Selamat Datang Persijap Oasis Water

18 Januari 2020

AntaraNews.com edisi Jumat, 17 Januari 2020, pukul 18.21 WIB, melaporkan Persijap Jepara yang berjudul “Persijap resmi ganti nama jadi Persijap Oasis Water”.

Saya sebagai pengelola blog NovanMediaResearch memandang positif pada kabar tersebut. Saya sengaja menulis “memandang positif” daripada “menyambut baik” –mengingat, itu bukan klub saya.

Adanya nama Persijap Oasis Water, bagi saya, bukan hal yang aneh. Pada masanya, ketika Liga Indonesia telah bergulir, Persebaya sudah “mendahuluinya” dengan nama Persebaya Phillip –meskipun itu baru usul pada pemberitaan. Ya, dalam suasana industri sepak bola (profesional), klub-klub sepak bola di Indonesia mestinya begitu –meskipun tidak selalu. Namun, terlepas dari masalah sponsor atau entah karena masalah sejarah, Persebaya tetap bernama Persebaya tanpa melekatkan sponsornya.

Jauh, sebelumnya, sebelum era Liga Indonesia dimulai, sebetulnya ada usulan dari Ketua AFC asal Malaysia agar klub-klub di Indonesia memakai nama kota –daerah– nya. Sebutlah Medan, Bandung, Jakarta, dan sebagainya. Hal itu untuk menciptakan dan mempertahankan fanatisme suporter kepada klubnya. (Namun, kita pun mesti memaklumi usul tersebut dari siapa. Ya, orang Malaysia yang di Liga Malaysia-nya sendiri mengikutsertakan Selangor, Kedah, Kuala Lumpur, dan sebagainya. Sebutlah hal ini sebagai suasana kebatinan di suatu negara, dalam hal ini Malaysia, sehingga kita –Indonesia– tidak perlu ikut-ikutan. Begitulah kira-kira).

Perihal klub bernama “Surabaya Persebaya Phillip” misalnya, di dunia bola basket (IBL) dan bola voli (ProLiga), kita sudah memulainya, seperti Bandung BJB Pakuan –BJB (Bank Jabar dan Banten)– dalam ProLiga atau Jakarta Britama Satria Muda (IBL).

Namun, “keterbukaan” di sepak bola belum sedahsyat di bola basket dan di bola voli. Selain itu, nama-nama klub di bola basket dan di bola voli cenderung pada apa yang di sepak bola kita dikenal dengan nama “klub sepak bola utama”, dan bukan “perserikatan”. Apalagi jika dikaitkan dengan klub sepak bola di dunia: Arsenal tetaplah Arsenal misalnya meskipun Arsenal punya kota dan sponsor. (Namanya sponsor –penyokong dana utama– tentu ingin dikenal khalayak).

Persijap Oasis Water

Persijap merupakan perserikatan (organisasi) di Kabupaten Jepara. Idealnya, berdasarkan konsep, Persijap yang berkompetisi di Liga 2 2020 merupakan klub profesional yang dibentuk oleh Persijap (organisasi) sebagai induknya. (Pada zaman sekarang, orang-orang sudah “menyerahkannya” kepada pemilik saham sehingga dianggap sebagai miliknya. Entah bagaimana caranya. Karena tidak seragam, hal itu membuat “keramaian” tersendiri dalam setiap kali sebuah klub berpindah kepemilikan, tempat, dan/atau nama –khususnya “tim Perserikatan”).

Dalam hal ini, Persijap (organisasi) merupakan pemilik –badan hukum publik dari Pemkab Jepara sebagai kepanjangan tangan masyarakat Jepara–, sedangkan Persijap (klub profesional) sebagai pengelolanya –manajemen yang mengurus tim Persijap. (Jika dianggap sebagai pengelola, logis kalau klub profesional itu berpindah tempat dan/atau berganti nama, selama pemiliknya tetap yang dulu. Dan… suatu saat bisa kembali. Lucu? Aneh? Ya, rasa itu tergantung pada pemahaman kita masing-masing).

Jadi, berdasarkan konsep tersebut, nama klub profesionalnya bisa “Persijap Oasis Water” atau “Jepara Persijap Oasis Water” atau bahkan “Oasis Water” saja. Kalaupun “Oasis Water”, kita pun harus tahu bahwa klub tersebut adalah Persijap. Bukan Persib, Persija, atau Persebaya, misalnya. (Sayang, dalam sepak bola Indonesia, untuk hal seperti ini rentan dihilangkan dari sejarahnya karena ada jeda antargenerasi).

Rentannya di mana? Ya, bagaimana kalau Oasis Water berpindah tempat –meskipun hal itu, dalam kecenderungan hari ini, bisa saja terjadi. Ya, kembali lagi pada istilah “meskipun”, meskipun kita, terutama masyarakat pencinta sepak bola Persijap, tetap menganggapnya bahwa Oasis Water adalah Persijap.

Jadi, nama Persijap Oasis Water lebih aman. Tepat! Ada Persijap-nya, meskipun, ya sekali lagi meskipun, memperhatikan kecenderungan akhir-akhir ini, ada Persijatim di Solo (kini, Sriwijaya FC) atau Persebo di Musi Banyuasin (kini, Sumsel United), dan lain-lain.

Yakinkan saja bahwa (Persijap) Oasis Water tidak akan pindah selama PSSI belum menegaskan soal regulasi dan pemindahan klub (?).

Masyarakat pencinta Persijap hanya bisa berharap, Oasis Water hanya sponsor, dan bukannya manajemen. (Jika manajemen, perhatikan saja Madura United yang berpindah wadah [organisasi] dari Persepam ke Persipasi. Terlepas dari itu, saya memandang bahwa Madura United itu bersikap sopan santun. Ya, Persepam-nya tetap eksis. Sayangnya, karena “tidak seragam” itu tadi, mengapa Persipasi minta dipulihkan? Bukankah yang pindah itu [Pelita] Bandung Raya-nya? Berarti, ada yang salah paham soal kepemilikan perserikatan).

Tidar Sakti

Pada era Galatama, kita mengenal Tidar Sakti. PS Tidar Sakti merupakan klubnya BUMD PT Tidar Sakti –tentu saja bagian dari Pemda Kodya Magelang yang saat itu dijabat Wali Kota Madya dr. Moch. Soebroto –dokter di lingkungan Angkatan Darat.

Ketika Moch. Soebroto tidak menjabat sebagai wali kota madya Magelang lagi, Tidar Sakti mengalami kesulitan finansial –yang sebetulnya sudah sejak awal. Karenanya, Tidar Sakti membutuhkan investor yang baru. Muncullah Indopola dan Armada Gelas yang kelak sempat mengganti nama Tidar Sakti menjadi Armada 81.

Namun, tahukah anda bahwa “pemilik” Tidar Sakti (dr. Moch. Soebroto) hanya mengalihkan manajemennya saja? Ya, kabarnya, “sisa” aset Tidar Sakti dikembalikan ke Pemda, sedangkan manajemen Tidar Sakti-nya yang baru itu sendiri diberi waktu “sewa” selama empat tahun. Sayang, tidak lama kemudian, Tidar Sakti sudah membubarkan diri –sebelumnya sempat ingin merger dengan Sari Bumi Raya– sehingga kita tidak mengetahui kelanjutan manajemen Tidar Sakti itu seperti apa.

Contoh Tidar Sakti ini mungkin tidak relevan dengan Persijap karena Tidar Sakti merupakan “klub sepak bola utama”, sedangkan Persijap merupakan “tim Perserikatan”. Namun, dari contoh Tidar Sakti ini kita bisa melihat contoh pembelajaran manajemennya bahwa manajemen boleh berganti, tetapi Tidar Sakti-nya tetap milik Pemda –yang sekali lagi, kini cenderung dimiliki oleh pemilik modal. (Tiada pemilik modal, ikhlaskan klubnya tidak ikut kompetisi. Apakah mau kalau klubnya dijual? Siapa sih pemilik “tim Perserikatan” itu?).

Persisam

Karena Persijap itu perserikatan maka Persisam cocok untuk dijadikan salah satu contoh. Persijap dan Persisam sama-sama perserikatan.

Pada masanya, ada Persisam (Samarinda) di kompetisi Perserikatan dan Putra Samarinda (Samarinda) di kompetisi Galatama. Lalu, di Liga Indonesia –peleburan Perserikatan dan Galatama– Persisam dan Putra Samarinda melakukan merger menjadi Persisam Putra. (Putra Samarinda bergabung ke Persisam). Nah, apakah anda ingat bahwa pada LSI 2014 Persisam Putra berganti nama menjadi Putra Samarinda –meskipun saat itu media massa pun masih bingung apakah harus menulis Persisam Putra atau Putra Samarinda? Kelak, ketika Putra Samarinda (Pusam) berpindah ke Bali (Gianyar), saya menduga bahwa manajemen Pusam memang akan berpindah. Akhirnya, terbukti bahwa Pusam berpindah dan/atau berganti nama menjadi Bali United Pusam –kini, Bali United saja.

Ya, itulah manajemen.

Berkaitan dengan Persijap, semoga kelak Oasis Water-nya tidak pindah. Maklum, kini kecenderungannya begitu. Nah, jika berkaca pada Tidar Sakti –meskipun ini “klub sepak bola utama”, Oasis Water hanya sebagai penyokong dana saja.

(Kabarnya, sebelumnya, Persijap sudah bernama Persijap Oasis Water –tetapi belum “diramaikan”. Menurut saya, hal itu mirip Jaka Utama [Galatama 1982/1983] yang sebetulnya sudah bernama Yanita Utama. Yanita Utama itu sendiri dimunculkan pada Galatama 1983/1984).

Selamat datang Persijap Oasis Water….