20 April 1930, PSSI 82 Tahun yang Lalu

Minggu, 20 April 1930. Hari dan tanggal ini, 82 tahun yang lalu. Informasi tentang pendirian PSSI tidak tuntas. Harap maklum, sumber media yang saya peroleh masih terbatas. Namun, bagaimana dengan babak “final” Indonesische Stedenwedstrijden?

Inilah pertandingan hari ketiga, Minggu, 20 April 1930: SIVB vs VIJ. Skor 4-2. Siapa yang menjadi juara? VIJ setelah mengalahkan SIVB 4-2.

“…P.t. Goebernoer Djokja jang mempersaksikan pertandingan itoe bertoeroet-toeroet, atas nama Bond Mataram, mengatoerkan 11 medali kepada Jacatra, dan dengan gembira p.t. Goebernoer menjatakan senang hatinja melihat kepandaian dan techniek jang diperlihatkan oleh voetballers bangsa kita dan p.t. Goebernoer berharap, soepaja tahoen dimoeka kampioenschap itoe hendaknja dapat didjaga dengan baiknja…”. (Pandji Poestaka No. 35 Tahoen VIII, 2 Mei 1930)

19 April 1930, PSSI 82 Tahun yang Lalu (2)

Sabtu, 19 April 1930. Hari dan tanggal ini, 82 tahun yang lalu. Suasana masih siang atau sore. Pertandingan hari kedua pun diadakan. Kali ini, VIJ vs SVB. Hasilnya, 3-1 untuk VIJ sehingga meloloskan timnya ke babak “final”.

Pada malamnya, “…Malam Minggoe di Societeit ‘Hendapraja’ di Djokja telah diadakan opricting vergadering dan mentjiptakan satoe organisatie jang diberi nama Perserikatan Sepakraga Seloeroeh Indonesia (P.S.S.I.) dan Hoofdbestuur terdiri dari toean Ir. Soeratin, Voorzitter, Doselan, Secretaris, boeat Comissarissen ditetapkan tiap-tiap Voetbalbond diberbagai-bagai tempat diadakan Consul-commissaris…”. (Pandji Poestaka No. 35 Tahoen VIII, 2 Mei 1930)

18 April 1930, PSSI 82 Tahun yang Lalu (1)

Jumat, 18 April 1930. Hari dan tanggal ini, tepat 82 tahun yang lalu. PSSI belum berdiri. Satu hari menjelang tanggal 19 April 1930 itu, perwakilan-perwakilan dari perserikatan-perserikatan sudah hadir di Mataram (kini, Yogyakarta).

“…Voetbalbond Indonesia di Mataram soedah mengoendang beberapa Indonesische Voetbalbond jang masih berdiri dan oetoesan-oetoesan dari berbagai-bagai tempat, boeat membitjarakan satoe organisatie diantara Voetbalbonden bangsa kita…Initiatief itoe mendapat toendjangan banyak dimana voetbalbonden mengirimkan oetoesannja ke Djokja, seperti dari: Betawi, Bandoeng, Soerabaja, Malang, Madioen dan Mataram sendiri…”. (Pandji Poestaka No. 35 Tahoen VIII, 2 Mei 1930)

Pada hari itu pula diselenggarakan pertandingan pertama: Bond Mataram XI vs SIVB. Skor: 1-1. Karenanya, untuk menentukan ke babak “final” diadakanlah undian. Hasilnya, SIVB menang. (Sebagai catatan, dalam sumber, nama bond Mataram atau Yogyakarta tidak ditulis PSIM. Itu pun tertulis Bond Mataram XI atau BM XI saja).

Bagaimana Seharusnya Kita Menyusun Sejarah Klub? (5): Persil Lampung

Tulisan bagian ke-5 dari judul “Bagaimana Seharusnya Kita Menyusun Sejarah Klub?” ini merupakan tulisan pamungkas. Sebetulnya masih ada tulisan-tulisan lain yang sejenis, tetapi nanti sajalah saya lanjutkan. Kalau referensinya sudah terkumpul banyak. Nah, dalam tulisan pamungkas ini, saya akan menceritakan keinginan para tokoh (dan masyarakat) yang ingin membentuk dan/atau membangkitkan kembali klub sebagai kebanggaan daerahnya. Baguslah…, tapi….

Saya mengutip koran Radar Banten(online) edisi Senin, 6 Februari 2012 dulu ya. Begini isi bagian atasnya (nara sumber: Wakil Gubernur Banten Rano Karno): “…Hingga saat ini, Banten belum memiliki kesebelasan sepak bola. Tidak seperti DKI Jakarta yang me­miliki Persija, Sriwijaya FC di Pa­lembang, dan Persib di Jawa Barat. Wakil Gubernur Rano Karno me­ngatakan, Banten memerlukan klub sepak bola yang dibanggakan. Selain sebagai sarana olahraga, klub sepak bola juga bisa menjadi citra sebuah daerah di tingkat nasional. ‘Para pemuda bisa bergabung dan olahraga adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi perilaku menyimpang masyarakat,’ ujar Wagub saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (3/2) lalu. Wagub berjanji, kedepan Banten akan membentuk kesebelasan sepak bola. ‘Masa Banten kalah dengan Tangerang yang sudah punya Persita dan Serang yang punya Perserang. Banten kedepan harus punya kese­belasan sendiri untuk membawa nama Banten ke kancah nasional,’ terangnya…”.

Ada yang salah dari isi berita tadi? Saya mencatat, antara lain: “Masa Banten kalah dengan Tangerang yang sudah punya Persita dan Serang yang punya Perserang.” Bukan, bukan soal Persikota selain Persita dan Serang Jaya selain Perserang yang saya maksudkan, tetapi bukankah (kabupaten/kota) Tangerang dan (kabupaten/kota) Serang itu bagian dari Banten? Namun, OK-lah, kita berempati saja dengan pernyataan “Si Doel Anak Betawi” yang sebelumnya pernah menjadi wakil bupati Kabupaten Tangerang itu.

Sekarang, mari kita beralih ke persepakbolaan Provinsi Lampung. Dalam pemberitaan secara online di Lampung Post (Grup Media Indonesia), Tribun Lampung (Persda-Kompas Gramedia Group), dan Radar Lampung (JPNN-Jawa Pos Group), saya memperoleh berita tentang wacana pembentukan kembali Persil Lampung. Sama seperti di Provinsi Banten, bukankah Persil ini di-asosiasi-kan sebagai klub (baca: provinsi)? Malah dalam pernyataan beberapa tokoh, PSBL dikembalikan saja ke Kota Bandar Lampung, ibu kota Provinsi Lampung. Selain itu, disebut-sebut kejayaan sepak bola Lampung sejak era Persil dan keberhasilan Provinsi Lampung meraih medali emas PON X/1981. Ya, NMR mencatat bahwa Lampung memang pernah merebut medali emas PON X/1981 setelah di babak final mengalahkan Sumatra Utara 4-2 melalui adu tendangan penalti. (Pikiran Rakyat edisi 1 Oktober 1981) Lanjut membaca

Bagaimana Seharusnya Kita Menyusun Sejarah Klub? (4): Persegres Gresik

Sejarah “lama” tentang klub sepak bola profesional Kabupaten Gresik sudah kita ketahui. NMR pun pernah menulisnya dalam “Sedihnya Putra Samarinda, Senangnya Petrokimia Putra”. Ya, Gresik United merupakan peleburan nama Persegres (Gresik) dan Petrokimia Putra (Gresik). Dalam bahasa hukum, peleburan adalah A + B = C. Hal ini berbeda dari penggabungan bahwa A + B = A atau B.

Dalam kesempatan kali ini, saya ingin bercerita tentang perkembangan nama klub profesional Kabupaten Gresik (Gresik United) tersebut. Sebagai hasil kompetisi periode sebelumnya (baca: Divisi Utama Liga Indonesia 2010/2011), Gresik United gagal untuk mendapat tiket promosi ke Liga Super Indonesia (LSI) 2011/2012. Namun, karena empat klub LSI bermain di Liga Primer Indonesia 2011/2012 sehingga dianggap degradasi dari LSI maka empat klub Divisi Utama Liga Indonesia 2010/2011 yang gagal promosi dipromosikan ke LSI 2011/2012. Klub yang dipromosikan (berdasarkan peringkat teratas berikutnya) itu, salah satunya, Gresik United. Gresik United pun bersiap diri untuk mengikuti LSI 2011/2012.

Lalu, apa hubungannya cerita Gresik United dengan Persegres versi baru? Lanjut membaca

Bagaimana Seharusnya Kita Menyusun Sejarah Klub? (3): Persebaya Surabaya

Teori saya mengatakan: “Setiap tim memiliki masa kejayaan dan gelar juara hanyalah soal waktu”. Berkaitan dengan Persebaya, teori ini cocok untuk menggambarkan kejayaan persepakbolaan Kota Surabaya pada tahun 1950-an. Sesudah itu, bisa dikatakan kurang. Apa boleh buat, beberapa peristiwa (positif-negatif) yang mengelilinginya turut menurunkan prestasi “singkat” Persebaya. Sebutlah tahun 1978, 1988, dan 2004. Lanjut membaca

Bagaimana Seharusnya Kita Menyusun Sejarah Klub? (2): PSM Makassar

Tanggal 30 April 1949 merupakan hari yang bersejarah bagi PSM Makassar. Pada waktu itulah PSM mulai bersentuhan dengan persepakbolaan tanah Jawa (baca: sepak bola Indonesia). Sayang, entah karena pada saat itu sarana perhubungan atau komunikasi antara Pulau Jawa dan Luar Pulau Jawamasih kurang ataukah karena dinamika masyarakatnnya masih berbaur, sepak bola yang dimaksud adalah sepak bola yang diselenggarakan oleh NIVU. Harap maklum, dalam masa-masa ini, perserikatan-perserikatan sepak bola “warga negara Indonesia asli” (seperti VIJ, Persib, dan SIVB) sedang “tiarap” untuk memantau masa depannya (1945-1950).

Pada pertandingan perdana bagi PSM di Kompetisi ISNIS/VUVSI, PSM berhadapan dengan SVB yang kelak menjadi juara ISNIS/VUVSI 1949. Inilah formasi edisi perdana PSM ketika melawan SVB: Lanjut membaca

Bagaimana Seharusnya Kita Menyusun Sejarah Klub? (1)

Hingga kini, PSSI terbelah menjadi dua. Pertama, PSSI versi Djohar Arifin Husin, dan kedua, PSSI versi La Nyalla Mattalitti.

Selain PSSI, klub-klub pun tampak terbelah. Bagi NMR, permasalahan ini bukan sekadar yuridis-formal, tetapi juga sosiologis-politis (dan unsur-unsur lainnya). Di Wikipedia —karena sifatnya yang terbuka, website ini sering mengubah informasinya— misalnya, dalam suatu kesempatan, saya sempat melihat laman Persija dengan Ketua Umum Ferry Paulus dan Pelatih Jaya Hartono. Bukankah kedua tokoh ini berbeda pengelolaan (Persija LSI dan Persija LPI)? Kini, per tanggal 9 April 2012, laman Persija itu sudah “dikuasai” oleh Persija LSI (baca: tertulis Ketua Umum Ferry Paulus dan Pelatih Iwan Setiawan). Lanjut membaca