Piala Pemuda KNPI

Tepat hari ini, 28 Oktober 2013, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Ya, tampaknya sudah 85 tahun. Lalu, oleh-oleh (cenderamata) apa yang ingin saya berikan dalam rangka hari yang bersejarah itu. Tampaknya masih dalam dunia sepak bola. Iya dong, namanya juga blog sepak bola (Indonesia).

Nah, pada jaman dahulu kala, maksudnya pada akhir 1970-an, para pemuda KNPI menggagas turnamen sepak bola untuk memperebutkan Piala Pemuda KNPI. Sepanjang sejarahnya, Piala Pemuda KNPI ini telah diselenggarakan sebanyak tujuh kali (1979-1990).

Pada awalnya, sistem kompetisinya, persepakbolaan Indonesia dibagi ke dalam empat wilayah. Juara setiap wilayah lolos ke putaran final “4 Besar”. Dalam perkembangannya, juara dan runner-up setiap wilayah lolos ke putaran final dan ditambah juara bertahan. Soal batasan usia pun berubah, yaitu dikhususkan bagi pemain U-22, kecuali Piala Pemuda KNPI VII/1990 yang memainkan pemain U-16. Dalam penyelenggaraan pertamanya, tim KNPI Jawa Barat berhasil menjadi juara meskipun dalam pertandingan terakhir putaran final ditahan imbang 0-0 oleh tim KNPI Jawa Timur.

Apakah anda mengenal Robby Darwis? Mantan pemain tim nasional yang berasal dari Persib Bandung itu pernah membawa tim KNPI Kotamadya Bandung menjuarai Piala Pemuda III/1981 tingkat Jawa Barat setelah mengalahkan KNPI Kabupaten Tasikmalaya 1-0. Maklumlah, soalnya Persib menjadi wakil Kota Bandung di Piala KNPI.

Ada cerita unik dan menarik nih. Dalam babak final Piala Pemuda KNPI IV/1983 tingkat Wilayah II, tim KNPI Jawa Barat berhasil mengalahkan tim KNPI Kalimantan Barat “hanya” melalui undian. Ah tampaknya biasa saja. Apanya yang unik?

OK, begini ceritanya. Saat itu, pertandingan yang berlangsung di Stadion Khatulistiwa, Pontianak (1/8/1983) itu, kedua tim bermain imbang 1-1 meskipun sudah ditambah babak perpanjangan waktu. Tentu saja, untuk menentukan pemenangnya, kedua tim harus melakukan tendangan adu penalti. Namanya juga babak final.

Sayangnya, wasit Babay Bastaman, S.H. tidak sanggup memimpin pelaksanaan tendangan penalti untuk penentuan juara karena pada pukul 19.05 WITA tersebut hari sudah gelap. Wasit mengajukan usul tendangan penalti dilakukan Selasa pagi di tempat yang sama. Namun, manajer tim KNPI Jawa Barat Bob Gunawan menolaknya.

Mengapa menolak? Karena ternyata rombongan harus kembali ke Bandung. Akhirnya, atas kesepakatan kedua belah pihak dan panitia, pemenang ditentukan lewat undian pada malamnya di Gedung Arena Remaja, Pontianak, sekaligus disusul acara perpisahan dan pembagian piala. Siapa yang menang? Tim KNPI Jawa Barat. Oh betapa nikmatnya dalam perjalanan pulang. Namun, di tingkat nasional, tim KNPI Irian Jaya-lah yang menjadi juara.

Selain hal unik dan menarik, ada juga “kebiasaan”. Apa itu? Ricuh. Ya, Irian Jaya dan Jawa Timur dinobatkan sebagai juara bersama dalam Piala Pemuda V/1985 akibat pertandingan final dihentikan pada menit 75 karena ricuh.

Kenapa atuh rucuh. Oh pemuda….

2 Comments »

  1. Kenapa di Indonesia karakter dari masyarakat kurang memiliki rasa etika yang estetika,
    karena susah banget mengucapkan terimakasih padahal sudah diberikan informasi secara Cuma-Cuma,
    Seperti pada setiap berita yang diposting di situs ini.

  2. 2
    Anonim Says:

    thanks info nya NMR


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: