Syamsul Arifin dan 30 Gol di Galatama 1980/1982

19 April 2018

Tujuh gol yang diciptakan hanya dalam satu pertandingan Galatama merupakan salah satu pencapaian Syamsul Arifin (Niac Mitra). Tujuh gol itu pula yang membuat Syamsul Arifin (21 gol) menyalip Risdianto (17 gol) dari Warna Agung dalam “klasemen sementara” pencetak gol terbanyak (top scorer) Galatama 1980/1982. Sebagai catatan, pada era ini pula Syamsul Arifin mengalami cedera sehingga tidak selalu tampil. Namun, produktivitas golnya tetap terjaga, terutama lewat sundulan-sundulannya. Tentu saja ada rekan-rekan lainnya di Niac Mitra yang memberi umpan.

Tujuh gol yang diciptakan Syamsul Arifin itu terjadi ketika Niac Mitra mengalahkan Tidar Sakti 11-0 di Stadion Gelora 10 Nopember, Surabaya (7/11/1981). Pada masanya, kemenangan telak ini merupakan rekor dalam pertandingan Galatama 1980/1982. (Skor tersebut masih kalah dari rekor Galatama [1979/1980] ketika Niac Mitra mengalahkan Tidar Sakti 12-0 di Stadion Gelora 10 Nopember, Surabaya [24/2/1980]. Saat itu, Syamsul Arifin mencetak empat gol, tertinggi di antara rekan-rekannya). Kelak, rekor tersebut diperbarui, juga oleh Niac Mitra ketika menang 14-0 atas Cahaya Kita di Stadion Pluit, Jakarta (13/1/1982) yang empat gol di antaranya dicetak Syamsul Arifin, kurang satu gol dari Joko Malis yang mencetak lima gol.

Keberhasilan Syamsul Arifin menjadi pencetak gol terbanyak (30 gol) Galatama 1980/1982 pun melengkapi klubnya, Niac Mitra, yang menjadi juara Galatama periode kedua tersebut. Niac Mitra memastikan diri sebagai juara Galatama 1980/1982 setelah pada pertandingan ke-33 mengalahkan tuan rumah dan sekaligus juara bertahan Warna Agung 1-0 di Stadion Utama, Senayan, Jakarta (9/3/1982). Niac Mitra pun mengukuhkan diri sebagai juara Galatama 1980/1982 setelah pada pertandingan ke-34 atau terakhir sebagaimana lawannya dengan mengalahkan tuan rumah Jayakarta 1-0 di tempat yang sama (13/3/1982).

Dalam Galatama 1980/1982, secara keseluruhan, Niac Mitra mencetak 102 gol, suatu rekor tersendiri dalam sejarah Galatama. Sebagai catatan, dua gol di antaranya terjadi akibat gol bunuh diri (own goal) dari Tatang Mohtar (Niac Mitra vs Tunas Inti 3-0 pada 13 September 1981) dan Herry Kiswanto (Pardedetex vs Niac Mitra 1-1 pada 15 Oktober 1981).

Ketua Umum Perkumpulan Olahraga Mitra Acub Zainal, 26 Maret 1982, menyerahkan cek sebesar Rp 35 juta kepada para pemain Niac Mitra sebagai hadiah atas keberhasilan mereka meraih juara Galatama 1980/1982 (Kompas edisi 27 Maret 1982). Sebelumnya, setiap pemain sudah menerima bonus Rp 800 ribu berkat kemenangan dalam dua pertandingan terakhir, melawan Warna Agung dan Jayakarta.

Pada kesempatan yang sama, majalah Olympic Jakarta menyerahkan sepatu emas kepada Syamsul Arifin dan sepatu perak kepada Joko Malis. Keduanya, pemain Niac Mitra. Dari Adidas, Syamsul Arifin juga menerima perlengkapan sepak bola selama satu tahun.

Pada Galatama 1980/1982 itu, Syamsul Arifin mencetak 30 gol, Joko Malis (27 gol), dan Risdianto (24 gol). Sebanyak 30 gol itu sendiri merupakan rekor tertinggi bagi top scorer dalam sejarah Galatama (1979-1994).

Sebelum di Galatama 1979/1980, Syamsul Arifin merupakan pemain Persebaya di Kejurnas Utama PSSI 1978/1979. Pada Putaran I, ia hanya bagian dari 25 pemain yang terdaftar (tanpa dipanggil). Baru pada Putaran II, ia termasuk salah satu dari 19 pemain yang dipanggil. Kelak, ia bermain di Persebaya lagi.

 

Pertandingan ke Waktu Pertandingan Skor Jumlah Gol
1 12-10-1980 Niac Mitra vs Jaka Utama 2-0 1
3 26-10-1980 Perkesa 78 vs Niac Mitra 1-2 1
9 17-01-1981 Niac Mitra vs Sari Bumi Raya 8-0 5
11 06-02-1981 Niac Mitra vs Cahaya Kita 7-0 4
12 14-02-1981 Niac Mitra vs Jayakarta 1-0 1
13 26-02-1981 Niac Mitra vs Bintang Timur 2-0 1
15 20-03-1981 Niac Mitra vs Pardedetex 2-0 1
23 07-11-1981 Niac Mitra vs Tidar Sakti 11-0 7
25 22-11-1981 Jaka Utama vs Niac Mitra 0-4 2
27 20-12-1981 Niac Mitra vs Arseto 2-1 1
29 13-01-1982 Cahaya Kita vs Niac Mitra 0-14 4
30 23-01-1982 Sari Bumi Raya vs Niac Mitra 1-5 1
31 02-02-1982 UMS 80 vs Niac Mitra 1-1 1

 

Iklan

Dari Anniversary Cup ke Piala Kemerdekaan

5 April 2018

Dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-88 PSSI (19 April 1930-2018), organisasi sepak bola Indonesia itu berencana menyelenggarakan Anniversary Cup 2018. Anniversary Cup di sini tampaknya tidak ada kaitannya dengan Anniversary Cup-nya HUT Kota Jakarta yang diperingati setiap bulan Juni (22 Juni 1527) –hanya kebetulan namanya sama. Terlepas dari itu, dalam kesempatan kali ini, tidak ada salahnya kalau kita menyimak sejarah Anniversary Cup.

Anniversary Cup-nya HUT Jakarta yang awalnya bernama Djakarta Anniversary Football Tournament (DAFT) diselenggarakan sejak 1970. Anniversary Cup tersebut diselenggarakan secara “berturut-turut” setiap tahun hingga 1981, kecuali 1977. Karena untuk memperingati HUT Kota Jakarta, Anniversary Cup diadakan setiap bulan Juni, kecuali Anniversary Cup terakhir kali (1981) yang diadakan Agustus sebagai bulan diperingatinya HUT Republik Indonesia.

Pada 1979, Anniversary Cup tidak diselenggarakan karena Indonesia sibuk dengan agenda SEA Games 1979 di Jakarta, Indonesia. Lalu, pada 1980, Indonesia tidak menyelenggarakan Anniversary Cup karena PSSI menyatakan tidak memiliki timnas yang kuat.

Anniversary Cup 1981 tercatat sebagai Anniversary Cup terakhir karena PSSI memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Piala Kemerdekaan. Menurut rencana, Piala Kemerdekaan edisi perdana itu akan diselenggarakan pada 1983. Namun, Piala Kemerdekaan baru terlaksana pada 1985.

Piala Kemerdekaan itu sendiri terakhir diselenggarakan pada 2008 untuk kemudian PSSI menyelenggarakan Anniversary Cup 2018 sebagai turnamen HUT PSSI –juga berkaitan dengan test event mandiri Asian Games 2018. (Catatan: Test event mandiri ini mirip General Rehearsal Asian Games IV/1962 yang melibatkan beberapa cabang olahraga menjelang Asian Games IV/1962).

Anniversary Cup 1977

PSSI sebetulnya tetap akan menyelenggarakan Anniversary Cup pada 1977. Pada masa itu, PSSI membentuk timnas Indonesia A dan timnas Indonesia B. Timnas Indonesia B –yang kemudian dikenal sebagai timnas “PSSI Muda” asuhan Pelatih Chaeruddin Siregar untuk melawan Italia U-21– sudah dipersiapkan untuk mengikuti Anniversary Cup. Namun, Anniversary Cup batal digelar. (Catatan: Persib vs Italia U-21 3-1, PSSI Muda vs Italia U-21 0-0, Persebaya vs Italia U-21 0-1, dan Persija Elang (juga diperkuat Persija Rajawali) vs Italia U-21 1-0).

Masih pada 1977 itu, PSSI menyelenggarakan turnamen segitiga HUT ke-47 PSSI. Namun, setelah tarik-menarik, ada beberapa peserta batal ikut serta yang mengakibatkan turnamen itu pun batal. Saat itu, Jayakarta menarik diri karena sebagian pemain utamanya sejak tahun lalu tidak pernah berkumpul dan bermain bersama lagi (baca: mereka berlatih TC [training centre] timnas). Lalu, Warna Agung digantikan Bangka Putra karena Warna Agung sedang menyelesaikan kompetisi Persapja (Persatuan Sepak bola Antarperusahaan Jakarta). Pertandingan pembukaan Bangka Putra melawan Pardedetex (20 April 1977) pun batal karena dilarang oleh pihak yang berwajib. Alasannya, saat itu sebagai minggu tenang untuk pemilu (pemilihan umum) 1977. (Catatan: Klub-klub yang disebutkan merupakan bagian dari delapan klub yang telah disahkan PSSI [era Ketua Umum Bardosono) sebagai delapan klub profesional pertama di Indonesia pada 15 Agustus 1976).

Dalam perkembangannya, Piala Bang Ali 1977 digelar. Ali Sadikin ialah Gubernur DKI Jaya (1966-1976). Kelak, pada 1977 itu pula Ali Sadikin dipilih sebagai Ketua Umum PSSI 1977-1981.

Sumber: Koran Kompas, koran Pikiran Rakyat, dan majalah TEMPO.