Timnas Indonesia dan Ajax (1981)

Selasa, 17 Februari 1981, rombongan Ajax Amsterdam tiba di Landasan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Rencananya, klub Liga Belanda itu akan berhadapan dengan PSSI Utama, Kamis, 19 Februari 1981, di Stadion Utama, Senayan, Jakarta. Kedatangannya, tanpa Simon Tahamata. Padahal, sejak pembicaraan setahun sebelumnya, pemain berdarah Maluku itu masih menjadi bagian dari Ajax. Ketika Ajax tiba di Indonesia, Simon Tahamata dikabarkan sudah menjadi bagian dari Standard Liege (Belgia).

Keesokan harinya, Rabu, 18 Februari 1981, Manajer PSSI Utama, Syarnubi Said, mengumumkan 18 pemainnya. Mereka adalah penjaga gawang: Purwono (Niac Mitra), Taufik Lubis (PSMS); belakang: Simson Rumahpasal, Ronny Pattinasarani, Didik Darmadi (Warna Agung), Nasir Salasa, Chris Wakano (UMS 80), Subangkit (Jaka Utama), Suharno (Pardedetex); tengah: Herry Kiswanto, Zulham Effendi (Pardedetex), Rully Nere (Warna Agung), Berti Tutuarima (Bintang Timur), Suapri (Jayakarta), Metu Duaramuri (Persipura); depan: Hadi Ismanto (Indonesia Muda), Bambang Nurdiansyah (Arseto), dan Bambang Sunarto (Jaka Utama).

(Catatan: Zulham Effendi, pemain yang diskors Pardedetex dan dikukuhkan PSSI, masih dimasukkan. Satu pemain lagi, Abdi Tunggal, “dipersiapkan” sebagai tambahan “jika ada pemain yang berhalangan masuk”).

Dalam pengumumannya, Syarnubi menyatakannya sebagai “Konsep Syarnubi Sendiri”. Maksudnya, “Ya kita-kita ini” sambil menunjuk dirinya dan E.A. Mangindaan (Kompas edisi 19 Februari 1981). Ke-18 pemain PSSI Utama itu, selain untuk menghadapi Ajax (19 Februari 1981), juga timnas Jepang (24 Februari 1981). Khusus melawan Jepang, timnas lain juga dipersiapkan yaitu PSSI Pratama asuhan Manajer Dimas Wahab/pelatih Iswadi Idris pada 22 Februari 1981. PSSI Utama dipersiapkan untuk Pra Piala Dunia 1982 [main 1981] dan SEA Games 1981. Tentu saja masih ada keluar-masuk pemain).

Harry Tjong, pelatih, sendiri baru diberitahukan nama-nama ke-18 pemain tersebut beberapa saat sebelum diumumkan. Ia tidak diajak bicara untuk penentuan nama-nama pemain itu. Pelatih yang selama ini menanganinya bersama Sartono dan Hindarto tampak gusar dan protes kepada asisten manajer PSSI Utama, Uteh Reza Yahya.

PSSI Utama vs Ajax

Akhirnya, pertandingan PSSI Utama melawan Ajax terjadi juga. Dalam pertandingan “uji coba” itu, PSSI Utama bermain imbang 0-0 melawan Ajax di Stadion Utama, Senayan, Jakarta (19 Februari 1981). Tampak 70.000 penonton menyaksikan pertandingan itu.

Menurut laporan Kompas edisi 20 Februari 1981, PSSI Utama tampak unggul dalam stamina, sedangkan Ajax berhasil menutupi kelemahan daya tahan fisik itu dengan taktik pertahanan yang solid. Perjalanan panjang dari Eropa yang masih dingin dan kesibukan kompetisi dan kejuaraan yang padat tampaknya merupakan faktor terbesar yang melemahkan kondisi fisik Ajax.

Iklim dan permainan defensif PSSI Utama adalah dua hal yang menurut pelatih Ajax Leo Beenhaker menjadi sebab kegagalan timnya mencetak kemenangan. Sementara pelatih PSSI Utama Harry Tjong menunjuk pada lemahnya serangan balik sebagai sebab kegagalan. “Kita cukup mampu bertahan, tetapi untuk melakukan serangan balik, kita tidak memiliki pemain lapangan tengah yang diharapkan,” ujar Harry Tjong.

Pelatih Ajax, Leo Beenhaker, menjelaskan, iklim di negerinya sekarang sekitar tiga derajat celcius. “Banyak pemain saya baru pertama kali ini main di negeri tropis. Mereka sudah bekerja keras,” ujarnya.

Namun, ia menegaskan, iklim itu tidak bisa dijadikan alasan. “Pemain profesional seharusnya siap bertanding dalam kondisi apa pun. Saya lebih melihat kegagalan kami pada kejelian tim anda mengatur strategi,” ungkapnya.

PSSI Utama: Purwono (penjaga gawang), Simson Rumahpasal, Ronny Pattinasarani, Suharno, Didik Darmadi, Herry Kiswanto, Berti Tutuarima, Metu Duaramuri/Suapri, Rully Nere, Hadi Ismanto, dan Bambang Nurdiansyah.

Ajax: Piet Schrijvers/Hans Galje (penjaga gawang), Jan Weggelaar, Wim Jansen/Frank Rijkaard, John Sten Ziegler, Edo Ophor/Peter Boeve, Sorren Lerby, Henning Jensen, Frank Arnesen, Tscheu La Ling, Dick Schoenakers, dan Piet Hamberg/Wim Kieft.

 

Iklan

2 Comments »

  1. 1
    Novianto Says:

    Bung novan bahas juga pertandingan melawan Jepang di bulan februari 1981


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: