Indonesia di Piala Dunia Junior 1979

Piala Asia Junior 1978 di Dhaka, Bangladesh, sudah berakhir pada 28 Oktober 1978 dengan menghadirkan Korea Selatan dan Irak sebagai juara bersama. Dalam perkembangannya, kedua tim yang menempati peringkat “Dua Besar” Asia tingkat junior itu pun menjadi dua wakil Asia di Piala Dunia Junior 1979 yang akan berlangsung di Jepang. Tentu saja, jatah Asia menjadi tiga, termasuk tuan rumah Jepang.

[Catatan: Piala Asia Junior 1978 di Dhaka, Bangladesh, melahirkan nama penjaga gawang muda asal Karawang bernama Endang Tirtana. Dalam perkembangannya, Endang Tirtana dikenai radar pantauan Persija untuk Kompetisi Perserikatan 1978/1979, dalam hal ini Putaran I. Namun, Persija memilih A.A. Raka dan Sudarno. Memasuki Putaran II Perserikatan 1978/1979, nama Endang Tirtana ditarik lagi. Alasannya, Sudarno (dikabarkan) memiliki “masalah keluarga” dan A.A. Raka masih cedera akibat pertandingan pertama Putaran I Perserikatan 1978/1979 melawan PSMS. Endang Tirtana ditarik bersama Suherman. Satu penjaga gawang lagi ditarik yaitu Yudo Hadianto. Sayang, Yudo Hadianto tidak memenuhi panggilan Persija karena lebih berkonsentrasi untuk melatih Arseto (Jakarta) menjelang Galatama 1979/1980. Endang Tirtana itu sendiri akhirnya berkiprah di Warna Agung (Jakarta) untuk Galatama edisi perdana tersebut.]

Berkaitan dengan Piala Dunia Junior 1979, Irak yang menjadi salah satu wakil Asia mengundurkan diri. Karenanya, tiga negara Asia Timur menjadi wakil Asia untuk Piala Dunia Junior 1979 yaitu Korea Utara, Korea Selatan, dan Jepang.

Akhirnya, Kompas edisi Rabu, 26 Februari 1979, melaporkan pembagian grup Piala Dunia Junior 1979. Grup A terdiri dari Jepang, Spanyol, Meksiko, dan Algeria. Grup B (Polandia, Yugoslavia, Argentina, dan Korea Utara). Grup C (Kanada, Portugal, Paraguay, dan Korea Selatan). Grup D (Uni Soviet, Hungaria, Uruguay, dan Guinea).

Dalam perkembangannya, FIFA memutuskan bahwa Indonesia menggantikan Korea Utara di Grup B karena menarik diri. Dengan demikian, Grup B meliputi Polandia, Yugoslavia, Argentina, dan Indonesia). (Kompas edisi Sabtu, 31 Maret 1979). Karenanya, PSSI (Indonesia) pun harus segera mempersiapkan diri.

Awal Mei 1979, PSSI memanggil 34 pemain yang terdiri dari 20 pemain Galatama dan 14 pemain Perserikatan. Mereka diasuh oleh Sutjipto Soentoro (pelatih) dan Majid Umar (asisten pelatih). Ke-34 pemain Indonesia Junior tersebut yaitu:

[1] Suwarto

[2] Tonggo Tambunan

[3] T. Hermansyah

[4] Herry Kiswanto (Pardedetex)

[5] Catur

[6] David

[7] Basyiruddin

[8] Memed Permadi (Jayakarta)

[9] Mundari

[10] Subangkit

[11] Bambang Sunarto (Jaka Utama)

[12] Hasan Tuharea

[13] Syamsul Suryono (Indonesia Muda)

[14] Bambang Nurdiansyah

[15] Suratman (Arseto)

[16] Haryanto

[17] Imam Murtanto (Tidar Sakti)

[18] Yong Wahyono

[19] Nader Hasan (Buana Putra)

[20] Fahrizal (Perkesa 78)

[21] Didik Budi Satrio

[22] Jujuk Darmanto (Persebaya)

[23] Harry Susanto

[24] Budi Tanoto

[25] Bambang

[26] Eddy

[27] Ferry Ratu (Persija)

[28] Tommy Latuperissa

[29] Nurdin

[30] Yongki Hourissa (PSMS)

[31] Rudy Salaki (Persib)

[32] Didik Darmadi (Persis)

[33] Rahim (PSB)

[34] Mahdi (PSAP)

Terlepas dari itu, ada 34-37 pemain yang dipanggil untuk memperkuat PSSI Junior.

Menurut Sutjipto Soentoro, sasaran utama PSSI Junior bukan untuk memenangkan Piala Dunia Junior 1979 yang memperebutkan Piala Coca Cola, tetapi menjadikan pemain-pemainnya siap untuk menggantikan pemain-pemain dewasa (Kompas edisi Rabu, 6 Juni 1979).

Timnas Indonesia Junior pun mulai menjalani pertandingan uji coba. Dalam pertandingan uji coba tersebut, PSSI Junior sudah dibantu Vivian Sarkis sebagai asisten pelatih dari Sutjipto Soentoro (pelatih kepala dan sekaligus manajer).

Awal Juli 1979, dari 30-an pemain, ketika menghadapi Perkasa (klub Persijatimut Jakarta Timur/Utara), PSSI Junior tinggal menyisakan 27 pemain. Selebihnya, ada yang kurang fit atau umurnya sudah lebih dari 20 tahun sehingga dicoret. Mereka dibantu oleh Wiel Coerver (Belanda) dan Vivian Sarkis (Uni Soviet). [Catatan: Pada masa ini, Sutjipto Soentoro harus berbagi tugas dengan Galatama karena posisinya sebagai Pelatih Buana Putra.]

Menjelang akhir Juli 1979, Suwarto (Pardedetex) digantikan Endang Tirtana karena indisipliner. Keduanya merupakan penjaga gawang Indonesia di Piala Asia Junior 1978 di Dhaka, Bangladesh (Kompas edisi Jumat, 27 Juli 1979). Selain Endang Tirtana, masih ada Fahrizal (Perkesa 78). Juga ada Didik Budi Satrio (Persebaya) tetapi cedera.

Pada Selasa, 31 Juli 1979, Sutjipto Soentoro mengumumkan 22 pemain yang lolos seleksi dari 27 pemain. Mereka adalah Endang Tirtana (Warna Agung), Fachrizal (Perkesa 78), Tomy Latuperissa (PSMS), Eddy Sudarnoto, Memed Permadi, Bambang Irianto, Arief Hidayat, David Sulaksmono, Catur Sudarmanto (Jayakarta), Imam Murtanto (Tidar Sakti), Mundari Karya, Subangkit, Bambang Sunarto (Jaka Utama), Nus Lengkoan, Syamsul Suryono (Indonesia Muda), Nander Hasan, Pepen Rubianto, Jong Wahyono (Buana Putra), Budhi Tanoto (Tunas Jaya), Herry Susanto (Angkasa), Bambang Nurdiansyah (Arseto), dan Didik Darmadi (Persis).

Dari 22 pemain tersebut, pada Selasa, 7 Agustus 1979, PSSI Junior akhirnya memilih 18 pemainnya untuk Piala Dunia Junior 1979. Empat pemain lainnya dicoret yaitu Nander Hasan, Jong Wahyono (Buana Putra), Herry Santoso (Angkasa), dan Catur Sudarmanto (Jayakarta). Khusus Catur Sudarmanto, pemain yang dalam minggu-minggu terakhir seleksi biasa dijadikan kapten tim, dinyatakan melanggar disiplin (Kompas edisi Rabu, 8 Agustus 1979).

Kompas edisi Kamis, 9 Agustus 1979, pun melaporkan: “…Kesebelasan junior Indonesia akan memperoleh pengalaman luar biasa dalam kejuaraan dunia junior memperebutkan Piala Coca Cola di Tokyo akhir bulan ini. Hal itu diungkapkan oleh Presiden FIFA Dr. Joao Havelange di markas besar FIFA di Zurich melalui siaran pers yang disebarkan ke-16 negara peserta kejuaraan tersebut…”.

 

Info Lain: Tim Mahasiswa Indonesia berhasil mengalahkan Timnas Indonesia Junior 1-0 dalam pertandingan uji coba di Stadion Persija, Menteng, Jakarta, Selasa, 14 Agustus 1979. Gol tunggal kemenangan Tim Mahasiswa Indonesia dicetak Danurwindo pada menit ke-35. Pertandingan ini merupakan pertandingan uji coba terakhir bagi kedua tim. Timnas Indonesia Junior akan berangkat menuju Jepang pada 21 Agustus 1979 untuk Piala Dunia Junior 1979. Sehari sebelumnya (20 Agustus 1979), Tim Mahasiswa Indonesia akan berangkat menuju Meksiko untuk Universiade 1979. Tim Mahasiswa Indonesia terdiri dari 18 pemain yaitu Novrizal Chai, Boyke Adam, M. Junaedi, Danurwindo, Eddy Sudarmaji, Haryanto, Slamet Riyanto, Nurdin, Basyan, Sadhar Sinulingga, Freddy Hutabarat, T. Nurlif, Januar Arifin, Amrullah, Gerhard Runkat, Giat Sugiawan, M. Nasir Mahmud, dan Ganjar Nugraha.

 

Piala Dunia Junior 1979

Senin, 20 Agustus 1979, pagi, Wakil Presiden RI H. Adam Malik menerima pemain-pemain PSSI Junior yang akan diterjunkan di Kejuaraan Sepak bola Dunia Junior di Tokyo, Jepang. Rombongan Indonesia Junior ini diantar Ketua Umum PSSI Ali Sadikin dan Sekjen Hand Pandelaki serta beberapa official yang akan berangkat ke Tokyo. [Dalam foto terdapat pula chef de mission H. Maulwi Saelan.]

H. Adam Malik, sebagaimana dilaporkan Kompas edisi Selasa, 21 Agustus 1979, berpesan agar jangan takut menghadapi lawan-lawan yang diperkirakan lebih besar karena belum tentu yang lebih besar itu selalu menang. Yang penting berjuang sebab yang menentukan kemenangan itu perjuangan. Lebih lanjut, melalui suara Manajer Tim Sutjipto Soentoro, H. Adam Malik meminta agar para pemain yang masih muda itu jangan terus tidur walaupun sudah kalah. Masih ada kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan bangkit lagi di masa-masa mendatang.

Rombongan Indonesia Junior pun berangkat menuju Tokyo pada Selasa, 21 Agustus 1979. Menurut jadwal, timnas Indonesia Junior akan memakai kaos tim merah-putih lawan Argentina, putih-putih lawan Polandia, dan merah-putih lawan Yugoslavia.

Indonesia vs Argentina 0-5: Bertahan a la Tembok China

Lawan Argentina dengan Maradona-nya? Dengan rendah hati Sutjipto berkata, ia sudah tahu pasti akan kalah terhadap Argentina.

Meskipun sudah bertarung cukup gigih hingga menit terakhir, Indonesia dipaksa mengakui keunggulan Argentina 5-0 dalam Kejuaraan Dunia Sepak bola Junior di Stadion Omiya, bagian utara Tokyo, Minggu, 26 Agustus 1979, malam.

“Pemain-pemain Indonesia bermain baik sekali di babak kedua,” ujar Pelatih Argentina Caesar Luis Menotti sebagaimana dilaporkan Kompas edisi Senin, 27 Agustus 1979. Sementara Pelatih Indonesia Sutjipto Soentoro nampak puas meskipun kalah cukup telak.

“Biar kalah, saya tetap senang. Mereka bermain dengan semangat tinggi,” katanya. Hanya Sutjipto menyayangkan, seharusnya kekalahan itu tidak perlu demikian besar andaikata para pemain mengikuti instruksinya di babak pertama.

“Saya minta mereka bertahan total karena target kita mengurangi kekalahan menjadi sedikit mungkin. Tetapi ternyata hal itu tidak mereka lakukan. Mereka terbawa oleh pola permainan lawan yang kelasnya memang di atas kita”.

“Menjelang babak kedua, saya tekankan lagi pola permainan yang saya maksudkan. Bermain dengan formasi 5-4-1. Hasilnya anda lihat sendiri. Lawan tidak bisa mencetak gol,” tuturnya bersemangat.

[Catatan: Apa yang disampaikan Sutjipto Soentoro merupakan pendapat dirinya yang tentu saja berbeda dengan pendapat pihak lain. Sebutlah penampilan Indonesia di babak kedua yang sebetulnya pula bahwa Argentina tidak mau mengambil risiko (setelah menciptakan lima gol tanpa balas) oleh karena Argentina akan menghadapi dua lawan berikutnya.]

Indonesia vs Polandia 0-6: Strategi “Angin Puyuh”

Debut Indonesia di Piala Dunia Junior sudah terwujud. Pengalaman kalah telak pun sudah terjadi ketika dikalahkan Argentina 0-5. Selanjutnya, Indonesia akan berhadapan dengan Polandia. Kekalahan telak itu tidak mengendorkan semangat Indonesia. Lalu, bagaimana strateginya?

“Kami akan tampil dengan strategi angin puyuh,” ujar Sutjipto Soentoro sambil menambahkan, “Pokoknya kita akan menyerang total dan bertahan pula secara total.

Sutjipto Soentoro sudah berbicara dengan Caesar Luis Menotti dan mendapat nasihat untuk melakukan gebrakan sejak menit pertama melawan Polandia sehingga lawan menjadi kaget. “Kami akan memborbardir terus-menerus daerah lawan. Dengan kata lain, attacking-football,” katanya.

“Menyerang dengan sedikitnya 7 pemain dan bertahan dengan 7 pemain. Kalau diserang, kita akan bentuk tembok pertahanan seperti di babak kedua lawan Argentina. Kalau mereka sudah habis, nah kita serang habis-habisan. Dari pertandingan melawan Yugoslavia, meskipun mereka menang, kelihatan stamina pemain-pemain Polandia tidak begitu bagus,” ungkapnya.

Tampaknya Indonesia masih optimis. “Target kami memenangkan pertandingan. Karena kalau kalah lagi, peluang kita ke babak berikut pasti hilang,” kata Sutjipto meskipun diakuinya semua juga tergantung pada situasi di lapangan. Demikian Kompas edisi Selasa, 28 Agustus 1979.

Hasilnya? Kompas edisi Rabu, 29 Agustus 1979, membuat judul “Kesebelasan Junior Indonesia Masuk Kotak. Menyerah 0-6 pada Polandia” (Selasa, 28 Agustus 1979).

Indonesia vs Yugoslavia 0-5: Kalah Telak Lagi

Akhirnya, Indonesia harus menempati peringkat juru kunci Grup B Piala Dunia Junior 1979 setelah kalah 0-6 dari Yugoslavia di Stadion Omiya, Kamis, 30 Agustus 1979.

Berdasarkan laporan Kompas edisi Jumat, 31 Agustus 1979, sebelum pertandingan, instruksi yang diterima para pemain adalah bertahan total dengan tujuan memperkecil kekalahan. Tetapi kemudian ternyata para pemain punya semangat menyerang juga, dengan akibat daerah permainan menjadi lebar. Seperti pada dua pertandingan sebelumnya, pertahanan yang masih rapuh itu berkali-kali diterobos dengan operan-operan pendek “wall pass” dan kombinasi “satu-dua” tanpa banyak kesulitan.

Sabtu, 1 September 1979, rombongan PSSI Junior tiba kembali ke tanah air. Ketua Umum PSSI Ali Sadikin menyambutnya di Halim Perdanakusumah (Kompas edisi Senin, 3 September 1979).

Dalam perkembangannya, Argentina berhasil menjadi juara Piala Dunia Junior 1979 setelah dalam babak final mengalahkan juara bertahan Uni Soviet 3-1 (Jumat, 7 September 1979).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: