Stadion Sriwedari Solo dan Arseto

Seandainya Stadion Sriwedari Solo yang dipugar itu tuntas pada Juni 1983, mungkin stadion legendaris ini akan menjadi salah satu tuan rumah pertandingan persahabatan internasional melawan Arsenal (Inggris) hingga Kompas edisi Jumat, 15 April 1983 menulis judul: “Arsenal akan Meriahkan Peresmian Sriwedari Solo”. Sayang, peresmiannya mengalami pengunduran.

Sebelumnya, Kompas edisi Kamis, 24 Maret 1983 menulis: “…Pemugaran stadion yang bersejarah ini didukung Bantuan Presiden Rp 853.281.000,- dan direncanakan peresmiannya akan dilakukan Presiden Soeharto 1 Juni mendatang. Pembangunan dilakukan oleh PT Pembangunan Perumahan sejak 1 Juni 1982 yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Rustam dan Ketua Umum KONI Pusat Sri Sultan Hamengkubuwono IX…”.

Ya, Stadion Sriwedari yang dipugar itu akhirnya diresmikan Presiden Soeharto pada Jumat, 9 September 1983 sekaligus mengumandangkan Hari Olahraga Nasional.

Biaya pemugaran Stadion Sriwedari Solo Rp 858 juta dengan Rp 771,5 juta bantuan presiden, Rp 60 juta bantuan Gubernur Jateng, dan sisanya dari para dermawan. Luas kompleks stadion bertambah secara cukup mencolok dari 29.111 meter persegi menjadi 58.579 meter persegi (Kompas edisi Sabtu, 10 September 1983).

Kompas edisi yang sama pun melaporkan, lapangan sepak bola internasionalnya kini dilengkapi lintasan atletik enam jalur. Seakan mengingatkan Solo sebagai pusat rehabilitasi cacat, di tribun terlihat tempat duduk khusus bagi atlet cacat, satu-satunya di Indonesia dengan fasilitas demikian. Lapangan parkir luas yang mampu menampung ratusan kendaraan sekaligus serta toilet yang apik, melengkapi fasilitas bagi penonton. Tiang lampu dengan kekuatan 265 KVA berdiri megah di empat pojok stadion, membuat Solo yang kelak menjadi pangkalan klub Galatama Arseto itu mampu menyajikan pertandingan malam.

Akan tetapi untuk perluasan itu semua 50 kios pedagang, rumah sakit jiwa, dan kebun binatang terpaksa dipindahkan dari Taman Sriwedari.

Turnamen Segitiga

Dalam peresmian pemugaran Stadion Sriwedari itu diselenggarakan turnamen sepak bola segitiga nostalgia pada 9-11 September 1983. Tiga peserta tampak ikut serta yaitu PSIS Semarang, PSIM Yogyakarta, dan Persis Solo.

Akhirnya, PSIS berhasil menjadi juara turnamen segitiga memeriahkan peresmian pemugaran Stadion sriwedari setelah mengumpulkan nilai tertinggi (4) dari hasil kemenangan 1-0 atas PSIM dan Persis. PSIS pun menerima Piala Gubernur Jawa Tengah yang saat itu dijabat Ismail.

Hasil Pertandingan Turnamen Segitiga Memeriahkan Pemugaran Stadion Sriwedari Solo:

Jumat, 9 September 1983:

Persis vs PSIM 1-2 (?)

Sabtu, 10 September 1983:

PSIM vs PSIS 0-1 (?)

Minggu, 11 September 1983:

PSIS vs Persis 1-0 (?)

Kandang Arseto

Arseto merupakan klub Galatama asal Jakarta. Arseto (Jakarta) pun berkompetisi dalam Galatama I/1979-1980, II/1980-1982, dan III/1982-1983. Namun, mulai Galatama IV/1983-1984, Arseto memindahkan kandang (home)-nya di Solo. Jadilah, Arseto (Solo).

Arseto itu sendiri diambil dari nama PT-nya yaitu PT Ario Seto. Nama tersebut (dikabarkan) sebagai kedua anak dari Sigit Harjojudanto atau dikenal juga sebagai Sigit Soeharto, pemilik Arseto. [Silakan untuk check and recheck kedua putra Sigit tersebut.]

Nama Arseto (Solo) sebetulnya sudah terpatri dalam turnamen Piala Yanita 1983 ketika Arseto (Solo) dikalahkan 1-3 oleh tuan rumah Yanita Utama (Bogor) dalam babak grandfinal di Stadion Persija, Menteng, Jakarta, Sabtu, 24 September 1983. [Arseto merupakan saudaranya Yanita Utama sebagaimana Tempo Utama sebagai saudaranya Tunas Inti.]

Arseto (Solo) meresmikan perkenalannya di Solo ketika menghadapi Australia Barat di Stadion Sriwedari Solo (Jumat, 30 September 1983). Dalam pertandingan peresmian perkenalan yang tanpa diperkuat Ricky Yakob (pelatnas PSSI) itu, Arseto harus mengakui keunggulan Australia Barat 0-2. “Mereka kelihatannya kurang latihan,” komentar Darmadi, ayah Didik Darmadi, sebagaimana dilaporkan Kompas edisi Sabtu, 1 Oktober 1983. [Australia Barat menjalani tiga pertandingan di Indonesia. Dua pertandingan lainnya, Timnas Indonesia Pra Olimpiade 1984 asuhan Pelatih M. Basri kalah 0-1 dari Australia Barat di Stadion Utama, Senayan, Jakarta (Selasa, 27 September 1983) serta Yanita Utama (Bogor) bermain imbang 0-0 melawan Australia Barat di Stadion Pajajaran, Bogor (Rabu, 28 September 1983). Khusus melawan Yanita Utama, pertandingan tersebut hanya berlangsung 47 menit karena hujan badai.]

Pelatih Arseto, Solekan, menyatakan pertandingannya kali ini lebih dimaksud sebagai “perkenalan dengan warga Solo dan menarik simpati publik”. Ia tampaknya, tidak terlalu berharap mengalahkan Australia Barat. “Tetapi tentu saja kami akan bermain sebaik-baiknya,” kata Solekan (Kompas edisi Jumat, 30 September 1983).

Arseto mulai pindah ke Solo pada Rabu, 26 September 1983 dan belum menempati asramanya di Adisucipto, tetapi masih menempati Solo Inn, penginapan yang juga ditempati Australia Barat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: