Kisah Sepak bola Lelucon di Piala Marah Halim 1974

Tulisan ini merupakan salah satu kisah dagelan dalam sepak bola Indonesia. Sebetulnya, bukan murni sepak bola tanah air, tetapi ada nuansa internasionalnya. Kisah yang NovanMediaResearch sampaikan kali ini terjadi di Piala Marah Halim 1974.

Pada Piala Marah Halim edisi ketiga itu, PSM Ujungpandang harus bertanding melawan Thailand untuk memperebutkan peringkat ke-3 dan ke-4. Singkat cerita, dalam waktu normal 2 x 45 menit, skor masih 1-1. Imbang.

Sebagaimana aturan umum, pertandingan penentuan tersebut tentu mengharuskan adanya pemenang sehingga babak perpanjangan waktu 2 x 15 menit harus dilakukan. Nah, di sinilah sepak bola dagelan atau lelucon dimulai. Kedua tim tidak mau melanjutkan pertandingan.

Apa yang menjadi penyebabnya? Ternyata, kedua tim sudah merasa capek dan lesu. Kemudian, manajer tim sudah bersepakat untuk mengundi saja.

Namun, Kamaruddin Panggabean, Organizing Comittee yang juga Komda PSSI Sumut, menolaknya karena hal itu menyalahi aturan umum persepakbolaan yang telah dipahami ketika technical meeting.

Karena kedua tim sama-sama ngotot tidak mau bermain lagi, pertandingan terpaksa ditunda hampir setengah jam. Dampaknya, Kamaruddin Panggabean pun turun dengan ancaman. “Bila kalian tidak mau main, saya akan tuntut ganti kerugian lima ratus poundsterling” ujarnya kepada manajer tim Thailand Kolonel (U) P. Sidhi Sook Bhung Boon Nayudha, sebagaimana dikutip dari Majalah TEMPO edisi 27 April 1974. Dan “tiket kalian saya claim,” ujarnya kepada Ilyas Hadade, pimpinan rombongan PSM.

Tampaknya, gertakan itu cukup menciutkan nyali kedua manajer tim sehingga mereka lantas membujuk pemainnya untuk melanjutkan pertandingan sekadar memenuhi persyaratan panitia. Namun, lelucon pun masih terjadi. Di antara mereka ada yang jatuh berguling dan pura-pura sakit meskipun tidak tersentuh pemain lawan. Bola pun mengalir sekadar memenuhi jalannya waktu. Hasilnya, tetap sama, imbang: 1-1.

“Selama tak ada perbedaan gol pertandingan harus dilangsungkan terus, biar semalam suntuk”, bentak Kamaruddin Panggabean. Dan untuk Ilyas ia pun menambahkan makian tambahan: “Kalian saya undang kemari. Tapi kalian datang untuk menghina saya dan Gubernur Marah Halim. Sungguh sayang, kalian bangsaku sendiri mau diajak oleh bangsa lain untuk menghina bangsamu sendiri”. Ilyas hanya mampu berdiam diri mendengar ucapan itu, karena ia tidak tahu mau bilang apa.

Ancaman sebelum babak perpanjangan waktu pun diulanginya lagi sebelum adu tendangan penalti dilakukan. Sayangnya, masih terjadi olok-olok. Terjadi gol-golan. Skornya? 13-12 untuk kemenangan PSM.

“Selama hidup saya, baru pertama kali saya melihat kelakuan seperti ini”, kata hakim garis Ho Van An dari Vietnam Selatan.

“Saya tidak akan mengundang kedua kesebelasan tersebut tahun depan”, kata Kamaruddin Panggabean kepada wartawan, “Tulis di surat kabar besar-besar, Muangthai dan PSM menghina Marah Halim”, tambahnya selepas pertandingan yang berakhir menjelang jam 24.00 tengah malam itu. Meskipun demikian, berdasarkan data NovanMediaResearch, PSM dan Thailand masih tercatat sebagai peserta Piala Marah Halim 1975.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: