Kisah Pembentukan Timnas PSSI Pra Piala Dunia 1986 Tahap Pertama

22 Maret 2021

Hingga dekade 1980-an, ada beragam tim nasional (timnas) Indonesia yang dibentuk oleh PSSI. Namun, khusus untuk babak kualifikasi Piala Dunia 1986 yang saat itu lazim ditulis Pra Piala Dunia 1986, PSSI membentuk timnasnya yang bernama timnas PSSI PPD 1986 –selanjutnya ditulis “PSSI PPD 1986” atau “PSSI PPD” saja.

Sebagaimana dimaklumi, pada masa itu, ada timnas Indonesia yang bernama, antara lain, PSSI Tamtama, PSSI Binatama, PSSI Utama, PSSI Pratama, PSSI Perserikatan, PSSI Galatama, dan PSSI Garuda, selain PSSI PPD itu sendiri.

Berkaitan dengan penyelenggaraan Pra Piala Dunia 1986, Sekretaris Umum PSSI Nugraha Besoes, Jumat (13 April 1984), di Senayan, mengumumkan keputusan PSSI bahwa Sinyo Aliandu (Tunas Inti) akan menangani timnas Indonesia untuk persiapan event empat tahunan tersebut. Sebelumnya, pada Januari dan Februari 1984, Sinyo Aliandu memperdalam ilmu sepak bolanya di Brasil dan siapa sangka, kelak, ia dipilih untuk menangani PSSI PPD.

Selain Sinyo Aliandu yang ditunjuk sebagai pelatih utama, PSSI pun menunjuk Benny Mulyono (Warna Agung) sebagai manajer tim dengan Benniardi (Tunas Inti) sebagai asisten manajer-nya. Sementara Acub Zainal (Niac Mitra), Ketua III PSSI Bidang Galatama, ditunjuk sebagai pimpinan rombongan –kepala proyek PSSI PPD 1986.

Bagaimana dengan pemainnya? Menurut Nugraha Besoes, pemilihan pemain baru akan diumumkan setelah selesai kompetisi Galatama 1983/1984, tetapi materi pemain sudah pasti diambil dari klub Galatama.

Jauh, sebelumnya, pada masa ini, PSSI sudah membentuk dua timnas yaitu PSSI Garuda dan PSSI Perserikatan, selain PSSI ABRI yang menurut Ketua Umum PSSI Kardono akan segera dibentuk.

(Marsekal Madya TNI Kardono, Sekretaris Militer Kepresidenan, terpilih sebagai Ketua Umum PSSI dan sekaligus formatur tunggal pembentukan pengurus harian PSSI periode 1983-1987 dalam Kongres ke-28 PSSI di Asrama Haji, Pondokgede, Bekasi, Jumat, 11 November 1983 [Kompas edisi Sabtu, 12 November 1983]. Kelak, Kardono mengumumkan para pengurus PSSI pada Kamis, 8 Desember 1983 [Kompas edisi Jumat, 9 Desember 1983]).

Perihal pelatnas PSSI PPD 1986, Sinyo Aliandu belum menjelaskan bentuk pelatnasnya seperti apa. “Tetapi bentuknya seperti apa, masih akan dibicarakan. Tentu saja akan lebih baik kalau tidak mengganggu kompetisi Galatama,” kata Aliandu sebagaimana dikutip Kompas edisi Minggu, 15 April 1984.

Dalam perkembangannya, kompetisi Galatama 1983/1984 berakhir pada Minggu, 20 Mei 1984. Dalam kompetisi Galatama periode IV itu, Yanita Utama (Bogor) berhasil menjadi juara. Berkaitan dengan PSSI PPD 1986 itu pula, PSSI hendak mengumumkan para pemainnya seusai Galatama 1983/1984 seperti yang direncanakan.

Nama-nama pemain pelatnas PSSI PPD 1986 pun diumumkan. Mereka adalah Bambang Nurdiansyah, Bujang Nasril, Elly Idris, Herry Kiswanto, Joko Malis, M. John (Yanita Utama), Badiaraja Manurung, Zulkarnaen Lubis (Mercu Buana), Antonius Cahyono, Aun Harhara, Wahyu Tanoto (Tunas Inti), Hasan Tuharea, Sanija (UMS 80), Adityo Darmadi, Dede Sulaeman, Didik Darmadi (Indonesia Muda), Rohandi Yusuf (Makassar Utama), Agusman Riyadi, Yusuf Bachtiar (Perkesa 78), I Made Manalika, Ristomoyo (Caprina), Dudung Abdullah, Warta Kusuma (Warna Agung), Tonggo Tambunan (Arseto), Donny Latuperissa, Dullah Rahim, Ferrel Raymond Hattu (Niac Mitra), Benny van Breukelen, dan Robby Darwis (Tempo Utama).

Dari ke-29 nama itu tampak beberapa pemain yang baru memperkuat timnas yaitu Elly Idris, M. John (Yanita Utama), Adityo Darmadi (Indonesia Muda), Yusuf Bachtiar, Agusman Riyadi (Perkesa 78), I Made Manalika (Caprina), Donny Latuperissa, Ferrel Raymond Hattu (Niac Mitra), Benny van Breukelen, Robby Darwis (Tempo Utama), dan Dudung Abdullah (Warna Agung).

Dari nama-nama itu, salah satu pemain terbaik pada zamannya, Ronny Pattinasarani tidak terpanggil. Ronny memaparkan, sebelum pembentukan tim, dia diajak berembuk oleh Pelatih Sinyo Aliandu untuk memilih pemain yang perlu dipanggil. Namun, pada saat terakhir, ia tidak melihat namanya dipanggil dan ia tidak merasa heran dengan hal seperti itu.

“Ternyata sejarah berulang kembali. Yang pernah diputuskan dalam satu dua hari berubah menjadi lain,” sahut Ronny Pattinasarani, playmaker terbaik dan/atau pendistribusi bola tangguh, yang mengaku tidak merasa sakit hati dirinya tidak terpanggil, sebagaimana dikutip Kompas edisi Jumat, 25 Mei 1984.

Sementara itu, Kepala Proyek PSSI Galatama –PSSI PPD 1986– Acub Zainal, Rabu (23 Mei 1984), menyatakan bahwa Pelatih Utama Sinyo Aliandu akan didampingi oleh Mohammad Basri (Niac Mitra), Sartono (Tunas Inti), dan Salmon Nasution (Warna Agung).

Pelatnas Hari Pertama

Pelatnas PSSI PPD 1986 tahap I dimulai pada Senin, 28 Mei 1984. Dalam pelatnas hari pertama itu tampak 14 pemain yang hadir. Sementara tiga pemain Indonesia Muda dan enam pemain Yanita Utama, termasuk seorang pemain Arseto, belum hadir. Sebagaimana dimaklumi, kesepuluh dari tiga klub tersebut sedang melakukan pertandingan uji coba segitiga di Stadion Sriwedari, Solo (25-27 Mei 1984).

Para pemain pelatnas dimukimkan di Jalan Tokyo, Senayan, Jakarta, dengan memborong sembilan flat. Pelatnas yang terselenggara dengan total biaya lebih kurang Rp 500 juta itu untuk pertama kalinya berlangsung malam hari dengan maksud menyesuaikan diri dengan kondisi bulan puasa mendatang di mana sebagian besar pemain tidak bisa berlatih maksimal pada sore hari.

Hasil Pertandingan Uji Coba Segitiga di Stadion Sriwedari, Solo
25-05-1984: Arseto vs Yanita Utama 2-2
26-05-1984: Yanita Utama vs Indonesia Muda 1-2
27-05-1984: Indonesia Muda vs Arseto 0-0

Begitupun tiga pemain Niac Mitra bersama Pelatih M. Basri yang belum hadir. Mereka sedang melakukan pertandingan segitiga di Surabaya (28-30 Mei 1984) bersama Yanita Utama dan Assyabaab (klub intern Persebaya). Sebelumnya, Minggu (27 Mei 1984) di Stadion Wilis, Madiun, Niac Mitra menang 3-1 atas Sari Bumi Raya dalam pertandingan uji coba.

Hasil Pertandingan Uji Coba Segitiga di Stadion Gelora 10 Nopember, Surabaya
28-05-1984: Yanita Utama vs Assyabaab 2-2
29-05-1984: Assyabaab vs Niac Mitra 1-2
30-05-1984: Niac Mitra vs Yanita Utama 2-1

Kompas edisi Selasa, 29 Mei 1984, melaporkan, Sinyo Aliandu masih dihadapkan pada pilihan penjaga gawang untuk mendampingi Benny van Breukelen dan Donny Latuperissa.

Dalam kesempatan itu, Salmon Nasution, pelatih bantu yang mendampingi pelatih utama (Sinyo Aliandu) mengungkapkan kegembiraannya ikut menangani tim Pra Piala Dunia kali ini. Pelatih bantu lainnya, Mohammad Basri belum hadir, sedangkan Sartono menolak karena dalam waktu yang bersamaan (28 Mei 1984) namanya diumumkan sebagai pelatih utama UMS 80 yang didampingi dua asistennya (Bertje Matulapelwa dan Benny Dollo). Sebelum ini, terakhir, Sartono dan Bertje Matulapelwa merupakan pelatih yang mendampingi Harry Tjong di Tunas Inti.

Meski baru di-pelatnas-kan lebih kurang seminggu, PSSI Galatama –untuk Pra Piala Dunia 1986– sudah bersiap untuk menghadapi PSSI Perserikatan dalam pertandingan uji coba. Sinyo Aliandu pun belum bisa menuntut banyak dari para pemainnya. Apalagi belum semua pemain hadir. Pada masa yang bersamaan, PSSI Galatama dan PSSI Perserikatan sedang dipelatnaskan di Senayan. PSSI Galatama merupakan timnas yang dipersiapkan menuju Pra Piala Dunia 1986, sedangkan PSSI Perserikatan merupakan timnas yang dipersiapkan menuju Piala Merdeka 1984 di Malaysia. Pertandingan uji coba itu diupayakan berlangsung setiap akhir pekan (Sabtu).

Dalam pertandingan uji coba yang berlangsung di Stadion Utama, Senayan, Jakarta (2 Juni 1984) itu, PSSI Galatama mengalahkan PSSI Perserikatan 3-0. Kompas edisi Minggu, 3 Juni 1984, melaporkan, tim yang digembleng Pelatih Sinyo Aliandu itu memperlihatkan operan-operan pendek. Mencoba menerapkan instruksi membaca permainan lawan, PSSI Galatama memegang kendali permainan walau masih tersendat dengan pembagian bola yang kurang akurat. Ketiga gol PSSI Galatama yang tercipta melalui Zulkarnaen Lubis, Sanija, dan Adityo Darmadi tidak terlalu istimewa, tetapi cukup mengesankan.

Pertandingan tersebut cukup memikat penggemar sepak bola yang tidak terbatas pengurus teras PSSI Galatama seperti Acub Zainal, Benny Mulyono, dan Benniardi, tetapi juga para pelatih hadir seperti Marek Janota (Indonesia Muda), Harry Tjong (Tunas Inti), dan Ipong Silalahi.
Memasuki pekan kedua masa pelatnas tahap I, dua dari 29 pemain sudah dipastikan tidak bergabung. Kedua pemain tersebut yaitu Hasan Tuharea (UMS 80) dan I Made Manalika (Caprina). Alasannya, Hasan Tuharea diperlukan untuk konsolidasi dan evaluasi klubnya, sedangkan I Made Manalika tidak bisa meninggalkan pendidikannya di SMA (Kompas edisi Selasa, 5 Juni 1984) sehingga PSSI PPD tinggal berkekuatan 27 pemain.

Setelah melakukan pertandingan uji coba pertama melawan PSSI Perserikatan (2 Juni 1984) di Senayan, PSSI Galatama pun melakukan uji coba keduanya pada 9 Juni 1984 di tempat yang sama. Hasilnya, PSSI Galatama menang 1-0 atas Tempo Utama (Bandung) melalui gol tunggal Bambang Nurdiansyah. Pada masa ini, selain menjadi peserta Galatama 1983/1984, Tempo Utama merupakan juara Piala Siliwangi 1984 (20 Mei 1984).

Dalam uji coba ketiganya, masih di Senayan, PSSI Galatama mencetak kemenangan 3-0 atas UMS 80 (16 Juni 1984). Ketiga gol PSSI Galatama dicetak Wahyu Tanoto, Joko Malis, dan Rohandi Yusuf. Seperti dua pertandingan uji coba sebelumnya, menurunkan formasi pemain yang berbeda, baik babak pertama maupun babak kedua, PSSI Galatama lebih menguasai lapangan.

Akhirnya, pelatnas tahap I yang berlangsung selama lebih kurang tiga minggu itu pun selesai. Acara pelepasan pemain dilakukan di Rumah Makan Permata Hijau, Senayan, Jakarta, Sabtu (23 Juni 1984), malam. Sebagai catatan, tidak seluruh pemain akan dipanggil lagi untuk pelatnas tahap berikutnya.

Manajer Tim Benny Mulyono mengatakan, dari 27 pemain PSSI Galatama yang dipersiapkan ke babak penyisihan Piala Dunia Maret 1985, beberapa di antaranya akan digugurkan. “Kita tidak mungkin mengambil seluruh pemain. Minimal 20 orang. Tetapi itu tidak berarti kami menutup kemungkinan perkembangan mereka pada putaran kompetisi berikut,” ujar Benny sebagaimana dikutip Kompas edisi Senin, 25 Juni 1984.

Dalam acara perpisahan tersebut, para ofisial menekankan agar pemain bisa mempertahankan yang diperoleh selama tiga minggu di pelatnas dan mengembangkannya di klub masing-masing. Para pemilik klub maupun pelatihnya diminta terus memonitor perkembangan pemain sampai pelatnas tahap II, November 1984.

Sementara itu, Pelaksana Proyek Acub Zainal mengungkapkan, pada pelatnas tahap November-Desember, mereka akan betul-betul digembleng sebagai satu tim yang tangguh.