kecil NMR ramai membicarakan pertandingan Thailand vs Indonesia, terutama pada saat Rully Nere diberi kartu merah. Tentu obrolannya dalam bahasa daerah/lokal. “Wah, Indonesia hanya bisa bermain 10 orang dong ketika lawan tim berikutnya,” kata saya sok tahu. “Ya, nggak dong. Tetap 11. Rully Nere kan diganti pemain lainnya,” jawab salah seorang teman saya semangat.

3 Comments »

  1. 1

    Ya, saat itu Thailand gengsi bila dikalahkan Indonesia, kebetulan saat itu saya nonton di TV, pemain belakang Thailand memukul pemain Indonesia ketika wasit tidak memperhatikan, saya emosi sekali wkt itu. Indonesia juara sub-grup, sayang, Indonesia tidak berdaya menghadapi Korea Selatan di babak berikutnya, kalah 0-2 di Seoul & 1-4 di Jakarta.

  2. 2
    mas tulus Says:

    waktu kalah di jakarta, kiper muangthai (zaman itu nyebutnya) namanya narazak bongkleang..

  3. 3
    Anonim Says:

    bintan thailand legendaris withaya laohakul yg pernah main di hertha berlin liga jerman,.


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: