Indonesia vs Malaysia: “Keberuntungan” yang Menciptakan Sejarah Emas di SEA Games 1987

Selamat pagi menjelang siang saya sampaikan kepada anda, para pengunjung blog ini. Mari kita berdoa untuk timnas Indonesia yang sore nanti akan berlaga melawan juara bertahan Malaysia dalam babak semifinal SEA Games 2013 di Myanmar.

Kita berharap permainan kedua tim nanti akan cantik. Terlepas dari itu, bagaimana pun permainannya, kita berharap pula agar timnas Indonesia mampu memenangkan pertandingan dan sekaligus lolos ke babak final, termasuk menjuarainya. Bagaimana pun situasi dan kondisinya, toh hasil akhir akan mencatatkan sejarah untuk penyemangat dalam laga-laga ke depannya.

Anda mungkin masih ingat ketika Spanyol mengalahkan Portugal di babak semifinal Piala Eropa 2012 yang “hanya” melalui adu tendangan penalti. Kemenangan melalui tos-tos-an itu justru telah menciptakan sejarah bagi Spanyol.

Kita pun tentu masih ingat bagaimana pun kerasnya gaya kepelatihan Eropa Timur (baca: Anatoly Polosin) ketika Indonesia mampu meraih medali emas SEA Games 1991 yang “hanya” melalui adu penalti. Maaf pembaca, bahasa “hanya” yang disampaikan NMR dimaksudkan sebagai: “Bagaimana pun permainannya, hasil akhirlah yang menjadi catatan sejarah emas”. Bagaimana tidak, gelar runner-up yang diraih oleh timnas-timnas Indonesia seolah hilang ditelan jaman.

Maaf, istilah “hanya” memang terkesan menyepelekan. Karenanya, NMR pun sering menulisnya dengan tanda kutip. Toh bagaimana pun, kita harus menghargai permainannya atau perjuangan siapa pun. Selama pertandingan belum berakhir, segala kemungkinan masih bisa terjadi. Saya pun senang menyatakan: “Satu tendangan ke arah gawang dan gol, itu lebih baik daripada menendang 1000 kali ke arah gawang tetapi kena tiang. Di situlah sejarah tercipta.”

Nah, dalam kaitan ini, NMR ingin mengungkapkan situasi dan kondisi ketika Indonesia meraih medali emas SEA Games untuk pertama kalinya (1987). Saat itu, pertandingan Indonesia vs Malaysia berjalan ketat. “Beruntung” Indonesia bisa menang. Saat itu, gol emas Indonesia dicetak Ribut Waidi —kini sudah tiada— pada menit 91 (perpanjangan waktu).

Ribut Waidi, pahlawan timnas Indonesia, pun sebetulnya mengakuinya. Ketika mencetak gol tunggal kemenangan Ribut Waidi mengemukakan bahwa tembakannya sebenarnya sudah di luar kontrol yang benar.

“Saya waktu itu cukup lelah. Semula berpikir bola yang diberikan kepada saya itu akan saya kembalikan berupa umpan tarik, namun kawan lain masih tertinggal di belakang. Maka terpaksa saya tembak langsung ke gawang.” (Pikiran Rakyat, 21 September 1987).

Di balik itu, pelatih Malaysia H. Ibrahim menganggap bahwa gol yang dicetak Ribut Waidi akibat kesalahan pemain belakang yang tak mampu menempel ketat lawan.

“Nampaknya mereka sudah lelah sehingga tak mampu ketat lagi, Indonesia beruntung mampu mencetak gol lebih dahulu sehingga kami sulit mengejarnya karena sudah lelah dalam waktu perpanjangan,” katanya. (Pikiran Rakyat, 21 September 1987).

Terakhir, pada SEA Games 2011, saya kecewa pada timnas Indonesia. Bukan saja Indonesia gagal meraih emas, tetapi juga “gaya permainan”-nya. Saat itu saya yakin Indonesia bisa mengalahkan Malaysia. Apalagi melalui penyerangan cepat. Dan…, akhirnya gol cepat.

Sayang, ketika Indonesia sudah unggul 1-0, pasukan Rahmad Darmawan malah kurang menyerang. Mestinya tetap diserang cepat terus. Paling tidak, itulah pengamatan saya. Karenanya, ketika Indonesia mengendorkan serangan, Malaysia bisa membalasnya.

Selamat berjuang timnas Indonesia. Bagaimana pun permainannya (harusnya sih cantik), kemenangan bisa membuat semangat Indonesia. Termasuk sejarahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: