Stadion Mandala Krida Yogyakarta dan Sari Bumi Raya

Tidak mudah untuk menemukan “prasasti” (baca: arsip surat kabar) yang menegaskan kapan Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, diresmikan. Kompas edisi 22 April 1979 pun menyinggung tulisan berjudul “Stadion Mandala Krida: Pembangunannya Mengandung Banyak Kesalahan”. Ya, pembangunan yang memiliki tujuh tahapan itu diwarnai beberapa perombakan, termasuk lintasan atletik. Ke depan, peresmian pun tak kunjung tiba.

Pembangunan Stadion Mandala Krida dimulai sejak 1975 (ada juga yang menyebutkan 1970), “diresmikan” tahun 1977. Nama “Mandala Krida” itu sendiri diberikan oleh Menteri Dalam Negeri era itu ketika kampanye Pemilu 1977.

Dalam perkembangannya, uji coba Stadion Mandala Krida diramaikan pertandingan Sari Bumi Raya (Yogyakarta) melawan Cahaya Kita (Jakarta) pada Kamis, 3 September 1981. Pertandingan tersebut merupakan pertandingan pertama Sari Bumi Raya ketika memasuki Putaran II Galatama 1980/1982 yang dimulai sejak 4 Juni 1981. Sebelumnya, hingga berakhirnya Putaran I, Sari Bumi Raya menggunakan Stadion Kridosono, Yogyakarta. Dalam pertandingan ini, kedua klub bermain imbang 2-2.

Dalam penjelasannya di Gedung KONI DIY, Senin, 31 Agustus 1981, Drs. Warno Sumantri dari Kanwil Departeman P&K tidak menyebutkan ancar-ancar waktu kapan stadion itu diresmikan. Ia hanya menyatakan, selain uji coba lapangan hijau, pertandingan Sari Bumi Raya melawan Cahaya Kita itu juga akan dimanfaatkan untuk menghitung daya muat serta menjajagi animo masyarakat terhadap stadion baru (Kompas edisi 2 September 1981). Pertandingan itu pun disaksikan rekor 10.000 penonton (Kompas edisi 4 September 1981).

Stadion Mandala Krida pada Waktu Malam

Rabu, 7 Desember 1983, merupakan debut pertandingan di Stadion Mandala Krida yang diuji coba pada malam hari. [Kalau latihan sih sehari sebelumnya (Selasa, 6 Desember 1983).] Saat itu, Sari Bumi Raya berhadapan dengan UMS 80 dalam Galatama 1983/1984. Animo masyarakat begitu tinggi. Tidak kurang dari 20 ribu penonton rela memasuki Stadion Mandala Krida pada malam hari. Sayang, Sari Bumi Raya kalah 1-2.

Uji coba lampu stadion itu tampak belum sempurna. Dari 98 lampu sorot yang malam itu mencoba menerangi lapangan, 9 di antaranya mati. Sorotnya, entah mengapa, justru kurang mengenakkan mata (Kompas edisi 8 Desember 1983).

Ini merupakan pertandingan kedua bagi Sari Bumi Raya dalam memasuki Galatama periode IV. Dalam pertandingan pertama (Rabu, 30 November 1983) yang berlangsung sore hari, Sari Bumi Raya menang 2-0 atas Angkasa. Pertandingan Sari Bumi Raya melawan UMS 80 pada malam hari itu sendiri sangat beralasan karena biaya stadion plus listrik menjadi Rp 350 ribu.

Sebelumnya, Sari Bumi Raya hendak memakai Stadion Mandala Krida untuk malam hari ketika beruji coba melawan PSSI Garuda yang berakhir 1-1 pada Selasa, 22 November 1983. Sayangnya, bermain pada malam hari perlu biaya Rp 600 ribu, sedangkan sore hari yang tanpa listrik Rp 250 ribu.

[Catatan: Pertandingan Sari Bumi Raya melawan UMS 80 sebenarnya dijadwalkan pada 10 Desember 1983 di Jakarta. Namun, dua pertandingan pertama UMS 80 di Medan (kandang Pardedetex dan Mercu Buana) dibatalkan sehingga mengubah jadwal Galatama 1983/1984. Alasannya, dalam sepekan, Stadion Teladan, Medan, digunakan untuk acara kegiatan keagamaan.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: