Mohammad Djamiaat Dhalhar

djamiaat-dhalhar“Ini saudara Ade (Dana) dan ini saudara Rukma (Sudjana). Keduanya dari Bandung.” Demikian Maulwi Saelan kepada Mien Rukmini Jusuf dalam salah satu caption foto Antara. Ya, Ade dan Rukma memang berada pada urutan pertama dan kedua yang diperkenalkan.

Saelan melanjutkan. “Dan ini saudara, ya, saudara Djamiaat (Dhalhar) dari Jakarta.” Djamiaat berada pada urutan ketiga. Dari situ, penjaga gawang yang brilliant di Olimpiade 1956 itu mulai tertawa-tawa yang diikuti oleh sesama rekan pemain lainnya. Suatu hal yang wajar saat itu.

Ya, hari itu merupakan “perkenalan” Mien Rukmini dan Djamiaat Dhalhar dalam pertandingan “perayaan” pernikahan sepasang kekasih yang diinisiasi oleh Saelan. Pernikahannya itu sendiri berlangsung di Bandung, 20 Oktober 1957. Sementara tendangan kick off Mien Rukmini membuka pertandingan Siliwangi melawan Dwi Warna di Stadion Siliwangi Bandung.

Mien Rukmini adalah mahasiswa PTPG Bandung, sedangkan Djamiaat adalah pemain UMS Jakarta, Persija Jakarta, dan timnas Indonesia, yang pada masa itu juga sudah berperan sebagai asisten pelatih timnas.

Selain bermain sepak bola, kehadiran Djamiaat ke Bandung itu sendiri bukanlah yang pertama. Malah debutnya di Bandung sudah terjadi pada 1945 ketika ia hendak melanjutkan studinya di SMTT bagian ilmu kimia. Namun karena pecah revolusi, ia pulang kembali ke Yogyakarta.

Tokoh yang bernama lengkap Mohammad Djamiaat Dhalhar ini lahir di Yogyakarta, 25 November 1927. Ia merupakan putra tertua Haji Dhalhar.

Sebagaimana diceritakan sekilas tadi, setelah tamat dari SMP, pada 1945 Djamiaat hendak melanjutkan studinya di SMTT bidang ilmu kimia di Bandung. Namun karena pecah revolusi, ia pulang kembali ke Yogyakarta. Seperti pemuda-pemuda lainnya, Djamiaat tentu tidak mau tinggal diam dalam menunaikan kewajibannya terhadap bangsa dan negaranya. Selain belajar sebagai asisten apoteker, ia pun menggabungkan diri dengan Tentara Pelajar.

Dalam hal sepak bola, bagi Djamiaat, itu merupakan kegemarannya sejak kecil. Bahkan ayahnya merupakan pemain PSIM Yogyakarta pada 1930-1935.

Djamiaat kecil, ketika masih di SM, mulai bergabung ke dalam perkumpulan Hizbul Wathan. Lalu di usianya yang ke-17, ia sudah bergabung ke PSIM yang menciptakan trio yang patut dibanggakan pada masa itu bersama Patiwael dan Sanger.

Indonesia Merdeka, tetapi belum berdaulat penuh. Di masa-masa itulah Djamiaat menggabungkan diri ke Poris Semarang. Karenanya, ia tergabung dalam VSO Semarang untuk mengikuti ISNIS 1950.

Dalam perkembangannya, Kapten Mastenbroek melihat Djamiaat memiliki bakat. Mastenbroek pun tak segan melatihnya. Sementara Djamiaat, selain berlatih, juga membaca buku tentang teknik bermain sepak bola. Meskipun demikian, ia tak lupa pada cita-citanya. Karenanya, atas bantuan bekas gurunya di Yogyakarta, Tuan Pohan, setelah penyerahan kedaulatan, Djamiaat pergi ke Jakarta untuk belajar lagi di Sekolah Asisten Apoteker.

Hobi bermain sepak bola tampaknya belum pudar. Djamiaat mendengar kabar bahwa PSSI akan menjalankan seleksi pemain timnas menuju Asian Games I/1951. Karena merasa dirinya memiliki potensi, ia berupaya mencari klub untuk berlatih. Setelah bertanya ke sana ke mari, ia memperoleh keterangan bahwa UMS (anggota VBO) memiliki pelatih yang baik. Djamiaat akhirnya bergabung ke UMS dengan perhitungan bahwa lambat laun VBO tentu akan berfusi dengan Persija.

Singkat cerita, Djamiaat memperkuat Persija di Kejurnas PSSI 1951, 1952, 1954, dan 1957. Setelah menjadi asisten pelatih timnas Indonesia pada 1957, ia mulai menjadi pelatih Persija di Kejurnas PSSI 1959. Sementara itu, event besar (baca: maksudnya setara Piala Dunia/Olympic Games/Piala Asia/Asian Games/Piala Asia Tenggara/SEA Games) terakhirnya ialah Asian Games VI/1970 di Bangkok, Thailand. Maksudnya, dalam Asian Games VI/1970, ia bertindak sebagai pelatih timnas Indonesia.

Tanggal 23 Maret 1979, sepak bola Indonesia berduka. Djamiaat Dhalhar meninggalkan kita untuk selama-lamanya.

Untuk mengenang jasa-jasanya, namanya diabadikan dalam beberapa turnamen pelajar (remaja-taruna) era 1980-1990-an. Tim Jawa Tengah misalnya yang berhasil menjuarai Kejurnas Pelajar 1980 setelah mengalahkan DI Aceh 3-1 di Stadion Utama, Senayan, Jakarta Pusat. Begitupun Tim Jawa Barat (Persib U-14) yang berhasil menjuarai Piala Nike-Djamiaat Dhalhar 1997 setelah mengalahkan Sumatra Utara 3-2 melalui adu tendangan penalti di Stadion Kuningan, Jakarta Selatan.

Iklan

9 Comments »

  1. 1
    Sarastri Says:

    Terima kasih beritanya. Maaf, mau tanya, beritanya dapat dari mana ya? Thx.

    • 2
      novanmediaresearch Says:

      Berita yang mana? Kalau profil “Mohammad Djamiaat Dhalhar” ini dari Majalah “Aneka” No. 18 Tahun II, 20 Agustus 1951 hlm. 6 dan ditambah-tambah berdasarkan perkembangan. Kalau berita pernikahannya dalam Majalah “Aneka” tahun 1957. Saya lupa edisinya. Tertumpuk sama koran lain. Harus dibuka-buka lagi 🙂 Di akhir alinea, saya ambil intisarinya dari koran “Pikiran Rakyat” (1973-1995). Demikian.

  2. 3
    Henry Says:

    Ada legenda, yang mungkin hiperbola…kalau Djamiat Dalhar ini nendang penalti gak ada (belum ada) kiper yang bisa nahan tendangannya. Ini termasuk kiper2 Eropa yang pernah nandang ke Indonesia.
    Bisa disanggah atau dikonfirmasi, Mas Novan?

    • 4
      novanmediaresearch Says:

      Saya tak perhatikan secara penuh. Banyak bacaan, tetapi lebih cenderung saya tumpuk 🙂

  3. 5
    Henry Says:

    http://www.rsssf.com/tablesa/asgames54.html
    Semua gol penalti Indonesia disarangkan oleh M. Djamiat Dalhar.
    Nampaknya setidaknya Djamiat Dalhar adalah spesialis penendang penalti dari timnas kita di era 50an. Macam Signori gitu kali mas Novan 😀

    • 6
      novanmediaresearch Says:

      Ya, mungkin sudah dipersiapkan sebagai algojo 🙂 Tiga penalti sukses dan satu penalti gagal. Ke-15 gol timnas Indonesia dalam Asian Games III/1954 diciptakan oleh Ramang (6 gol), Djamiaat Dhalhar (5), Tee San Liong (2), dan Aang Witarsa (1), serta Tan Liong Houw (1).

  4. 7

    mas Novan share majalah lama dengan saling copy gimana?
    saya punya majalah OLAHRAGA (terbit seminggu 3 kali) tahun 1956 komplit yang bercerita tentang persiapan PSSI ke Olimpiade Melbourne, saya minta dicopikan majalah ANEKA yang khusus berita olahraga, karena yang saya tahu majalah ANEKA hanya ada di PNRI, terima kasih

  5. 8

    majalah OLAHRAGA terbit 3 kali sebulan alias 10 hari sekali, maaf

  6. 9
    Sarastri Says:

    Mas Novan n mas Henry, terima kasih.. infonya. Semoga bermanfaat utk generasi muda, khususnya penggila sepakbola…


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: