Oei Sik Tjong

Habis Maulwi Saelan, Terbitlah Oie Sik Tjong. [Sebetulnya Maulwi Saelan belum habis he he he.] Siapa sangka, kehadiran tim dan/atau klub asing tidak jarang mengubah begitu cepat perjalanan hidup seseorang, dalam hal ini pemain sepak bola. Ya, pengalaman hidup tadi dialami oleh sang tokoh yang juga dikenal dengan nama Harry Tjong itu.

Pada akhir 1957 dan awal 1958, Indonesia mendapat kunjungan klub SC Wacker Austria (bermain pada 15-28 Desember 1957) dan tim Bulgaria XI (bermain pada 12 Desember 1957 s.d. 1 Januari 1958). Kedua kesebelasan luar negeri tersebut dipertandingkan dengan timnas Indonesia satu sama lain sehingga “mewujud” pada pertandingan segitiga (di Stadion Ikada Jakarta pada 27-29 Desember 1957). [Saya pernah membuat tulisan bahwa ketiga pertandingan ini bisa dianggap sebagai cikal bakal turnamen di Indonesia yang “memanfaatkan” kedatangan tim dan/atau klub asing.]

Lalu apa hubungannya kisah turnamen ini dengan Oei Sik Tjong? Sabar…sabar…. Kalau begitu mari kita kembali ke cerita Oei Sik Tjong.

Pada 22 Desember 1957 di Makassar, tuan rumah PSM (juara Perserikatan 1957) berkesempatan untuk melawan SC Wacker. Skornya 2-3. Ya, SC Wacker unggul 3-2. Siapa penjaga gawang PSM dalam pertandingan melawan klub dari Austria itu? Maulwi Saelan.

Tanggal 25 Desember 1957, giliran Bulgaria XI yang datang ke Makassar. Namun sehari menjelang pertandingan, tepatnya 24 Desember 1957, Maulwi Saelan berangkat ke Jakarta. Penjaga gawang andalan timnas Indonesia itu dipanggil PSSI untuk menjalani pelatihan menjelang turnamen segitiga di Stadion Ikada Jakarta (27-29 Desember 1957).

Nah, dari peristiwa inilah muncul nama Oei Sik Tjong yang menggantikan posisi Maulwi Saelan. Singkat cerita, Oei Sik Tjong bermain melawan Bulgaria XI di Makassar, 25 Desember 1957. Tepat, hari natal yang berbahagia bagi tokoh kelahiran Makassar, 24 September 1939 itu. Sayangnya, Oei Sik Tjong hanya bertahan selama satu babak ketika PSM unggul 1-0. Setelah itu, ia mengalami cedera dan posisinya digantikan oleh Hendrik. Akhirnya, PSM pun menderita kalah 1-3 dari Bulgaria XI.

Masyarakat pencinta sepak bola di Makassar terperanjat menyaksikan kehebatan Oei Sik Tjong. Selain berani dan cekatan, penjaga gawang yang agak pendiam dan tenang ini memang beruntung. Bagaimana tidak, Oei Sik Tjong belum pernah berkompetisi bersama PSM, tetapi tiba-tiba menjadi palang pintu terakhir bagi PSM ketika melawan tim luar negeri (Bulgaria XI). Sungguh suatu kesempatan yang langka. Karier pun melejit dari sini. [Dari paragraf ini menginspirasi NMR untuk menulis “Habis Maulwi Saelan, Terbitlah Oei Sik Tjong.]

Akhirnya, Oei Sik Tjong pun dipanggil PSSI (bersama Ramang dari PSM) untuk pertandingan melawan Red Star Bratislava Cekoslowakia di Jakarta, 25 Januari 1958. Ia ternyata bermain karena Paidjo belum cukup kuat untuk memulihkan cederanya. Dalam pertandingan tersebut, timnas Indonesia kalah 3-4 dari Red Star.

Mencermati perjalanan hidupnya, tokoh yang mengawali permainan bolanya di klub Olympus dan MOS itu, keberadaan yang langsung berada di jajaran timnas Indonesia itu merupakan cerita aneh dan langka: timnas Indonesia dulu, baru PSM. Oie Sik Tjong pun menjadi pemain andalam PSM dan timnas Indonesia.

Baca juga:

Senin, 13 Januari 2014: Mohammad Djamiaat Dhalhar

Senin, 20 Januari 2014: Thio Him Tjiang

Senin, 27 Januari 2014: Oei Sik Tjong

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: