Timnas Indonesia dan Jepang (1981)

4 Oktober 2017

Hanya kurang dari sepekan setelah menghadapi Ajax (Belanda), PSSI Utama dihadapkan kembali dengan lawan baru: timnas Jepang. Timnas Jepang di sini tentu saja timnas yang dipersiapkan Jepang untuk (Pra) Olimpiade 1984. Timnas Jepang sendiri melakukan lawatannya ke Thailand, Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Filipina untuk mempersiapkan lebih dini guna (Pra) Olimpiade 1984.

Hasilnya, PSSI Utama berhasil mengalahkan Jepang 2-0 di Stadion Utama, Senayan, Jakarta, Selasa, 24 Februari 1981. Kedua gol kemenangan timnas Indonesia dicetak Bambang Nurdiansyah pada menit ke-42 dan Berty Tutuarima (49). Bambang Nurdiansyah mencetak gol melalui tendangan volley melengkung, sedangkan Berty Tutuarima lewat tendangan kiri yang keras.

Sebagaimana dipahami bahwa pada masa ini, khususnya ketika melawan Jepang, timnas Indonesia (baca: PSSI Utama) diasuh Syarnoebi Said (manajer) dan Harry Tjong (pelatih).

Sebelumnya, Minggu, 22 Februari 1981, di tempat yang sama, PSSI Pratama asuhan Dimas Wahab (manajer) dan Iswadi Idris (pelatih) bermain imbang 1-1 dengan Jepang. Saat itu, gol Pieter Fernandez pada menit ke-37 dibalas Nobutoshi Kaneda (68). Pieter Fernandez mencetak gol hanya lima menit setelah masuk menggantikan Johny Fahamsyah.

PSSI Utama: Purwono (penjaga gawang), Simson Rumahpasal, Ronny Pattinasarani, Suharno/Subangkit, Didik Darmadi, Herry Kiswanto/Suapri, Kris Wakano, Berty Tutuarima, Rully Nere, Hadi Ismanto, dan Bambang Nurdiansyah/Bambang Sunarto.

Jepang: Y. Kato (penjaga gawang), S. Tanaka, H. Maeda, A. Nishimura, S. Sudo, T. Okada/T. Sunobe, T. Totsuka/S. Tetsuka, H. Yoshida, K. Hashiratami, H. Hara, dan N. Kaneda.

Iklan

Djadjang Nurdjaman Oh Djadjang Nurdjaman

15 September 2017

Apakah anda ingin mengetahui gol spektakuler Djadjang Nurdjaman ala Diego Maradona (PD 1986) atau Saeed Owairan (PD 1994)? Tanyakanlah hal itu pada Djadjang Nurdjaman ketika mengikuti Queens Cup 1978 (he…he…he…).

Itulah satu-satunya gol Persib dalam Queen’s Cup 1978. Saya hanya mengutip hasil-hasil pertandingannya saja dari buku “Persib ’86: Lahirnya Kembali Generasi Emas Persib”: “…Dalam pertandingan pembukaan Queen’s Cup 1978, Persib berhasil menahan juara bertahan (bersama Han Yang Korea Selatan) Port Authority (Thailand) 1-1. Dalam pertandingan yang berlangsung pada 10 Oktober 1978 itu, Djadjang Nurdjaman berhasil mencetak satu-satunya gol untuk Persib pada menit 82. Namun, dalam pertandingan kedua (12/10/1978), Persib harus mengakui keunggulan Polisi Bangkok (Thailand) 0-1. Akhirnya, Persib pun tersisih setelah dalam pertandingan yang berlangsung pada 14 Oktober 1978, Port Authority mengalahkan Polisi Bangkok 3-1…”.

Galatama

Pertandingan perdana kompetisi Galatama 1979/1980 sudah dilakoni Sari Bumi Raya (Bandung). Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Utama, Senayan, Jakarta, 18 Maret 1979, itu Sari Bumi Raya berhasil mengalahkan “tuan rumah” Perkesa 78 (Bogor) 1-0 melalui gol Djadjang Nurdjaman pada menit ke-86. Alhasil, Djadjang Nurdjaman tercatat sebagai pencetak gol pertama bagi Sari Bumi Raya di Galatama.

Siapakah Djadjang Nurdjaman?

Djadjang Nurdjaman merupakan pemain Persib yang berlaga dalam kompetisi Perserikatan 1978. Sosok kelahiran 30 Maret 1958 itu kemudian bergabung bersama Sari Bumi Raya (Bandung) untuk mengikuti kompetisi Galatama 1979/1980.

Ketika Sari Bumi Raya memutuskan pindah ke Yogyakarta untuk mengarungi kompetisi Galatama 1980/1982, Djadjang Nurdjaman (bersama kawan-kawannya dari Bandung) masih turut bergabung. Namun, sebelum kompetisi Galatama periode kedua berakhir, lebih tepatnya sesudah putaran I berakhir, Djadjang Nurdjaman balik lagi ke Bandung. Alasan studi, kerja, dan keluarga menghinggapi “Orang-orang Bandung”. Djadjang Nurdjaman pun berkesempatan untuk mengikuti Invitasi Perserikatan U-23 tahun 1981 bersama Persib yang diselenggarakan pada 21 Oktober sampai dengan 1 November 1981. Sekadar informasi, memasuki putaran kedua, Sari Bumi Raya didominasi oleh para pemain Yogyakarta meskipun masih ada pemain Bandung-nya. Para mahasiswa Yogyakarta yang kelak menjadi sarjana turut mewarnai perjalanan Sari Bumi Raya (Yogyakarta).

Dalam perkembangannya, Djadjang Nurdjaman berlabuh di Mercu Buana (Medan) untuk kompetisi Galatama 1982/1983, 1983/1984, dan 1984. Penampilan terakhir Djadjang Nurdjaman dalam lingkungan Galatama terjadi pada Piala Liga I/1985 ketika masih memperkuat Mercu Buana. Bahkan Djadjang Nurdjaman beristerikan Miranda Panggabean, putri Kamaruddin Panggabean, tokoh sepak bola Sumatera Utara.

Seusai Mercu Buana membubarkan diri sehingga tidak bisa mengikuti kompetisi Galatama 1985, Djadjang Nurdjaman balik lagi ke Bandung. Tentu saja Persib menjadi pelabuhan berikutnya dan ternyata hingga pensiun dalam kompetisi Perserikatan 1993/1994. Dalam kompetisi Perserikatan periode terakhir itu, selain sebagai pemain, Djadjang Nurdjaman pun tercatat merangkap sebagai asisten pelatih dari Indra M. Thohir yang bertindak sebagai pelatih kepala.

Sejak menjadi asisten pelatih itulah, Djadjang Nurdjaman “naik pangkat” sebagai pelatih kepala bersama Persib sebagai masa dominan kepelatihannya, selain Pelita Jaya, baik senior maupun U-21.

Trivia

Djadjang Nurdjaman adalah pencetak gol pertama dan sekaligus terakhir bagi Sari Bumi Raya ketika klub Galatama tersebut berdomisili di Bandung. Kebetulan gol pertama dan terakhir itu dicetak di Stadion Utama, Senayan, Jakarta. Djadjang Nurdjaman mencetak gol tunggal kemenangan Sari Bumi Raya ketika menang 1-0 atas tuan rumah Perkesa 78 (18 Maret 1979). Djadjang Nurdjaman pun mencetak gol terakhir ketika menahan tuan rumah Arseto 3-3 (21 April 1980).

Selain di kompetisi Galatama, Djadjang Nurdjaman tercatat pula sebagai pencetak gol perdana Mercu Buana dalam debutnya di Piala Liga I/1985 ketika mengalahkan Warna Agung 4-1 (13 April 1985).

Sementara itu, gol tunggal kemenangan Persib atas Perseman 1-0 dalam babak grandfinal kompetisi Perserikatan 1986 (11 Maret 1986) menciptakan icon tersendiri bagi Djadjang Nurdjaman. Dari sekian catatan prestasinya itu, gol tunggalnya itulah yang membuatnya disebut-sebut dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Indonesia, Fiji, dan Kisah Pra Piala Dunia 1982

29 Agustus 2017

Auckland, Selandia Baru, 24 Mei 1981. Pada hari Minggu itu, secara mengejutkan, Harry Tjong, pelatih timnas Indonesia untuk Pra Piala Dunia 1982, menyatakan akan mengundurkan diri sekembalinya di Jakarta awal Juni 1981. Hal itu sebagai bentuk pertanggungjawaban dirinya pada tiga kekalahan beruntun dalam tiga pertandingan pertamanya di Grup I Asia-Oceania Pra Piala Dunia 1982.

Timnas Indonesia yang berupa PSSI Utama itu mengalami kekalahan dari Selandia Baru 0-2 di Jakarta (11 Mei 1981), Australia 0-2 di Melbourne (20 Mei 1981), dan Selandia Baru 0-5 di Auckland (23 Mei 1981). Indonesia pun segera bersiap diri menghadapi tuan rumah Fiji di Suva, 31 Mei 1981, untuk pertandingan keempatnya.

Sejak kekalahan 0-2 dari Selandia Baru di Stadion Utama, Senayan, Jakarta, penampilan timnas Indonesia bersama Harry Tjong-nya banyak menerima kritik keras dari masyarakat pencinta sepak bola Indonesia, terlebih para “praktisi”. Dua di antaranya dari Endang Witarsa (UMS 80) dan Jakob Sihasale (Jaka Utama).

Namun, sebelum Harry Tjong berencana mengundurkan diri pada Juni 1981, tampaknya secara formalitas dirinya memang sudah hendak diganti oleh Bernd Fischer, pelatih asal Jerman (Barat). Hal itu bisa dilihat dari ditandatanganinya kontrak selama dua tahun (berlaku mulai 15 Juli 1981 hingga 15 Juli 1983) di KONI Pusat pada 23 Mei 1981 yang melibatkan KONI Pusat, PSSI, Yayasan Tunas Raga, dan Bernd Fischer.

Pada masa ini, timnas Indonesia yang diasuh Syarnubi Said (manajer), Uteh Reza Yahya (asisten manajer), dan Harry Tjong (pelatih), serta dua asistennya (Hendarto dan Sartono) itu membawa 22 pemain yang diumumkan PSSI pada 1 Mei 1981. Mereka adalah Purwono, Taufik Lubis, Jamaluddin Hutauruk (penjaga gawang), Ronny Pattinasarani, Simson Rumahpasal, Didik Darmadi, Subangkit, Suharno, Herry Kiswanto, Hamid Asnan, Nasir Salassa, Chris Wakano (belakang), Zulham Effendi, Mettu Duaramuri, Suapri, Badiaraja Manurung, Rully Nere, Berty Tutuarima (tengah), Bambang Nurdiansyah, Bambang Sunarto, Wahyu Tanoto, dan Kasyadi (depan). Timnas ini dipersiapkan untuk pertandingan Grup I Asia-Oceania Pra Piala Dunia 1982 (25 April s.d. 30 Agustus 1981) dan SEA Games XI/1981 (6-15 Desember 1981) dengan target juara!

Dalam penanganannya, Pelatih Harry Tjong tampaknya mengalami berbagai kendala seperti terlambatnya kehadiran para pemain yang dipanggil karena alasan kompetisi Galatama sedang berlangsung, pemain yang mengalami cedera (misalnya Syamsul Arifin pada telapak kakinya), dan masalah keluarga (misalnya Hadi Ismanto yang mempersiapkan diri untuk menikah). Pada masa ini, jangan dilupakan pula perdebatan formasi 4-4-2 dan 4-3-3 yang menjadikan Risdianto tidak dipanggil karena dirasa tidak cocok untuk formasi 4-4-2.

Risdianto adalah bintang klub Warna Agung, pencetak gol terbanyak dalam putaran pertama kompetisi Galatama 1980/1982. Harry Tjong, konon juga menghendakinya. “Ris itu main pakai otak,” ujar Ronny Pattinasarani, kapten tim PSSI Utama, sebagaimana dikutip TEMPO edisi 9 Juli 1981.

Mengapa Risdianto tak terpilih? “Dia itu lamban dan malas bergerak,” kata administrator PSSI Utama, Uteh Reza Yahya, melalui TEMPO edisi yang sama. Juga Ketua Korps Pelatih PSSI, Maulwi Saelan, tak tertarik pada Risdianto.

Fiji vs Indonesia

Dalam tiga kali pertandingan pertamanya di Grup I Asia-Oceania Pra Piala Dunia 1982, timnas Indonesia sudah menderita tiga kali kalah. Untuk sementara, Indonesia menempati posisi juru kunci dari lima peserta.

Di Suva, Fiji, 29 Mei 1981, Syarnubi Said pun menyatakan akan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai manajer jika Indonesia kalah dari Fiji. Syarnubi menegaskan, kekalahan dari Fiji akan lebih memalukan dibanding kekalahan dari Brunei dalam Pra Olimpiade 1980. “Karena itu, saya berpikir untuk mengundurkan diri kalau sampai kita kalah dari Fiji,” tukas Syarnubi sebagaimana dikutip Kompas edisi 30 Mei 1981. Sebelum melawan Fiji, Indonesia menempati peringkat ke-5 atau juru kunci, satu tingkat di bawah Fiji yang menempati peringkat ke-4.

Pertandingan Indonesia melawan Fiji sudah dipastikan tanpa Bambang Nurdiansyah dan kapten tim Ronny Pattinasarani yang dikenai kartu merah dari Garca Oliva, wasit asal Portugal, ketika Indonesia menghadapi Selandia Baru di Auckland, 23 Mei 1981. (Dalam perkembangannya, FIFA menghukum Bambang Nurdiansyah untuk tiga kali pertandingan. Sementara Ronny Pattinasarani hanya sekali pertandingan. Namun, karena putusan untuk Ronny Pattinasarani terlambat maka ia pun tidak sempat didaftarkan untuk pertandingan melawan Taiwan di Taipei, 28 Juni 1981).

Ke depan, dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Nasional, Suva, Fiji, 31 Mei 1981, Indonesia bermain imbang 0-0 dengan tuan rumah Fiji. Hasil pertandingan itu tetap menempatkan Indonesia sebagai juru kunci di bawah Fiji.

Salah satu adegan yang menarik, sebagaimana dilaporkan Kompas edisi 1 Juni 1981, yaitu ketika Rully Nere sering beroperasi di daerah sayap, Harry Tjong berteriak dengan marah dari pinggir lapangan: “Jangan ubah kemauan saya, kembali ke tengah, jangan main 4-3-3”. Akibatnya, tugas Wahyu Tanoto dan Chris Wakano sebagai tombak kembar bertambah berat menghadapi lawan yang meski kaku tapi unggul dalam jangkauan maupun adu badan. Seusai pertandingan, Wahyu bahkan harus diangkut ke rumah sakit untuk mengobati mata kanannya yang robek dalam suatu tubrukan.

Fiji: Akuivila Ravono (penjaga gawang), Jone Nakosia, Ubendran Choy, Inosi, Abraham Watkins, Anand Swami, Feroz Khan/Dean Chand, Mohamad Salim, Meli Vuilabasa, Abdul Manan/Tonny Kabakoro, dan Jone Ratu.

Indonesia: Purwono (penjaga gawang), Hamid Asnan, Herry Kiswanto, Subangkit, Didik Darmadi, Nasir Salassa/Mettu Duaramuri, Zulham Effendi, Badiaraja Manurung/Suharno, Rully Nere, Chris Wakano, dan Wahyu Tanoto.

Dua Kali Perombakan

Setelah menjalani tiga pertandingan Pra Piala Dunia 1982 di kawasan Oceania (Australia, Selandia Baru, dan Fiji), rombongan timnas Indonesia tiba kembali di Jakarta melalui Bandara Internasional Halim Perdanakusumah, Rabu, 3 Juni 1981, malam. Hasilnya, Indonesia hampir dapat dipastikan gagal total. Ke depan, ada rencana perombakan besar-besaran di tubuh timnas Indonesia.

Harry Tjong menyatakan ikhlas kedudukannya diganti, apalagi diganti oleh pelatih “tua” Endang Witarsa yang dinilai cocok untuk itu (Kompas edisi 6 Juni 1981). Namun, secara pribadi, dia menyatakan tidak merasa gagal karena target yang dibebankan kepadanya adalah SEA Games (1981), bukan Pra Piala Dunia (1982). Ia juga tetap berpendapat bahwa sistem permainan 4-4-2 adalah yang paling cocok diterapkan di Indonesia dan yakin akan mencapai puncaknya Desember mendatang karena waktu berlatih dinilai cukup panjang.

PSSI benar-benar melakukan perombakan besar-besaran dalam timnas PSSI Utama pada 5 Juni 1981. Harry Tjong digantikan oleh pengkritik kerasnya, Endang Witarsa. Harry Tjong kemudian “diangkat” sebagai asisten manajer dari Syarnubi Said, sebagaimana Bernd Fischer. Dalam perkembangannya, Bernd Fischer dijadikan penasihat Syarnubi Said. Begitu pun Sartono (yang kelak muncul nama Jakob Sihasale). Sementara Hendarto tetap pada posisinya sebagai asisten pelatih. Selain itu, tentu saja kedatangan Lelyana Tjandrawijaya (atletik) sebagai pelatih fisik timnas Indonesia.

Selain soal kepengurusan, dua pemain (Wahyu Tanoto [Tunas Inti] dan Kasyadi [PSIS]) digantikan Risdianto (Warna Agung) dan Syamsul Arifin (Niac Mitra), termasuk dua pemain Indonesia Muda: Hadi Ismanto dan Adityo Darmadi. Dalam perkembangannya, Sucipto (Jaka Utama) masuk. Satu pemain lagi, Sofyan Hadi (UMS 80), masuk, tetapi tidak didaftarkan untuk menghadapi Taiwan, 28 Juni 1981, karena terlambat sebagaimana halnya Ronny Pattinasarani. Bagaimana pun, masuknya Sofyan Hadi untuk kebutuhan jangka panjang yaitu pelatnas SEA Games 1981.

Memasuki bulan Juni 1981 itu, Indonesia pun bersiap diri menghadapi Taiwan. Hasilnya, Indonesia menang 1-0 di Jakarta (15 Juni 1981) dan kalah 0-2 di Taipei (28 Juni 1981).

Menjelang pertandingan melawan Taiwan di Taipei, senyum dan tawa bertebaran ketika pemain kesebelasan Indonesia santap malam. Suasana cerah ini, bukan tanpa sebab. Menurut laporan Kompas edisi 28 Juni 1981, sebagian besar pemain mengatakan punya firasat kuat untuk mencetak kemenangan. “Kira-kira kita bisa menang lagi ini kali,” tukas Risdianto walaupun suaranya terdengar rendah. Ia merasa senang karena sudah mulai lebih mengerti tugas dan posisi baru yang dipercayakan pelatih Endang Witarsa kepadanya.

Sayang, Indonesia harus mengakui keunggulan Taiwan 0-2. Pelatih Endang Witarsa bungkam seribu bahasa. Ia hanya mengangguk saja atau menggeleng dan sangat terpukul. Asistennya, Jakob Sihasale, tak dapat menahan amarahnya. Pemain Indonesia tampak tidak bernyali dan tidak ada semangat juang.

Kekalahan 0-2 dari Taiwan membuat timnas Indonesia dirombak kembali. Ronny Pattinasarani, Zulham Effendi, Suharno, Suapri, Adityo Darmadi, dan Taufik Lubis tidak dipanggil masuk pelatnas PSSI Utama lagi. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, PSSI Utama merupakan timnas Indonesia yang dipersiapkan untuk SEA Games 1981, selain Pra Piala Dunia 1982.

Indonesia vs Fiji

Pada 7 Juli 1981, Humas PSSI Uteh Reza Yahya mengumumkan 18 pemain inti dan delapan pemain tamu untuk SEA Games 1981. (Kelak, tentu saja ada keluar-masuk pemain). Mereka adalah Purwono, Hamid Asnan (Niac Mitra), Simson Rumahpasal, Didik Darmadi, Rully Nere, Risdianto (Warna Agung), Berty Tutuarima (Bintang Timur), Chris Wakano, Nasir Salassa, Sofyan Hadi (UMS 80), Subangkit, Bambang Sunarto, Sucipto (Jaka Utama), Herry Kiswanto (Pardedetex), Mettu Duaramuri (Persipura), Hadi Ismanto (Indonesia Muda), Bambang Nurdiansyah (Arseto), dan Budi Johanes (Persebaya).

Sementara itu, ke-8 pemain tamu yaitu M. Asyik, Mahdi Haris, Bujang Nasril (Jaka Utama), A.A. Raka (Angkasa), Dilly Fellow (PSMS), Tommy Latuperissa, Riono Asnan (Niac Mitra), dan Rusdin Lacanda (Tunas Inti). (Kelak, dimasukkan lagi tambahan pemain, seperti Stefanus Sirey, Syamsul Arifin, dan Dede Sulaeman).

“Saya perlu waktu dua tahun untuk membina mereka,” kata Endang Witarsa ketika ditanya tentang kemungkinan berhasilnya PSSI Utama menjuarai SEA Games 1981 (Kompas edisi 8 Juli 1981).

Endang Witarsa mengatakan, tidak dipanggilnya Ronny Pattinasarani adalah karena ia tidak menginginkan PSSI Utama menjadi “Ronny-sentris” seperti selama ini. Diakuinya, kemampuan teknis Ronny lebih baik dari pemain-pemain lainnya. Tapi justru karena itu pula pemain yang juga paling berpengalaman itu malah menjadikan para pemain lainnya kurang bisa berkembang. “Saya menghendaki pemain yang memiliki kepercayaan diri,” katanya.

Dalam perkembangannya, Ronny Pattinasarani membantah hambat perkembangan rekannya. Ronny sendiri menyebut dirinya sebagai korban dari sikap pengurus PSSI yang tidak konsekuen. “Dulu ketika menetapkan 22 pemain untuk Pra Piala Dunia (1982), pengurus PSSI mengatakan bahwa pemain itu akan diteruskan hingga SEA Games XI. Tapi sekarang ternyata saya dan empat pemain lain dicoret,” katanya sebagaimana dikutip Kompas edisi 9 Juli 1981. Namun, Endang Witarsa mengharapkan agar Ronny Pattinasarani tidak salah mengerti (Kompas edisi 10 Juli 1981). (Kelak, Ronny Pattinasarani diterima di PSSI Pratama [baca juga: Niac Mitra Plus] untuk Anniversary Cup 1981).

Sebelum SEA Games 1981, tentu saja timnas Indonesia masih menyisakan dua pertandingan Pra Piala Dunia 1982 yaitu melawan Fiji (10 Agustus 1981) dan Australia (30 Agustus 1981). Khusus ketika melawan Fiji, Indonesia masih berada di posisi juru kunci, satu tingkat di bawah Fiji.

Pertandingan pun berlangsung. Rasa kecewa tetap muncul. Indonesia ditahan Fiji 3-3 di Stadion Utama, Senayan, Jakarta, 10 Agustus 1981. Padahal, Indonesia unggul 3-0 lebih dahulu.

Kompas edisi 11 Agustus 1981 melaporkan, ribuan penonton marah, bahkan menganggap Indonesia “masih beruntung” tidak kalah karena sepanjang babak kedua para pemain tamu jauh lebih banyak menguasai permainan. Salah satu dari tiga gol Indonesia diperoleh berkat bunuh diri Upendran Choy pada menit ke-9. Dua gol Indonesia lainnya dicetak Risdianto pada menit 19 dan 39 hasil umpan tarik Rully Nere dan Hadi Ismanto, keduanya dari sayap kanan.

Tidak sampai semenit kemudian, Fiji menipiskan skor lewat Johnny Williams yang dianggap offside dibiarkan menguasai bola di kotak penalti dan memperdayai Purwono. Dua gol Fiji berikutnya dicetak melalui tendangan keras Jone Ratu (47) dan Jone Nikosia (86).

Indonesia: Purwono (penjaga gawang), Simson Rumahpasal, Herry Kiswanto, Nasir Salassa, Didik Darmadi, Sofyan Hadi, Budi Johanes, Rully Nere, Hadi Ismanto/Bambang Sunarto, Risdianto, dan Stefanus Sirey/Dede Sulaeman.

Fiji: Akuivila Ravono (penjaga gawang), Upendran Choy, Jone Nikosia, Inosi Tora, Abraham Watkins, Johnny Williams, Mohammad Salim/Tony Kabakoro, Feroz Khan, Meli Veilabasa, Abdul Manan, dan Jone Ratu.

Pertandingan Pamungkas

Satu pertandingan tersisa bagi timnas Indonesia di Pra Piala Dunia 1982 yaitu melawan Australia. Dalam klasemen sementara, Australia berada di peringkat ke-2, sedangkan Indonesia sebagai juru kunci. Namun, sebelum pertandingan itu, Indonesia menyelenggarakan Anniversary Cup 1981 yang diadakan pada 13-21 Agustus 1981. Indonesia sendiri mengirimkan dua timnasnya yaitu PSSI Utama dan PSSI Pratama.

Singkat cerita, Indonesia segera bertanding dengan Australia. Jauh-jauh hari, Indonesia sudah gagal total. Sementara Australia sudah pasti tersisih usai Selandia Baru menang 13-1 atas Fiji di Auckland (16 Agustus 1981). Karenanya, Australia mempersiapkan pemain muda (junior)-nya, sedangkan pemain seniornya “disimpan”. Hal itu dilakukan Australia untuk mempersiapkan diri menuju Piala Dunia Junior 1981 di negerinya sendiri pada Oktober 1981.

Pelatih Endang Witarsa menjadi serba salah. Karena jika menang dianggap biasa, tetapi jika kalah bisa dikritik masyarakat pencinta sepak bola tanah air. Namun, ia pun tidak peduli. Hal yang penting, Indonesia bisa menang dan sekaligus memperbaiki posisinya agar tidak menjadi juru kunci.

Pertandingan Indonesia melawan Australia pun diselenggarakan di Surabaya yang panas sebagai “balasan” atas Australia yang menyelenggarakan pertandingan di Melbourne yang dingin. Alhasil, Indonesia berhasil mengalahkan Australia 1-0 di Stadion Gelora 10 Nopember, Surabaya (30 Agustus 1981). Gol tunggal kemenangan timnas Indonesia dicetak Risdianto pada menit ke-86. Hasil menggembirakan itu membuat posisi Indonesia lolos dari juru kunci Grup I Asia-Oceania Pra Piala Dunia 1982.

Kelak, Selandia Baru (Grup I), Arab Saudi (Grup II), Kuwait (Grup III), dan RRC (Grup IV) lolos ke babak play-off. Selandia Baru dan Kuwait pun lolos ke putaran final Piala Dunia 1982 di Spanyol. Hasilnya, Italia yang menjadi juara Piala Dunia 1982.

Sejak Piala Dunia 1982 itu, tiga puluh lima tahun kemudian…, timnas Indonesia meraih medali perunggu SEA Games 2017.