Timnas Indonesia di SEA Games 1979

Tidak terasa, SEA Games XXIX/2017 akan diselenggarakan di Malaysia pada 19-30 Agustus 2017. Berkaca pada sejarah, tanpa jasa baik Malaysia, dengan dukungan Indonesia dan Filipina (serta Brunei Darussalam), SEA Games mungkin tidak akan berumur panjang hingga akhirnya dapat diselenggarakan untuk yang ke-29 kalinya tahun ini.

Bagaimana tidak, tuan rumah SEA(P) Games selalu berputar-putar di Thailand, Burma, dan Malaysia, plus “terakhir kali” di Singapura (1973). Sementara Kamboja, Laos, dan Vietnam tidak bersedia untuk menjadi tuan rumah.

Krisis di SEA Games makin menjadi ketika Thailand menyelenggarakan SEA Games 1975 hanya diikuti oleh empat negara peserta. Itulah negara-negara yang pernah menjadi tuan rumah (Thailand, Burma, Malaysia, dan Singapura). Jumlah peserta paling minim sepanjang sejarah SEA Games (hingga kini). Sampai akhirnya, Malaysia bersedia meneruskan SEA Games ketika menyelenggarakannya pada 1977, asal Indonesia, Filipina, dan Brunei Darussalam, ikut serta plus menjadi tuan rumahnya.

Pada SEA Games 1977 itulah, Indonesia, Filipina, dan Brunei Darussalam ikut serta untuk yang pertama kalinya. Sayang, Kamboja, Laos, dan Vietnam justru mulai “hilang”. Kelak, ketiga negara itu tidak utuh hadir. Indonesia pun mulai menjadi tuan rumah SEA Games pada 1979 yang dilanjutkan Filipina pada SEA Games 1981.

Sementara giliran Brunei Darussalam yang menjadi tuan rumah SEA Games 1983 malah mengundurkan diri karena sedang mempersiapkan kemerdekaannya. Kelak, Malaysia hendak menggantikan, yang akhirnya Singapura memiliki kesempatan. Begitu pun untuk tuan rumah SEA Games 1985, Brunei Darussalam pada 1983 kembali mengundurkan diri karena kekurangan ofisial teknis. Tuan rumah SEA Games 1985 pun direncanakan pindah ke Malaysia, tetapi dalam perkembangannya “diperebutkan” oleh Thailand dan Indonesia. Akhirnya, Thailand yang dipilih sebagai penyelenggara SEA Games 1985. Barulah giliran Indonesia lagi pada 1987.

Timnas Indonesia

Selasa, 4 September 1979. PSSI, melalui Sekjen PSSI H.A. Pandelaki, mengumumkan 18 nama pemain timnas Indonesia untuk SEA Games 1979 yang diselenggarakan pada 21-30 September 1979 di Jakarta, Indonesia. Mereka adalah Purwono, Wayan Diana, Rudy Kelces, Rae Bawa, Joko Malis (Niac Mitra), Izhak Liza, Iswadi Idris (Jayakarta), Simson Rumahpasal, Rully Nere, Ronny Pattinasarani, Risdianto (Warna Agung), Wahyu Hidayat, Dede Sulaeman (Indonesia Muda), Berty Tutuarima (Persija), dan Effendi Marico (PSMS). Selain itu, ada juga tiga nama baru yaitu Haryanto (Tidar Sakti) dan dua pemain Warna Agung (Tinus Heipon dan Gusnul Yakin).

Disebut nama baru karena sebelumnya ketiganya tidak “terpilih”. Ya, sebelumnya, pada 31 Agustus 1979, KONI Pusat memang sudah mengumumkan ke-18 nama pemainnya. Hal itu sangat mengejutkan PSSI karena PSSI menganggap nama-nama yang dikirimkannya belum final. (Encas Tonip, pemain Persib di Pra Piala Asia 1980 misalnya, merasa kebingungan karena informasi yang mendadak itu tanpa disertai surat tugas dari PSSI Utama ke PSSI Pratama. Ia tidak ikut SEA Games 1979. Ia yang dipindahkan ke PSSI Pratama pun merasa kesulitan masuk pelatnas, karena President’s Cup 1979 segera dimulai. Encas Tonip malah asyik beruji coba ketika Persib melawan PSSI Jabar. Ia pun menjadi skuad Persib di Piala Jusuf 1979).

Itulah salah satu dinamika perekrutan pemain timnas Indonesia menjelang SEA Games 1979. Sejak April 1979, PSSI sudah mengumumkan para pemainnya untuk pelatnas. Saat itu, ada PSSI Utama dan PSSI Pratama. Ada juga nama-nama pemain yang akhirnya dipindahkan ke timnas Indonesia junior untuk Piala Dunia Junior 1979 di Jepang (Bambang Nurdiansyah misalnya) dan Universiade 1979 di Meksiko.

Bukan hanya itu, di dalam dinamikanya, ada pemain yang indisipliner dan juga pemain yang tidak fit atau sakit (kedua penjaga gawang, Novrizal Chai dan Taufik Lubis misalnya). Hal yang menarik, tentu saja soal krisis penjaga gawang. Endang Tirtana yang dijebol enam gol ketika melawan Malaysia di Merdeka Games Cup 1979 misalnya turut dipertimbangkan. Juga Sudarno. Alhasil, Haryanto yang dipanggil saja karena bisa menahan tendangan penalti Iswadi Idris ketika uji coba di akhir menjelang SEA Games 1979.

Pada masa ini, PSSI Pratama asuhan Sumahar Paisan (manajer)/M. Basri (pelatih) dipersiapkan untuk (Pra) Piala Asia 1980 yang bermain pada 1979 di Thailand. PSSI Utama asuhan E.A. Mangindaan (manajer)/Marek Janota (pelatih) dipersiapkan untuk Piala Jepang 1979 di Jepang. Jika (Pra) Piala Asia dan Piala Jepang dijadikan sebagai “sasaran antara” maka SEA Games 1979 dijadikan sebagai “sasaran utama”.

Sayang, di (Pra) Piala Asia dan Piala Jepang, timnas Indonesia hancur lebur. Karenanya, PSSI ingin menjadikan timnas untuk SEA Games 1979 sebagai timnas yang kuat.

Ada pelatnas PSSI Utama di Lembang (Kabupaten Bandung, kini Kabupaten Bandung Barat) yang kemudian mulai 10 Agustus 1979 pindah ke Bogor dengan alasan di Lembang terlalu dingin. Pelatnas PSSI Utama ini dilatih oleh Ipong Silalahi dan Sartono (keduanya asisten Marek Janota di Piala Jepang 1979) di bawah pengawasan E.A. Mangindaan (Dewan Pelatih) yang juga bertindak sebagai pelatih, sambil menunggu pelatih dari luar negeri (kelak, bernama Wiel Coerver). Sebelumnya, Marek Janota yang gagal total di Piala Jepang 1979, ditugaskan di KONI DKI Jaya untuk menatar.

Pelatnas PSSI Utama ini memang cukup unik. Tentu ada keluar-masuk pemain. Biasanya tukar-menukar dengan PSSI Pratama. Selain itu, ada juga pemain “asli” dan pemain “tamu”. Bukan itu saja, ada juga pelatih “asli” dan pelatih “tamu”. Mereka dilatih oleh enam trainer yaitu Ipong Silalahi, Hindarto, dan Sartono sebagai trainer utama, serta Endang Witarsa, Sinyo Aliandu, dan Harry Tjong sebagai trainer tamu. Khusus untuk Hindarto, juga sebagai penerjemah.

Sebelum penyelenggaraan SEA Games 1979, kedua timnas di-ujicoba-kan ke luar negeri. PSSI Utama ke Merdeka Games Cup 1979 di Malaysia, sedangkan PSSI Pratama ke President’s Cup 1979 di Korea Selatan. PSSI Pratama diasuh Sumahar Paisan (manajer) serta Aang Witarsa dan Ipong Silalahi sebagai pelatih. Selain itu, ada peristiwa lain, E.A. Mangindaan mengundurkan diri dari jabatan manajer PSSI Utama.

Wiel Coerver

Wiel Coerver yang pada 15 Juni 1979 datang lagi ke Indonesia menjelaskan kehadirannya itu hanya untuk menghabiskan sisa masa kontraknya dengan PSSI. Ia pernah dikontrak PSSI di masa kepengurusan Bardosono, tetapi terpaksa kembali ke Belanda sebelum kontrak berakhir karena kesehatannya yang terganggu. Ia mengindap penyakit jantung.

Kesehatannya ini juga yang menurut Coerver, membuat ia paling-paling bisa sekadar bertindak sebagai penasihat teknis dan tidak bisa terjun langsung ke lapangan menangani pemain. Menurut dokter, ia tidak boleh turun ke lapangan hingga Oktober 1979. (Di tengah “kesibukannya”, Coerver sedang menulis buku pelatihan. Pada masa ini, PSSI Pratama pun berlatih di bawah pengawasan Wiel Coerver. Pada 5 Juli 1979, ia balik lagi ke Belanda untuk memeriksa kesehatannya yang kemudian datang lagi ke Indonesia pada 22 Juli 1979. Di Indonesia, ia bertindak sebagai supervisor timnas. Dialah yang menyusun nama-nama pemain timnas Indonesia).

Sampai akhirnya, PSSI mengumumkan 18 pemain untuk SEA Games 1979 yang didampingi official: M. Rais (manajer) dan pelatih (Harry Tjong dan Sartono).

SEA Games X/1979

SEA Games X/1979 dibuka secara resmi oleh Presiden RI Soeharto di Stadion Utama, Senayan, Jakarta, Jumat, 21 September 1979. Inilah untuk pertama kalinya SEA Games berlangsung di Indonesia.

Dalam cabang olahraga sepak bola, timnas Indonesia begitu optimis, tetapi tetap berhati-hati. Indonesia membuka peluang setelah mengalahkan Singapura 3-0 di pertandingan pertama. Namun, Indonesia harus mengakui keunggulan Thailand 1-3 di pertandingan kedua.

Kemenangan kedua ini membuat Thailand berpeluang besar maju ke babak grandfinal. Sebelumnya, Thailand menang 1-0 atas Burma. Sementara itu, juara bertahan Malaysia begitu santai. Apalagi ketika Indonesia tidak mampu mengalahkan Malaysia. Malaysia pun menahan Indonesia 0-0.

Malaysia berhasil lolos ke babak grandfinal setelah menjungkalkan Thailand 1-0. Satu tiket lagi akan diperebutkan oleh Indonesia dan Thailand.

Indonesia kritis. Sementara Thailand yang berpeluang besar lolos ke grandfinal, perjalanannya malah terhambat setelah dikalahkan Malaysia 0-1.

“Beruntunglah” Indonesia. Kemenangan 2-1 atas Burma membuat Indonesia memiliki nilai dan selisih gol yang sama dengan Thailand. Keesokan harinya, Indonesia dan Thailand pun harus bertanding dalam play-off. Tidak bermain normal, tetapi hanya adu tendangan penalti.

Akhirnya, Indonesia berhasil lolos ke grandfinal setelah menang 3-1 atas Thailand melalui adu tendangan penalti. Tentu saja, Thailand merasa kecewa. Alasannya, Thailand merupakan kesebelasan yang berpeluang besar lolos ke grandfinal sejak hari pertama.

Sayang, tuan rumah Indonesia gagal mempersembahkan medali emas. Gelar juara diraih juara bertahan Malaysia setelah mengalahkan Indonesia 1-0 melalui gol Mokhtar Dahari pada menit ke-17.

Sakiiittt…!

Pertandingan grandfinal itu disaksikan hampir 100.000 penonton. Malaysia, Indonesia, dan Thailand, masing-masing meraih emas, perak, dan perunggu. Medali-medali itu diserahkan oleh Wakil Presiden RI Adam Malik, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef, dan Menteri Muda Urusan Pemuda Abdul Gafur. Setelah itu, SEA Games 1979 ditutup secara resmi oleh Wakil Presiden RI Adam Malik, Minggu, 30 September 1979.

Formasi pemain di grandfinal SEA Games 1979:

Indonesia: Haryanto (penjaga gawang), Simson Rumahpasal, Ronny Pattinasarani, Wayan Diana, Tinus Heipon, Berty Tutuarima, Rudy Kelces/Rae Bawa, Rully Nere/Joko Malis, Dede Sulaiman, Risdianto, dan Iswadi Idris.

Malaysia: Hamid Ramli (penjaga gawang), Jamal Nasir, Soh Chin Aung, Santokh Singh, Davendran, Shokur Saleh, Abdah Alif, Mokhtar Dahari, Hassan Sani, James Wong, dan Abdullah Ali.

 

Hasil Pertandingan Sepak Bola SEA Games 1979:

[Stadion Utama, Senayan, Jakarta]

 

Sabtu, 22 September 1979:

Indonesia vs Singapura 3-0 (Iswadi Idris 53, Rully Nere 70, Joko Malis 82)

Thailand vs Burma 1-0 (Ratanatisoi 78)

Minggu, 23 September 1979:

Indonesia vs Thailand 2-2 (Dede Sulaeman 2; Chuayboonchom 47, Pongsri 56, 89)

Singapura vs Malaysia 0-2 (Hassan Sani 35, Mokhtar Dahari 85penalti)

Senin, 24 September 1979:

Malaysia vs Burma 0-0 (?)

Thailand vs Singapura 2-2 (Napatalung 7, 89; Arshad Khamis 37, Wong Kwok Choy 43)

Rabu, 26 September 1979:

Malaysia vs Indonesia 0-0 (?)

Singapura vs Burma 2-1 (Wong Kwok Choy 31, 89; Maung Nu 10)

Jumat, 28 September 1979:

Malaysia vs Thailand 1-0 (Abdullah Ali 58)

Indonesia vs Burma 2-1 (Risdianto 25, Iswadi Idris 58; Than Win 7)

Sabtu, 29 September 1979:

Indonesia vs Thailand 3-1 (hanya adu tendangan penalti)

 

Grandfinal

Minggu, 30 September 1979:

Malaysia vs Indonesia 1-0 (Mokhtar Dahari 17)

 

Malaysia 4 2 2 0 3-0 6

Indonesia 4 2 1 1 6-4 5

Thailand 4 2 1 1 6-4 5

Singapura 4 1 1 2 4-8 3

Burma 4 0 1 3 2-5 1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: