VIJ/Persija dan VBO

Kapan Persija lahir? Pertanyaan sejenis itulah yang sering kali muncul sebagai kata kunci yang mengarah pada blog NovanMediaResearch. Kata kunci “kelahiran” atau “pendirian” Persija ternyata jauh lebih banyak dibandingkan dengan bonden lainnya. Karenanya, saya sebagai pengelola blog ini hendak menyampaikannya.

Sebagaimana dipahami bahwa Persija yang pada awalnya bernama VIJ lahir pada tahun 1928. [Baca: Di sini] Pada masa itu, selain Persija, dikenal pula VBO sebagai bond tandingan di wilayah yang kini dikenal sebagai ibu kota negara RI. Dipahami pula bahwa VBO merupakan bond anggota NIVB/NIVU yang mengikuti kompetisi sepak bola versi NIVB/NIVU sejak 1914.

Pascakemerdekaan negara RI, VIJ berganti nama menjadi Persija yang tentu saja bertahan hingga sekarang. Sementara VBO masih bertahan hingga 1951. VBO sebagaimana bonden anggota NIVB/NIVU lainnya (seperti VBBO Bandung, SVB Surabaya, VSO Semarang) tentu mati dengan proses masing-masing. Dalam istilah saya, meskipun mereka dibiarkan hidup toh akhirnya secara “terpaksa” harus mati juga. Maklum, ada kehidupan sosio-politis yang berubah di tanah air kita. Ya, negara RI telah memiliki kedaulatan penuh sejak 17 Agustus 1950.

Akhirnya, mau tidak mau, bond di Jakarta “harus” memiliki satu. Aneka edisi No. 9 Tahun II, 20 Mei 1951 melaporkan:

DJAKARTA HANJA SATU BOND?Dari sumber jang mengetahui pasti, telah didapat kabar bahwa tidak lama pula V.B.O. akan mengadakan suatu pertemuan dengan maksud membubarkan persatuannja. Sesudah itu kepada semua anggauta2nja akan diandjurkan buat menggabungkan diri dengan Persidja. Dari pihak Persidja sendiri didapat keterangan, bahwa kalau hal ini dapat dilaksanakan, akan disambut dengan semestinja sebagai sportman.

Dalam perkembangannya, Joesoef Jahja menulis “Persidja dalam Pembangunan” yang dimuat dalam Aneka No. 16 Tahun II, 20 Juli 1951:

PERSIDJA dalam PEMBANGUNANSemenjak 1 Juni ’51 V.B.O. jang memegang rol penting selama 37 tahun di Djakarta ini sudah menjatakan tidak berdiri lagi. Pada rapat Anggota Luar biasanja pada pertengahan bulan Mei ’51 ketetapan ini sudah diambil, dan kepada Persidja diminta sudi menerima anggota2nja mendjadi anggota Persidja mulai tg. 1 Juni 1951.

Pada tg. 30 Mei 1951 oleh Persidja diundang Komisi Penjelesaian V.B.O. in likwidasi ini untuk berunding diterras Hotel Schutteraaff. Dari fihak Komisi itu datang tuan2 Pandelaki (ketua) dan Khoe Tjong Lip sedang tuan Huwae menggantikan tuan de Graaf.

Pada pertemuan ini jang dipimpin oleh kami sendiri dibitjarakan terlebih dahulu tjaranja bagaimana menampung ex-anggota2 V.B.O. ini. Diputuskan bahwa ex-anggota2 itu dengan melalui Komisi akan memasukkan surat permintaan mendjadi anggota. Fihak Persidja akan membentuk pula satu Komisi Penjaring dan anggota2 baru ini akan “di-voorhangen” selama bulan Juni.

Putusan ke-2 jang diambil adalah:

Kepada V.B.O. in likwidasi diizinkan menjelesaikan kompetisinja untuk menentukan djuaranja dibawah pengetahuan pengurus2 mereka.

Putusan ke-3; Persidja mengizinkan selama bulan Puasa lapangan2 Vios dan Hercules pada hari Saptu dan Minggu dipakai oleh V.B.O. utuh likwideer, sesudah dapat ditentukan klassement perkumpulan2 itu. Dispensasi ini semua diberikan setjara lisan dan tulisan pada Komisi tsb.

Sementara itu 1 Komisi lain akan menjelesaikan setjara “intern” urusan V.B.O. in liquidatie itu dengan anggota2nja.

Orang tentu banjak akan bertanja: Kenapa penjelesaian V.B.O. itu tidak diatur setjara lain? Kenapa barang sesuatu jang di-likwideer itu tidak menjerahkan bulat2 segala apa jang ada pada mereka kepada Persidja, kenapa mereka tjuma mengatur itu antara mereka sadja dan masuk ke-Persidja setjara jang diuraikan tadi?

Persidja memang lebih suka menjelesaikan hal ini setjara jang sudah diaturnja dengan Komisi tsb. sebab Persidja mau setjara bebas dan bersih menerima orang mendjadi anggotanja dengan tidak dipengaruhi oleh pertimbangan ini dan itu dan kekajaan.

Pendirian Persidja bulat pendirian pengurus dan anggota2nja. Orang tidak dapat memaksakan kepada kita ini dan itu, karena dari fihak Persidja djuga tidak pernah melakukan, tekanan ini dan itu kepada V.B.O. malah sama sekali tidak pernah mengusik2 urusan dalam orang lain. Bagi Persidja lebih suka orang menghadapi dan menemuinja dengan setjara bebas dan dapat bersih. Persaudaraan baru kekal djika satu-sama lain dapat harga-menghargakan dan hormat-menghormati.

Likwidasi V.B.O. ini djuga dilakukan oleh anggota2 mereka sendiri, dengan tidak sedikit djuga ada tjampur tangan Persidja.

Oleh Pengurus Persidja tidak pernah ada dinjatakan keinginan ini atau itu, malah fihak ramailah jang banjak melemparkan tuduhan pada Persidja bahwa fihak kami sama sekali tidak “soepel” atau “kurang begrip” dll.

Dalam surat kabar dan komentar radio beberapa orang mengeluarkan kritik pedas keadres-nja Persidja, tetapi kami tidak mau membantah dan meladeni, sebab kami tahu, bahwa orang2 jang menulis dan berbitjara itu tidak pernah datang berbitjara atau bertanja pada kami.

Selain berolahraga kami pun mau mendidik orang2 berfikir, berbuat dan bertindak setjara sportif.

Dalam kami menghadapi badan2, orang-seorang ataupun so’al dan suasana tidak pernah kami dan pengurus lain2nja memakai sentimen, malah ketua dari bond-lah satu2nja orang jang boleh berbitjara dan bertindak keluar dan mewakili bond sepenuhnya.

Tjara bekerdja begini ini menjebabkan djuga bahwa dalam sikap Persidja keluar dan kedalam tidak ada perselisihan perbuatan dan faham.

Sjukurlah sekarang penjelesaian antara V.B.O. dan Persidja ini berdjalan menurut kodrat alam jang memang selalu harmonis. Harmonie itu berobah djadi disharmonie semata2 karena manusia jang mengganggu djalannja jang sudah tertentu.

Mudah2an nanti sesudah Lebaran dilapangan hidjau Djakarta-Raya ini, publik akan melihat lagi olahraga jang sempurna dan terpilihara baik.

Kita katakan ini karena memang selama ini oleh keadaan berpisahan tadi itu perhatian publik djuga berpetjah2 dan baik bagi prestasi Persidja maupun V.B.O. sangat berpengaruh.

…..

Catatan: Tulisan dibiarkan apa adanya. Tidak ada editing atau suntingan, termasuk (mungkin) ada kesalahan penulisan huruf. Dari tulisan tersebut, yang ada hanyalah kata-kata yang berhuruf tebal.

 

“Menggugat” Persib 1933

pp-psibTanggal 14 Maret(1933-2014) merupakan saat yang bersejarah bagi masyarakat pencinta Persib (Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung). Setiap tahunnya, tanggal tersebut dimaklumi sebagai hari kelahiran perserikatan sepak bola (voetbal bond) dari Kota Bandung. Karenanya, tidak mengherankan, dari 14 Maret 1933 itu muncullah sebutan “Persib 1933”.

Namun, kelak, mungkin sebutan “Persib 1933” itu tidak relevan lagi. Faktanya, selain angka “1933”, pergantian nama yang akhirnya mengarah pada nama “Persib”itu pun masih menyisakan misteri.

Selama ini, catatan sejarah Persib masih mengacu pada pernyataan R. Ibrahim Iskandar. Tokoh yang disapa Mang Baim itu pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persib periode 1951-1957 dan kemudian Komisaris Daerah (kini Asosiasi Provinsi) PSSI Jawa Barat periode 1958 hingga akhir hayatnya (baca: wafat pada tanggal 15 April 1975).

Dalam “Sekilas Pandang Mengenai Persib” di buku “Pasang Surut 40 Tahun Persib” (buku peringatan HUT ke-40 Persib, 1933-1973), Komisaris PSSI Jawa Barat R. Ibrahim Iskandar menulis: “…Menurut keterangan BIVB termasuk salah satu pendiri PSSI. Entahpada tahun berapa BIVB hilang dan diganti namanya dengan PSIB. Ketika itu saya dengar bahwa di Bandung selainnya dari PSIB ada pula bond bangsa kita yang diberi nama NVB singkatan dari National Voetbal Bond. Akhirnya diketahui bahwa surat panggilan untuk bermain diterima dari Pengurus Persib dan menurut keterangan di Bandung tidak ada lagi lain bond dari bangsa Indonesia kecuali Persib. Ketentuan waktu mengenai peristiwa itu menurut keterangan adalah pada tanggal 14 Maret 1933…”.

Dari salah satu bagian dari tulisan itu, kita pun bisa menyatakan dan/atau menanyakan, antara lain: (1) BIVB merupakan salah satu pendiri PSSI, (2) BIVB menghilang, (3) mengapa dan kapan BIVB menghilang?, (4) Apakah hilangnya BIVB itu karena benar-benar menghilang ataukah karena berganti nama menjadi PSIB?, (5) R. Ibrahim Iskandar mendengar bahwa selain PSIB, ada juga bond lain, yaitu NVB, (6) Pada suatu waktu, diterimalah surat oleh Persib, bukan oleh BIVB atau PSIB lagi, karena selain Persib, tidak ada lagi bond lain, dan (7) Tanggal 14 Maret 1933 itu ketentuan waktu mengenai peristiwa apa?.

Sebelumnya, dalam “Riwayat Persib” di buku “Peringatan Ulang Tahun Persib ke-25” (1933-1958), R. Ibrahim Iskandar yang pada masa itu baru menjabat sebagai Komisaris PSSI Jawa Barat, menulis: “…Sebelum Persib dilahirkan, di Bandung berdiri Bond Sepak Bola Nasional ialah PSIB dan NVB yang kemudian dipersatukan pada bulan Maret 1933 dan bond baru ini diberi nama Persib…”. Dalam bagian lain, ia menulis: “…Perlu dicatat pula bahwa Persib ketika namanya PSIB turut pula mendirikan PSSI…”.

Sementara itu, Mohamad Achwani yang saat itu menjabat sebagai sekretaris umum Persib pernah membahas sejarah Persib. Dalam “Catatan Lintasan Sejarah Persib 14 Maret 1933-1993” yang berjudul “Persib Lahir sebagai Alat Perjuangan Bangsa”, Mohamad Achwani menulis: “…Sebelum Persib didirikan, di Kota Bandung pada saat itu telah berdiri bond sepak bola (voetbal bond) bangsa kita, yaitu BIVB (Bandungse Indonesise Voetbal Bond), yang kemudian namanya diubah menjadi PSIB (Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung). Perubahan ini seiring dengan meningkatnya semangat kebangsaan dan antipenjajahan. Kemudian juga karena adanya pengaruh langsung dari hasil kongres pemuda tahun 1928, yang terkenal dengan Sumpah Pemuda dan berisikan mengaku berbangsa-berbahasa-bertanah air satu, yaitu Indonesia…”. [Huruf tebal dari penulis.]

Dalam bagian lainnya, Mohamad Achwani pun menulis: “…Di samping BIVB, di Kota Bandung juga pada waktu itu telah berdiri bond sepak bola bangsa kita yang lainnya, yaitu NVB (National Voetbal Bond). Kedua perkumpulan itu menganut prinsip yang sama yaitu noncooperatif dengan Belanda…”. Ia pun melanjutkan: “…Untuk lebih menggalang persatuan dan kekuatan yang ada guna melawan keangkuhan bangsa Belanda, maka pada tanggal 14 Maret 1933, di tempat gedung Sekolah Karang Kaputran, Jl. Kepatihan Bandung (yang kemudian menjadi Hotel Rahayu), kedua perkumpulan bangsa kita ini bersepakat untuk melebur diri dan didirikanlah Persib (Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung). Sebelum melebur ke dalam Persib, BIVB pada tanggal 19 April 1930 bersama-sama bond sepak bola bangsa kita di kota lainnya…bersepakat untuk mendirikan PSSI di Yogyakarta”.

Tulisan Mohamad Achwani tadi tampak tidak jauh-jauh dari sumber-sumbernya yang disebutkan sebelumnya, yaitu buku HUT ke-25 Persib, buku HUT ke-30 Persib, buku HUT ke-40 Persib, buku HUT ke-60 PSSI, dan Arsip Sekretariat Persib.

Berdasarkan tulisan-tulisan tadi, penulis berpendapat bahwa sejarah Persib yang diulas terakhir tadi cukup pas. Artinya, seiring dengan salah satu bunyi Sumpah Pemuda, yaitu “menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia”, BIVB pun berganti nama menjadi PSIB. Hanya saja, kapan pergantian nama itu dilakukan, belum ditemukan bukti tertulis. Adapun nama BIVB itu sendiri pernah ditulis dalam beberapa sumber, antara lain “Bintang Mataram” (22-24 April 1930) dan “Sedio Tomo” (26 April 1930). Sumber-sumber media tersebut mencatat kisah sejarah pendirian PSSI pada 19 April 1930 yang antara lain didirikan oleh BIVB. BIVB itu pula, bersama SIVB Surabaya, VVB Solo, dan Hizboel Waton Yogyakarta pada 1927 di Surabaya mendirikan IVB, cikal bakal PSSI, meskipun dianggap gagal karena tidak berkembang.

Rangkaian BIVB, PSIB, dan Persib itu memperlihatkan keberlangsungan-keterkaitan Persib sebagai pendiri PSSI. Artinya, tidak ada sejarah yang putus, seperti dari pernyataan “BIVB yang ujug-ujug menghilang”. Lalu, jika BIVB menjadi PSIB dan akhirnya menjadi Persib pada 14 Maret 1933, apakah Persib lahir pada tanggal tersebut? Artinya, meskipun didahului oleh kelahiran BIVB dan PSIB, kita telah “bersepakat” bahwa Persib era baru berdiri pada 1933. Hal itu pun dalam perkembangannya memunculkan sebutan “Persib 1933”.

Sayang, fakta yang ditemukan penulis justru berkata lain. Majalah “Pandji Poestaka” No. 76, 22 September 1933, halaman 1192 melaporkan pembukaan Sportpark Tegallega Bandung. Dalam pembukaan Lapangan Tegallega untuk Persib itu, pada masa itu dimeriahkan oleh pertandingan Mosvia vs VIJ 3-0 (9 September 1933) dan PSIB vs VIJ 2-1 (10 September 1933).

Jika acuan kelahiran Persib pada tanggal 14 Maret (1933), kenyataannya tanggal 9 dan 10 September (1933) PSIB masih ada. Terlepas dari angka “tanggal” ini, sebutan “Persib 1933”tampaknya masih relevan.

Namun, “kontroversial” sejarah Persib tidak berujung sampai di situ. Dalam majalah “Pandji Poestaka” edisi tahun 1934 halaman 313 misalnya, PSIB tercatat sebagai satu dari 15 anggota PSSI. Artinya, nama PSIB masih ada pada tahun 1934.

Jadi, apakah sebutan “Persib 1933” masih relevan? Ya, sejarah Persib tampaknya masih menyisakan misteri dan sekaligus harus dikaji. [Foto: Jersey Persib ketika masih bernama PSIB.]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.