Pra Piala Dunia 1986: Korea Selatan vs Indonesia 2-0

21 Juli 2019

Minggu, 21 Juli 1985. Hari ini, 34 tahun yang lalu, Indonesia berhadapan dengan Korea Selatan dalam pertandingan pertama antarjuara sub-grup Pra Piala Dunia 1986. Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Olimpiade 1988, Seoul, Korea Selatan, itu Indonesia harus mengakui keunggulan tim tuan rumah 0-2. Indonesia memakai seragam (jersey) warna hijau-hijau karena Korea Selatan sebagai tuan rumah memakai seragam merah-merah. Tadinya, Indonesia menghendaki untuk memakai seragam merah-putih.

Pada masa ini, Indonesia merupakan juara Sub-Grup 3B Zona Asia yang kepastian juaranya diperoleh dalam pertandingan terakhirnya ketika bermain imbang 1-1 dengan India (6 April 1985). Sementara Korea Selatan merupakan juara Sub-Grup 3A Zona Asia yang kepastian juaranya juga diperoleh dalam pertandingan terakhirnya ketika mengalahkan Malaysia 2-0 (19 Mei 1985). Padahal Malaysia cukup bermain imbang untuk lolos sehingga cenderung timnya bertahan. (Pertandingan antarjuara sub-grup [4] yang lain mempertemukan Jepang melawan Hongkong).

Mengapa kita memperkuat pertahanan dan tidak mempertajam penyerangan? Pertanyaan semacam itulah yang muncul pada masa itu.

Menyadari Korea Selatan yang berpostur badan tinggi, permainan kolektif, dan stamina yang bagus, Pelatih Sinyo Aliandu mencoba untuk mengantisipasinya. Apalagi Indonesia sudah melihat pertandingan Korea Selatan melawan Malaysia (19 Mei 1985) ditambah memperhatikan pertandingan final Piala Champions 1985 (Juventus vs Liverpool). Alhasil, Herry Kiswanto dijadikan stopper yang didekatkan dengan Marzuky Nyakmad-Warta Kusuma. Jika tidak bisa menang, dalam pertandingan ini, Indonesia menghendaki bermain imbang.

Kapten kesebelasan Herry Kiswanto mengaku terlalu konsentrasi mengawal ketat pemain nomor punggung 14 (Cho Min Kook). “Hingga saya tak sepenuhnya menunjang serangan. Ini salah satu sebab lapangan tengah lebih banyak dikuasai lawan,” kata Herry sebagaimana dilaporkan Kompas edisi 22 Juli 1985.

“Saya masih fit. Tapi karena tak ada dukungan dari lini tengah, permainan saya tak berkembang,” ungkap Dede Sulaeman yang merasa agak heran mengapa dirinya diganti oleh Yusuf Bachtiar. “Itu memang taktik kami,” ujar Sinyo Aliandu.

Strategi seperti itu bisa dikatakan berhasil untuk bertahan dari serangan lawan. Sayang, ketika stamina habis, Indonesia harus menerima dua gol dari Byun Byung Joo (menit 74) dan Kim Joo Sung (menit 83). Ya, dua gol dalam 15-20 menit sebelum pertandingan berakhir.

Dalam pertandingan itu, Indonesia bukan tanpa peluang. Ada dua peluang, satu dari Bambang Nurdiansyah dan satu lagi dari Zulkarnaen Lubis. “Tenaga saya sudah habis, terpaksa bola saya gulirkan ke tengah. Tapi di sana tak ada orang,” aku Zulkarnaen sebagaimana dikutip dari Kompas edisi yang sama.

Sesuai jadwal, pertandingan kedua, Indonesia akan menjamu Korea Selatan di Stadion Utama, Senayan, Jakarta (30 Juli 1985).

Korea Selatan: Oh Yun Kyo (penjaga gawang), Kim Pyung Suk, Jung Yong Hwan, Yoo Byung Ok, Chung Jong Soo, Cho Kwang Rae, Park Chang Soon, Huh Yung Moo/Byung Byun Joo, Cho Min Kook, Choi Soon Ho, dan Kim Suk Won/Kim Joo Sung.

Indonesia: Hermansyah (penjaga gawang), Ristomoyo, Didik Darmadi/Aun Harhara, Warta Kusuma, Marzuky Nyakmad, Herry Kiswanto, Rully Neere, Elly Idris, Dede Sulaeman/Yusuf Bachtiar, Bambang Nurdiansyah, dan Zulkarnaen Lubis.

Baca juga:

Pra Piala Dunia 1986: Thailand vs Indonesia 0-1

Pra Piala Dunia 1986: Bangladesh vs Indonesia 2-1

Pra Piala Dunia 1986: India vs Indonesia 1-1

Iklan

Debut Dua Pemain Asing di Galatama 1979/1980

20 Juli 2019

Sumber foto: “Kompas” edisi 4 April 1979.

“Segera kirim pemain, Pardedetex sudah dua kali kalah.”

Demikian bunyi telegram –tilgram– Dr. T.D. Pardede kepada Johny Pardede, anaknya, di London, 21 Maret 1979 sebagaimana dilaporkan Kompas edisi 22 Maret 1979.

Itulah kepanikan Dr. T.D. Pardede ketika dalam dua kali pertandingan awalnya di Galatama periode pertama –1979/1980– mengalami dua kali kekalahan. Meski sempat menang telak 5-0 atas tuan rumah BBSA Tama (Jakarta) pada 22 Maret 1979, Pardedetex (Medan) memang sudah dua kali kalah, 2-3 dari Arseto (Jakarta) pada 17 Maret 1979 dan 1-2 dari Perkesa 78 (Bogor) pada 20 Maret 1979.

Alhasil, dua pemain asing datang ke Indonesia. Dua pemain asing asal Inggris: Paul Smythe dan Steve Tombs. Debut mereka pun tiba ketika menghadapi tuan rumah Sari Bumi Raya (Bandung) di Stadion Siliwangi Bandung. (Selain pemain asing, Stadion Siliwangi pun melakukan debutnya di Galatama bagi Sari Bumi Raya. Sebelumnya, Sari Bumi Raya mengunakan Stadion Persib –Stadion SIDOLIG–pada 23 Maret 1979 ketika berjumpa Niac Mitra [Surabaya]. Alasannya, pada masa itu, harga sewa Stadion Persib sepersepuluhnya daripada Stadion Siliwangi).

Kompas edisi 26 Maret 1979 melaporkan, lebih kurang 15.000 penonton dipesonakan oleh kebolehan Paul Smythe dan Steve Tombs dalam mengolah dan mengumpan bola.

Sayang, Pardedetex dengan debut duo pemain asingnya itu harus mengakui keunggulan Sari Bumi Raya 0-1 (25 Maret 1979). Gol tunggal kemenangan Sari Bumi Raya diciptakan Atik Supriadi pada menit 56 melalui tendangan bebas dari jarak 20 meter.