Piala Asia Junior 1961: Indonesia Juara

Pada 7-17 November 2009 ini, Indonesia [Stadion Si Jalak Harupat, Soreang (Kabupaten Bandung)] akan menjadi tuan rumah Piala Asia Junior (Piala Asia U-19). Namun, sebelum itu, mari kita simak kisah perjalanan tim nasional (timnas) Indonesia Junior ketika menjadi juara Piala Asia Junior untuk pertama kalinya (tahun 1961). Pada masa inilah Indonesia merebut Abdul Rachman Gold Cup.

Asia-U19-2010Kisah berawal pada 18 Februari 1961 ketika 27 pemain seleksi diikutsertakan dalam pelatihan di Lapangan Kebayoran, Jalan Sisingamangaraja, Jakarta Selatan. Mereka dibina oleh Tony Pogaknic (pelatih timnas Indonesia Senior), Djamiat Dhalhar, dan Maulwi Saelan. Singkat cerita, rombongan timnas Indonesia pun berangkat menuju Bangkok, Muangthai (Thailand), dengan menggunakan pesawat “Borobudur” Garuda Indonesia Airways.

Pada Piala Asia Junior 1961, Indonesia membawa 18 pemainnya yaitu Hardi Purnomo, Faisal Jusuf, Sonny Sandra, Idris Mappakaja, Rasjid Dahlan, Ipong, Agam, Djumadio, Andjiek Alinurdin, Bob Hippy, Kuswanadji, Pirngadi, Suwardjo, Bogor, Saptono, Hussein, Suparno, dan Willem Souw.

Luar biasa! Indonesia pun berhasil meraih gelar juara (bersama Burma) dalam Piala Asia Junior 1961 di Bangkok, Muangthai. Inilah hasil pertandingan yang dilakukan Indonesia: vs Vietnam Selatan 2-0, Jepang 2-1, Korea Selatan 2-2, Singapura 1-1, dan Burma 0-0.

Dalam perjalanan pulang ke Indonesia, timnas Indonesia Junior asuhan Djamiat Dhalhar (pelatih) itu melakukan pertandingan persahabatan (friendly games) melawan Malaya (kini, Malaysia) dan Singapura. Hasilnya, menang 4-2 atas Malaya dan 4-3 atas Singapura Selection.

Di Jakarta (Indonesia), rombongan disambut Ketua Umum PSSI Abdul Wahab Djojohadikoesoemo. Tampak pula Bob Hippy, sang topscorer.

Peringkat Piala Asia Junior 1959, 1960, dan 1961:

Piala Asia Junior 1959:

(1) Korea Selatan, (2) Malaya, (3) Jepang, (4) Hongkong, (5) Muangthai, (6) Burma, (7) Singapura, (8) Srilangka, dan (9) Filipina.

Piala Asia Junior 1960:

(1) Korea Selatan, (2) Malaya, (3) Jepang, (4) Indonesia, (5) Burma, (6) Muangthai, (7) Filipina, (8) Singapura.

Piala Asia Junior 1961: Lanjutkan membaca

Piala Kampoeng Semawis 2009: PSIS Juara…!

Tuan rumah PSIS Semarang berhasil menjadi juara Piala Kampoeng Semawis 2009 setelah dalam pertandingan terakhirnya menang 1-0 atas Persibo Bojonegoro di Stadion Jatidiri, Semarang (Minggu, 1 November 2009).

 

Hasil lengkap Piala Kampoeng Semawis 2009: Lanjutkan membaca

Debut Timnas Indonesia (1951): Indonesia vs Sino Malay (Singapura) 6-0

Bentuk negara Indonesia yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 telah kembali dari negara serikat (Republik Indonesia Serikat) ke negara kesatuan (Republik Indonesia) pada 17 Agustus 1950. Keadaan di Indonesia pun mulai normal kembali, termasuk “menormalkan” PSSI yang “lahir” pada September 1950. Keadaan yang normal itu diartikan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan negara kita tidak diwarnai peperangan lagi.

Pada masa ini, ketika Indonesia akan memperlihatkan aktivitasnya kepada dunia internasional dengan cara mengikuti Asian Games (pada masa ini, Asiade) I/1951 pada Maret 1951 di New Delhi (India), Indonesia secara tergesa-gesa membentuk tim nasional (timnas). Padahal, kompetisi (baca: Kejuaraan Nasional PSSI) baru mulai digelar pada Juni (dari semula Mei) 1951.

Akhirnya, para pemain dikumpulkan. Mereka berlatih pada 2-20 Februari 1951 tanpa pelatih (?) karena Choo Seng Quee (pelatih timnas Indonesia) telah meninggalkan Yogyakarta sejak 1 Februari 1951. Lanjutkan membaca

Timnas “Darurat” sebagai Timnas Era Baru (1962): Indonesia vs Vietnam Selatan 1-2

Jakarta (Indonesia) telah ditetapkan sebagai tuan rumah Asian Games IV/1962. Khusus untuk cabang olahraga sepak bola, Indonesia (dalam hal ini, PSSI) telah bersiap untuk membentuk tim nasional (timnas)-nya.

Suasana ceria bagi Indonesia mulai muncul kembali pada 1961. Saat itu (April 1961), timnas Indonesia (junior) berhasil menjadi juara (bersama Burma) dalam Piala Asia Junior di Bangkok, Thailand. Agustus 1961, timnas Indonesia (senior) pun berhasil meraih juara Merdeka Games Cup di Kualalumpur, Malaysia. Lalu, perpaduan senior dan junior berhasil menjadi juara Aga Khan Cup di Dacca, Pakistan (Timur) —kini, Bangladesh.

Dengan pemain-pemain yang memadai dan cukup potensial itu, PSSI mulai melakukan beberapa percobaan (eksperimen) antara senior dan junior. Maka, lahirlah timnas Indonesia Banteng (senior) dan timnas Indonesia Garuda (junior). Ada kalanya, dibentuk pula Indonesia Kombinasi A dan Indonesia Kombinasi B.

Indonesia cukup beruntung. Pada 1962 (seperti tahun-tahun sebelumnya), Indonesia mendapat kunjungan tim-tim dari luar negeri untuk melakukan pertandingan uji coba (persahabatan). Diawali Torpedo Moskow (Uni Soviet), Yugoslavia Selection, Malmoe (Swedia), dan Petrolul (Rumania). Tidak hanya itu. Salah satu peserta Asian Games IV/1962, Thailand, turut berkunjung. Lanjutkan membaca

Bagaimana NMR Mengelola Data?

NovanMediaResearch. Nama ini merupakan sebuah nama yang baru ditemukan kemudian. Pada awalnya, nama blog yang akan dipakai ialah seperti nama domain DotCom terdahulu. Sayang, nama “lama” itu sudah didaftarkan orang lain pada WordPress. Karena itu, mau tidak mau, lahirlah NovanMediaResearch.

Namun, untuk menyapa Anda, Saya lebih suka menulis NMR saja. Ya, nama NMR tampak lebih netral daripada “Saya”. Tidak heran, selain NMR, kata “Kami” sempat muncul beberapa kali. Bagaimana pun, nama yang netral itu akan membuat kesan dan posisi di tengah. Dampaknya, Ia tidak merasa paling benar dan siap menerima koreksi dari para pengunjung (netter).

vansantai

Blog NMR mulai online pada 15 Juni 2009. NMR merasa rindu untuk menulis kisah-kisah sepak bola Indonesia. Karena merasa rindu untuk berjumpa dengan para pencinta sepak bola di tanah air, akhirnya secara kilat, lahir NMR tadi. Ada kesan terburu-buru. Singkat cerita, satu minggu sebelum 15 Juni 2009, NMR pun sempat memberitahukan keberadaan blog tersebut antara lain kepada Karel J. Stokkermans (RSSSF). Maklum, situs web DotCom yang lama telah “hilang”. Padahal, DotCom itulah, selain email, yang menjadi “sarana komunikasi” antara NMR dan RSSSF (Karel J. Stokkermans dan Neil Morrison).

NMR bersyukur dapat mengenal blog (WordPress) ini —ada “Komentar” dan yang menggembirakan ada “Link Pencarian” dan “Traffic” sehingga dapat mengetahui keinginan dan/atau kebutuhan para netter. Kenapa blog yang dipakai? Karena blog bersifat lebih “personal” sehingga NMR lebih mudah menyampaikan “curahan hati”. Gaya bahasa “curahan hati” tentu berbeda dari gaya bahasa dalam beberapa “buku” NMR karena di sana memakai gaya bahasa resmi. Ya, namanya juga blog :)

Selain itu, ada ruang “Komentar” dalam blog ini. Hal itu sangat berbeda dari tampilan DotCom terdahulu yang tanpa “Komentar” (pada masa lalu, NMR hanya menerima masukan melalui email). Dengan demikian, NMR dapat menghindari sikap arogan dan egois (baca: tidak mau menerima koreksi dari orang lain). Semua menjadi terbuka karena siapa pun dapat menulis dan membaca “Komentar”.

Bagaimana NMR mengelola data? Mengelola data sepak bola di negeri kita memang cukup melelahkan. Di sana-sini tampak tidak konsisten, baik NMR, masukan Anda, media massa, maupun PSSI. Misalnya untuk menulis nama klub. Ada kesan, semua saling mengutip satu sama lain. Tidak ada pegangan baku, termasuk jadwal-jadwal (format PDF) dari PSSI. Dampaknya, NMR pun sempat terlambat untuk meng-online-kan divisi I, divisi II, divisi III, dan sebagainya. Dengan keterbatasan, semua harus di-check and recheck, termasuk dengan data-data tahun-tahun sebelumnya. Ah…, tampak membingungkan.

Mari kita simak satu per satu! Lanjutkan membaca

Yang “Unik” di NAD: 26 Perserikatan dari 23 Kabupaten/Kota

Tahukah anda kenapa NMR belum menampilkan Divisi I, Divisi II, dan Divisi III…? Itu karena ada data yang mesti di-check and recheck. NMR memperoleh masukan-masukan yang perlu diperiksa, termasuk jadwal-jadwal yang ada. Wah…, cukup membingungkan! Bagaimana pun terima kasih atas masukannya. Mungkin dalam Divisi I, II, dan III ini pun ada yang mesti diedit (baca: dirapikan). Salah satu tulisan kali ini yaitu “Ada 26 tim (Perserikatan) di Provinsi Naggroe Aceh Darussalam. Padahal, di provinsi ini hanya ada 23 kabupaten/kota. Berikut ulasannya. Inilah salah satu yang “membingungkan”.

Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) merupakan salah satu dari 33 provinsi di Indonesia. Provinsi yang pada masa lalu disebut DI (Daerah Istimewa) Aceh itu merupakan provinsi paling barat di Indonesia. Kini, provinsi NAD memiliki 23 kabupaten/kota yang terdiri dari 18 kabupaten dan 5 kota.

Seperti di daerah-daerah lainnya, di setiap kabupaten/kota didirikan perserikatan (bond). Sebutlah Persiraja (Persatuan Sepak bola Indonesia Kuta Raja) sebagai perserikatannya kota Banda Aceh.

Namun, ada yang “unik” dalam persepakbolaan NAD akhir-akhir ini. Paling tidak, hal itu berdasarkan informasi terbatas yang diperoleh NMR. Apa itu? Ya, meskipun NAD memiliki 23 kabupaten/kota, ternyata ada 26 tim (Perserikatan) yang ikut serta dalam kompetisi PSSI tahun (2009-2010) ini.

Liga Super Indonesia:

(Tidak ada) Lanjutkan membaca

“Sedih”-nya Putra Samarinda, “Senang”-nya Petrokimia Putra

Persisam dan Persisam Putra. Apakah ada perbedaannya? Kita mengetahui bahwa Persisam merupakan perserikatannya kota Samarinda. Persisam Putra? Persisam Putra merupakan klub gabungan (merger) antara dua klub yang berasal dari kota Samarinda yaitu Persisam dan Putra Samarinda. Jadi, jelas, dua nama itu berbeda.

Pada masa lalu, Persisam merupakan peserta kompetisi Perserikatan —kompetisi ini sering diidentikkan sebagai kompetisi amatir. Begitupun Putra Samarinda yang pernah mengikuti kompetisi Galatama (dan Liga Indonesia) —kompetisi ini sering diidentikkan sebagai kompetisi (semi) profesional.

Lalu, apakah bisa “klub sepak bola utama” yang profesional melakukan merger dengan “klub Perserikatan” yang amatir? Tidak rasional, bukan? Lanjutkan membaca

Klub Indonesia di LCA 1986: Yanita Utama atau PSMS?

Anda mengetahui daftar juara Galatama dari berbagai versi? Apakah anda bingung? Tenang…, NMR pun sebenarnya bingung? Mengapa bingung? Ya, karena selama ini tidak ada pegangan yang baku. Namun, NMR mencoba mengutak-atiknya dari keikutsertaan Indonesia di Kejuaraan Antarklub ASEAN I/1984 —dalam perkembangannya bermuara pada Piala Champions Asia (kini, Liga Champions Asia) 1986. Jadi, dalam tulisan ini, bukan Galatama yang dibahas.

Pada masa lalu (entah kalau sampai saat ini), sebagian dari kita sering mencocok-cocokan daftar juara Galatama dengan keiukutsertaan klub-klub Indonesia di Liga Champions Asia (LCA) yang berserakan di internet. Tentu saja, akhirnya, terjadi “pembenaran” terutama pada penulisan tahun-tahun kompetisinya.

Nah, dalam tulisan kali ini, NMR mencoba membahas keikutsertaan Yanita Utama Bogor di Antarklub ASEAN I/1984. Lanjutkan membaca

Community Shield 2009: Persipura Juara…!

Persipura Jayapura (juara Liga Super Indonesia 2008-2009) akhirnya berhasil menjadi juara sejati dengan menjuarai Community Shield 2009 setelah mengalahkan Sriwijaya FC Palembang (juara Piala Indonesia 2008-2009) 3-1 di Stadion Andi Mattalatta, Makassar, Rabu (7 Oktober 2009). Dua dari tiga gol Persipura dicetak Boaz Solossa (menit 60 dan 84), sedangkan satu gol lagi dicetak Tinus Pae (66). Sementara itu, satu-satunya gol Sriwijaya FC diciptakan Keith Kayamba Gumbs (73).

LigaIndonesia

Susunan pemain: Lanjutkan membaca

Liga Jatim 2009: Persela Juara…!

Persela Lamongan berhasil menjadi juara Liga Jatim 2009 setelah dalam babak final yang berlangsung di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Selasa (6 Oktober 2009) mengalahkan Persema Malang 2-0. Dua gol kemenangan Persela masing-masing diciptakan Samsul Arif (menit ke-72) dan Martin Zada (90 penalti).

JawaPos

Hasil lengkap Liga Jatim 2009: Lanjutkan membaca