![]()
Kehidupan Sosio-Politik PSSI
Sejak tanggal 13 Desember 2011 lalu, Komisi Disiplin PSSI memberikan sanksi (degradasi) kepada para peserta Liga Super Indonesia. Di antara klub-klub itu, ada pula klub kebanggaan saya. Lalu, bagaimana pandangan saya, dalam hal ini klub kebanggaan saya? Tidak masalah! Sanksi itu merupakan konsekuensi logis atas sikapnya selama ini. Saya bangga memiliki klub yang “satu klub” dan teguh pada pendiriannya. Bagaimana pun, kelak, saya yakin (baca: belum haqul yakin) bahwa klub kebangaan saya akan di-promosi-kan lagi ke level tertinggi. Paling tidak, ada dua alasan. Pertama, selama ini kebijakan PSSI sering “aneh”. (Anda boleh mengabaikan alasan pertama ini). Kedua, klub kebanggaan saya adalah klub profesional. Klub saya ini memiliki legal-formal. Juga loyalitas pendukungnya. Jadi, tahun depan, klub kebanggaan saya akan promosi lagi untuk menggantikan klub-klub level atas yang tidak profesional. Ya, itulah pandangan saya. (Saya memahami konsep sepak bola profesional ala LPI. Sayang, terlalu grasa-grusu).
Saya pun sebenarnya menganggap bahwa PSSI era Djohar Arifin Husin ini menerapkan statuta PSSI. (OK-lah di sini mungkin akan terjadi perdebatan konstitusi). PSSI era Nurdin Halid pun sebenarnya demikian. Jadi tidak ada bedanya. Ya, menurut saya, PSSI selalu menekankan pada kekuasaan yaitu statuta.
Apakah ada yang salah? Ternyata, yang “salah” ialah PSSI kurang mengkomunikasikan segala lehidupan di PSSI kepada para anggotanya. Lihatlah tentang simpang siur saham PSSI. (Ada dua versi). Lihat pula ada atau tidak adanya hasil keputusan Kongres Bali. Mengapa tidak disebarluaskan secara utuh? Ah, jangan harap semua lengkap. Saya menyayangkan, mengapa situs web PSSI yang merupakan sarana terbaik sebagai public relation-nya PSSI malah tidak dimaksimalkan oleh PSSI baik era Nurdin Halid maupun era Djohar Arifin Husin. Anda jangan membandingkan dengan blog saya yang tidak lengkap. Itu semata-mata persoalan sumber saya. (Oh ya, di situs web PSSI masih ada link Liga Super Indonesia loh —meskipun selalu kosong informasi).
Liga Prima Indonesia
Ketika Liga Prima Indonesia hendak digulirkan pada 15 Oktober 2011, PSSI bingung apakah mau memainkan Semen Padang vs Persib atau Persipura vs Persib. Persipura kan juara bertahan. Sebagai juara bertahan, biasanya Persipura membuka kompetisi. Sayang, Liga Prima Indonesia akhirnya dibuka oleh Persib vs Semen Padang. Kelak, anda akan mengetahui mengapa Persipura tidak jadi bertanding.
Liga Prima Indonesia? Ya, sejak PSSI era Djohar Arifin Husin, Liga Super Indonesia dan Liga Primer Indonesia telah dibubarkan. Kok Liga Primer Indonesia masih ada? Ya, ini memang “aneh”. Lihat saja situs web-nya. Alamatnya Liga Prima, tetapi tulisan di situs web-nya masih Indonesian Premier League.
OK, kita kembali ke pandaangan saya. Menurut saya, PSSI sudah benar menerapkan statuta PSSI. Namun, sayang, hal itu berdasarkan kekuasaan. Apakah bangga ketika PSSI menerapkan statuta PSSI sementara sebagian klub anggotanya terbelah menjadi dua?
Saya percaya, PSSI ingin melakukan reformasi seperti semula. Namun, sayang sekali, hal itu kurang dikomunikasikan dengan baik. Klub-klub yang di-promosi-kan dan di-degradasi-kan saja tidak tahu apa yang terjadi. Karena salahpaham, di antara klub ada yang merasa kurang dihargai dalam berkompetisi.
Sekali lagi, komunikasi. Kalau tidak, maka akan muncul pandangan, misalnya tentang Persipura yang tidak menjadi peserta Liga Champions Asia: “Persipura tidak didaftarkan” atau “Persipura tidak diijinkan AFC”. Itu soal persepsi.
Secara politik (baca: kekuasaan) PSSI ingin menerapkan statuta PSSI dan sepak bola profesional “secara murni dan konsekuen”, tetapi secara sosial, hal itu tidak dikomunikasikan dengan baik kepada para anggotanya. Maksudnya, anggota PSSI merasa konsep sepak bola profesional harus dilakukan secara bertahap. (Bacalah tulisan: Kompetisi Profesional: Tak Tahu dan Tak Mau Tahu).
Stadion Siliwangi dan Piala Siliwangi
Pada suatu masa di bulan April 1951. Asiade (baca juga: Asian Games) I telah diselenggarakan di New Delhi, India, 4-11 Maret 1951. Asiade II/1954 telah ditetapkan di Manila, Filipina. Asiade III/1958 belum ditetapkan Negara mana yang akan menjadi tuan rumah. Saat itu, Indonesia dan Jepang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi tuan rumah. (Kelak, Tokyo, Jepang menjadi tuan rumah Asian Games III/1958 dan Jakarta, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV/1962).
Namun, siapa sangka sebelum Tokyo, Jepang dan Jakarta, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games, justru Bandung sedang bersiap-siap untuk mencalonkan diri menjadi tuan rumah Asian Games III/1958.
Pada masa ini, di Bandung akan dibangun stadion. Ketua Komite Pembangunan pun sudah ditetapkan yaitu R. Didi Kartasasmita. Pembangunan stadion itu memiliki semboyan: “Asiade ketiga harus diadakan di Bandung”. Continue reading
Kompetisi Profesional: Tak Tahu dan Tak Mau Tahu
Wacana sepak bola profesional di Indonesia sebetulnya telah ada pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Setidaknya informasi itu diperoleh NovanMediaResearch dari media massa tahun 1930-an. Sampai akhirnya pada tahun 1970-an, PSSI era Ketua Umum Bardosono menyampaikan gagasan untuk membentuk klub profesional. Hal itu diungkapkan Bardosono ketika melepas PS Jayakarta (klub intern anggota Persija), juara Invitasi Antarklub PSSI 1975, ke Australia. Continue reading
Andik Vermansyah: (Calon) Ikon Pemain Sportif Indonesia
Masih ingat dengan ikon pemain sepak bola Indonesia versi NovanMediaResearch (NMR)? Kalau anda sudah membacanya, syukurlah. Namun, sebetulnya masih ada satu kategori lain yang dipilih NMR (belum sempat dipublikasikan karena masih calon). Apa itu? Ikon pemain sportif. Continue reading
Mengapa Ada Liga Super Indonesia dan Liga Prima Indonesia?
Pada tanggal 9 Juli 2011, Kongres Luar Biasa PSSI diselenggarakan di Kota Solo. Djohar Arifin Husin dipilih sebagai Ketua Umum PSSI 2011-2015. PSSI pun memasuki era baru.
Pada masa ini, PSSI mengambil kebijakan: Liga Super Indonesia (LSI) dan Liga Primer Indonesia (LPI) dibubarkan. Kompetisi sepak bola Indonesia ditata ulang menjadi “benar-benar” profesional. Nama kompetisi baru tersebut yaitu Liga Profesional Level 1 (Liga Pro 1) dan Liga Profesional 2 (Liga Pro 2). Menurut rencana, Liga Pro 1 akan diikuti oleh 32 klub dan Liga Pro 2 akan diikuti oleh 48 klub.
Peserta yang berhak menjadi peserta Liga Pro adalah anggota-anggota PSSI. Bagaimana dengan klub-klub LPI? Peserta LPI diharuskan merger dengan anggota-anggota PSSI yang berada di LSI dan Divisi Utama.
Para peserta yang mendaftarkan diri ke PSSI kemudian diverifikasi. Hasilnya, 34 klub menjadi nominasi Liga Pro 1 dan 36 klub menjadi nominasi Liga Pro 2. Mereka adalah: Continue reading
Turnamen Pra Musim 2011
Kompetisi sepak bola Indonesia periode 2010-2011 telah berakhir. Namun, kekisruhan dalam kepengurusan sepak bola Indonesia tengah menghadapi kendala ketika Gerakan Reformasi Sepak bola Nasional dengan LPI (Liga Primer Indonesia)-nya.
Di tengah-tengah kekisruhan sepak bola Indonesia antara Liga Super Indonesia dan Liga Prima Indonesia, insan-insan sepak bola Indonesia masih menjalankan aktivitasnya. Turnamen-turnamen Pra Musim (Pre Season) pun diselenggarakan, termasuk Piala Gubernur NTT 2011 dan Piala El Katiri Memorial 2011. [Hasil Lengkap Pertandingan sedang disusun ulang. Capek
]
Piala Gurbernur Aceh II/2011:
Babak Final:
2 Juli 2011:
Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Kota Banda Aceh:
Aceh Selection vs Persiba (Bantul) 2-1 Continue reading
Kapan PSSI Menjadi Anggota FIFA: 1951 atau 1952?
Kapan PSSI diterima menjadi anggota FIFA? Tahun 1951 atau 1952? Berikut ini merupakan kutipan berita yang diperoleh NovanMediaResearch berjudul “P.S.S.I. Mendjadi Anggauta F.I.F.A.” dari Majalah “Aneka” edisi No. 28 Tahun II, 1 Desember 1951.
“PERSATUAN Sepakbola Seluruh Indonesia telah diterima menjadi anggota Federation International Football Association, yaitu bond sepakbola seluruh dunia, demikian dikabarkan oleh bagian penerangan PSSI kepada “Antara”. Dengan diterimanya PSSI menjadi anggota bond sepakbola seluruh dunia itu, maka jumlah bond dari cabang2 olahraga di Indonesia yang sudah menjadi anggota bond internasional menjadi 4, yaitu sepakbola, tenis, atletik dan renang sehingga memudahkan masuknya Komite Olimpiade Indonesia menjadi anggota Komite Olimpiade se-Dunia yang syaratnya ialah bahwa sedikitnya 3 cabang olahraga harus sudah menjadi anggota dari bond internasional.
Sudah waktunya diadakan pertandingan2 internasional
Darmosugondo, dari bagian penerangan PSSI, dalam hubungan ini, menerangkan bahwa dengan diterimanya PSSI menjadi anggota bond sepakbola internasional itu, maka kongres PSSI yang akan diadakan di Jakarta dari tgl. 30/11 sampai 3/12 itu merupakan suatu kongres yang sangat penting bagi PSSI, karena segala sesuatu dalam organisasi PSSI harus diatur dan disesuaikan dengan kepentingan2 yang berhubungan dengan keanggotaan tersebut. Selain itu, menurut pendapatnya, kini pun sudah tiba waktunya PSSI mengadakan pertandingan2 internasional, tidak saja dengan kesebelasan dari negeri Asia, tetapi pun dengan elftal2 negeri Eropa dll.
Belum bisa ke Olimpiade Helsinki
Menurut Darmosugondo, meskipun andai kata dalam waktu yang pendek Indonesia bisa diterima menjadi anggota Olimpiade se-Dunia, namun Indonesia belum akan dapat turut berlomba dalam Olimpiade Helsinki 1952, berhubung dgn. kurangnya waktu, tetapi akan dapat berlomba dalam Olimpiade berikutnya di tahun 1956. Untuk melatih para atlet selama 4 tahun itu, ia berpendapat, perlu sekali segera diadakan tempat pemusatan berlatih, sebaik2nya di Jakarta.”
Catatan:
*) Susunan atau tata kalimat ditulis seperti aslinya.
*) Ejaan sudah disesuaikan (oleh NovanMediaResearch) seperti Dj menjadi J, Tj menjadi C, J menjadi Y, dan seterusnya.
Buku Ramang Macan Bola Diluncurkan dan Kesaksian Para Mantan Pemain Timnas
[Salam jumpa lagi para pembaca blog NovanMediaResearch. Dalam kesempatan kali ini saya hendak menulis sambutan atas diluncurkannya buku “Ramang Macan Bola” karya M. Dahlan Abubakar. Kepada penulis (Bung M. Dahlan Abubakar), melalui halaman blog ini pula saya memohon maaf karena ketidakhadiran saya pada acara peluncuran buku tersebut dengan alasan yang tidak dapat saya sebutkan. Demikian. Salam novanmedia@yahoo.com]
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Alifian Mallarangeng meluncurkan buku “Ramang Macan Bola” karya M. Dahlan Abubakar di Wisma Menpora Jalan Gerbang Pemuda Jakarta, Selasa, 9 Agustus 2011. Dalam catatan saya, ada kisah menarik yang tidak bisa saya lupakan yaitu ternyata kehadiran Ramang di timnas Indonesia hanyalah “kebetulan”. Ceritanya, Ramang dikirim PSM ke pelatnas untuk menggantikan Sunar yang berhalangan. Karena posisi Sunar sebagai pemain belakang (back) maka Ramang pun diposisikan sebagai back. Dan…, ternyata…, pemain kelahiran Barru (Sulawesi Selatan), 24 April 1928 itu pun jago di depan. Hikmahnya, kelak dalam cerita-cerita kita saat ini, Ramang menjadi macan bola.
Sementara itu, berdasarkan informasi yang saya himpun, M. Dahlan Abubakar adalah wartawan senior di Sulawesi Selatan (koran Pedoman Rakyat) yang menjadi dosen Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Sang tokoh ini pun merupakan kepala Humas (Hubungan Masyarakat) Unhas Makassar.
Terlepas dari acara peluncuran buku tersebut, sebagaimana ciri khas blog NovanMediaResearch, saya ingin menyambut beberapa kesaksian (pengalaman) para legenda tim nasional (timnas) Indonesia, antara lain Hengky Timisella dan Bob Hippy.
Henky menuturkan, Ramang mencetak gol jarak jauh pada pertandingan Indonesia melawan Kostarika di Lapangan Ikada (sekarang Monas) pada tahun 1950-an. Gol itu merupakan gol kedua dari tiga gol yang diciptakan Indonesia dalam sembilan menit pertandingan babak pertama. ‘Itu gol terbaik pada pertandingan tersebut,” katanya. [Kompas Online edisi 9 Agustus 2011]
“Sebagai pemain senior, Ramang mampu memberi motivasi kepada kami-kami yang lebih junior di timnas. Saya teringat, dulu waktu lawan Kosta Rika pada 1959, timnas langsung mencetak tiga gol dalam sembilan menit awal,” ujar Hengky. “Dan Ramang salah satu pemain yang mencetak gol.” [Koran TopSkor edisi Rabu, 10 Agustus 2011, Vol. 07 No. 179 halaman 10]
Ya, dalam catatan saya, timnas Indonesia mencetak tiga gol dalam sembilan menit sejak kick-off. Saat itu, gol pertama dicetak Hengky Timisella, gol kedua dicetak Ramang melalui tendangan spektakuler sekira 25 meter, dan gol ketiga dicetak Omo Suratmo. Sebetulnya, timnas Indonesia sempat menambah tiga gol lagi di babak kedua melalui hattrick Omo Suratmo. Skor akhir 6-4 untuk timnas Indonesia.
Namun, Kosta Rika dalam pertandingan ini bukanlah timnasnya melainkan klub Deportivo Saprissa. Timnas Indonesia pun timnas Indonesia B (perpaduan pemain senior dan junior). Pertandingan yang diselenggarakan di Stadion Ikada Jakarta (10 Mei 1959) itu dibintangi oleh Maulwi Saelan (penjaga gawang) dan Omo Suratmo. Maklum, Omo Suratmo adalah pencetak empat gol dan Maulwi Saelan dilaporkan beberapa kali mem-block bola lawan. Dua hari kemudian di tempat yang sama (12 Mei 1959), timnas Indonesia A menderita kalah 0-3 dari Deportivo Saprissa.
Berikut ini ialah formasi pemain timnas Indonesia B ketika menang 6-4 atas Deportivo Saprissa (Kosta Rika): Saelan (penjaga gawang), Rasjid, Iljas, Rukma/Bakir, Him Tjiang, Fattah, H. Timisella, Ramang, Omo, Surjadi, dan Kurnia.
Bob juga tak kalah antusias menceritakan pengalamannya saat timnya, Persebaya Surabaya, dikalahkan PSM Makassar yang diperkuat Ramang pada final Kejurnas 1965. “Saat itu Ramang paling ditakuti. Saking jadi momok, pelatih sampai bilang saya harus jaga Ramang kalau perlu sampai kamar mandi,” ujar Bob. [Koran TopSkor edisi Rabu, 10 Agustus 2011, Vol. 07 No. 179 halaman 10]
Dalam catatan saya, Ramang (PSM) dan Bob Hippy (Persebaya) memang pernah bertemu di babak final Kejuaraan Nasional (Kejurnas) PSSI 1964/1965. Saat itu, PSM yang dilatih Suardi Arlan berhasil menjadi pemenang (juara).
Liga Super Indonesia 2010/2011: Persipura Juara…!
Liga Super Indonesia (LSI) 2010/2011 telah berakhir pada 19 Juni 2011. Gelar juara LSI edisi ke-3 pun diraih oleh Persipura (Jayapura) meskipun kepastiannya telah didapat ketika mengalahkan Persisam Putra (Samarinda) 2-1 (8 Juni 2011).
Bagi saya sebagai pengelola blog NMR, rangkaian prestasi Persipura ini semakin menguatkan teori saya: “Setiap tim memiliki masa kejayaan dan gelar juara hanyalah soal waktu”. Persipura era baru sebetulnya telah saya pantau sejak divisi utama Liga Indonesia (LI) 2001 ketika tim berjuluk “Mutiara Hitam” itu hampir terdegradasi (hasil putaran I). Eduard Ivakdalam, salah seorang pemain Persipura, yang dipanggil timnas Indonesia akhirnya mengundurkan diri karena ingin membantu persiapan Persipura di putaran II. Persipura berhasil. Kelak, Persipura mencatatkan diri sebagai juara divisi utama LI 2005, LSI 2008/2009, dan LSI 2010/2011, termasuk tiga kali finalis Piala Indonesia. Continue reading