NovanMediaResearch
Maaf, "Kami" Berani Beda karena Data "Kami" memang Beda…!

Mar
15

pp-psibTanggal 14 Maret(1933-2014) merupakan saat yang bersejarah bagi masyarakat pencinta Persib (Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung). Setiap tahunnya, tanggal tersebut dimaklumi sebagai hari kelahiran perserikatan sepak bola (voetbal bond) dari Kota Bandung. Karenanya, tidak mengherankan, dari 14 Maret 1933 itu muncullah sebutan “Persib 1933”.

Namun, kelak, mungkin sebutan “Persib 1933” itu tidak relevan lagi. Faktanya, selain angka “1933”, pergantian nama yang akhirnya mengarah pada nama “Persib”itu pun masih menyisakan misteri.

Selama ini, catatan sejarah Persib masih mengacu pada pernyataan R. Ibrahim Iskandar. Tokoh yang disapa Mang Baim itu pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persib periode 1951-1957 dan kemudian Komisaris Daerah (kini Asosiasi Provinsi) PSSI Jawa Barat periode 1958 hingga akhir hayatnya (baca: wafat pada tanggal 15 April 1975).

Dalam “Sekilas Pandang Mengenai Persib” di buku “Pasang Surut 40 Tahun Persib” (buku peringatan HUT ke-40 Persib, 1933-1973), Komisaris PSSI Jawa Barat R. Ibrahim Iskandar menulis: “…Menurut keterangan BIVB termasuk salah satu pendiri PSSI. Entahpada tahun berapa BIVB hilang dan diganti namanya dengan PSIB. Ketika itu saya dengar bahwa di Bandung selainnya dari PSIB ada pula bond bangsa kita yang diberi nama NVB singkatan dari National Voetbal Bond. Akhirnya diketahui bahwa surat panggilan untuk bermain diterima dari Pengurus Persib dan menurut keterangan di Bandung tidak ada lagi lain bond dari bangsa Indonesia kecuali Persib. Ketentuan waktu mengenai peristiwa itu menurut keterangan adalah pada tanggal 14 Maret 1933…”.

Dari salah satu bagian dari tulisan itu, kita pun bisa menyatakan dan/atau menanyakan, antara lain: (1) BIVB merupakan salah satu pendiri PSSI, (2) BIVB menghilang, (3) mengapa dan kapan BIVB menghilang?, (4) Apakah hilangnya BIVB itu karena benar-benar menghilang ataukah karena berganti nama menjadi PSIB?, (5) R. Ibrahim Iskandar mendengar bahwa selain PSIB, ada juga bond lain, yaitu NVB, (6) Pada suatu waktu, diterimalah surat oleh Persib, bukan oleh BIVB atau PSIB lagi, karena selain Persib, tidak ada lagi bond lain, dan (7) Tanggal 14 Maret 1933 itu ketentuan waktu mengenai peristiwa apa?.

Sebelumnya, dalam “Riwayat Persib” di buku “Peringatan Ulang Tahun Persib ke-25” (1933-1958), R. Ibrahim Iskandar yang pada masa itu baru menjabat sebagai Komisaris PSSI Jawa Barat, menulis: “…Sebelum Persib dilahirkan, di Bandung berdiri Bond Sepak Bola Nasional ialah PSIB dan NVB yang kemudian dipersatukan pada bulan Maret 1933 dan bond baru ini diberi nama Persib…”. Dalam bagian lain, ia menulis: “…Perlu dicatat pula bahwa Persib ketika namanya PSIB turut pula mendirikan PSSI…”.

Sementara itu, Mohamad Achwani yang saat itu menjabat sebagai sekretaris umum Persib pernah membahas sejarah Persib. Dalam “Catatan Lintasan Sejarah Persib 14 Maret 1933-1993” yang berjudul “Persib Lahir sebagai Alat Perjuangan Bangsa”, Mohamad Achwani menulis: “…Sebelum Persib didirikan, di Kota Bandung pada saat itu telah berdiri bond sepak bola (voetbal bond) bangsa kita, yaitu BIVB (Bandungse Indonesise Voetbal Bond), yang kemudian namanya diubah menjadi PSIB (Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung). Perubahan ini seiring dengan meningkatnya semangat kebangsaan dan antipenjajahan. Kemudian juga karena adanya pengaruh langsung dari hasil kongres pemuda tahun 1928, yang terkenal dengan Sumpah Pemuda dan berisikan mengaku berbangsa-berbahasa-bertanah air satu, yaitu Indonesia…”. [Huruf tebal dari penulis.]

Dalam bagian lainnya, Mohamad Achwani pun menulis: “…Di samping BIVB, di Kota Bandung juga pada waktu itu telah berdiri bond sepak bola bangsa kita yang lainnya, yaitu NVB (National Voetbal Bond). Kedua perkumpulan itu menganut prinsip yang sama yaitu noncooperatif dengan Belanda…”. Ia pun melanjutkan: “…Untuk lebih menggalang persatuan dan kekuatan yang ada guna melawan keangkuhan bangsa Belanda, maka pada tanggal 14 Maret 1933, di tempat gedung Sekolah Karang Kaputran, Jl. Kepatihan Bandung (yang kemudian menjadi Hotel Rahayu), kedua perkumpulan bangsa kita ini bersepakat untuk melebur diri dan didirikanlah Persib (Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung). Sebelum melebur ke dalam Persib, BIVB pada tanggal 19 April 1930 bersama-sama bond sepak bola bangsa kita di kota lainnya…bersepakat untuk mendirikan PSSI di Yogyakarta”.

Tulisan Mohamad Achwani tadi tampak tidak jauh-jauh dari sumber-sumbernya yang disebutkan sebelumnya, yaitu buku HUT ke-25 Persib, buku HUT ke-30 Persib, buku HUT ke-40 Persib, buku HUT ke-60 PSSI, dan Arsip Sekretariat Persib.

Berdasarkan tulisan-tulisan tadi, penulis berpendapat bahwa sejarah Persib yang diulas terakhir tadi cukup pas. Artinya, seiring dengan salah satu bunyi Sumpah Pemuda, yaitu “menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia”, BIVB pun berganti nama menjadi PSIB. Hanya saja, kapan pergantian nama itu dilakukan, belum ditemukan bukti tertulis. Adapun nama BIVB itu sendiri pernah ditulis dalam beberapa sumber, antara lain “Bintang Mataram” (22-24 April 1930) dan “Sedio Tomo” (26 April 1930). Sumber-sumber media tersebut mencatat kisah sejarah pendirian PSSI pada 19 April 1930 yang antara lain didirikan oleh BIVB. BIVB itu pula, bersama SIVB Surabaya, VVB Solo, dan Hizboel Waton Yogyakarta pada 1927 di Surabaya mendirikan IVB, cikal bakal PSSI, meskipun dianggap gagal karena tidak berkembang.

Rangkaian BIVB, PSIB, dan Persib itu memperlihatkan keberlangsungan-keterkaitan Persib sebagai pendiri PSSI. Artinya, tidak ada sejarah yang putus, seperti dari pernyataan “BIVB yang ujug-ujug menghilang”. Lalu, jika BIVB menjadi PSIB dan akhirnya menjadi Persib pada 14 Maret 1933, apakah Persib lahir pada tanggal tersebut? Artinya, meskipun didahului oleh kelahiran BIVB dan PSIB, kita telah “bersepakat” bahwa Persib era baru berdiri pada 1933. Hal itu pun dalam perkembangannya memunculkan sebutan “Persib 1933”.

Sayang, fakta yang ditemukan penulis justru berkata lain. Majalah “Pandji Poestaka” No. 76, 22 September 1933, halaman 1192 melaporkan pembukaan Sportpark Tegallega Bandung. Dalam pembukaan Lapangan Tegallega untuk Persib itu, pada masa itu dimeriahkan oleh pertandingan Mosvia vs VIJ 3-0 (9 September 1933) dan PSIB vs VIJ 2-1 (10 September 1933).

Jika acuan kelahiran Persib pada tanggal 14 Maret (1933), kenyataannya tanggal 9 dan 10 September (1933) PSIB masih ada. Terlepas dari angka “tanggal” ini, sebutan “Persib 1933”tampaknya masih relevan.

Namun, “kontroversial” sejarah Persib tidak berujung sampai di situ. Dalam majalah “Pandji Poestaka” edisi tahun 1934 halaman 313 misalnya, PSIB tercatat sebagai satu dari 15 anggota PSSI. Artinya, nama PSIB masih ada pada tahun 1934.

Jadi, apakah sebutan “Persib 1933” masih relevan? Ya, sejarah Persib tampaknya masih menyisakan misteri dan sekaligus harus dikaji. [Foto: Jersey Persib ketika masih bernama PSIB.]

Feb
20

afcPada Oktober 2014 mendatang timnas Indonesia U-19 akan bertanding di putaran final Piala Asia U-19 tahun 2014. Dalam Piala Asia U-19 itu sendiri, Indonesia pernah mencatatkan dirinya sebagai juara, yakni pada 1961.

Berkaitan dengan periode penyelenggaraan, Piala Asia U-19 (d/h Piala Asia Junior saja) baru diselenggarakan pada 1959. Namun demikian, Indonesia baru berpartisipasinya pada 1960. Mengapa?

Terlepas dari jawaban atas pertanyaan mengapa, sebetulnya jawabannya ialah “keterpaksaan”, lebih khusus lagi “keterpaksaan” yang berkaitan dengan keanggotaan PSSI di AFC.

Sebagaimana kita ketahui bahwa AFC didirikan pada 1954 di Manila, Filipina, bersamaan dengan keikutsertaan Indonesia di Asian Games II/1954. Dampaknya, PSSI pun dianggap sebagai anggota AFC.

Namun, tampaknya tidaklah seperti itu. Selain yang datang pada saat pendirian itu bukanlah PSSI, melainkan delegasi olahraga Indonesia, PSSI pun sempat menunggu draft Anggaran Dasar AFC. Sejak itu, PSSI belum menjadi anggota AFC.

Dalam perkembangannya, ada latar belakang yang menciptakan jalan cerita. Adanya hubungan baik antara Ketua II AFC Tengku Abdulrachman (yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri Malaya, kini Malaysia) dan Menteri Penerangan Maladi menjadikan hubungan keanggotaan yang gonjang-ganjing itu mencair. Akhirnya, PSSI pun tercatat sebagai anggota penuh AFC terhitung sejak 20 Februari 1960.

Karenanya, untuk memenuhi undangan AFC, Indonesia bersedia untuk mengikuti Piala Asia Junior yang mulai digelar pada Maret 1960 di Kualalumpur, Malaysia. Ya, ibarat event peresmian.

Jan
30

Perses (Persatuan Sepak bola Sumedang) merupakan perserikatannya Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Perses Sumedang berdiri pada 30 Januari 1950. Hal itu berarti bahwa tepat hari ini perserikatan yang dibentuk antara lain oleh Djajusman, Sardjinan, dan Nawawi itu sudah 64 tahun atau delapan windu.

Sampai tahun 1960, berdasarkan buku HUT ke-30 PSSI (1930-1960), Perses merupakan salah satu dari 19 perserikatan anggota PSSI di Jawa Barat. Pada masa itu Banten, DKI Jakarta, dan Kalimantan Barat masih berada di dalamnya. Sebutlah ketiga perserikatan dari Banten (Persis Serang, Persita Tangerang, dan Persira Rangkasbitung). Ada pula Persija Jakarta (DKI Jakarta) dan PSP Pontianak (Kalimantan Barat). [Dalam catatan NovanMediaResearch, keberadaan bonden seperti ini bertahan hingga awal 1980-an.]

Jika berbicara tentang kepahlawanan suatu daerah maka kita akan mengedepankan nama-nama pahlawannya. Karenanya, tidak heran kalau kini banyak pihak mengajukan nama-nama pahlawan lokalnya untuk dikukuhkan menjadi pahlawan nasional. Hal itu wajar dan bisa dimaklumi. Dengan mengedepankan nama pahlawannya, generasi penerusnya akan merasa bangga. Dampaknya, generasi penerusnya akan berjuang karena “veteran”-nya sudah ada yang mencontohkan. Itulah potensi suatu daerah.

Begitu pun dalam dunia sepak bola. Karenanya, NMR hendak memberikan “kata kunci” untuk persepakbolaan Kabupaten Sumedang: Wowo, Jaffar Sidik, dan Stadion Ahmad Yani.

Wowo adalah salah seorang punggawa timnas Indonesia di Asian Games III/1958. [Data, paling tidak, sampai terbitnya buku HUT ke-25 Persib (1933-1958)] Pemain yang sempat menggusur nama besar Ramang (PSM Makassar) itu kelak dipanggil untuk Persib Bandung.

Jaffar Sidik? Dia adalah salah seorang generasi emas Persib era 1980-an. Kini ia bertindak sebagai anggota DPRD Kabupaten Sumedang.

Bagaimana dengan Stadion Ahmad Yani? Saya hanya ingin berbicara tentang stadionnya saja. Kabarnya, Stadion Ahmad Yani Sumedang ini kurang terurus. Wah, gimana dong?!

Sekadar info, pada masa itu (1960) kantor sekretariat Perses Sumedang beralamat di Jalan Gudang Kopi 317 B.

Dalam catatan NMR, prestasi terbaiknya ialah runner-up Divisi II LI 1996 Jawa Barat, juara Divisi II LI 1997 Jawa Barat (dan peringkat “8 Besar” nasional), dan runner-up Piala Komda Jabar 1991 di Bandung ketika di babak final harus mengakui keunggulan PSB Bogor 3-4 melalui adu tendangan penalti. Dari situ, Perses menempati peringkat ketiga dalam turnamen HUT UNI 1991 setelah menumbangkan PSB 3-1. [Sayang, Perses malah mengundurkan diri dari Divisi II LI 1998 Jawa Barat.]

Itulah sekilas Perses Sumedang. Kelak, dalam Kongres PSSI 1961 di Semarang, perserikatan di Jawa Barat bertambah dengan kehadiran Persikasi Bekasi dan Persindra Indramayu.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.