Stadion Citarum Semarang dan Kisah Degradasi Perserikatan 1985

Pada tahun 1983, PSIS berencana untuk membangun stadion baru. “Kesebelasan PSIS Semarang yang terus meningkatkan prestasi, merencanakan membangun stadion sepak bola baru berkapasitas 10.000 tempat duduk dengan biaya Rp 55 juta di daerah Citarum. Rencananya sudah disetujui Wali Kota Semarang H. Iman Soeparto, S.H. Maksudnya untuk kompetisi lokal. Sementara Stadion Diponegoro tak tahu untuk kegiatan apa (Kompas edisi Kamis, 11 Agustus 1983).

Dalam perkembangannya, Stadion Citarum Semarang pun diresmikan pada 14 Februari 1985 bersamaan dengan kegiatan Kompetisi Divisi Utama Perserikatan PSSI 1985, khususnya Babak “6 Kecil” atau Kompetisi Papan Bawah. Pada masanya, Stadion Citarum disebut-sebut sebagai stadion terbaik di Jawa Tengah setelah Stadion Sriwedari Solo.

Sebagaimana dimaklumi bahwa Kompetisi Divisi Utama Perserikatan PSSI 1985, setelah babak penyisihan, dilanjutkan Babak “6 Besar” atau Kompetisi Papan Atas di Jakarta dan Babak “6 Kecil” atau Kompetisi Papan Bawah di Semarang. Dua tim teratas Papan Atas maju ke grandfinal, sedangkan dua tim terbawah Papan Bawah degradasi.

Berkaitan dengan cerita Stadion Citarum ini, ternyata ada kisah degradasi kompetisi Perserikatan 1985 di dalamnya.

Babak “6 Kecil” Berubah Jadwal

Babak “6 Kecil” untuk menentukan peringkat ke-7 hingga ke-12 Kompetisi Divisi Utama Perserikatan PSSI 1985 akan diselenggarakan di dua stadion di Semarang yaitu Stadion Citarum dan Stadion Diponegoro. Namun, babak “6 Kecil” yang dimulai tanggal 11 Februari 1985 itu dimundurkan menjadi 14 Februari 1985.

Alasan perubahan dimaksudkan untuk menghormati tuan rumah PSIS yang akan menggunakan stadion barunya, Citarum, yang akan diresmikan Menpora dr. Abdul Gafur pada 14 Februari 1985 (Kompas edisi Sabtu, 9 Februari 1985). Semula, sesuai kerangka yang disahkan PSSI, PSP akan berhadapan dengan Persema. Perubahan yang dilakukan secara mendadak pada Kamis, 7 Februari 1985, itu sudah diketahui dan diterima oleh seluruh peserta. Perubahan dilakukan secara menyeluruh dan tuan rumah PSIS diberi kesempatan memakai pertama melawan PSP. Dalam pertandingan itu, PSIS menang 3-1 atas PSP.

Apakah keberadaan PSIS dalam babak “6 Kecil” ini merupakan “cita-cita”? Maksudnya, cita-cita menggunakan Stadion Citarum untuk pertama kali? Ada cerita menarik di sini.

“…SEMARANG tak kebagian ‘kursi empuk’ menjadi tuan rumah perebutan juara Kompetisi Sepak bola 12 Besar PSSI dan hanya kebagian menjadi tuan rumah pertandingan degradasi bagi enam tim papan bawah. Ketua Komda PSSI Jateng Letkol Pol Drs. Soeprapto juga tak berniat untuk merebut ‘kursi empuk’ itu, yang kali ini juga dilangsungkan di Stadion Utama Senayan Jakarta seperti tahun 1983…” (Kompas edisi Kamis, 14 Februari 1985).

“Pertarungan degradasi tentu yang paling seru. Sebab menentukan siapa yang bakal terlempar dari divisi utama,” ujar Soeprapto. Perhitungan Soeprapto ternyata tepat. PSIS gagal masuk enam tim papan atas dan akan berjuang di hadapan publiknya. Namun yang masih sulit ditebak adalah dua tim terbawah yang nantinya kena “gusur” dari kelompok elit sepak bola perserikatan. [Cita-cita PSIS untuk bermain dalam pembukaan Stadion Citarum pun terwujud he he he).]

Dalam perjalanannya, pertandingan untuk menentukan tim mana yang dikenai degradasi pun membuat tegang. Kedua pertandingan terakhir pada Kamis, 21 Februari 1985 (Persema vs PS Bengkulu di Stadion Citarum dan Persija vs Persiraja di Stadion Diponegoro) terkendala hujan. Khusus untuk pertandingan Persema melawan PS Bengkulu sudah dijalankan babak I. Pertandingan pun dilanjutkan pada Jumat, 22 Februari 1985. Hasilnya, Persema kalah 1-2 dari PS Bengkulu dan Persija kalah 3-6 dari Persiraja. Kompas edisi Sabtu, 23 Februari 1985, pun membuat judul “Jakarta dan Malang Terdepak dari Divisi Utama”.

Manajer Persema, Darmono Soedagung, tak mau berkomentar. Sementara manajer PS Bengkulu, Yoner Butar-Butar tertawa lebar menyambut kemenangan.

Bagaimana dengan Persiraja? Persiraja benar-benar menikmati kegembiraan atas kemenangannya. Tim asuhan Sjamsul Bachri (manajer) dan Royani (pelatih) itu larut dalam kegembiraan. Sebelum meninggalkan lapangan, mereka berkumpul dan berdoa serta kemudian meneriakkan Allahu Akbar tiga kali.

Sebaliknya, di kubu Persija, luruh dalam kesedihan. Tanpa disambut Ir. Todung Barita (manajer) dan Yuswardi (pelatih), mereka membersihkan diri di “sungai” pinggir lapangan. Maklum, pertandingan itu diwarnai suasana becek akibat hujan. Era ini, skuad Persija diperkuat sederetan pemain Galatama seperti Hadi Ismanto, Adityo Darmadi, Didik Darmadi, Yopie Noya, Junius Seba, dan Yudhi Supratman.

Divisi I

Kompetisi Divisi Utama Perserikatan PSSI 1985 telah berakhir (Februari 1985). Kompetisi Divisi I Perserikatan PSSI 1985 pun akan dimulai (November 1985). Ada jarak waktu sembilan bulan ke depan.

Pada masa inilah PSSI “bingung”. Sesuatu yang tak terduga muncul. [Ini pengalaman baru.]

Kompas edisi Selasa, 29 Oktober 1985 menulis: “Belum diketahui model yang tepat bagi kompetisi divisi I perserikatan yang akan berputar bulan depan di beberapa kota. Pertemuan konsultasi yang dilakukan di Senayan senin petang dan malam hanya menghasilkan tiga alternatif model. Keputusan final model mana yang dipakai, baru akan dihasilkan melalui suatu rapat lagi yang direncanakan berlangsung Rabu besok”. Hal itu diungkapkan Ketua Komisi Penerangan PSSI M.A. Rais, Senin, 28 Oktober 1985.

Dalam perkembangannya, Kompas edisi Kamis, 31 Oktober 1985 menulis: “Model kompetisi divisi I antarperserikatan sudah ditentukan. Diputuskan pengurus harian PSSI, Persija Jakarta dan Persema Malang, urutan ke-11 dan 12 divisi utama, harus degradasi, tapi tak perlu berhadapan lagi melawan seluruh 12 tim divisi I. Cukup jumpa dengan juara pertama dan kedua divisi I berebut dua tempat di divisi utama”. [Catatan (koreksi): Persema (peringkat ke-11) dan Persija (peringkat ke-12).]

Sebelumnya, ada tiga model pilihan untuk kompetisi Divisi I. Pertama, seperti yang sudah diputuskan PSSI sendiri, Persija dan Persema otomatis degradasi, dan dalam posisi yang sama dengan 12 tim divisi I, Persija dan Persema mesti melakukan kompetisi. Mengesankan kompetisi ini diikuti 14 tim.

Kedua, merupakan reaksi atau “protes” dari Persija dan Persema. Menurut mereka, dengan versi masing-masing, Persija dan Persema cukup dihadapkan saja dengan juara pertama dan kedua divisi I, tak usah semuanya. [Sebagai jalan keluar, Persija dan Persema mengajukan model lain. Sebagai tim yang terkena degradasi, menurut Persija dan Persema, mereka cukup menghargai juara dan runner-up divisi I saja, berarti ada empat tim yang bertarung, memperebutkan dua tempat untuk promosi ke divisi utama. Akhirnya, model kedua inilah yang diputuskan PSSI.]

Model ketiga muncul dalam rapat konsultasi itu, entah diusulkan siapa. Persija dan Persema tetap dipertahankan di Divisi I. Kompetisi Divisi I yang mulai bergulir bulan depan diselenggarakan hanya untuk membentuk urutan 1 sampai dengan 12 saja. Juara pertama dan kedua tak memperoleh hak promosi ke divisi utama.

Menurut Ketua Umum PSSI Kardono di Senayan, Rabu, 30 Oktober 1985, pagi, keputusan ini diambil tanpa melalui rapat yang tadinya direncanakan berlangsung Rabu. “Kami tak perlu mengadakan rapat secara fisik, cukup melalui telepon saja,” ujarnya sebagaimana dilaporkan Kompas edisi Kamis, 31 Oktober 1985.

Kardono mengakui, ketiga model itu menyimpang dari yang sudah digariskan akibat kurang cermatnya pembuatan surat keputusan. Misalnya menurut surat keputusan nomor Skep/130/X/1985, diputuskan diadakan kompetisi divisi I yang diikuti 14 tim. Dikatakan penyimpangan sebab dalam surat keputusan sebelumnya dengan jelas PSSI menyebut divisi I terdiri atas 12, bukan 14 tim. Surat keputusan ini ditandatangani Kardono dan Sekum PSSI Nugraha Besoes, tertanggal 25 Februari 1985 antara lain tertulis “peserta dalam setiap kompetisi kejuaraan PSSI (setiap divisi) masing-masing berjumlah 12 kesebelasan”.

Karena kelemahan yuridis inilah Persija dan Persema melayangkan “protes”. Pada prinsipnya kedua perserikatan ini menginginkan cukup dipertemukan dengan dua teratas divisi I saja, tanpa harus ketemu seluruh 12 tim.

“Memang ada penyimpangan. Namun kami memilih model yang penyimpangannya paling minim,” ujar Kardono dalam Kompas edisi yang sama.

Model kompetisi Divisi I sudah diputuskan. Apakah ada pihak yang protes?

Mengenai kemungkinan muncul protes ini, Humas PSSI Soetjipto Soentoro sebagai pribadi mengimbau agar jangan sampai terjadi. “Lebih baik tak usah protes, yang penting siapkan diri untuk bertanding. Memang model ini ada kelemahannya, tapi inilah yang terbaik. Kedua belas tim Divisi I saya harap mau menerima demi kebaikan kita semua,” kata Soetjipto sambil menambahkan “Untuk itu di masa-masa mendatang  hendaknya dipikirkan secara matang dulu sebelum memberlakukan suatu peraturan”.

Dalam perkembangannya, Kompas edisi Senin, 4 November 1985, menulis judul “PSIM Yogya Setuju Model Kompetisi PSSI Divisi I”. PSIM Yogyakarta, salah satu peserta kompetisi sepak bola divisi I PSSI, menerima baik keputusan tentang model kompetisi divisi itu yang ditetapkan PSSI. Namun konsekuensinya, perjuangan PSIM untuk naik ke divisi utama akan semakin berat.

Ketua PSIM Ir. Dasron Hamid, MSc. Mengatakan kompetisi sedemikian itu memberatkan dua kesebelasan yang mencoba berpromosi ke divisi utama. “Kalau sudah keputusan, ya bagaimana lagi, kita harus tunduk. Tetapi ada hikmahnya, masuk ke divisi utama berat,” sambung Dasron.

Kompetisi Divisi I Perserikatan PSSI 1985 pun diselenggarakan pada 15 November sampai dengan 4 Desember 1985. Kedua finalis, Persiba (juara) dan PSIM (runner-up) harus melanjutkan babak playoff promosi-degradasi melawan Persema (peringkat ke-11) dan Persija (peringkat ke-12) Divisi Utama Perserikatan PSSI 1985. Keempat tim itu bertanding di Stadion Bima Cirebon pada 10-15 Januari 1986. Alhasil, Persija (juara) dan Persiba (runner-up) promosi ke Divisi Utama Perserikatan PSSI 1986.

Iklan

1 Comment »

  1. 1
    Anonim Says:

    Mantap ulasan bang novan ini… joss


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: