Djadjang Nurdjaman Oh Djadjang Nurdjaman

15 September 2017

Apakah anda ingin mengetahui gol spektakuler Djadjang Nurdjaman ala Diego Maradona (PD 1986) atau Saeed Owairan (PD 1994)? Tanyakanlah hal itu pada Djadjang Nurdjaman ketika mengikuti Queens Cup 1978 (he…he…he…).

Itulah satu-satunya gol Persib dalam Queen’s Cup 1978. Saya hanya mengutip hasil-hasil pertandingannya saja dari buku “Persib ’86: Lahirnya Kembali Generasi Emas Persib”: “…Dalam pertandingan pembukaan Queen’s Cup 1978, Persib berhasil menahan juara bertahan (bersama Han Yang Korea Selatan) Port Authority (Thailand) 1-1. Dalam pertandingan yang berlangsung pada 10 Oktober 1978 itu, Djadjang Nurdjaman berhasil mencetak satu-satunya gol untuk Persib pada menit 82. Namun, dalam pertandingan kedua (12/10/1978), Persib harus mengakui keunggulan Polisi Bangkok (Thailand) 0-1. Akhirnya, Persib pun tersisih setelah dalam pertandingan yang berlangsung pada 14 Oktober 1978, Port Authority mengalahkan Polisi Bangkok 3-1…”.

Galatama

Pertandingan perdana kompetisi Galatama 1979/1980 sudah dilakoni Sari Bumi Raya (Bandung). Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Utama, Senayan, Jakarta, 18 Maret 1979, itu Sari Bumi Raya berhasil mengalahkan “tuan rumah” Perkesa 78 (Bogor) 1-0 melalui gol Djadjang Nurdjaman pada menit ke-86. Alhasil, Djadjang Nurdjaman tercatat sebagai pencetak gol pertama bagi Sari Bumi Raya di Galatama.

Siapakah Djadjang Nurdjaman?

Djadjang Nurdjaman merupakan pemain Persib yang berlaga dalam kompetisi Perserikatan 1978. Sosok kelahiran 30 Maret 1958 itu kemudian bergabung bersama Sari Bumi Raya (Bandung) untuk mengikuti kompetisi Galatama 1979/1980.

Ketika Sari Bumi Raya memutuskan pindah ke Yogyakarta untuk mengarungi kompetisi Galatama 1980/1982, Djadjang Nurdjaman (bersama kawan-kawannya dari Bandung) masih turut bergabung. Namun, sebelum kompetisi Galatama periode kedua berakhir, lebih tepatnya sesudah putaran I berakhir, Djadjang Nurdjaman balik lagi ke Bandung. Alasan studi, kerja, dan keluarga menghinggapi “Orang-orang Bandung”. Djadjang Nurdjaman pun berkesempatan untuk mengikuti Invitasi Perserikatan U-23 tahun 1981 bersama Persib yang diselenggarakan pada 21 Oktober sampai dengan 1 November 1981. Sekadar informasi, memasuki putaran kedua, Sari Bumi Raya didominasi oleh para pemain Yogyakarta meskipun masih ada pemain Bandung-nya. Para mahasiswa Yogyakarta yang kelak menjadi sarjana turut mewarnai perjalanan Sari Bumi Raya (Yogyakarta).

Dalam perkembangannya, Djadjang Nurdjaman berlabuh di Mercu Buana (Medan) untuk kompetisi Galatama 1982/1983, 1983/1984, dan 1984. Penampilan terakhir Djadjang Nurdjaman dalam lingkungan Galatama terjadi pada Piala Liga I/1985 ketika masih memperkuat Mercu Buana. Bahkan Djadjang Nurdjaman beristerikan Miranda Panggabean, putri Kamaruddin Panggabean, tokoh sepak bola Sumatera Utara.

Seusai Mercu Buana membubarkan diri sehingga tidak bisa mengikuti kompetisi Galatama 1985, Djadjang Nurdjaman balik lagi ke Bandung. Tentu saja Persib menjadi pelabuhan berikutnya dan ternyata hingga pensiun dalam kompetisi Perserikatan 1993/1994. Dalam kompetisi Perserikatan periode terakhir itu, selain sebagai pemain, Djadjang Nurdjaman pun tercatat merangkap sebagai asisten pelatih dari Indra M. Thohir yang bertindak sebagai pelatih kepala.

Sejak menjadi asisten pelatih itulah, Djadjang Nurdjaman “naik pangkat” sebagai pelatih kepala bersama Persib sebagai masa dominan kepelatihannya, selain Pelita Jaya, baik senior maupun U-21.

Trivia

Djadjang Nurdjaman adalah pencetak gol pertama dan sekaligus terakhir bagi Sari Bumi Raya ketika klub Galatama tersebut berdomisili di Bandung. Kebetulan gol pertama dan terakhir itu dicetak di Stadion Utama, Senayan, Jakarta. Djadjang Nurdjaman mencetak gol tunggal kemenangan Sari Bumi Raya ketika menang 1-0 atas tuan rumah Perkesa 78 (18 Maret 1979). Djadjang Nurdjaman pun mencetak gol terakhir ketika menahan tuan rumah Arseto 3-3 (21 April 1980).

Selain di kompetisi Galatama, Djadjang Nurdjaman tercatat pula sebagai pencetak gol perdana Mercu Buana dalam debutnya di Piala Liga I/1985 ketika mengalahkan Warna Agung 4-1 (13 April 1985).

Sementara itu, gol tunggal kemenangan Persib atas Perseman 1-0 dalam babak grandfinal kompetisi Perserikatan 1986 (11 Maret 1986) menciptakan icon tersendiri bagi Djadjang Nurdjaman. Dari sekian catatan prestasinya itu, gol tunggalnya itulah yang membuatnya disebut-sebut dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Iklan