Sepak Bola Gajah atau Sepak Bola Unjuk Rasa di Perserikatan 1993/1994

Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, 11 Januari 1994. Saat itu, tuan rumah PSIM mengalahkan PSIS 1-0 dalam Perserikatan 1993/1994. Sayang, kemenangan PSIM itu dibarengi dengan pengrusakan oleh suporter ketika berpawai kemenangan. Tabloid BOLA edisi Minggu Pertama April 1994 pun melaporkan: “…Sampai mobil mantan Gubernur Jateng, Ismail, ikut terkena ulah mereka…”. [Sebelumnya, suporter PSIM bentrok dengan suporter Persebaya ketika kedua tim itu berjumpa di Yogyakarta.]

Akibatnya, PSIM dikenai hukuman tidak boleh menyelenggarakan pertandingan di dalam kota Yogyakarta dan tidak boleh ditonton massa. Alasan inilah yang melatarbelakangi mengapa Bertje Matulapelwa, pelatih PSIM, mendukung gaya sepak bola unjuk rasanya Drs. H. Agil H. Ali.

Apa itu sepak bola unjuk rasa? Sebelum menjelaskannya, sepak bola unjuk rasanya Agil dipicu oleh kekalahan 1-2 Persebaya dari tuan rumah PSIS di Stadion Jatidiri, Semarang, 26 Januari 1994. Gol Yongki Kastanya pada menit 34 tidak mampu mengimbangi PSIS melalui dua gol penaltinya Syafril Usman pada menit 18 dan 62. Agil menuding kekalahan timnya dari PSIS akibat wasit yang memimpin pertandingan, Helmi Piliang, berat sebelah.

“Kemenangan PSIS tidak sportif. Maka layak kalau kami membalas dengan mengalah 0-5 pada Persema dan 0-4 pada PSIM,” begitu komentar Agil. Hasilnya, Persebaya memang kalah di Stadion Gelora 10 November, Surabaya, tetapi tidak sebesar itu. Berdasarkan data NovanMediaResearch, Persebaya kalah 1-3 dari Persema (30 Januari 1994) dan 2-3 dari PSIM (5 Februari 1994). Jangan lupakan pula kekalahkan PSIM dari tuan rumah Persegres 1-2 di Stadion Tridharma, Gresik (31 Januari 1994).

Maksud hati ingin menyingkirkan PSIS lolos ke babak “8 Besar”, apa daya Persiba Balikpapan yang jadi korban. Persiba Balikpapan pun menempati peringkat juru kunci dan tentu saja degradasi.

Itulah sepak bola unjuk rasa meskipun ada pula yang menyebutnya sebagai sepak bola gajah. Namun demikian, Agil mengungkapkan, di Surabaya ia menyebutnya bahwa tindakan itu bukan sepak bola gajah tetapi sepak bola unjuk rasa. Dalam perkembangannya, Agil dikenai sanksi satu tahun plus denda Rp 500 ribu, sedangkan Bertje diskors 6 bulan. Meskipun sempat diprotes, Pengurus Harian PSSI yang mengadakan rapat darurat yang dipimpin Ketua Umum PSSI Azwar Anas mengukuhkan sanksi itu. [Koran Pikiran Rakyat, Tabloid BOLA, Blog NovanMediaResearch]

Iklan

1 Comment »

  1. 1

    Reblogged this on adadisebelahkiri.


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: