Sejarah PSSI Garuda (15, Selesai): Pra Piala Asia 1984

Tidak terasa, tulisan “Sejarah PSSI Garuda” sudah memasuki edisi ke-15. Inilah edisi terakhir dari tulisan “Sejarah PSSI Garuda” yang saya (NovanMediaResearch) sajikan kepada anda. Kita langsung saja ke Pra Piala Asia 1984. Sebetulnya, sebelum dan sesudahnya, masih banyak informasi PSSI Garuda yang ingin disajikan, tetapi saya harus mempersingkatnya juga. Ada alasan untuk itu: penulisannya sudah terlalu panjang atau lama (baca: sampai 15 edisi). Akhirnya, inilah edisi pamungkasnya!

PSSI Garuda merupakan wakil Indonesia (PSSI) dalam Piala Asia Antarnegara 1984 yang putaran finalnya diselenggarakan di Singapura. Sebelum itu, Indonesia harus memulainya di babak kualifikasi, sebutlah saat itu Pra Piala Asia 1984. Tuan rumah Indonesia tergabung dalam Grup 1 yang berlangsung pada 6-18 Agustus 1984 di Jakarta dan di Solo.

Pada era ini, Pra Piala Asia 1984 bagi Indonesia dikenal dengan “Lima Menit Lagi dan Tiket pun Lepaslah” (Kompas edisi Kamis, 16 Agustus 1984). Kelak, Media GO edisi Jumat, 1 Maret 1996, menulis judul “Lima Menit Lagi, Dan…”.

Ya, waktu pertandingan ketika Indonesia melawan Suriah tinggal menyisakan lima menit, gol itu terjadi. Gol tunggal Suriah diciptakan Radwan El Cheikh Hassan pada menit ke-85.

Sebelum pertandingan, Iran sudah pasti lolos ke babak grandfinal setelah menghimpun nilai sempurna (10). Sementara Indonesia, Suriah, dan Thailand masih berpeluang untuk lolos ke grandfinal. Bahkan Indonesia pun cukup bermain seri saja. Sayang, kekalahan menyesakkan 1-2 itu justru meloloskan Suriah ke grandfinal. Akhirnya, ketiga tim tadi memiliki nilai yang sama (6), tetapi Suriah lebih produktif dalam mencetak gol meskipun selisih golnya sama dengan Indonesia.

Tim Nasional Indonesia

Dalam Pra Piala Asia 1984, timnas Indonesia menyerahkan 22 pemainnya yaitu Hermansyah, Agus Waluyo, Sigit S. (penjaga gawang), Patar Tambunan, Marzuki, Azhary Rangkuti, Budiawan, Isman Jasulmei, Jusuf Budianto, Kamaludin, Aji Ridwan Mas, Abdul Khamid, Sain Irmis, Agil Alhabsy, Noah Meriem, Anjar Rahmulyono, Mohammad Sofie, Dino Q., Danny Bolung, Sugianto, Maryanto, dan Janio. Dari 22 pemain itu, hanya 18 pemain yang bisa ditampilkan sesuai ketentuan AFC (Sigit S., Agil A., Dino Q., dan Janio tidak bermain). Sebagai catatan, PSSI Garuda baru saja merekrut Noah Meriem (PSSI Junior) dan Maryanto dari PS Gajayana Malang (PSSI Perserikatan). Mereka diasuh E. E. Mangindaan (manajer), Joao Barbatana (pelatih kepala), serta asistennya: Eddy Sofyan, Solekan, dan Ridenio Borges (pelatih fisik).

Menurut Sigit Harjojudanto, kepala proyek PSSI Junior/PSSI Garuda dan sekaligus ketua panitia penyelenggara, meski mengakui bukan tim Indonesia tertangguh, dirinya berharap bahwa Indonesia bisa menempati peringkat kedua. Pada masa ini, Iran difavoritkan sebagai juara Grup 1 Pra Piala Asia 1984.

Penampilan Indonesia pun cukup menjanjikan. Tiga pertandingan pertama dimenangkannya: lawan Thailand 2-1, Bangladesh 2-1, dan Filipina 1-0. Meski “hanya” menang 1-0 atas Filipina, kekalahan 0-1 dari Iran justru dianggap “memuaskan”. Sayang, Indonesia harus kalah 1-2 dari Suriah. Selain itu, kemenangan 2-1 atas Thailand, yang bermain tanpa Piyapong, dianggap sebagai balasan di Piala Raja 1983/1984. Piyapong sendiri baru bermain ketika melawan Filipina karena terlambat datang di Indonesia.

Indonesia vs Thailand 2-1

Dalam pertandingan pembukaan Pra Piala Asia 1984, tuan rumah Indonesia berhasil mengalahkan Thailand 2-1 di Stadion Utama, Senayan, Jakarta, Senin, 6 Agustus 1984. Gol penentu kemenangan Indonesia dicetak Danny Bolung menjelang pertandingan berakhir.

Indonesia sempat tertinggal lebih dahulu ketika Chalit mencetak gol pada menit ke-26. Namun, Sain Irmis mampu menyamakan kedudukan lewat golnya pada menit ke-64. Dalam pertandingan yang disaksikan 60 ribu penonton di stadion itu, dikabarkan, “Si Enerjik” dari Timur Noah Meriem menjadi bintang lapangan meskipun tidak mencetak gol. Tentu saja, salah satunya, umpan Noah Meriem yang mampu dimanfaatkan Danny Bolung untuk menjadi gol kemenangan. Indonesia pun memimpin klasemen untuk sementara.

Kemenangan Indonesia atas Thailand ini dianggap balasan atas kekalahan Indonesia di Piala Raja (King’s Cup) 1983/1984. Sayang, Piyapong (Thailand) tidak bermain karena terlambat datang di Indonesia. Piyapong yang tiba Rabu, 8 Agustus 1984, baru bisa bermain ketika Thailand berhadapan dengan Filipina (Kamis, 9 Agustus 1984).

Indonesia: Hermansyah (penjaga gawang), Patar Tambunan, Marzuki, Azhary Rangkuti, Aji Ridwan Mas, Kamaluddin, Abdul Khamid/Anjar Rahmulyono/Maryanto, Noah Meriem, Danny Bolung, Sain Irmis, dan Budianto.

Thailand: Narasak (penjaga gawang), Thaweerak, Winai, Somboon, Voravdon, Numchoke/Suthipong, Chalee, Chalit, Daoyot, Thanis/Pichitpol, dan Chalor.

Indonesia vs Bangladesh 2-1

Setelah posisinya disalip Iran (ke-1) dan Suriah (ke-2), Indonesia “hanya” berhasil menyalip Suriah ketika menang 2-1 atas Bangladesh. Kedua gol Indonesia dicetak Sain Irmis pada menit 31 dan 58. Dalam pertandingan yang disaksikan 40 ribu penonton di Stadion Utama, Senayan, Jakarta, itu publik kecewa karena dua gol lainnya dianulir wasit. Lebih kecewa lagi karena satu gol Bangladesh dicetak menjelang pertandingan berakhir justru ketika mengulur-ulur waktu. Marzuki teledor, padahal sepanjang pertandingan bermain prima.

Indonesia: Hermansyah (penjaga gawang), Patar Tambunan, Budiawan, Marzuki, Aji Ridwan Mas, Azhary Rangkuti, Danny Bolung, Abdul Khamid/Maryanto, Sain Irmis, Noah Meriem, dan Mohammad Sofie.

Bangladesh: M. Mohsin (penjaga gawang), Mazidul Islam, Nasir Ahmed Alok, Abdul Baten, Imtiaz Sultan Jany, Samrat Hossain, Khursid Alam, Ashish Badhra, Khandakar Wasim Iqbal/Kazi Jashimuddin, S. Mohammed Aslam, dan Ashrafudin Ahmed.

Indonesia vs Filipina 1-0

Noah Meriem, bintang baru lapangan Indonesia berhasil tetap menegakkan posisi Indonesia. Ya, gol tunggal Noah Meriem pada menit ke-18 ke gawang tim terlemah Filipina di Stadion Sriwedari, Solo, mampu menetapkan posisi Indonesia di peringkat ke-2 klasemen sementara di bawah Iran.

Indonesia: Hermansyah (penjaga gawang), Patar Tambunan, Budiawan, Marzuki, Aji Ridwan Mas, Azhary Rangkuti, Danny Bolung, Abdul Khamid/Sugianto, Sain Irmis, Noah Meriem, dan Mohammad Sofie/Maryanto.

Filipina: Jose Luis Gomez (penjaga gawang), Jesus Baron/Eric Fernandez, Jimmy Eslao, Rey Saluria, Mariano Aranetta, Mario Logarta, Lurex Aranetta, Filomeno Tuano, Rodolfo Alicante, Noel Zalaos, dan Elmer Bedia/Jode Carmona.

Indonesia vs Iran 0-1

Iran merupakan tim favorit juara Grup 1 Pra Piala Asia 1984. Indoneia pun kalah 0-1 dari Iran dalam pertandingan di Stadion Utama, Senayan, Jakarta (Senin, 13 Agustus 1984). Sampai-sampai Kompas edisi Selasa, 14 Agustus 1984, menulis: “…’Garuda’ Indonesia lolos dari bantaian Iran, favorit penyisihan Piala Asia kali ini, dengan hanya kebobolan satu gol. Senyum cerah masih tersungging di wajah para ofisial Indonesia, termasuk pelatih asal Brasil, Barbatana. Lolos dari bantaian Iran, yang menggilas lawan sebelumnya, Bangladesh 5-0, Suriah 3-1, dan Muangthai 5-0…”.

“Saya kira hasil itu wajar, Iran lebih baik.” Kata Ketua Umum PSSI Kardono. Sementara Manajer Tim E.E. Mangindaan pun sependapat dengan mengatakan: “Rasanya itu sudah maksimal”.

“Garuda sudah menunjukkan diri sebagai tim yang baik. Walau kalah, tetap dengan kepala tegak.” Ungkap Barbatana sambil tersenyum sebagaimana penerjemahnya, Gil Alves.

Sementara Pelatih Iran Mahmood Yavari mengacungkan jempol pula buat Garuda. “Saya kira Indonesia akan tampil sebagai tim baik kelak. Mereka harus main seperti itu.” Ujarnya.

Indonesia: Hermansyah (penjaga gawang), Patar Tambunan, Budiawan, Marzuki, Aji Ridwan Mas, Azhary Rangkuti, Danny Bolung, Abdul Khamid, Sain Irmis, Noah Meriem, dan Maryanto.

Iran: Behrouz Soltani (penjaga gawang), Ali Ashgar Haji Lou, Mehdi Dinvarsadeh, Mahmoud Haj Abolhassan Memmar, Mohammad Reza Panjali Ghomi, Seyed Zia Zia Arab Shahi, Reza Nadaf Ahadi, Shahrokh Bayani Ashtiani/Jafar Mokhtari, Hamid Alidoosti, Nasser Mohammad Khani, dan Farshad Pyos.

Indonesia vs Suriah 1-2

Indonesia masih menempati peringkat ke-2 klasemen sementara Grup 1 Pra Piala Asia 1984 di bawah Iran. Dalam posisi seperti ini, ada tiga tim yang masih berpeluang untuk lolos ke babak grandfinal: Indonesia, Suriah, dan Thailand.

Untuk lolos ke grandfinal, Indonesia cukup bermain seri saja ketika melawan Suriah. Sayang, sempat bermain imbang 1-1, Indonesia justru kebobolan lima menit sebelum pertandingan berakhir. Indonesia pun gagal maju ke grandfinal.

Indonesia, sebetulnya, unggul lebih dulu melalui gol Sain Irmis pada menit ke-26. Namun, mampu disamakan Abdul Kader Kardaghli. Tiket ke putaran final Piala Asia 1984 di Singapura pun lepas hanya lima menit menjelang pertandingan berakhir. Ya, Radwan Al Cheikh Hassan “menghabisi” Indonesia pada menit ke-85.

Indonesia: Hermansyah (penjaga gawang), Patar Tambunan, Budiawan, Marzuki, Aji Ridwan Mas, Azhary Rangkuti/Isman Jasulmei, Danny Bolung, Abdul Khamid, Sain Irmis, Noah Meriem, dan Maryanto.

Suriah: Walid Islam (penjaga gawang), M. Issam Mahrous, M. Issam Zino, George Khoury, Kivork Mardekian, Radwan El Cheikh Hassan, Abdul Kader Kardaghli, Mohammad Dahman, Walid Abou Alsil, Marwan Madarati, dan Fouad Ghrir Aziz/M. Samer Assassa.

 

Hasil Pertandingan Pra Piala Asia 1984

Grup 1

 

[Stadion Utama, Senayan, Jakarta]

Senin, 6 Agustus 1984:

Indonesia vs Thailand 2-1 (Sain Irmis 64, Danny Bolung 90; Chalit 26)

Selasa, 7 Agustus 1984:

Suriah vs Filipina 2-0 (Nabil E. Sibai 42, Marwan Madarati 60)

Bangladesh vs Iran 0-5 (Nasser Mohammad Khani 65, 79, 81, 89, Hamid Alidoosti 90)

Kamis, 9 Agustus 1984:

Bangladesh vs Indonesia 1-2 (S. Mohammed Aslam 89; Sain Irmis 31, 58)

Filipina vs Thailand 0-3 (Piyapong 7, 34, Chalit 48)

Sabtu, 11 Agustus 1984:

Suriah vs Bangladesh 2-1 (Walid Abou Alsil 6, Marwan Madarati 89; Kazi Jashimuddin 44)

Iran vs Thailand 5-0 (M. H. Abolhassani 25, Hamid Alidoosti 33, 80, Nasser Mohammad Khani 54, H. D. Far Koush 63)

Senin, 13 Agustus 1984:

Indonesia vs Iran 0-1 (Nasser Mohammad Khani 78)

Thailand vs Suriah 3-2 (Chalee Pirom 61, Thanis Areesngarkul 72, Chalor Hangkajohn 78; Nabil E. Sibai 9, Abdul Kader Kardagh 84)

Rabu, 15 Agustus 1984:

Iran vs Filipina 7-1 (Sayed Zia Zia 16, 89, Nasser Mohammad Khani 20, 52, Hamid Alidoosti 47, Reza Waduf Ahadi 50, Jaffar Mokhtari 77; Mariano Araneta 69)

Indonesia vs Suriah 1-2 (Sain Irmis 26; Abdul Kader Kardaghli 75, Radwan Al Cheikh Hassan 85)

 

[Stadion Sriwedari, Solo]

Kamis, 9 Agustus 1984:

Iran vs Suriah 3-1 (Hamid Alidoosti 5, 69, Hamid Derakhsan 75; Marwan Madarati 6)

Sabtu, 11 Agustus 1984:

Indonesia vs Filipina 1-0 (Noah Meriem 18)

Senin, 13 Agustus 1984:

Filipina vs Bangladesh 2-3 (Elmer Bedia 25, 58; Wasim Iqbal 8, 49, S. Mohammed Aslam 42)

Rabu, 15 Agustus 1984:

Bangladesh vs Thailand 1-2 (Ilyas Husein 23; Chalit 24, Thanis Areesngarkul 61)

 

Iran 5 5 0 0 21-2 10

Suriah 5 3 0 2 9-8 6

Indonesia 5 3 0 2 6-5 6

Thailand 5 3 0 2 9-10 6

Bangladesh 5 1 0 4 6-13 2

Filipina 5 0 0 5 3-16 0

 

Babak Grandfinal

Sabtu, 18 Agustus 1984:

[Stadion Utama, Senayan, Jakarta]

Iran vs Suriah 1-0 (Hamid Alidoosti 13)

Iklan

2 Comments »

  1. 1
    Mohammad Sofie Says:

    tulisan-tulisan NOVANMEDIARESEARCH sangat bagus. Khususnya mengenai PSSI Garuda, di mana kebetulan saya sebagai pemain PSSI Yunior dan PSSI Garuda ketika itu. 99% tulisan NOVANMEDIARESEARCH sesuai keadaan sesungguhnya. Luar Biasa.

    Salam.
    Mohammad Sofie

    • 2
      NovanMediaResearch Says:

      Terima kasih sudah mengunjungi blog ini. Khusus kisah PSSI Garuda, berarti masih ada 1% yang tidak sesuai keadaan sesungguhnya 🙂 [NovanMediaResearch berupaya untuk merekonstruksi peristiwa bertema sepak bola Indonesia. Senang rasanya bisa dikunjungi para “nara sumber”.]


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: