Insiden Mattoangin

Sebagai masyarakat pencinta sepak bola Indonesia, tahukah anda dengan “Insiden Mattoangin”? Berikut ini merupakan copy-paste dari bonus buku “Persib: Juara Liga Indonesia Edisi Perdana” karya Novan Herfiyana. Judul asli bonus yang tercantum dalam halaman 28 dan 29 itu berjudul “Cerita di Balik ‘Pertarungan’ Persib vs PSM di Kejurnas PSSI 1961: Insiden Mattoangin atau Tragedi Kuntadi”. Demikian. Selamat menikmati sajian kami.

Dalam sejarah Persib, Kejuaraan Nasional (Kejurnas) PSSI 1961 pernah mencatatkan prestasi terbaik bagi Persib. Dalam Kejurnas PSSI 1961 itu, Persib mengawali pertandingan tingkat nasionalnya di Stadion Mattoangin, Makassar, bersama Persema Malang dan tuan rumah sekaligus juara bertahan PSM Makassar. Dalam pertandingan pertama (3 Juni 1961), Persib berhasil menjungkalkan Persema 7-1. Sehari sebelumnya (2 Juni 1961), Persema pun tumbang 1-4 di tangan PSM. Pada hari terakhir (4 Juni 1961) dalam pertandingan segitiga di Makassar itu, Persib harus menghadapi PSM.

Pada masa ini, Persib dan PSM masih diunggulkan untuk menjadi juara. Sementara Persija disebut-sebut sebagai tim yang akan ikut bersaing dalam perebutan gelar juara. Karenanya, tidak mengherankan apabila masyarakat pencinta sepak bola Indonesia menunggu-nunggu pertandingan Persib melawan PSM. Pertandingan ini dianggap sebagai bigmatch pada masa itu.

Pertandingan Persib melawan PSM disaksikan sekira 50.000 penonton. Jumlah sebanyak itu disebut-sebut 10 persennya dari penduduk kota Makassar. Meskipun para penonton sudah melewati pagar batas lapangan (sentelban), mereka tetap menjunjung fairplay kepada tamunya. Bahkan media massa menggambarkan bahwa belum pernah dalam sejarah pertandingan olahraga apa pun yang mendapat kunjungan hebat dan padat di Sulawesi (kawasan timur Indonesia) seperti halnya ketika Persib jumpa PSM. Bagaimana tidak, kedudukan PSM lebih banyak ditentukan oleh pertandingan ini daripada pertandingan lainnya yang umumnya masih dianggap oleh publik Makassar belum setaraf Persib.

Dalam pertandingan ini, wasit yang memimpin pertandingan adalah Kuntadi, seorang wasit yang dianggap tegas dan jujur pada masa itu. Kedua kapten kesebelasan yang berada di tengah lapangan adalah Rukma (Persib) dan Ramang (PSM).

Seperti telah menjadi kebiasaan para pemain Persib yang pada menit-menit awal selalu bisa membuat lawannya kurang konsentrasi oleh gerakan-gerakan cepat diselingi kombinasi permainan-permainan panjang dan tekanan-tekanan pada garis pertahanan lawannya. Sebaliknya, PSM dapat dikatakan sebagai tim yang para pemainnya matang dan berpengalaman. Apalagi kepercayaan diri mereka masih melekat mengingat mental juara mereka sebagai juara pada dua kompetisi sebelumnya (1957 dan 1959). Dengan kata lain, satu atau dua gol ketinggalan, bukanlah persoalan bagi PSM.

Dengan adanya dua gaya permainan tersebut, Persib yang mendominasi permainan pada menit-menit awal berhasil menciptakan gol lebih dahulu melalui Omo Suratmo memanfaatkan umpan Suhendar. Tertinggal satu gol, PSM semakin meningkatkan dominasinya. Bahkan dapat dikatakan, Persib banyak mendapatkan tekanan dari PSM. Namun demikian, Persib masih dapat menggunakan kesempatannya melalui serangan balik. PSM akhirnya berhasil menciptakan gol balasan pada menit 38.

Karena permainan didominasi PSM, dalam serangan balik yang jarang terjadi itu, sampailah pada peristiwa yang dikenal dengan Insiden Mattoangin. Ada pula yang menyebutnya Tragedi Kuntadi karena peristiwa yang terjadi justru pada diri wasit Kuntadi. Ya, kalau menurut istilah jaman sekarang “wasit juga manusia”. Inilah kronologi Insiden Mattoangin sebagaimana ditulis Majalah Aneka edisi 10 Juni 1961.

  1. Pada kira-kira menit 39 babak kedua (menit 84) setelah untuk kesekian kalinya PSM gagal membobol gawang Persib yang dijaga Hehanusa, bola digiring oleh pemain Persib melalui sayap kiri, kemudian menyusur ke kotak penalti PSM.
  2. Bola yang menyusur itu merupakan umpan lambung. Sampara (PSM) berusaha untuk mengambil bola itu dengan suatu heading. Dalam waktu yang bersamaan, salah seorang pemain Persib turut pula meloncat ke atas dengan maksud yang sama.
  3. Kira-kira beberapa detik (hampir bersamaan dengan datangnya bola itu) ada tanda pelanggaran dari seorang hakim garis di bagian barat (menghadap utara). Tidak terang apa yang dimaksud dengan tanda itu apakah offside atau ada pelanggaran lain. Tidak jelas. Wasit pun tidak melihatnya dan hakim garis meneruskan tugasnya.
  4. Wasit Kuntadi yang berada dekat garis tengah (kira-kira 42 yard dari kejadian duel antara Sampara dan pemain Persib) tiba-tiba membunyikan peluitnya. Ketika itu pemain Persib tanpa banyak memerhatikan wasit Kuntadi yang sedang menuju ke tempat itu, segera menempatkan bola itu secara spontan dengan kedua tangannya di luar garis penalti sebelah kiri (menghadap utara). Jelas bahwa pemain Persib sendiri tahu bahwa ada sesuatu kejadian di luar penalti dan ia sendiri yang meletakkan bola itu di luar garis putih tanpa diperintah oleh siapa pun. Namun, wasit Kuntadi yang datang dari jauh menunjuk titik penalti.
  5. Ketika jelas wasit Kuntadi memberikan penalti untuk Persib, para pemain PSM memprotes sambil berkali-kali menunjuk titik dimana bola tadi telah diletakkan oleh para pemain Persib. Pelaksanaan tendangan penalti terhenti. Para pemain Persib tenang sekali dan tidak ikut campur. Mereka berdiri jauh dari tempat dimana para pemain PSM berkumpul. Hanya Hengky Timisela yang ditugaskan untuk melakukan tendangan penalti yang berdiri di dekat titik penalti bersama bola. Hengky Timisela tidak hendak menampakkan sikap semangatnya untuk cepat-cepat memenangkan pertandingan melalui tendangan penalti. Apalagi penjaga gawang PSM, Oei Sik Tjong, tampak mengosongkan gawangnya.
  6. Wasit Kuntadi kemudian memanggil hakim garis, tetapi ia juga tidak mendapat bantuan positif dari putusannya itu. Ditambah dengan para pemain PSM yang masa bodoh dan para pemain Persib yang tenang.
  7. Wasit Kuntadi kemudian meninggalkan lapangan menuju meja di mana pengurus pusat PSSI (Djamiat Dalhar) dan Komisi Pertandingan berada. Kepergiannya itu membuat penonton berteriak-teriak, namun tidak terjadi apa-apa. Kepada pemimpin pertandingan yang ada di meja itu, Kuntadi menjelaskan, “Saya mengkonstatir telah terjadi handsball di dalam daerah penalti dan saya telah mengambil putusan yang jujur”. Berkali-kali kalimat itu diucapkannya sambil tafakur dengan muka yang ditutupkan ke atas meja dan kemudian ia menangis.
  8. Walaupun publik tidak melakukan ancaman dan tindakan yang mengancam keselamatan dirinya maupun pemimpin-pemimpin PSSI, sekeliling tempat itu dijaga oleh CPM dan Brigade Mobil (Brimob).
  9. Sementara itu, pemain-pemain Persib dan PSM tampak bersenda gurau, saling berpelukan, dan tingkah laku yang tidak lain hanya ditafsirkan mereka erat sekali hubungannya.
  10. Sesudah kira-kira 10 menit Kuntadi tafakur, akhirnya diambillah putusan tersebut. Kemudian Kuntadi berdiri bersama-sama komisi pertandingan, ketua PSSI, Djamiat Dalhar, dan pemimpin rombongan Persib serta beberapa pengurus PSM menuju lapangan mengumpulkan pemain-pemain Persib dan PSM. Kepada kedua tim dijelaskan putusan yang diambil oleh pemimpin-pemimpin tersebut. Lalu, pemain Persib dipeluk cium oleh supporter dan ofisialnya sambil tertawa kegirangan. Hanya pemain-pemain PSM yang tampak kurang puas karena permainan berakhir seri.

 

Namun, hasil akhir 1-1 itu masih dinyatakan sebagai hasil sementara. Hal itu terlihat dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Komando Gerakan Olahraga (SK Kogor) tertanggal 24 Juni 1961 yang ditandatangani Maladi selaku Pemimpin Harian Kogor. Inti dari SK Kogor tersebut antara lain menyatakan bahwa skor 1-1 pada pertandingan PSM melawan Persib yang dihentikan wasit tersebut ditetapkan sebagai hasil sementara dengan ketentuan bahwa hasil tersebut akan menjadi hasil tetap apabila pada akhir Kejurnas PSSI 1961 (1 Juli 1961), Persib mencapai biji kemenangan yang tertinggi dalam kompetisi yang memberi hak kepada Persib untuk menjadi juara PSSI.

Dalam perkembangannya, PSSI telah memutuskan untuk melanjutkan pertandingan tersebut selama lima menit lamanya di Semarang pada 29 Juni 1961 yang diawali tendangan penalti ke arah Oei Sik Tjong (penjaga gawang PSM). Sayang, jadwal pertandingan pun tidak sesuai rencana karena langkah PSM sempat tertahan oleh Persebaya Surabaya 3-3. Akhirnya, fakta membuktikan bahwa skor 1-1 menjadi hasil akhir karena Persib berhasil menjadi juara Kejurnas PSSI 1961 setelah dalam pertandingan terakhir dari rangkaian kompetisi mengempaskan Persija 3-1.

Secara keseluruhan, Persib mencatat lima kali menang dan sekali seri. Lima kemenangan Persib diperoleh ketika mengalahkan Persema 7-1, PSMS 5-3, PSIS 6-2, Persebaya 2-1, dan Persija 3-1. Sementara satu-satunya hasil seri ketika berhadapan dengan PSM yang dinyatakan berakhir imbang 1-1. Persib pun berhasil menjadi juara dalam Kejurnas PSSI 1961.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: