Arema

18 Februari 2017

Arema merupakan klub Galatama asal Malang. Dalam persepakbolaan Indonesia, Arema (Malang) menjadi salah satu dari enam klub baru Galatama 1987/1988. Selain Arema, ada juga Medan Jaya (Medan), Pusri (Palembang), Lampung Putra (Bandar Lampung), Bandung Raya (Bandung), dan Palu Putra (Palu) yang mengikuti Galatama 1987/1988.

Sebagai klub baru Galatama, sesuai dengan Rapat Anggota Galatama pada 23 Agustus 1987, keenam klub Galatama tersebut harus mengikuti “Pra Kompetisi Galatama” dengan catatan bahwa “belum tentu ikut Galatama jika berprestasi buruk” (Pikiran Rakyat edisi 27 Agustus 1987).

Dalam jadwal, Medan Jaya dan Pusri bertemu Semen Padang (peringkat ke-6 Galatama 1986/1987) di Medan (7-9 September 1987), Arema dan Palu Putra bertemu Perkesa 78 (peringkat ke-7 Galatama 1986/1987) di Malang (9-11 September 1987), serta Lampung Putra dan Bandung Raya bertemu Warna Agung (peringkat ke-8 Galatama 1986/1987) di Lampung (11-13 September 1987). [Tunas Inti sebagai peringkat ke-9 atau juru kunci Galatama 1986/1987. Dalam periode sebelumnya (Galatama 1986/1987), Pelita Jaya (Jakarta) sebagai klub baru Galatama diujicobakan melawan Warna Agung (peringkat ke-7 Galatama 1985) dan Tunas Inti (peringkat ke-8 atau juru kunci Galatama 1985 meskipun pertandingan melawan Warna Agung batal.]

Dalam perkembangannya, dua klub baru Galatama (Arema dan Palu Putra) malah mengikuti Piala Bentoel II/1987 di Stadion Gajayana, Malang (Agustus-September 1987). Karenanya, keduanya tidak jadi ikut Pra Kompetisi Galatama. Menurut Administratur Galatama Acub Zaenal, pertandingan tersebut dianggap memadai sebagai uji coba (Pikiran Rakyat edisi 4 September 1987).

Kelak, sepanjang enam kali keikutsertaannya dalam Galatama (1987-1994), Arema tercatat sebagai juara Galatama 1992/1993. Sebagai juara Galatama periode ke-12 itu, Arema menjadi wakil Indonesia di Piala Champions Asia 1993. Sementara di Piala Liga, prestasi terbaiknya (runner-up) pada Piala Liga 1992. Hingga menjelang Liga Indonesia 1994/1995, Arema dikabarkan bangkrut (Sportif edisi 1-15 Juni 1994). Namun, sebagaimana Bandung Raya atau klub-klub Galatama lainnya yang kembang kempis, Arema pun tertolong.

Memasuki Liga Indonesia, Arema masih bertahan hingga akhirnya terdegradasi dari hasil Divisi Utama Liga Indonesia 2003. Berkiprah di Divisi I Liga Indonesia 2004, Arema berhasil menjuarainya dan promosi ke Divisi Utama Liga Indonesia 2005.

Mulai era ini, Arema menjadi juara Piala Indonesia 2005 dan 2006. Sebagai juara Piala Indonesia 2005, Arema (dan Persipura sebagai juara Liga Indonesia 2005) menjadi wakil Indonesia di Liga Champions Asia 2006. Sayang, karena kelalaian administrasi PSSI, Arema dan Persipura batal mengikuti Liga Champions Asia 2006 tersebut.

Berbeda dengan Persipura, Arema sebagai juara Piala Indonesia 2006 masih berkesempatan mengikuti Liga Champions Asia 2007 karena satu jatah lainnya diraih Persik sebagai juara Liga Indonesia 2006. [Setelah periode 2006, Liga Indonesia “diakhiri” periode 2007/2008 yang memunculkan kejayaan Sriwijaya FC. (Liga Indonesia periode “terakhir” tersebut mengalami pengunduran jadwal hingga Februari 2008 sehingga dicatat periode 2007/2008). Lalu, Liga Super Indonesia pun dimulai 2008/2009.]

Dalam dua kali Liga Super Indonesia (2008/2009 dan 2009/2010), Arema masih bernama (baca: ditulis) Arema. Arema yang diarsiteki Robert Rene Albert pun tercatat sebagai juara Liga Super Indonesia 2009/2010. Karenanya, Arema (dan Sriwijaya FC sebagai juara Piala Indonesia 2010) menjadi wakil Indonesia di Liga Champions Asia 2011.

Memasuki Liga Super Indonesia periode ketiga (2010/2011), Arema bernama Arema Indonesia. Hasilnya, Arema Indonesia asuhan Miroslav Janu menempati peringkat runner-up Liga Super Indonesia 2010/2011 yang berakhir 19 Juni 2011 sehingga berkesempatan mengikuti Antarklub Asia 2012 (baca: Piala AFC 2012). [Jatah Liga Champions Asia 2012 lainnya diraih Persipura sebagai juara Liga Super Indonesia 2010/2011. Selain itu, pada masa ini (2011), ada Arema Indonesia versi Rendra Kresna dan ada pula Arema Indonesia versi Muhammad Nur-Eddy Rumpoko (dan kemudian Lucky Acub Zaenal).]

Dalam perkembangannya, dualisme kompetisi PSSI (setelah Liga Primer Indonesia 2011) masih terjadi: Liga Prima Indonesia 2011/2012 (kelak, resmi) dan Liga Super Indonesia 2011/2012 (kelak, tidak resmi). [Umumnya, Liga Prima Indonesia itu masih ditulis Liga Primer Indonesia.] Pada masa ini, Persipura mengikuti Liga Super Indonesia 2011/2012, sedangkan Arema Indonesia terbagi dua: Arema Indonesia LPI 2011/2012 asuhan Milomir Seslija dan Arema Indonesia LSI 2011/2012 asuhan Wolfgang Pikal. Arema LPI (Kurnia Meiga cs.) bermaterikan pemain “kuat”, sedangkan Arema LSI (Ahmad Kurniawan cs.) bermaterikan pemain “muda”. [Kelak, Kurniawan Meiga cs pindah ke Arema LSI dalam Putaran II Liga Super Indonesia 2011/2012. Bukan hanya pemain, suporter pun beralih.]

Dampak dualisme kompetisi itu, Persipura (juara Liga Super Indonesia 2010/2011) tidak bisa mengikuti Liga Champions Asia 2012 karena LSI 2011/2012 dinyatakan sebagai kompetisi tidak resmi. Sementara Arema Indonesia (runner-up Liga Super Indonesia 2010/2011) masih bisa berkesempatan mengikuti Piala AFC 2012 karena sudah berpindah ke LPI 2011/2012 yang dinyatakan sebagai kompetisi resmi. [Sebetulnya, Arema Indonesia (yang pindah ke LPI) hendak menggantikan posisi Persipura di Liga Champions Asia 2012, tetapi ditolak AFC. Akhirnya, Arema Indonesia yang diarsiteki Dejan Antonic “hanya” bisa berlaga di Piala AFC 2012 dengan penjaga gawang Romanovs-nya.]

Sebagai gambaran, Arema Indonesia LSI, pada awalnya dilatih oleh Wolfgang Pikal. Baru beberapa pertandingan, Wolfgang Pikal digantikan oleh Joko “Gethuk” Susilo. Namun, Arema Indonesia LSI tetap harus puas menempati peringkat ke-18 atau juru kunci Putaran I Liga Super Indonesia 2011/2012.

Sementara itu, Arema Indonesia LPI, pada awalnya dilatih oleh Milomir Seslija. Namun, sejak 6 Februari 2012, ketika baru mencatat dua kemenangan dalam dua pertandingan awal Liga Prima Indonesia 2011/2012, Milomir Seslija digantikan oleh Abdul Rachman Gurning (Bandung Ekspres edisi 7 Februari 2012). Sebelumnya, ada peristiwa unik yaitu Milomir Seslija yang berkekuatan 18 pemain dan Abdul Rachman Gurning yang berkekuatan 17 pemain datang sendiri-sendiri menuju Solo. Alhasil, ke-35 pemain bersatu dalam suatu latihan di bawah arahan Abdul Rachman Gurning. Akhirnya, manajemen memang telah memilih Abdul Rachman Gurning sebagai pelatih kepala Arema Indonesia LPI.

Sayang, Arema Indonesia LPI asuhan Abdul Rachman Gurning justru tidak kunjung membaik. Ketika Arema Indonesia LPI sudah menyelesaikan tujuh pertandingan awal, catatan kemenangannya hanya dua kali yaitu “warisan” Milomir Seslija. Alhasil, Abdul Rachman Gurning pun digantikan oleh Dejan Antonic meskipun Arema Indonesia LPI masih “bertahan” di papan bawah Putaran I Liga Prima Indonesia 2011/2012. Dejan Antonic pula yang akhirnya mengasuh Arema Indonesia LPI di Piala AFC 2012.

Tahun 2013, PSSI bersatu lagi. Kompetisi pun hanya satu lagi. Kali ini, hanya ada Liga Super Indonesia (2013). Ketika kompetisi resmi hanya ada satu (Liga Super Indonesia 2013), Arema Indonesia pun kembali hanya ada satu. Tentu saja, Arema Indonesia di sini adalah Arema Indonesia LSI 2011/2012 karena Arema Indonesia LPI 2011/2012-nya “menghilang”.

Dalam perkembangannya, Arema Indonesia (LPI) tengah “tiarap”, sedangkan Arema Indonesia (LSI) berganti nama menjadi Arema Cronus Indonesia. Namun, berdasarkan pengamatan saya (NovanMediaResearch) pada Liga Super Indonesia 2014, meskipun di dunia nyata ditulis Arema Cronus (Indonesia), di dunia maya (web PT LI) masih ditulis Arema Indonesia. [Kelak, ternyata, memang muncul “kesimpangsiuran” hingga dalam Kongres PSSI 2017 memunculkan Arema Cronus dan Arema Indonesia.]