Ketika PSIS Juarai Turnamen untuk Fonds Yayasan Stadion Bandung 1951

Stadion Siliwangi yang berada di Kota Bandung belum dibangun. Bahkan namanya pun belum ada. Karenanya, stadion itu masih tanpa nama. Minimal: Stadion Bandung.

Untuk membangunnya, tentu dibutuhkan dana (fonds) yang tidak sedikit. Untuk menggalang dana itulah dibentuk Yayasan Stadion Bandung.

Dalam rangka memperkuat fonds Yayasan Stadion Bandung itulah sempat diselenggarakan turnamen segitiga di Stadion SIDOLIG, Kota Bandung. Ada tiga tim yang terlibat, yaitu PSIS Semarang, tim Divisi Siliwangi, dan tim Polisi. Dalam turnamen segitiga Fonds Yayasan Stadion Bandung itu, PSIS berhasil menjadi juaranya.

Hasil Pertandingan:

Jumat, 7 September 1951: Divisi Siliwangi vs PSIS 1-3

Sabtu, 8 September 1951: PSIS vs Polisi 0-1

Minggu, 9 September 1951: Polisi vs Divisi Siliwangi 1-3

Kemudian Letkol Dr. Wonojudo selaku Ketua Panitia Yayasan Stadion Bandung memberikan hadiah piala kepada ketiga pemimpin tim. Sementara Freddy Timisela (Divisi Siliwangi) dianugerahi sebagai pemain terbaik dan memperoleh hadiah sepasang sepatu. [Tulisan ini merupakan bagian dari Sejarah Stadion Siliwangi-nya NovanMediaResearch.]

Sepak Bola Gajah atau Sepak Bola Unjuk Rasa di Perserikatan 1993/1994

Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, 11 Januari 1994. Saat itu, tuan rumah PSIM mengalahkan PSIS 1-0 dalam Perserikatan 1993/1994. Sayang, kemenangan PSIM itu dibarengi dengan pengrusakan oleh suporter ketika berpawai kemenangan. Tabloid BOLA edisi Minggu Pertama April 1994 pun melaporkan: “…Sampai mobil mantan Gubernur Jateng, Ismail, ikut terkena ulah mereka…”. [Sebelumnya, suporter PSIM bentrok dengan suporter Persebaya ketika kedua tim itu berjumpa di Yogyakarta.]

Akibatnya, PSIM dikenai hukuman tidak boleh menyelenggarakan pertandingan di dalam kota Yogyakarta dan tidak boleh ditonton massa. Alasan inilah yang melatarbelakangi mengapa Bertje Matulapelwa, pelatih PSIM, mendukung gaya sepak bola unjuk rasanya Drs. H. Agil H. Ali.

Apa itu sepak bola unjuk rasa? Sebelum menjelaskannya, sepak bola unjuk rasanya Agil dipicu oleh kekalahan 1-2 Persebaya dari tuan rumah PSIS di Stadion Jatidiri, Semarang, 26 Januari 1994. Gol Yongki Kastanya pada menit 34 tidak mampu mengimbangi PSIS melalui dua gol penaltinya Syafril Usman pada menit 18 dan 62. Agil menuding kekalahan timnya dari PSIS akibat wasit yang memimpin pertandingan, Helmi Piliang, berat sebelah.

“Kemenangan PSIS tidak sportif. Maka layak kalau kami membalas dengan mengalah 0-5 pada Persema dan 0-4 pada PSIM,” begitu komentar Agil. Hasilnya, Persebaya memang kalah di Stadion Gelora 10 November, Surabaya, tetapi tidak sebesar itu. Berdasarkan data NovanMediaResearch, Persebaya kalah 1-3 dari Persema (30 Januari 1994) dan 2-3 dari PSIM (5 Februari 1994). Jangan lupakan pula kekalahkan PSIM dari tuan rumah Persegres 1-2 di Stadion Tridharma, Gresik (31 Januari 1994).

Maksud hati ingin menyingkirkan PSIS lolos ke babak “8 Besar”, apa daya Persiba Balikpapan yang jadi korban. Persiba Balikpapan pun menempati peringkat juru kunci dan tentu saja degradasi.

Itulah sepak bola unjuk rasa meskipun ada pula yang menyebutnya sebagai sepak bola gajah. Namun demikian, Agil mengungkapkan, di Surabaya ia menyebutnya bahwa tindakan itu bukan sepak bola gajah tetapi sepak bola unjuk rasa. Dalam perkembangannya, Agil dikenai sanksi satu tahun plus denda Rp 500 ribu, sedangkan Bertje diskors 6 bulan. Meskipun sempat diprotes, Pengurus Harian PSSI yang mengadakan rapat darurat yang dipimpin Ketua Umum PSSI Azwar Anas mengukuhkan sanksi itu. [Koran Pikiran Rakyat, Tabloid BOLA, Blog NovanMediaResearch]

Kisah Sepak bola Lelucon di Piala Marah Halim 1974

Tulisan ini merupakan salah satu kisah dagelan dalam sepak bola Indonesia. Sebetulnya, bukan murni sepak bola tanah air, tetapi ada nuansa internasionalnya. Kisah yang NovanMediaResearch sampaikan kali ini terjadi di Piala Marah Halim 1974.

Pada Piala Marah Halim edisi ketiga itu, PSM Ujungpandang harus bertanding melawan Thailand untuk memperebutkan peringkat ke-3 dan ke-4. Singkat cerita, dalam waktu normal 2 x 45 menit, skor masih 1-1. Imbang.

Sebagaimana aturan umum, pertandingan penentuan tersebut tentu mengharuskan adanya pemenang sehingga babak perpanjangan waktu 2 x 15 menit harus dilakukan. Nah, di sinilah sepak bola dagelan atau lelucon dimulai. Kedua tim tidak mau melanjutkan pertandingan.

Apa yang menjadi penyebabnya? Ternyata, kedua tim sudah merasa capek dan lesu. Kemudian, manajer tim sudah bersepakat untuk mengundi saja.

Namun, Kamaruddin Panggabean, Organizing Comittee yang juga Komda PSSI Sumut, menolaknya karena hal itu menyalahi aturan umum persepakbolaan yang telah dipahami ketika technical meeting.

Karena kedua tim sama-sama ngotot tidak mau bermain lagi, pertandingan terpaksa ditunda hampir setengah jam. Dampaknya, Kamaruddin Panggabean pun turun dengan ancaman. “Bila kalian tidak mau main, saya akan tuntut ganti kerugian lima ratus poundsterling” ujarnya kepada manajer tim Thailand Kolonel (U) P. Sidhi Sook Bhung Boon Nayudha, sebagaimana dikutip dari Majalah TEMPO edisi 27 April 1974. Dan “tiket kalian saya claim,” ujarnya kepada Ilyas Hadade, pimpinan rombongan PSM.

Tampaknya, gertakan itu cukup menciutkan nyali kedua manajer tim sehingga mereka lantas membujuk pemainnya untuk melanjutkan pertandingan sekadar memenuhi persyaratan panitia. Namun, lelucon pun masih terjadi. Di antara mereka ada yang jatuh berguling dan pura-pura sakit meskipun tidak tersentuh pemain lawan. Bola pun mengalir sekadar memenuhi jalannya waktu. Hasilnya, tetap sama, imbang: 1-1.

“Selama tak ada perbedaan gol pertandingan harus dilangsungkan terus, biar semalam suntuk”, bentak Kamaruddin Panggabean. Dan untuk Ilyas ia pun menambahkan makian tambahan: “Kalian saya undang kemari. Tapi kalian datang untuk menghina saya dan Gubernur Marah Halim. Sungguh sayang, kalian bangsaku sendiri mau diajak oleh bangsa lain untuk menghina bangsamu sendiri”. Ilyas hanya mampu berdiam diri mendengar ucapan itu, karena ia tidak tahu mau bilang apa.

Ancaman sebelum babak perpanjangan waktu pun diulanginya lagi sebelum adu tendangan penalti dilakukan. Sayangnya, masih terjadi olok-olok. Terjadi gol-golan. Skornya? 13-12 untuk kemenangan PSM.

“Selama hidup saya, baru pertama kali saya melihat kelakuan seperti ini”, kata hakim garis Ho Van An dari Vietnam Selatan.

“Saya tidak akan mengundang kedua kesebelasan tersebut tahun depan”, kata Kamaruddin Panggabean kepada wartawan, “Tulis di surat kabar besar-besar, Muangthai dan PSM menghina Marah Halim”, tambahnya selepas pertandingan yang berakhir menjelang jam 24.00 tengah malam itu. Meskipun demikian, berdasarkan data NovanMediaResearch, PSM dan Thailand masih tercatat sebagai peserta Piala Marah Halim 1975.

Acara Syukuran Berdirinya Bandung Raya

Pada pertengahan tahun 1987, publik Bandung diramaikan oleh pemberitaan PO (Persatuan Olahraga) UNI —tentu cabang sepak bolanya— yang akan mengikuti Galatama 1987/1988. PS (Persatuan Sepak bola) UNI pun terdaftar sebagai salah satu dari enam klub Galatama baru.

Sebagai klub baru Galatama, keenam klub akan diikutkan dalam pertandingan Pra-Galatama. Tampak, enam klub baru Galatama ditambah tiga klub peringkat terbawah Galatama 1986/1987, dibagi ke dalam tiga grup. UNI dan Lampung Putra sebagai klub baru pun digabungkan dengan Warna Agung yang bertanding pada 11-13 September 1987. Begitupun dengan klub-klub baru Galatama lainnya yang bertanding mulai 9-11 dan 13-15 September 1987.

Pertandingan pemanasan tersebut dianggap sebagai uji coba. Namun demikian, sesuai Rapat Anggota Galatama tertanggal 23 Agustus 1987, jika klub-klub itu tidak berprestasi baik maka klub-klub yang bersangkutan batal untuk mengikuti Galatama 1987/1988.

Dalam perkembangannya, UNI berubah nama menjadi Bandung Raya. Hal itu, menurut Syamsudin Curita agar masyarakat Bandung tidak bingung antara UNI amatir dan UNI profesional. Soal nama ini, sebagian dari kita sudah mengetahui antara Sari Bumi Raya ’79 (Galatama) dan Sari Bumi Raya ’76 (klub intern anggota Persib).

Sebelum berjuang di Galatama 1987/1988, pada 1 Oktober 1987, diselenggarakanlah acara syukuran berdirinya Bandung Raya di Sekretariat Bandung Raya di Jalan Pucung No. 17 Kota Bandung. Dalam acara syukuran pendirian Bandung Raya itu, Pelatih Risnandar menargetkan Bandung Raya berada di papan tengah.

Inilah nama-nama pemain Bandung Raya ketika pertama kali terbentuk:

Armand, Ukut, Tatang (penjaga gawang), Amak, Dedy, Dedi Akhmad, Iknas, Deni Toto, Agus Salam, Ayi Risnawan (Bandung), Abidin, Sanija (Majalengka), Komarudin, Ade Lesmana, Yaya (Kuningan), Endang (Sukabumi), dan M. Heri Setiawan (Cirebon).

Dalam debutnya di Galatama (1987/1988), Bandung Raya sukses mengalahkan Lampung Putra 2-0 melalui gol Abidin (menit 27) dan Toto M. Sobar (menit 66) di Stadion Siliwangi Bandung, Minggu, 4 Oktober 1987.

Kelak, Bandung Raya “tiarap” pada LI 1997/1998 karena krisis moneter-ekonomi dan muncul kembali di divisi terbawah (divisi III) hingga prestasi terbaiknya di divisi II LPIS. Sejak periode lalu, Bandung Raya sudah mengakuisisi Pelita Jaya sehingga bernama Pelita Bandung Raya (dan kabarnya periode depan akan bernama Bandung Raya), selain Bandung Raya di divisi II yang entah kemana. Mulai musim depan, kabarnya Bandung Raya akan menempati Bandung Sejati Football Centre di kawasan Pasirimpun Bandung.

Selain itu, Pelita Jaya pun tampaknya enggan untuk “mati”. Coba saja perhatikan: saat ini masih ada Pelita, logo klubnya masih bernuansa Pelita Jaya sejak dulu, dan kaos tim (Pelita) Bandung Raya bukan biru belang-belang.

Baca juga:

Bandung Raya

Masih tentang Bandung Raya

Mitra Kukar Menjadi Mitra Bandung Raya

Semen Padang U-21 Juarai Liga Super Indonesia U-21 Tahun 2014

Semen Padang U-21 berhasil menjuarai Liga Super Indonesia U-21 tahun 2014 setelah dalam babak final mengalahkan juara bertahan Sriwijaya FC U-21 di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Minggu, 19 Oktober 2014.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.